Empat hari telah berlalu. Riza sudah pulih kembali sekarang. Karena selama itu dia pakai untuk istirahat total. Dia memang kelelahan. Dia juga sudah periksa ke dokter setelah di jenguk Karu kemarin. Maka dari itu dia sehat dan bugar kembali.
Dia kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia sudah mulai masuk kuliah lagi dan masuk kerja.
Dia bersiap untuk pergi kerja. Dia merapikan bajunya. Setelah semuanya rapi, dia berangkat dan berpamitan dengan kakaknya.
.
Tak berapa lama dia telah sampai ke kantor. Seperti biasa dia memakirkan motornya di parkiran yang sudah tersedia.
Dia sangat gugup, dan seakan masih tak siap bertemu dengan Karu kembali. Dia masih tak percaya dengan hal yang terjadi kemarin.
Seperti biasa dia menghampiri Om Supri terlebih dahulu untuk membersihkan lantai ruangan di luar dulu dan lain-lain.
Riza memulai pekerjaannya seperti biasa mulai dari mengepel lantai dengan semangat.
"Eh Nak, kamu tadi dicariin Non Karu. Kayaknya sudah deh pekerjaan kamu di sini," ucap Om Supri memberitahu sembari menarik pel-pel an itu dari tangan Riza.
Riza terheran tumben sekali Karu memanggilnya, sebelumnya tidak pernah secepat ini. Padahal biasanya ia menyuruh Riza untuk menyelesaikan mempel lantai baru menyusul ia ke ruangan. Jantungnya berdebar-debar tak jelas setelah mendengar hal tadi dari Om Supri.
"Apakah Ibu Karu benar-benar ingin mendekati aku?" Gumamnya sendiri bertanya-tanya heran dalam hati.
Tak berapa lama dia berjalan sambil melamun, dia sampai di depan pintu ruang Karu. Dengan gugup gemetar dia mencoba mengetok pintu Karu.
"Ya masuk," terdengar senyap-senyap suara itu dan Riza membuka pintunya pelan.
Terlihat Karu sedang ingin duduk dan merapikan meja kerjanya.
"Iya, ada apa ya Bu Ibu memanggil saya?" tanya Riza sopan.
Karu memberikan senyum lima jari saat melihat Riza ada di depannya. Riza tak percaya Karu memang berubah sekarang, seperti tak dingin dan secuek dulu lagi dengannya. Dia berpikiran bahwa dia sudah bisa membuat Karu nyaman dan suka kepada dirinya. Dia cukup bangga kepada dirinya karena bisa membuat Bosnya sendiri enak dan baik kepadanya, artinya kerjanya selama ini memang bagus dan sesuai keinginannya pikir Riza, padahal dia masih belum sadar bahwa Karu sebenarnya menyimpan rasa padanya.
"Hmmm, nggak papa kok. Saya cuman mau menyampaikan ada hal yang ingin saya rubah dari pekerjaanmu," jawab Karu menyeringai.
Riza agak kaget mendengar hal itu. Dia penasaran apa yang ingin Karu rubah untuk pola kerjanya.
"Ibu rubah? Maksudnya? Apa Bu?" tanya Riza tak mengerti.
Karu hanya tersenyum, dia menatap ke bawah lalu menatap Riza.
"Kamu akan saya kerjakan fokus untuk jadi supir saya dan menjadi asisten saya saja, dan tak akan lagi membantu Om Supri di luar sana," ucap Karu menatap Riza lembut tersenyum manis.
Riza kaget saat mendengar hal itu, dia haru bagaimana apakah harus senang atau takut. Karena kalau ia fokus dengan Karu, berarti dia harus bisa semaksimal mungkin untuk bisa melayani Karu, dia malah semakin gugup dan merasa semakin berat. Bahkan padahal sudah tahu bahwa dia masih belum bisa menyetir mobil.
"Hah, apakah ini benar? Tapi, aku kan belum bisa nyetir mobil? Masa dia jadikan aku sebagai supir pribadinya? Padahalkan dia juga tau sendiri kemarin? Apa jangan-jangan ibu Karu ingin mentes skill ku untuk pekerjaan saja?" ujarnya dalam hati bergumam bertanya-tanya heran pada diri nya sendiri.
