Bab III Kontrak Pacaran

1044 Words
Resya menutup toko pukul setengah 12 malam, karena dua bucin kelamaan pacaran di toko. Resya dan Ikhsan segera menutup toko dan kembali kerumah. Resya masih bertanya hal apa yang mau di bicarakan oleh Gery, sepertinya penting banget. Pukul 7 pagi Resya belanja sayuran di warung dekat tokonya. Selesai belanja Resya melihat motor bayu baru lewat, sepertinya mau sekolah. Resya melajukan motornya secara perlahan kerumah. Sesampai dirumah membantu bunda untuk masak sedangkan Ikhsan sudah berangkat sekolah juga. "nak gimama jadi ambil paket C ucap Bunda." "belum bun masih aku pikirkan ucap Resya." "nanti Bunda cari orang kerja, toko juga sudah mulai berkembang sayang, alhamdulilah bisa bantu uang sekolah kamu ucap Bunda." "Bun, mau tanya?" "kenapa ya Oma Opa gak mau ketemu kita, kita cucu kandungnya juga ucap Resya meridukan sosok Oma Opanya." "sabar ya sayang nanti bunda coba lagi ke Om kamu untuk sampaikan ke mereka ucap Bunda dengan mata berkaca-kaca." Siapa yang tidak merindukan kedua orang tuanya, masalah ada di bunda tapi ponakannya ikut kenak imbasnya. Bunda awalnya terpaksa terima pernikahan dari Ayah Resya karena ancaman bakal bawah mereka jauh. Ternyata itu tipu muslihatnya, orang tua Bunda tidak setuju atas pernikahan mereka. Bunda juga masih muda usianya baru menginjak 30 tahunan juga harus mengalami ini semua. Kdrt dari ayah sepertinya membuat trauma sampai tidak ingin dekat dengan pria manapun. Bunda hanya butuh support tapi banyak yang meninggalkan mereka saat down. Bunda menjalakan hidup normal kembali, uda mulai berdamai dengan keadaan. Selama 3 tahun bunda bolak balik ke psikiater bukan hanya untuk dia tapi juga dengan ponakan yang sekarang sudah jadi anaknya sendiri. "Bun, ada pria yang datang kemarin tanyain Bunda katanya teman Kuliah Bunda ucap Resya." "Siapa namanya ucap Bunda." "siapa ya? Frend, predy ia kalau gak salah Bun ucap Resya." "itu Kakak kelas Bunda, gemar nyuruh-nyuruh Bunda, waktu Mos suka ngerjain Bunda ucap Bunda satu nama yang di ingat buat badmood." "Ia kah Bun, kayaknya orangnya baik Bun ucap Resya." "Ya udalh itu sayang Bunda mau hidangkan masakakn ini ke piring ucap Bunda." "Awas loh Bun, benci dan cinta setipis kulit bawang ucap Resya tersenyum." "kamu masih kecil sok ngeri cinta-cintaan ucap Bunda." "ngertilah bun bulan ini mau 17 tahun ucap Resya masih mengoda Bundanya." "boleh pacaran tapi Bunda ikut kemanapun kalian pergi, nongkrong dan lebih bagus di toko atau rumah saja ucap Bunda mulai protektif." "Ia Bunda ucap Resya mulai naik ke atas untuk mandi dan siap-siap buka Toko." Bunda sudah duluan ke Toko, benar juga sudah butuh pegawai sekarang biar bisa buka pagi setengah 7 pagi. Bunda mulai membuka toko, dan mengeluarkan barag juga, Resya juga sudah datang dengan membawa beberapa kotak jajanan yang sudah habis. Mereka bersihkan toko bersama-sama. "adik Leting Luna, beli Rokok saya 1 bungkus ucap Predy." "Kamu, Rokok apa? ucap Bunda dengan ketus." "Rokok D, sekalian minuman botolnya 2 ucap Predi." "Ini Bang ucap Bunda menyerahkan rokok dan minumannya." "Toko kamu dan kamu tinggal didaerah sini ucap Predy." "Ia Bang ucap Bunda, masih cuekin Om Predy." "kamu nikah muda, anak kamu sebaya, tapi kok Mereka mirip Mbak Yesi ya ucap Predy." "Mereka memang anak almarhum Mbak Yesi, aku yang merawat mereka sekarang ucap Luna." "Lun turut berduka ya, aku baru 6 bulan diIndonesia ucap Predi." "Ia makasih Bg, Bg gak nerusin usaha Papamu itu ucap Luna." "Bantu sedikit saja, gak suka perbengkelan ucap Predi." "Om ini lagi ucap Resya." "Eh Kamu lagi ucap Predi." "kenalin Resya, salam juga ini Om Predi senior kampus Bunda, Rumah mereka dekat rumah Opa ucap Bunda." "Kenal dong Om ma Opa ucap Resya." "Kenal dong, Papa Om dan Opa kamu sering main catur bareng ucap Om Predi." "Jadi kangen Opa Oma ucap Resya." "Duduk dulu Bg ucap Bunda." "Memang sudah lama gak keumah Opamu ucap Predi." "Lama banget ucap Resya masih menunduk." "Nanti kapan-kapan ku ceritakan Pred, panjang ceritanya ucap Bunda." "Ini kartu nama aku, bisa chat atau telpon telebih perlu bantuan ucap Predi juga mau pamit berangkat kerja." "Ia Bg makasih Bg, hati-hati di jalan ucap Bunda." "lah Bun akrab dengan Om itu ucap Resya tesenyum." "Dulu memang akrab, kami dari kecil tetanggaan, sekolah dan kampus bareng ucap Bunda." "Kan benar, Cinta dan Benci setipis kulit bawang ucap Resya." Bunda hanya tesenyum melihat tingkat Resya. Selesai menata mereka mengemas beberapa pesanan orang, nanti beras bakal masuk satu pick up, kami ambil beras dari petani langsung. Bunda seperti marketing handal, memang itulah jurusan kuliah Bunda, tidak lupa posting hari ini di Toko Online Bunda juga. Sekitar jam 2 Bunda balik kerumah, giliran aku dan Ikhsan yang jaga sampai jam 4 saja hari ini. Suara motor Gery sudah terdngar dan dia memakirkan motornya. "Resya sedikit telat tadi selesai ujian di ajakin basket ma teman ucap Gery." "Ya uda duduk, mau minum apa ucap Resya." "Teh manis dingin saja ucap Gery." "Gak gitu juga kirain in cafe atau warung gitu ucap Resya jengkel." "nanti pesan ojol aja ucap Gery." Resya duduk berhadapan dengan Gery dan memberi air mineral dingin. "lah kok repot-repot ini aku uda pesan Gofood, ini baca dulu, kamu bisa ubah yang tidak cocok dan mau di tambahin ucap Gery." "Oke, aku heran aja ma pesan kamu pacar kontrak, yang setau aku ada nikah kontrak ucap Resya sambil baca kertas yang di beri Gery." "umur kamu berapa, jangan bilang tante-tante ucap Gery." "Ihzzz bulan ini aku baru 17 tahun dengan kesal menjawab ucapan Gery." "loh uda tamat sekolah cepat amat ucap Gery." Resya hanya menunduk dengan ucap Gery serasa menyakitkan, hanya dia yang baper saja. "aku memang gak sekolah lagi, putus sekolah setelah SMP ucap Resya masih menunduk." "Maaf Res, aku gak tau, maafin aku ya ucap Gery." "Ia gapapa, aku juga mau rencana paket C, nunggu uang terkumpul dan ada yang jaga Toko ucap Resya." "Gini saja, aku biayain sekolah kamu sampai tamat Paket C gimana? Sebagai ucapan terima kasih aku di luar kontrak kita kok, kalau tambahkan point itu kamu juga boleh ucap Gery." "Kamu yakin ucap Resya dengan mata berbinar-binar." "Yakin ucap Gery." "Gini saja, cicil ke kamu gimana? Kayak kredit gitu tiap bulannya ucap Resya." "terserah kamu saja ucap Gery merima kertas yang sudah di coret Resya dan dia perbaiki dengan laptopnya." Selang berapa lama Gery pamit dulu ke Warnet buat print kertas itu, jadi Gery sengaja tambah jadi 2 tahun sampai Resya tamat sekolah kontrak pacaran mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD