bc

Oh, My Little Bos!

book_age16+
detail_authorizedAUTHORIZED
23
FOLLOW
1K
READ
family
powerful
drama
sweet
like
intro-logo
Blurb

Mulanya ia berpikir hanya menganggap perasaan dihatinya hanyalah sebatas hubungan kakak beradik. namun, seiring berjalannya waktu, ia justru merasa ada yang berbeda. ketika mendekati hari pernikahannya, dia merasakan dilema. meninggalkan majikan yang sudah ia rawat sejak kecil, ataukah menikah dengan wanita pilihan keluarganya.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Bab 1 Teriakan dari lantai dua, selalu membuat para pelayan dan pengawal kelimpungan. Mereka akan berbondong-bondong berlari ke atas jika suara nyaring itu sudah terdengar sampai lantai dasar. Satu nama yang selalu disebut, tapi kebanyakan dari mereka akan berlari bersama jika yang dipanggil sedang ada urusan. “Paman Pras!” suara itu kembali terdengar. Suara tapak kaki beramai-ramai terdengar memanjat tangga saling berebut. “Paman Pras! Di mana pakaianku?” Seorang pelayan langsung menoleh ke temannya ketika mendengar pertanyaan yang nyaring itu. Menyiapkan pakaian adalah tugasnya, dan tentu ini akan membuatnya dimarahi sesampainya di kamar, di mana suara nyaring itu berasal. Dua pelayan dan dua pengawal, sudah menerobos masuk dan langsung berdiri seraya menundukkan kepala bersamaan. Salah satu dari mereka bicara lebih dulu. “Tuan Pras sedang bicara dengan Tuan besar, Nona.” Rose spontan berdecak. Dia membuang muka lalu menyibak selimutnya dengan cepat. “Panggilkan dia sekarang!” perintahnya. Mereka saling sikut sebelum akhirnya mengangguk. “Ba-baik, Nona.” Menjadi putri satu-satunya menjadikan seseorang terbiasa hidup manja. Biasanya, mereka akan merasa berkuasa dengan segala fasilitas yang disediakan. Ayah dan ibunya yang bisa dibilang orang terpandang, membuat Rose hidup dalam serba berkecukupan. Dia manja, egois dan juga pemarah. Banyak dari pengawal yang memilih mengundurkan diri pada akhirnya ketika ditugaskan untuk menjaganya. Namun, meski begitu, ada beberapa pengawal yang memilih bertahan karena memang sudah mengabdi sejak Rose masih kecil. Rose Caramel, bukanlah anak kecil lagi. Sekarang, usianya sudah menginjak sembilan belas tahun. Dan dua bulan lagi dia ulang tahun. Namun, kendati umurnya sudah cukup dewasa, dia masih seperti anak kecil yang harus selalu dilayani. Sampai di lantai bawah, satu pengawal bernama Zain, menghampiri tuannya yang sedang bicara dengan Pras. Dia menunduk seraya memohon maaf karena sudah mengganggu. “Ada apa, Zain?” tanya Pras. “Apa Nona tidak mau dengan yang lain?” Zain mengangguk. Saat itu juga, terdengar desahan berat dari bibir Aaron. Dia mengusap wajahnya lalu beranjak dari tempat duduknya. “Kamu temui dia. Aku tidak mau suara melengkingnya itu terdengar di telingaku lagi,” ucap Aaron sambil melenggak pergi. Pras hanya bisa pasrah dalam keadaan seperti ini. dia akan selalu dihadapkan dengan pagi yang kacau hingga menjelang malam. Dia tidak keberatan, hanya saja terkadang merasa lelah. Dia ingin berhenti dan menikmati kehidupan nyatanya, tapi dia tidak cukup tega untuk meninggalkan nona mudanya. Sampai di lantai atas, Pras tidak langsung masuk ke dalam kamar. Dia berdiri di depan pintu seraya menarik napas dalam-dalam. Setelah dua mata terbuka kembali, Pras mendorong pintu dengan perlahan. Pemandangan yang ia lihat membuatnya tersenyum kecut. Dia melihat bantal sudah terlempar di atas lantai, selimut menggumpal di bagian sudut ranjang, sementara gadis kecil sedang duduk di tepi ranjang dengan rambut panjang yang menutupi wajah. Kepalanya terlihat menunduk, dan sesekali seperti hendak jatuh ke bawah. Mungkin Rose masih dalam keadaan mengantuk. “Nona.” Kepala dengan rambut awut-awutan itu terangkat. Wajahnya seketika menoleh dan satu tangan menyibakkan rambut ke belakang. Wajah yang masih sayu itu berubah merengut begitu melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya. “Kenapa lama sekali?” tanya Rose seraya menghentak kedua kakinya di atas lantai. “Aku akan kesiangan kalau begini.” Pras mendekat sambil mendesah lirih. Dia tidak mau kalau nona mudanya itu sampai mendengar desahan kesalnya. “Bukankah, Mira sudah menyiapkan pakaian untuk kamu. Kamu bisa mengambilnya sendiri, kan?” “Huh!” Rose mendengkus. “Aku memang bisa bisa mengambil sendiri, tapi kalau kamu tidak membantuku, kamu tidak ada kerjaan.” Pras maju lalu membungkuk memungut dua bantal yang tergeletak di atas lantai. Dia melemparnya ke tengah ranjang. “Aku ada pekerjaan dengan ayahmu. Nona harus bisa lebih mandiri sekarang.” Dengan cepat wajah itu menoleh. Rose menatap Pras dengan tajam. “Apa maksud kamu? Jadi aku harus mengerjakan semuanya serba sendiri?” “Tentu saja. Nona sudah dewasa sekarang. Nona juga sudah bekerja. Bukankah akan nyaman jika semua dikerjakan sendiri?” Rose berdiri lalu melipat kedua tangan di d**a. Wajah itu terlihat manyun. “Jadi, kamu sudah tidak mau menjagaku lagi? oke kalau begitu, aku akan mencari pengawal lain. Dasar menyebalkan!” Rose menghentak kakinya lagi kemudian mendengkus kesal. Dia membuang muka dengan cepat lalu berjalan menuju kamar mandi sambil menyambar handuk putih yang berada di gantungan. “Tidak begitu, Nona.” Pras menghela napas lagi lalu menelan ludah ketika pintu kamar mandi tertutup dengan sangat keras. Pras lalu menggaruk tengkuknya dan sekali lagi membuang napas. Dia pergi menuju ranjang dan mulai menata Kasur yang empuk itu. Dia menarik setiap ujung seprei lalu melipat selimut dan menata bantal pada tempatnya. “Sampai kapan dia seperti itu?” desah Pras. Pras tahu bagaimana kehidupan Rose selama ini. dia tahu betul tentang apa yang nona mudanya inginkan. Gadis remaja itu tidak nakal, hanya saja dia membutuhkan sebuah perhatian dari kedua orang tuanya. Hampir setiap hari tidak ada percakapan diantara anak dan orang tua. kebanyakan orang tua yang sukses akan mengabaikan waktu untuk bersama anak mereka. “Pras!” panggil Rose. Pras seketika menoleh. Bertepatan dengan pandangannya sekarang, Pras langsung membuang muka lagi. dia menyembunyikan pandangannya ketika melihat Rose berdiri di ambang pintu kamar mandi hanya mengenakan pakaian dalam. “Ambilkan aku handuk lain. Ini sudah kotor,” pinta Rose dengan santai. Dia melempar handuk tersebut ke lantai. Pras memejamkan mata lebih erat sambil menahan giginya erat-erat. Dia mendesis lalu mengembuskan napas sebelum kemudian pergi mengambil handuk. Pras memang sudah lama mengurus Rose. Dia tahu bagaimana pertumbuhan bocah itu sampai sekarang sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Namun, karena saking terbukanya, terkadang Rose tidak bisa membedakan mana yang boleh ditujukan dan tidak. dia terlalu biasa saja ketika di depan Pras. “Kenapa dia melepas pakaiannya? Kapan dia akan berpikir dewasa?” decak Pras sambil menarik handuk di tumpukan paling atas. “Cepat!” “I-ya!” Pras sampai tergagap dibuatnya. Sebelum menoleh, Pras berdehem lebih dulu untuk mempersiapkan jantung dan matanya. Ketika tangannya mengulurkan handuk, sebisa mungkin pandangannya ia arahkan ke tempat lain. Grep! Mendengar pintu sudah tertutup lagi, Pras langsung mengusap dadanya dan bernapas lega. Dia sampai membulatkan kedua matanya dan menggeleng kepala sebelum kembali menata ranjang. “Apa dia tidak sadar kalau sekarang sudah dewasa?” decak Pras. “Meski umurku dan umurnya sangat jauh, tapi aku pria normal, sial! Bagaimana jika aku kebablasan?” Pras menyibakkan rambut keningnya yang basah karena keringat. Ketika dia selesai menyapu ranjang, tiba-tiba ponselnya berdering. Dua matanya kembali membulat begitu melihat satu nama yang terpampang di layar ponselnya. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Tunangan Pengganti CEO

read
1K
bc

TAKDIR KEDUA

read
34.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook