“Maaf,” gumam Darcio. Rasa bersalah terpancar di wajahnya yang tampan. Ditatapinya stir mobilnya dengan dahi yang agak mengerut. “Aku tak bermaksud mau berbuat mesuum padamu,” imbuhnya.
Caitlyn tersenyum tipis. Dia langsung mengalihkan arah pembicaraan, “Antar aku ke restoran Royal Intermezzo sekarang. Aku mau ketemuan dengan teman-temanku.”
Darcio hanya mengangguk. Caitlyn tertidur pulas selama dalam perjalanan menuju restoran. Dia pasti sangat kelelahan, pikir Darcio. Ditambah lagi, cuaca yang mendung dan alunan musik mendayu-dayu yang diputar di radio pasti membuat Caitlyn jadi tambah ngantuk.
Dia beralih menatap Caitlyn sejenak. Hujan rintik-rintik yang mulai mengguyur jalanan kota metropolitan tersebut dan dinginnya AC mobil membuat tubuh Caitlyn jadi sedikit menggigil. Tepat di lampu merah, Darcio beranjak menanggalkan setelan abu-abunya lalu menggunakannya untuk menutupi tubuh bagian atas Caitlyn. Dia baru membangunkan Caitlyn setelah sampai di tempat parkir mobil restoran Royal Intermezzo.
Caitlyn nampak sedikit terkejut kala dia menemukan setelan abu-abu milik Darcio menutupi tubuhnya, “Oh?”
Darcio tersenyum, “Kamu kelihatan kedinginan tadi.”
“Terima kasih,” ucap Caitlyn.
Hujan yang tadinya turun rintik-rintik berubah jadi makin deras. Darcio menggunakan setelan abu-abunya untuk menutupi kepalanya dan kepala Caitlyn sampai masuk ke dalam restoran. Keduanya sedang tidak bawa payung.
“Kamu di sini saja, dari pada menunggu di dalam mobil?” saran Caitlyn. “Sagara juga dulu sering melakukan ini. Saat aku diajak makan kolega kerjaku, dia pasti akan ikut masuk ke restoran dan mengawasiku dari jauh.”
“Kamu yakin tidak merasa terganggu?”
Caitlyn menggeleng dengan senyumnya yang manis. “Tidak sama sekali,” jawabnya. “Aku yang traktir, oke? Kamu boleh pesan menu apapun yang kamu mau.”
“Thanks.”
Tiga orang teman sosialita Caitlyn tengah duduk menunggu di lantai dua restoran tersebut. Ketiganya terperangah saat melihat Darccio, yang jalan di belakang Caitlyn. Mereka bahkan sampai lupa menyapa Caitlyn.
“Hai, maaf telat,” sapa Caitlyn seraya meletakkan handbag-nya ke atas meja makan.
Louissa, yang berprofesi sebagai dokter bedah plastik itu, yang pertama kali bertanya pada Darcio, “Kamu kenalannya Caitlyn?”
“Dia bodyguard baruku. Dia yang menggantikan bodyguard lamaku yang lagi sakit stroke,” jawab Caitlyn. Dia beralih bicara pada Darcio, “Kenalkan, ini temanku Louissa, Diana, dan Melvan.”
“Darcio Komarovski,” ucap Darcio ramah. Dia lalu melayangkan pandangannya sejenak ke sekeliling restoran, mencari di mana letak bangku kosong. “Aku duduk di pojok sana kalau kamu membutuhkan bantuanku,” sambungnya pada Caitlyn. Dia lalu meninggalkan Caitlyn dan teman-temannya.
“Eh, Cait,” panggil Melvan, seorang penasihat keuangan yang gajinya mencapai ratusan juta per bulan. “Cari di mana sih bodyguard yang modelannya seperti itu? Aku juga mau dong,” tanyanya sembari bergurau.
“Dia anak bodyguard lamaku, Sagara Komarovski,” jawab Caitlyn. “Orangtuaku tak mempercayakan bodyguard lain, makanya mereka meminta Darcio untuk jadi penggantinya. Kebetulan Darcio juga paham dengan seluk beluk dunia ke-bodyguard-an.”
“Apa dia sudah punya pacar?” tanya Diana, seorang desainer terkenal yang baru saja merancang gaun untuk aktris yang mau menghadiri acara Cannes Film Festival itu, spontan. “Ah, tapi agak mustahil tidak sih cowok seganteng dia belum punya pacar?”
