“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Caitlyn ketika mobil yang dikendarai Darcio tiba di tempat parkir mobil apartemennya. “Kamu boleh pulang sekarang atau balik ke rumah sakit kalau kamu mau. Jangan lupa memberitahuku kalau Sagara sudah pulih dari operasinya,” pesannya.
Darcio mengangguk sambil tersenyum. Dia lalu memberikan sekotak macaron berwarna-warni yang belum sempat dihabiskannya itu pada Caitlyn, “Ini, habiskan saja macaron-nya.”
“Eh, tapi isinya masih banyak. Kamu saja yang habiskan, ‘kan kamu yang beli?”
“Ambil lah, tak apa-apa. Aku memang sengaja membelinya untukmu, karena aku tahu kamu suka makan kudapan manis.”
Caitlyn tersenyum haru. “Aku jadi tak sabar menunggu sampai Sagara pulih. Aku mau tahu apa saja yang sudah dia ceritakan padamu soal aku,” ungkapnya. “Thanks, Darcio.”
“Aku boleh mengantarmu sampai lobby?”
“Tentu.”
Ketika sampai di lobby, nasib membawa Darcio dan Caitlyn berjumpa kembali dengan Zaiden Malvory. Dia tengah berjalan sendirian menuju lift sembari menenteng sekotak Dunkin Donuts. Bukan cuma Darcio dan Sagara, Zaiden juga tahu kalau kekasihnya itu suka menyantap makanan serba manis. Langkah kakinya seketika terhenti saat dia melihat kekasihnya sedang jalan bersama dengan bodyguard barunya.
“Sayang?” panggil Caitlyn. Dihampirinya Zaiden dengan langkah cepat. “Kok kamu tidak bilang-bilang padaku kalau mau mampir ke apartemen?” tanyanya bingung.
“Aku mau memberikanmu ini,” jawab Zaiden seraya memperlihatkan sekotak Dunkin Donuts-nya pada Caitlyn. “Sebagai permohonan maaf karena aku sudah membatalkan janjiku untuk makan malam denganmu,” imbuhnya. Dia lalu melayangkan sekilas tatapannya pada sekotak macaron yang sedang dipegang Caitlyn. Zadien jadi geram sekaligus merasa tersaingi. Rupanya yang membelikan Caitlyn kudapan manis bukan cuma dirinya seorang. “Kamu membelikan Caitlyn macaron?” tanyanya pada Darcio.
Bukannya Darcio, malah Caitlyn yang menjawab, “Iya, sayang, Darcio yang membelikannya untukku. Tadi dia juga menemaniku ke restoran, dan setelah itu kita berkunjung ke rumah sakit. Kami dapat kabar buruk. Sagara jatuh di kamar mandi dan mengalami cedera tulang belakang karena insiden tersebut. Sekarang dia belum sadar dari operasinya.”
Zaiden mengangguk. “Semoga ayahmu lekas sembuh,” tuturnya pada Darcio dengan nada bicara serta raut wajahnya yang nampak ogah-ogahan.
“Terima kasih,” sahut Darcio tawar. Dia beralih bicara kembali pada Caitlyn. “Aku balik dulu. Kalau ada sesuatu yang terjadi, jangan lupa untuk langsung menghubungiku, oke?” perintahnya.
Caitlyn mengangguk, “Pasti. Hati-hati di jalan, sampai jumpa besok.”
Zaiden baru angkat bicara lagi setelah Darcio pergi meninggalkannya dan juga Caitlyn, “Kalau begitu, itu artinya ayahnya tidak akan jadi bodyyguard-mu lagi dong? Mustahil ‘kan orang yang kena sakit stroke dan cedera tulang belakang bisa jadi bodyguard?”
“Tidak, sayang,” jawab Caitlyn sembari menekan tombol lift.
“Sudah kuduga,” gumam Zaiden dengan senyum tipisnya. Dia lalu ikut masuk ke dalam lift bersama dengan Caitlyn. Darcio sudah menghabiskan banyak waktunya bersama dengan Caitlyn hari ini, dan Zaiden pun merasa tak mau kalah. Dia juga harus memberikan waktunya untuk Caitlyn.
“Kamu mau mampir atau sekalian menginap?” tanya Caitlyn heran.
Zaiden tersenyum. “Dua-duanya, sayang,” jawabnya seraya merangkul pundak kekasihnya.
Dia mencium bibir Caitlyn dengan mesra dan menggendong Caitlyn ala bridal style sampai tiba di unit apartemen Caitlyn. Dia lalu mendudukkan Caitlyn di sofa ruang tamu. Diletakkannya sekotak Dunkin Donuts, sekotak macaron, handbag milik Caitlyn serta tas nike-nya ke atas meja. Zaiden lalu beranjak melepas high heels yang sedang dikenakan Caitlyn, seraya merasakan betapa halus dan mulsunya kaki jenjang Caitlyn. Dia duduk di belakang Caitlyn lalu mulai memijati pundak Caitlyn, yang otot-ototnya terasa kaku itu, dengan pelan.
“Terima kasih, sayang,” gumam Caitlyn sambil memejamkan matanya, merasakan nikmatnya remasan tangan Zaiden. “Aku suka setiap kali kamu memijatku seperti ini.”
Zaiden menyibak rambut Caitlyn ke samping lalu memberikan leher dan tengkuknya sebuah kecupan. “Sama-sama, sayang,” bisiknya. Dia terdiam sejenak sebelum lanjut bertanya, “Bodyguard lamamu itu sudah sakit sejak lama?”
Caitlyn menggeleng, “Belum lama ini dokter memvonis Sagara mengidap stroke. Aku tak tahu apakah dia punya penyakit menahun atau tidak. Dulu selama dia masih jadi bodyguard-ku, aku hampir tidak pernah melihatnya jatuh sakit selain batuk, pilek atau demam. Sepertinya faktor usia juga, sayang.”
“Orangtuamu sudah tahu dong kalau dia masuk rumah sakit?”
“Tahu,” jawab Caitlyn. “Ayah dan ibuku yang membantu membayar serta mengurus semua biaya perawatannya Sagara. Dia memang sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri.”
Zaiden tersenyum kecut. Hidup itu memang tidak adil, pikirnya. Seandainya dirinya yang sakit keras, jangankan mau membantu melunasi biaya rumah sakitnya, barang untuk menjenguknya saja pasti orangtua Caitlyn tidak sudi. Tetapi Zaiden tidak akan menyerah. Dia memang tak bisa memenangkan hati orangtua Caitlyn, tapi setidaknya, cinta Caitlyn sudah ada dalam genggaman tangannya sekarang.
Dikecupnya kembali tengkuk Caitlyn. Diremasnya pundak Caitlyn dengan gaiirah yang mulai menggelora. “Aku mencintaimu, sayang,” gumam Zaiden.
“Aku juga mencintaimu,” sahut Caitlyn dengan senyumnya.
Lambat-lambat tangan Zaiden bergerak menuju sepasang gundukan ranum milik Caitlyn. Dibukanya tiga kancing teratas blouse yang sedang dikenakan Caitlyn. Tangan Zaiden lalu menyelinap masuk ke balik blouse Caitlyn. Diremasnya gundukan ranum milik Caitlyn sampai membuat Caitlyn mengeluarkan desahan kenikmatannya, “Ahh …”
Zaiden tersenyum puas. Dengan cekatan dia membantu Caitlyn menanggalkan blouse-nya. Jari-jari tangannya lalu berpindah untuk menggelitiki perut dan pinggang Caitlyn, membuat tubuh Caitlyn sedikit menggeliat karena geli. Tangannya terus bergerak semakin ke bawah, dan berhenti tepat di area intim Caitlyn yang masih tertutup rok span serta stocking panties-nya. Dibelainya area intim Caitlyn seraya memainkan satu gundukan ranumnya dari belakang.
Tetapi hanya beberapa detik berselang, Caitlyn meminta Zaiden untuk berhenti, “Stop.” Dia lalu membalik tubuhnya. Ditatapnya kembali wajah tampan kekasih hatinya.
“Kenapa, sayang?” tanya Zaiden sembari menangkupkan wajah Caitlyn dengan tangan kanannya.
Ditatapnya Zaiden dengan sorotnya yang sayu. “Maaf, tapi aku sudah kehabisan tenaga untuk berciinta denganmu,” jawab Caitlyn. Dia melingkari kedua tangannya di leher Zaiden, “Dari pagi sampai malam, hari ini hampir seharian aku ada di luar.”
Zaiden tersenyum, “Tidak apa-apa, aku paham betapa capeknya kamu.”
Caitlyn tahu, Zaiden tidak akan memaksanya. Dia memang tipe laki-laki yang peduli dan pengertian. Namun sayangnya, batang keperkasaan milik Zaiden yang telah berdiri dengan tegak dan nampak menonjol dari balik boxer dan celana training-nya itu, tak bisa berdusta. “Biarkan aku yang menyentuhmu,” ucapnya sembari membelai milik Zaiden yang keras dan besar.
“Jangan,” tutur Zaiden sambil menjauhkan tangan Caitlyn dari area intimnya. “Izinkan aku melaksanakan tugas dan kewajibanku.”
“Tugas dan kewajibanmu?”
“Ya, yaitu memuaskanmu,” jawab Zaiden. Dia lalu membaringkan tubuh Caitlyn ke atas sofa. Disingkirkannya semua pakaian yang masih menutupi tubuh sexy Caitlyn. Zaiden membiarkan Caitlyn meletakkan kedua kaki jenjangnya di pundaknya yang lebar. Dia lalu membungkukkan tubuhnya sedikit guna mengecup lipatan kenikmatan milik Caitlyn. “Aku janji akan selalu ada untuk menyenangkanmu, sayang,” imbuhnya sambil memasukkan dua jarinya ke dalam lubang surga milik Caitlyn dengan perlahan.
*****
Ponsel Darcio berdering saat dia tengah mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Dilihatnya sekilas layar ponselnya. Ada satu panggilan masuk dari Irina. Darcio lalu menepi sebentar di bahu jalanan. Dijawabnya panggilan masuk tersebut. “Ada perlu apa, Irina?” tanyanya.
“Aku tahu ini sudah malam, tapi … jika kamu ada waktu sebentar saja, bisa tidak kita bertemu sekarang?” pinta Irina. “Eh, tapi kalau kamu tidak bisa juga tak apa-apa deh. Kita bisa bicara di telepon. Aku cuma ingin ngobrol sebentar denganmu,” sambungnya.
“Kita ketemuan saja,” ucap Darcio. “Kebetulan aku masih di luar.”
“Benarkah?” tanya Irina terkejut. “Memangnya kamu habis dari mana? Kok masih keluyuran jam segini?”
“Akan kuceritakan semuanya habis ini.” Darcio lanjut bertanya, “Kamu di mana sekarang? Biar aku yang menemuimu.”
“Aku masih di tempat kerja. Aku dapat giliran shift malam hari ini.”
“Oke, tunggu aku di situ.” Darcio tiba di depan Organic Fresh, mini market yang buka dua puluh empat jam tempat Irina kerja sebagai seorang kasir itu, kira-kira setengah jam kemudian. Usai memarkir mobilnya, dia lalu memasuki mini market tersebut. Irina tidak sedang sendirian, melainkan sedang bersama dengan seorang temannya, yang juga kasir mini market itu, dan tiga orang pengunjung mini market yang sedang asik berbelanja.
Irina lalu meminta izin pada temannya untuk bicara sebentar dengan Darcio. Diajaknya Darcio bicara empat mata di dalam mobil, yang menurut Irina, jauh lebih enak dibanding harus bicara di luar dan terkena dinginnya angin malam.
“Apa yang mau kamu bicarakan denganku?” tanya Darcio.
“Belakangan hari ini kamu tidak membalas chat-ku. Kamu juga sempat tidak menjawab teleponku waktu itu,” jawab Irina lirih. “Apa aku ada berbuat salah padamu? Kenapa kamu jadi menghindariku?”
Darcio menggeleng. “Tidak, bukan itu maksudku,” jawabnya. Dihelanya nafas panjang sejenak, “Waktu itu aku lagi di rumah sakit. Ayahku belum sembuh dari stroke-nya, dan sore tadi aku malah dapat kabar kalau ayah jatuh di kamar mandi. Tulang belakangnya cedera. Dia sudah dioperasi, dan sekarang mungkin saja operasinya juga belum selesai. Aku tinggal menunggu bagaimana hasilnya.”
“Maaf, aku sudah salah paham denganmu,” ucap Irina iba. “Bagaimana ayahmu bisa jatuh di kamar mandi?”
“Suster yang biasa merawatnya pergi sebentar buat beli makanan. Ayah sudah tak tahan ingin buang air kecil, jadi, ya, dia terpaksa pergi ke kamar mandi sendirian. Karena tubuhnya lemah makanya dia jatuh.”
“Kudoakan semua yang terbaik untukmu,” tutur Irina sambil mengusap-usap paha Darcio dengan tangan kanannya. Selama lima detik matanya menyatu dengan mata Darcio. Bibir keduanya bungkam, tak ada satupun yang angkat bicara. Dengan perlahan Irina bergerak mendekati Darcio. Dia lalu menutup sepasang maniknya sambil meremas pelan paha Darcio.