"Kenapa? Hmm? Ada yang salah?" Tanya Karu mengangkat keningnya memajukan kepalanya ke Riza.
Riza tersadar dari lamunannya.
"Ah enggak kok Bu. Ta, tapi apa nggak salah Bu. Saya kan belum bisa nyetir mobil, jadi saya takut buat bawa Ibu maaf Bu." sahut Riza sedih merasa malu.
Karu tertawa mendengar hal itu.
"Saya tak mungkin langsung menyuruhmu untuk melakukannya, kamu akan saya ajarkan dulu sampai lihai. Saya sudah menyediakan pelatihnya," jawab Karu ramah meyakinkan.
Betapa terkejutnya Riza saat tahu hal itu. Dia tak menyangka diperlakukan sehormat ini dengan Karu.
"Ya ampun, benarkah Bu? Saya tak menyangka dengan semua ini. Terimakasih banyak ya Bu. Saya janji akan benar-benar belajar nanti," kata Riza sangat senang. Karu pun mengangguk.
"Apa sekarang kamu sudah mulai bisa belajar?" Tanya Karu.
Riza sangat kaget karena mendadak sekali. Tetapi dia menerimanya dengan sangat senang.
"Hari ini?" Riza masih tak yakin.
Karu mengangkat pelupuk mata dan keningnya lalu mengangguk mengedipkan matanya cepat.
Riza membuka mulutnya tak menyangka.
"Ahh, bisa Bu. Tapi apa saya boleh makan dulu?" ucapnya polos. Karu sudah terbiasa dengan kepolosan pemuda itu.
"Iya, baiklah. Silahkan," jawabnya.
"Nanti kalau kamu sudah selesai makan, kamu langsung saja ya ke parkiran karena saya sudah menyuruhnya untuk menunggumu di situ." Sambung Karu.
Riza tersenyum sumringah membalasnya lalu langsung pergi meninggalkan Karu untuk bersiap makan dan pergi latihan.
.
Setelah selesai makan, dia bersiap bergegas untuk ke parkiran dan mencari mobil yang bertuliskan latihan mengemudi yang sudah di sediakan Karu untuknya. Akhirnya setelah berputar-putar berkeliling. Akhirnya dengan keliling muter-muter akhirnya dia mendapatkan mobil itu.
"Permisi... Maaf apa ini benar pelatihan setir mobil dari Ibu Karu?" Tanya Riza sopan.
"Iya atas nama Riza Ananda kan?" Tanyanya balik. Riza mengangguk sembari senyum. Sopir itu tersenyum dan senang karena pelanggan yang dia tunggu dari tadi sudah datang. Dia menyuruh Riza untuk masuk.
Riza memulai belajarnya untuk menyetir. Riza sangat senang sekaligus gugup.
***
Tak jauh dari Riza di parkiran sesudah Riza pergi ada sebuah mobil mewah putih yang sepertinya sama seperti 5 hari yang lalu datang ke sana. Dan saat orang dalam mobil itu keluar memang benar, ia adalah Meri direktur perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Hertanti kemarin. Entah mau apa ia kemari ke perusahaan Hertanti lagi. Sepertinya ia memang sedang mengincar Riza.
Ia terlihat berjalan arah masuk gedung, ia langsung masuk tak perduli siapa pun sembari melepaskan kacamatanya.
"Di mana pemuda tampan kemarin itu!" ucapnya kesal sembari melihat sekeliling. Saat berjalan ia malah tak sengaja bertemu dengan Karu di sana.
"Ehh Ibu Meri? Ada apa ya Bu Ibu datang kemari?" tanya Karu mengejutkan dirinya.
Ia kaget dan bingung alasan apa ia datang ke sini agar tak ketahuan oleh Karu bahwa ia sedang mencari Riza, karena Meri tahu. Sepertinya Karu memiliki rasa melindungi kepada pemuda itu, jadi tak mungkin ia blak-blakan memberitahukan tujuannya kepada Karu.
"Ohhh, hey sayang! Eee iyaa nih, Tante di suruh Hertanti ke sini untuk...," jawabnya sembari berpikir dan mencoba sok baik di hadapan Karu.
Karu tersenyum sembari mengangkat keningnya heran.
"Aduhh, untuk apa ya aku harus beralasan agar ia tak curiga sama aku." Pikirnya berpikir keras bergumam dalam hati.
"Untuk menjenguk perusahaan yang ingin bekerja sama dengan kami hehe, karena gedung kalian ini sangat bagus! Jadi hmm sengaja Tante ke sini sayang untuk membuat Tante menjadi terbiasa nantinya saat meeting sama kalian," sambung Meri tersenyum sumringah begitu pintar menyusun kata.
Karu yang mendengarnya tertawa dan senang dengan perkataan Meri tadi, ia kelihatan tersipu malu.
"Hehe ya ampun Bu, Ibu bisa aja. Mari apa Ibu mau ke ruangan saya berbincang-bincang?" Ajak Karu ramah.
Meri pun mencoba menolak ajakan Karu itu agar tak masuk ruangan nya dan melanjutkan mencari Riza.
"Ehee makasih sayang, sepertinya Tante mau jalan-jalan dulu ya. Mau lihat-lihat lohh tempat yang lain. Nanti aja ya sayang," ngelasnya sangat bagus menolak ajakan Karu dengan sangat ramah.
"Ohh, iya Bu nggak papa kok. Silahkan," ucap Karu sopan sembari mengedipkan matanya pelan.
"Ehee iyaa, nggak usah ah panggil saya Ibu, Tante ajaa, Karu. Berapa umurmu?" tanyanya.
Karu mengangkat keningnya malu dan menuruti permintaan Meri.
"Hehe 3 bulan yang lalu 36 tahun Tante," jawabnya agak malu dan heran.
"Ohhh haha nggak papa, berarti kamu memang hampir seumuran aja sama kponakan Tante," sahutnya nyengir.
Karu mengernyitkan dahinya, ia tak menyangka ternyata Meri juga punya kponakan seumuran dengannya.
"Benarkah Tante?" Karu menyeringai tak percaya.
"Iyaa, tapi dia agak lebih muda sedikit aja kok, yaa kira-kira 34 an lah. Juga kurang ingat, dia juga cewek. Tapi sayang, dia nggak se dewasa dan se pintar kamu," ucap Meri sebal menjelaskan sembari tersenyum kepada Karu saat menyebut kalimat terakhir.
Karu hanya tertawa mendengar hal itu, ia pun mencoba agar tak besar kepala kepada Meri.
"Ahahaa Tante bisa aja. Saya juga tak seperti yang Tante bayangkan kok," sahut Karu tersenyum ramah.
Ia semakin memuja Karu karena walau ia orang yang masa bodo dan hanya ingin mengincar Riza, ia juga menyukai cara kerja Karu.
Ia pamit beranjak dari sana, Karu pergi berlawanan arah dengannya. Ia terus mencari Riza. Untung saja ia tak sempat melihat Riza pergi belajar menyetir tadi jika tidak sudah pasti ia ikuti.
"Sial! Aku tak menemukan dia! Kemana lagi aku harus mencari, apa aku harus mencari alamat rumahnya? Ah tidak, aku tak ingin menjadi bual-bualan orang kampungan di tempat dia tinggal," ketus Meri kesal.
Namun, ia mempunyai ide untuk menjebak Riza. Ia mencari OB lain yang se profesi dengan Riza, dan akhirnya ia pun bertemu dengan Om Supri.
"Uhh permisi Paak maaf mengganggu," ucapnya kepada Om Supri.
Om Supri kaget, mengapa wanita tua kaya raya ini sangat tumben mendekati dirinya.
"Iya, ada apa ya Nyonya bisa saya bantu?" jawab Om Supri.
"Saya ini sahabatnya Hertanti, Bapak tau aja kan Hertanti siapa di sini? Nah, jadi saya di perintahkan untuk mencari pemuda bernama Riza. Kata nya, Hertanti mau balas kebaikan pemuda itu Pak soalnya kemaren dia udah dapetin dompet Hertanti yang terjatuh di teras depan," ucapnya tersenyum menyipitkan matanya. Sangat pintar merangkai kata. Sungguh licik dan cerdas sekali wanita ini untuk kepentingan dirinya sendiri.
Om Supri menjadi segan kepadanya saat mendengar akrab dan orang yang berkaitan dengan Hertanti.
Om Supri menganggukkan kepalanya tanda percaya kepada Hertanti, dia pun memberitahu bahwa Riza tadi sedang latihan menyetir. Maka dari itu dia masih belum ada di kantor.
Meri akhirnya tahu, pantas saja ia dari tadi tak ketemu mencari pemuda itu di sini ujarnya dalam hati.
"Ohhh gitu ya Pak, uhh apa nanti saat dia sudah dateng Bapak bisa menyuruhnya untuk menemui saya. Tapi bilang aja di suruh Ibu Hertanti aja karena saya juga bersama Ibu Hertanti kok nanti di sana," perintah Meri.
Entah apa yang ingin ia rencanakan.
"Ohh bisa boleh Nyonya, suruh dia samperin Nyonya sama Nyonya Hertanti kemana atuh?" ujar Om Supri meng iyakan.
"Bagus terimakasih banyak ya Pak, suruh saja dia datang ke cafe hotel Bizpark ya Pak," jawab Meri dengan senyuman palsunya.
Sungguh jahat wanita satu ini untuk mendapatkan Riza, ia memang terkenal lihai dan sudah biasa membawa berondong-berondong tampannya untuk menginap di hotel bersamanya. Namun, hanya Riza yang tak bisa ia dapatkan maka dari itu ia sangat penasaran dan agak dendam kepada Riza mengapa dia tak seperti korban-korban lain yang dia dapatkan.
Om Supri yang hanya mempercayai tipuan Meri itu hanya mengiakan selalu apa kata Meri.
"Baik Nyonya, nanti akan saya sampaikan," jawabnya.
"Baik, tapi Bapak jangan bilang ke siapa-siapa ya tentang ini. Karena Hertanti tak mau mengumbar kebaikannya dan kamu juga jangan membahasnya lagi ke Hertanti nanti," ucap Meri memperingati dengan tatapan mengawasi.
Ia tersenyum sembari memberinya uang yang lumayan banyak. Om Supri terkejut dan sangat heran sepertinya dia sempat curiga. Namun, Om Supri seperti tak ingin berpikir menuduh macam-macam. Dia pun menatap Meri sembari tersenyum heran.
"Ambil aja dan Bapak jangan bilang ke siapa-siapa ya? Ini dari Hertanti juga kok," sambung Meri meyakinkan agar Om Supri tak mencurigai nya.
Om Supri akhirnya terjebak lagi, dia menganggukkan kepalanya mantap lalu mengambil uang itu. Dia mengucapkan terima kasih kepada Meri.
"Baik, terimakasih banyak Nyonya. Nanti kalau Riza sudah datang akan saya bilangin langsung ke dia," jawab Om Supri.
Meri sangat senang, rencananya berjalan dengan lancar. Ia tak sabar ingin mendekap Riza di kamar hotel mewah itu dan bisa mendapatkan Riza. Ia juga sangat berterima kasih kepada Om Supri karena bodoh mau melakukan apa yang ia perintahkan lalu pergi.
.
Tak berapa lama sekitar 3 jam Riza datang kembali, dia sekarang sudah lumayan lihai menyetir. Ternyata dia bisa saja mengendarai mobil, hanya saja karena dia masih tak mempunyai mobil maka dari itu dia tak tahu cara menyetirnya, dalam angannya sepertinya susah. Namun, saat dia mencoba dia bisa saja dengan mudah.
Dia juga sudah mengelilingi jalan tol dan jalan raya yang ramai.
Dia izin berpamitan dan berterima kasih kepada sopir pelatih yang mengajarkannya.
"Kamu sangat bagus Nak, baru sekali saja kamu sudah bisa menyetir di jalan raya!" sanjung pelatih itu sembari menepuk lengan Riza.
"Hehe terima kasih banyak Om, itu juga Om yang ngajarin," jawab Riza malu.
"Sepertinyaa, kamu ini cuman butuh 3x pelatihan, setelahnya sepertinya kamu juga sudah ingat dan bisa." tambahnya.
Riza sangat senang mendengarnya.
"Hehe iya Om, kita lihat saja dulu nanti."
Begitu malunya Riza di puji seperti itu, pelatih itu tersenyum kepada Riza lalu izin pamit. Dia pamit, memutar balik mobilnya lalu pergi.