Caitlyn terdiam sejenak, merenungi ucapan Diana barusan. Dia memang belum pernah bertanya apapun soal kehidupan asmara Darcio. Yang dia ingat, ada satu perempuan bernama Irina yang waktu itu sempat menghubungi Darcio di rumah sakit, tapi Darcio tidak menjawab teleponnya.
Mungkinkah wanita bernama Irina itu kekasih Darcio?
“Kamu ‘kan sudah mau menikah. Masa bertanya seperti itu?” timbrung Melvan.
“Bertanya saja tidak ada salahnya, kan?” debat Diana.
Caitlyn menggeleng, “Aku tidak tahu. Tapi harusnya Darcio sudah punya pacar.”
“Terus bagaimana respon pacarmu saat tahu kamu punya bodyguard setampan itu?” tanya Louissa.
“Tanpa harus kujelaskan lagi, kalian pasti sudah bisa menebak ‘kan bagaimana reaksi Zaiden?” jawab Caitlyn seraya bergurau. Dia lanjut bicara, “Omong-omong, sekarang Zaiden jadi personal trainer-nya Giselle Moon.”
“Hah? Giselle Moon siapa?” tanya Melvan bingung.
“Duh, masa kamu tidak tahu?” ujar Diana. “Itu loh, aktris pendatang baru yang filmnya lagi terkenal. Katanya film terbarunya ada banyak adegan erotisnya.”
“Tidak heran deh dia bisa jadi aktris populer,” komentar Louissa sarkas.
Diana meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja makan. Dia lalu menunjukkan akun sosial media Giselle Moon pada Melvan, “Ini yang namanya Giselle Moon.”
Dilihat-lihatnya beberapa foto-foto Giselle Moon yang tertata rapih di laman akun sosial medianya itu. “Sial, dia sexy sekali. Pinggul dan payudaranya ini kira-kira asli atau hasil tangan dokter, ya?” tanya Melvan yang masih sibuk menatapi layar ponsel Diana.
“Aku pernah lihat foto-fotonya sebelum dia seterkenal sekarang,” timpal Louissa, yang ikut melayangkan pandangannya pada layar ponsel Diana. “Kalau membandingkan fotonya yang lama dengan yang baru, aku rasa dia sudah menjalani beberapa prosedur operasi plastik. Yang paling ketara bagian mata, hidung dan bibirnya. Sepertinya dia juga melakukan botox supaya wajahnya tambah kencang.”
“Enaknya punya teman dokter bedah plastik ya seperti ini,” canda Diana.
Louissa mengangguk, “Tapi harus kuakui, dokter yang melakukan permak wajahnya ini punya tangan dewa. Hasilnya natural sekali. Aku harus belajar banyak teknik dari dokter bedah plastiknya nih.”
“Hmm … Padahal kelihatannya dia masih muda. Tapi kenapa dia berani melakukan prosedur operasi plastik sebanyak ini, ya?” tanya Melvan.
“Maklum, tuntutan karir,” kata Louissa. “Risiko kerja di dunia hiburan ya seperti itu.”
Diana tersenyum. Dia lalu menyiku lengan Caitlyn, yang sejak tadi hanya bungkam sembari mendengarkan gosip ketiga kawan baiknya itu, “Hati-hati, Caitlyn. Kamu punya ‘saingan’ loh.”
“Maksudmu Giselle Moon? Ah, aku yakin Zaiden tidak akan kepincut sama dia. Caitlyn ‘kan lebih sexy dan lebih cantik dibanding Giselle. Dan yang paling penting, Caitlyn itu cantiknya alami,” tampik Melvan. Dia lanjut menggoda Caitlyn, “Aku benar ‘kan, Cait?”
Caitlyn hanya tersenyum.
“Aku rasa bukan cuma Zaiden yang harus berhati-hati,” timpal Louissa. “Kalian tidak lihat bagaimana rupa bodyguard barunya Caitlyn? Kalau aku jadi Zaiden, aku pasti akan semakin posesif sama Caitlyn. Apalagi yang namanya bodyguard selalu mengikuti ke manapun majikannya pergi, kan?”
“Aku bukan majikannya Darcio,” tukas Caitlyn, kurang suka saat Louissa menyebut kata ‘majikan’. “Dia dan Sagara lebih dari sekadar bodyguard-ku. Mereka adalah pelindungku. Keluargaku.”
Melihat suasana yang tiba-tiba berubah jadi tegang, Diana dengan sigap memutar topik pembahasan, “Um, teman-teman? Pesan makanan yuk? Aku sudah lapar nih.”
Dan setelahnya suasana berubah jadi normal kembali. Caitlyn menghabiskan hampir satu jam waktunya untuk ngobrol dengan teman-teman sosialitanya. Selama itu pula, dia sesekali menoleh ke belakang, ke tempat di mana Darcio duduk. Walaupun Caitlyn bilang kalau dia boleh pesan apapun yang dia mau, tapi Darcio cuma pesan segelas lime drop martini. Sesekali dia tersenyum saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata Caitlyn.
Caitlyn menghampiri Darcio kembali usai mengantar ketiga kawan sosialitanya untuk pulang lebih dulu. “Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ucapnya tidak enak. Dilihatnya sekilas segelas lime drop martini pesanan Darcio yang sudah habis, “Kenapa cuma pesan martini? Memangnya kamu tidak lapar?”
“Tidak,” jawab Darcio. Dia kelihatan agak resah. “Barusan aku dapat telepon dari pihak rumah sakit. Mereka bilang ayah jatuh di kamar mandi tadi dan sudah dilarikan ke ruang operasi,” imbuhnya.
Tanpa banyak bicara Caitlyn langsung mengajak Darcio mengunjungi rumah sakit. “Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal?” tanyanya sesampainya di dalam mobil. Sama seperti Darcio, Caitlyn pun terlihat panik.
“Karena aku tak mau mengganggumu.”
Caitlyn mendengus kesal. “Janganlah mengorbankan waktu yang harusnya kamu berikan untuk keluargamu hanya demi aku,” ujarnya iba.
“Itu sudah jadi tugasku, Nona Caitlyn.”
*****
Setibanya di rumah sakit, Darcio dan Caitlyn bertemu dengan seorang perawat yang tadi menginfokan Darcio kalau Sagara jatuh di kamar mandi. Joanna, ibu Caitlyn, juga da di sana. Sementara Marcus, ayah Caitlyn, sedang sibuk melunasi biaya operasi Sagara.
“Bagaimana ayah bisa jatuh, sus?” omel Darcio pada perawat tersebut. “Memangnya tidak ada yang membantunya? Suster dan dokter harusnya tahu, kan, kalau ayah kena stroke dan harus diawasi betul-betul?”
“Maaf, pihak rumah sakit sudah lalai,” ucap si perawat lirih. “Tadi perawat yang biasa membantu Tuan Sagara pergi sebentar untuk beli makan, dan waktu dia balik, tahu-tahu Tuan Sagara sudah jatuh terkapar di kamar mandi. Kemungkinan Tuan Sagara sudah tak tahan mau ke kamar mandi, maka dari itu dia memutuskan untuk ke kamar mandi sendiri. Celana dan pakaian dalamnya juga basah karena urine.”
Hati Caitlyn hancur berkeping-keping. Terutama saat dia mendengar kalau Sagara bahkan sampai buang air kecil di celananya. Caitlyn tak menyangka akan kehilangan sosok Sagara Komarovski yang kuat nan gagah. “Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya cemas.
“Tuan Sagara mengalami cedera tulang belakang akibat insiden itu,” jawab sang perawat. “Sekarang dokter sedang melakukan tindak operasi. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu sampai operasinya selesai,” imbuhnya. Dia lanjut bicara kembali pada Darcio, “Sekali lagi saya, mewakili rumah sakit ini, meminta maaf sebesar-besarnya atas insiden tersebut. Saya permisi dulu.”
“Untungnya dokter dan pihak rumah sakit cepat tanggap,” kata Joanna pada Darcio. “Kamu tidak usah khawatir, kami ada di sini untukmu. Sagara pasti akan pulih seperti sedia kala,” tenangnya.
Darcio hanya tersenyum tipis.
Istri CEO Damaris Group itu lanjut bertanya, “Kalian baru pulang kantor?”
“Tidak, kami baru pulang dari restoran Royal Intermezzo. Aku ketemuan dengan teman-temanku di sana tadi,” jawab Caitlyn. “Ayah tidak ikut?”
“Ayahmu lagi mengurus biaya operasinya Sagara.” Joanna lalu memalingkan pandangannya pada Darcio. “Bisa bicara sebentar denganku?” pintanya. Dia lalu mengajak Darcio bicara empat mata di lorong yang lebih sepi, jauh dari jangkauan Caitlyn.
“Apa yang mau ibu bicarakan?” tanya Darcio penasaran.
“Kamu pasti tahu ‘kan kalau aku dan suamiku merasa beruntung sekali punya Sagara yang bisa selalu menjaga Caitlyn?”
Darcio hanya mengangguk. Dia juga tahu betapa sayangnya ayahnya pada Caitlyn.
Joanna tersenyum, “Tapi aku sadar, sebagai manusia yang pasti akan menua dan melemah fisiknya, kami tidak bisa selamanya mengandalkan Sagara untuk terus menjaga Caitlyn. Usia kami pun sudah tidak muda lagi. Sama seperti Sagara, kami tak bisa selamanya terus-terusan berada di samping Caitlyn. Kami pun pasti akan ‘pergi’ suatu hari nanti. Maka dari itu …” Diraihnya tangan kanan Darcio. “… maukah kamu selalu menjaga Caitlyn untuk kami?” pintanya separo memohon.
“Tentu,” jawab Darcio mantab. “Aku akan selalu menjaga Caitlyn.”
Dipeluknya tubuh Darcio dengan erat. “Terima kasih. Kami banyak berhutang budi padamu,” tutur Joanna. Dia dan Darcio menghampiri Caitlyn kembali setelah itu.
“Sudah malam, sebaiknya kamu pulang sekarang,” kata Darcio pada Caitlyn yang tengah memainkan ponselnya.
“Benar,” timbrung Joanna. “Biar ibu dan ayah yang menunggu di sini.”
Caitlyn menghela nafas panjang. Sejujurnya dia belum mau pulang. “Baiklah. Jangan lupa mengabariku lagi nanti,” pesannya.
“Ayo,” ajak Darcio.
Caitlyn menggeleng, “Jangan, kamu di sini saja. Aku bisa pulang sendiri. Setelah Sagara pulih dari operasinya, pasti orang pertama yang mau dia temui adalah kamu.”
Darcio tersenyum. “Operasi tulang belakang bukanlah jenis operasi yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat, Nona Caitlyn. Dan jika ayah sudah selesai dioperasi pun, efek anestesinya pasti butuh waktu beberapa jam untuk benar-benar hilang,” jelasnya.
“Okelah, Pak Dokter,” gurau Caitlyn. “Sampaikan salamku buat ayah,” pamitnya pada ibunya.
“Hati-hati di jalan.”
Begitu tiba di parkiran mobil, Caitlyn langsung melontarkan pertanyaan yang sejak tadi sangat ingin dia tanyakan, “Apa saja yang sudah ibuku bicarakan padamu?” Malah tadi dia sempat berpikir untuk diam-diam menguping pembicaraan Darcio dan ibunya.
“Beliau cuma bilang agar aku berjanji untuk selalu menjagamu,” jawab Darcio seraya membuka kunci mobil.
“Jadi itu artinya … kamulah yang benar-benar akan menggantikan Sagara?”
Darcio menatap Caitlyn pasrah. “Di hari dimana dokter bilang kalau ayah kena stroke, sebenarnya ayah dan ibumu sudah yakin kalau ayahku tak akan mungkin jadi bodyguard-mu lagi,” akunya. “Apa kamu merasa keberatan kalau aku yang jadi bodyguard-mu? Kalau iya, aku bisa membantumu mencari bodyguard lain. Biar aku yang menjelaskannya pada ayah dan ibumu.”
“Kamu sudah berjanji pada orangtuaku untuk selalu menjagaku, bukan?”
Darcio mengangguk, “Ya.”
Caitlyn tersenyum, “Maka janganlah mengingkari janjimu.”
Darcio membalas senyum Caitlyn, “Kalau itu yang kamu mau, aku tak akan mengingkari janjiku.”
“Terus … ibu tidak bicara apa-apa soal Zaiden?”
“Tidak.”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