Tetapi hanya tinggal beberapa senti lagi sampai bibirnya bersentuhan dengan bibir Irina, Darcio langsung bergerak menjauhinya. Dia membuang muka, berganti menatapi terangnya bulan purnama yang menghiasi indah dan sunyinya langit malam. Dia tak bisa membiarkan ini terjadi. Dia bukan untuk Irina.
Darcio mengganti topik pembicaraan dan lanjut bertanya, “Bagaimana kabar Gwyneira?”
Senyum Irina berubah samar. Ada sedikit kekecewaan yang tergambar di wajah cantiknya. “Dia baik-baik saja. Dia bilang dia rindu padamu,” jawabnya.
Pertemuan Darcio dan Irina benar-benar tidak disengaja. Malam itu Darcio tengah menyetir sendirian. Dia hendak bertemu dengan teman-temannya di sebuah klub malam, dan langsung menghentikan mobilnya saat dia melihat Irina, yang sedang menyusuri bahu jalanan sambil menggendong putrinya, Gwyneira Frascuelo, yang kala itu usianya baru tiga tahun.
Irina menangis tersedu-sedu. Matanya bengkak. Pipinya memar membiru akibat pukulan tangan suaminya yang kasar. Rambutnya acak-acakan. Memar bekas sabetan ikat pinggang menghiasi lengan serta pahanya. Dia cuma mengenakan sebuah kaos warna lilac, celana jeans serta sandal jepit. Tubuhnya terlihat menggigil, tak kuasa menahan dinginnya terpaan angin malam. Penampilannya terlihat menyedihkan sekali.
Dengan sigap Darcio keluar dari mobilnya. Dihampirinya Irina dan si kecil Gwyneira dengan penuh kekhawatiran. “Aku boleh membantumu?” tanyanya seraya menatapi luka di wajah dan lengan Irina dengan sorot horor.
Irina menggeleng, “Kumohon, tinggalkan kami sendiri.”
“Masuklah, ikutlah denganku. Kita ke rumah sakit sekarang untuk mengobati lukamu. Tidak aman jalan sendirian seperti ini. Apalagi kamu membawa anak kecil, dia juga pasti kedinginan, bukan?” pinta Darcio separo memohon.
Irina tak menjawab. Dia kelihatan masih takut dan masih tak percaya dengan Darcio.
“Percayalah denganku, aku tak akan menyakiti kalian,” imbuh Darcio. Dia mengeluarkan dompet yang dia simpan di saku celananya lalu menyerahkan kartu tanda pengenalnya pada Irina, “Ini kartu tanda pengenalku. Namaku Darcio Komarovski. Kalau sampai aku berani berbuat macam-macam padamu, kamu bisa memberikan kartu tanda pengenalku ke polisi.”
Barulah setelah itu Irina bersedia diajak ke rumah sakit oleh Darcio. Dan semenjak saat itu, hubungan Darcio dan Irina yang tadinya asing berubah jadi semakin dekat. Terutama saat Darcio mendengar bagaimana memilukannya kisah hidup Irina.
Irina adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Leonidas Frascuelo, yang usianya delapan tahun lebih tua dari dirinya itu, acap kali memukulinya dan mengata-ngatainya dengan beragam sumpah serapah. Dia seorang kuli bangunan. Suka mabuk-mabukan sampai subuh. Irina terpaksa menikahi Leonidas karena dia sudah terlanjur mengandung anaknya.
Kehamilan Irina pun sebenarnya juga terjadi karena ulah Leonidas. Dia meniduri Irina saat Irina tengah tak sadarkan diri akibat banyaknya alkohol yang dia suguhkan di gelas minumannya. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Bukan cuma Leonidas, Irina pun harus kerja setiap hari demi menghidupi Gwyneira. Pendidikannya yang tidak terlalu tinggi membuatnya hanya mampu mendapatkan kerjaan sebagai kasir di mini market.
Kalau sedang mabuk sekali, terutama saat sedang ada masalah di tempat kerjanya, yang akan jadi bulan-bulanan Leonidas pastilah istrinya. Tetapi demikian, untungnya Leonidas tak memperlakukan putri semata wayangnya sebagaimana dia memperlakukan istrinya. Dia sayang dengan Gwyneira, demikian pun dengan Gwyneira, yang mampu merasakan kasih sayang dari ayahnya ... walau cuma sedikit.
Karena alasan itulah, Irina belum bisa menceraikan Leonidas sampai sekarang. Terlebih-lebih lagi, dia tahu kalau Leonidas pun juga tak akan dengan mudahnya melepas dirinya begitu saja.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