Bab 10

2018 Words
Saat Riza hendak ke ruang Karu untuk laporan Om Supri pun melihatnya lewat. Dengan sigap Om Supri berteriak memanggil dan menghampirinya. "Ehh Nak! Tunggu dulu," teriaknya sembari lari. Riza terkejut dengan langkah terhenti lalu berbalik ke arah Om Supri. "Eh? Om? Ada apa Om?" tanya Riza heran. "Huh, tadi kamu di cari sama Nyonya Hertanti. Katanya beliau mau bicara lagi sama kamu tentang kebaikan kamu kemaren dan kamu harus samperin beliau," ujar Om Supri ter engah. Riza melotot heran, dia tak percaya Ibu Hertanti memanggilnya lagi. "Bukankah kemarin aku sudah di beri sangat banyak? Apa beliau ingin memberiku hadiah lagi? Ya ampun," gumam Riza dalam hati merenung. "Woy Nak?" Om Supri memecahkan lamunannya  "Ahh iya baik Om, tapi di mana beliau? Di mana aku harus nyamperin Om?" ucap Riza polos. Riza percaya dengan mudahnya, Om Supri sangat senang. "Katanya di hotel Bizpark, sekitar 3 kilometer saja dari perusahaan ini kok Nak. Kamu tau aja kan?" beritahu Om Supri. Riza mengangguk tanda mengetahui alamat itu. Tanpa pikir panjang dia malah mau menuju ke sana. "Oohh iya tau kok Om. Okedeh terima kasih ya Om infonya." Gampang sekali pemuda itu di bodohi, Riza memang anak yang masih sangat polos dan mudah percaya. Dia pamit beranjak dari tempat itu dan langsung ingin menuju ke hotel Bizpark. Dia tak tahu sebenarnya Meri sudah menghadangnya di situ. Sungguh sial nasib pemuda satu ini. Meri memang wanita tak ingat dengan umur, ia masih saja merasa sangat pantas melakukan apapun yang membuat nya senang itu. Dia menghampiri motor matic hitam merah kesayangannya itu, setelah memakai helm. Dia langsung tancap gas.  Tak jauh dari tempat itu ternyata ada Karu. Namun, Karu tak sempat melihat bahwa Riza sebenarnya sudah selesai latihan dan pergi lagi.                                                             *** Riza sampai ke tempat tujuan. Dia melihat-lihat semua sudut-sudut tempat itu. Betapa mewah desain semua hotel dari luar juga halamannya. Riza masih tak tau bahwa yang memanggilnya adalah Meri, bukan Hertanti. Dia pun merasa yakin bahwa yang memanggilnya memang Hertanti karena hotel itu memang pantas di jadikan tempat Hertanti. Dia masuk tanpa ada rasa curiga. Dia merasa malu karena masih memakai pakaian yang biasa dan berseragam OB itu. Namun, saat dia masuk. Dia sangat dihormati oleh pelayan hotel itu. Dia merasa senang, mungkin Hertanti sudah memberitahu tentangnya gumamnya dalam hati. Dia di arahkan oleh pelayan di sana dengan sangat manis, Riza tersenyum simpul. "Mari kak, silahkan ikuti saya," sapa pelayan wanita itu sangat sopan. Riza mau mengikutinya sampai dia berada di tempat yang sangat indah dan mewah, terlihat meja dan kursi untuk makan yang sangat estetik. Riza tercengang melihatnya. Meja itu juga dihiasi dengan bunga-bunga hiasan yang sangat indah hingga saat pelayan itu berhenti, dia melihat seperti seorang wanita paruh baya berdress merah mengarah ke belakang. Dia mengerutkan keningnya, apakah itu Ibu Hertanti? Namun, saat semakin dekat dia semakin bingung dan ragu.  "Apakah benar itu Ibu Hertanti? Kalau bukan mengapa pelayan ini seperti mengarahkan ku ke sana?" tanyanya sangat heran dan agak takut.                               *** Karu bertanya-tanya apakah Riza sudah selesai atau belum. Saat ia berjalan di teras gedung, ia bertemu dengan Om Supri. "Ah permisi Om,"  Om Supri terkejut. Namun, saat dia tahu bahwa itu Karu dia tersenyum. "Ehh, Non, iya Non ada apa?" sahutnya ramah. "Apa Om udah ada ngeliat Riza ya lewat? Soalnya tadi dia lagi belajar nyetir Om saya suruh. Tapi kok lama banget ya nggak balik-balik, padahal kata pelatihnya biasa nya cuman 3 jam aja sehari latihannya ini sudah lebih." kata Karu. Om Supri bingung mau menjawab apa, dia ingat apa yang dikatakan Meri padanya bahwa dia harus merahasiakan itu kepada siapapun termasuk Karu. Karena Hertanti tak ingin mengumbar kebaikannya membantu pemuda itu dengan siapapun. "Ohh emm masih belum liat juga Non, enggak lihat Riza," jawab Om Supri tersenyum sembari gugup. Sebenarnya dia takut. Namun, dia mencoba untuk membuat Karu tak curiga. Karu percaya kepadanya dan hanya mengangguk pelan dan diam. "Baik Om, makasih ya. Kalau gitu saya permisi dulu," ucap Karu sembari beranjak dari tempat itu. Om Supri pun sangat lega sembari mengelus dadanya pelan.                              *** "Mari silahkan kak,"  Namun, saat orang itu berbalik betapa terkejutnya Riza. Dia benar-benar tak menyangka bahwa yang memanggilnya ke sini bukanlah Hertanti, melainkan adalah Meri. Dia benar-benar kaget dan panik sekarang, matanya terbelalak masih tak percaya. "Hay sayang," sapa Meri menggoda. Pelayan itu sudah pergi jauh. Riza panik melihat kiri kanan berulang kali. "IBU?!" teriak Riza tak percaya kaget. "Hmmm iya, aku merindukanmu tampan. Heheheee," jawab Meri menyeringai jahat. Riza masih membelalakkan matanya tak percaya, mengapa Om Supri juga membohonginya. "IBU! IBU MAU NGAPAIN MENYURUH AKU UNTUK DATANG KE SINI?!" tanyanya marah. Meri hanya tertawa. "Kenapa?! Kenapa Om Supri juga membohongiku? Kenapa!" ucapnya kesal panik. Meri mendekatinya, lalu menarik tangannya dan menggenggamnya. Riza sangat terkejut dan sepertinya dia ingin jantungan saja. "Mari kita mengenal lebih dalam lagi sayang, Ibu nggak sabar pengen cepat-cepat denganmu hehehe," sahut Meri manja sembari terus menggenggam Riza dan mengelus rambutnya manja. Riza sontak melepaskan genggaman Meri dengan keras, dia menghempaskannya dengan sangat kuat dan marah. "IBU JANGAN INGIN MACAM-MACAM SAMA SAYA! AKU TIDAK KENAL DENGAN IBU!" bentaknya sangat marah mengancam Meri. Namun, Meri hanya terus tertawa. Ia terlihat sangat meremehkan Riza dan menganggap itu hanyalah lelucon belaka. Riza melototkan matanya sangat heran mengapa wanita tua ini begitu nekatnya melakukan semua ini kepadanya. "Seharusnya kamu senang! Aku ini direktur utama PT. Karya Mandiri perusahaan paling besar di kota ini! Paling maju daripada Hertanti! Kamu akan saya berikan apapun kalau kamu mau dengan saya," gertaknya sembari mencengkeram rambut belakang Riza dan mendekatkan kepalanya ke wajahnya. Riza semakin takut, keringatnya bercucuran dan matanya tak bisa berkedip menatap Meri. "Karena kamu tampan, saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Hehehe," ia menyengir, tertawa jahat. "Aku tahu kamu susah bekerja dan lelah, maka dari itu saya akan membantumu dan membuatmu tidak kelelahan lagi sayang," sambungnya lembut sembari terus menggoda Riza. Riza ingin menangis. Namun, dia terus mencoba meloloskan diri dari wanita tua mengerikan itu. Meri menariknya kuat hingga Meri memanggil anak buahnya. Betapa terkejutnya Riza ternyata memang tak mudah melawan wanita tua yang punya segalanya itu. Dia di cegat oleh bodyguardnya Meri. Sungguh kasihan nasib pemuda satu itu. Dia berteriak-teriak namun lelaki berbadan kekar itu menutup mulutnya menyeretnya bersama temannya di samping Riza mengepungnya. Dia menyeret Riza sesuai dengan perintah Meri. Riza di seret sangat keras hingga sampai di depan pintu hotel. Riza sangat takut dan semakin panik, dia histeris berteriak walau mulutnya di tutupi pria ber jas berbadan kekar itu dan terus mencoba melawannya. "Bagus! Seret dia terus ke sini dan tahan dia!" perintah Meri sembari mencoba membuka pintu kamar itu. Riza sangat panik dan terus menggerakkan badannya dan sesekali ingin menampar, menonjok, dan menendang kedua laki-laki itu keras untuk lepas dari cengkraman laki-laki yang lebih dewasa dan kekar dari nya itu.. "Baik Bos! Hmm!" jawabnya sembari menarik tangan Riza kuat. Meri pun berhasil membuka pintu kamar itu. Kedua lelaki itu melempar Riza keras ke dalam kamar itu sampai-sampai dia terhempas dan nyaris tak sadarkan diri. Lalu mereka meninggalkan Meri dan Riza hanya berdua. Riza langsung bangun dari tengkurapnya. Meri bergegas menutup pintu kamar dan mengurung Riza. Riza sangat marah dibuatnya, dia mencoba menyelamatkan dirinya dari wanita tua itu. "KAMU SEKARANG SUDAH TAK BISA KEMANA-MANA LAGI HAHAHA!" gertak Meri sembari melempar kunci pintu itu sembarang. Riza memperhatikan kunci itu hingga terhempas ke lantai di belakangnya meski Meri terus mencoba mendekapnya. Meri terus memaksanya sampai-sampai ingin memukul Riza dengan botol minuman anggur merah yang sudah tersedia di sana yang juga memang pesanannya sendiri untuk memabukkan Riza. Namun, sepertinya rencana itu gagal dan akhirnya jadi seperti itu. Syukur Riza telah berhasil menghindari pukulan Meri lalu dia menggigit tangan Meri yang menggenggamnya sangat kuat itu. Dia terus menggigitnya hingga Meri berteriak kesakitan dan melepaskannya. Dia sangat beruntung, dia lolos lalu segera mengambil kunci pintu yang Meri lempar tadi. Meri tak membiarkannya begitu saja ia langsung membalas ingin menyergap Riza lagi namun Riza berhasil menghindar dengan membungkukkan badannya lalu lari dari dekapan Meri. Dia langsung memasukkan kunci pintu itu namun pintu itu sangat susah untuk di buka, dia mencoba tenang agar kunci itu masuk dengan benar. Meri yang sudah bangkit dari terjatuhnya tadi segera menghampiri Riza. Riza gagal membukanya karena Meri merebutnya kembali, Riza terus mencoba melawannya dan berusaha merebut kunci itu kembali dari tangan Meri. Namun, Meri ternyata adalah wanita yang lumayan kuat. Dia mencengkram bahu Riza hingga Riza kesakitan lalu menghempaskannya ke kasur. Ia tertawa bahagia dengan keadaan yang sudah acak-acakan. Riza sangat kecewa dan panik karena Meri sudah berhasil mengalahkannya. Saat Meri ingin menindihinya dia menendang d**a Meri lumayan kuat hingga Meri terpental ke bawah. Dia tak menyia-nyiakan itu dan segera bangun agar selamat.                              *** Entah mengapa perasaan Karu sangat tidak enak sekarang. Ia bertanya-tanya mengapa ia seperti itu sekarang. "Mengapa moodku tiba-tiba merasa tak nyaman? Apa yang terjadi?" tanyanya sembari memegang dahinya. Ia juga bingung. Entah mengapa ia sekarang sangat merasakan feeling yang tidak nyaman.  "Kenapa ya, tidak biasanya begini... Ahh, apa mungkin karena aku kecapekan kali ya," pungkasnya. "Apa jangan-jangan Riza belum pulang terjadi apa-apa dengannya?" tanyanya sendiri panik. "Ahh, mengapa aku ini. Apa memang hubunganku dengan Riza? Sok sekali, mungkin karena aku pusing masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Riza mungkin masih membawa dirinya istirahat dan makan di luar sana bersama sopirnya. Mereka kan sama laki-laki. Jadi mungkin wajarlah saling mengobrol dulu," ketusnya sendiri mencoba berpikiran wajar sembari merapikan semua dokumen yang berserakan di meja nya.                            *** Karena Riza memang laki-laki, jadi kekuatannya memang melebihi Meri. Syukurlah Meri masih tersungkur kesakitan, Riza dengan sigap mencari kunci itu terjatuh terpental entah di mana. Dia panik terus mencari kunci itu. "Aku harus mendapatkannya sebelum Ibu Meri itu bangun kembali! Ayolaah di mana!" rengeknya panik.  Setelah berusaha semaksimal mungkin, akhirnya dia melihat kunci itu tergeletak tepat di ujung sudut kasur, dia mengambilnya lalu pergi menuju pintu. Dia mencoba agar lebih tenang dari yang tadi untuk membuka pintu kamar itu dan... Akhirnya. Akhirnya dia berhasil membuka pintu kamar itu. Dia sangat senang dan lari terbirit-b***t setelah pintu itu terbuka, bajunya sempat tersangkut di gagang pintu hingga membuatnya tersungkur. Namun, itu tak membuatnya berlari untuk selamat dari Meri. Dia berlari cepat keluar dari hotel itu tanpa perduli lagi di sekelilingnya. Semua karyawan hotel sempat heran karena tidak tahu menahu apa yang terjadi. Karena Meri memang sudah memesan layanan khusus VIP di sana jadi, Meri menjadi prioritas juga memegang saham hotel di sana sehingga tidak ada yang bisa melarangnya untuk apa pun. "KURANG AJAR!" ketus Meri kesal sembari menampar lantai karena Riza berhasil lolos darinya. Ia menjadi pasrah karena memang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Riza terus berlari sampai akhirnya dia sampai di depan hotel. Dia langsung menuju motornya sembari mengambil kuncinya yang syukur sedari tadi tidak terjatuh saat dia bergulat dengan Meri tadi yang berada di kantong celana belakangnya. Dia terlihat masih sangat gemetar dan kesakitan. Dia memakai helmnya lalu langsung tancap gas memutar motornya cepat hingga hampir terjatuh dan pergi. Saat dia sudah naik dan membelokkan motornya barulah anak buah Meri mengejarnya. Riza kalang kabut dibuatnya. Namun, diasangat bersyukur karena dia sempat melarikan diri. Dia sudah tak perduli lagi dengan Karu dan kantor sekarang, dia langsung pulang menuju rumahnya agar tak di susul oleh Meri lagi. Dengan kecepatan yang tinggi dia pergi. . Dia sampai depan rumah dengan selamat, dia ter engah-engah. Dan syukurlah di rumah itu Shella juga ada dan tak pergi jalan-jalan dengan temannya. Shella kaget saat melihat Riza dengan tampilan acak-acakan seperti baru dari jalanan, juga diri nya yang terlihat panik dan kelelahan serta gemetar tak karuan. Shella langsung menghampirinya dan berniat bertanya. "Riza kamu kenapa dek? Sakit kamu kumat lagi ha?" tanya Shella khawatir. Riza terkejut mendengar kakaknya dan berteriak. Shella semakin heran mengapa Riza seperti orang yang baru saja terkena trauma. "Riza tenang! Ini Kakakmu, Shella." Shella terus menenangkannya agar tak lagi panik. Ia mengurungkan niatnya dulu untuk bertanya ada apa sebenarnya terjadi sampai Riza tenang. "Ya sudah, kamu masuk dulu ya. Tenang kok, kakak nggak kemana-mana hari ini. Lagian kak Rahman nanti juga mau jenguk kakak kok ke sini, jadi kamu jangan takut sendirian oke? Udah masuk sana ganti baju," ucap Shella menenangkan. Riza akhirnya bisa tersenyum dan tenang dia mengelap air matanya lalu masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD