Waktu menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh malam saat mobil yang dikendarai Darcio tiba di depan apartemen Caitlyn.
“Kamu tidak mau nginap malam ini?” tawar Caitlyn. “Atau mampir sebentar buat minum teh atau kopi?”
Zaiden menggeleng, “Aku tidak mau sering-sering menginap di apartemenmu, aku ‘kan punya tempat tinggal sendiri. Aku tak mau merepotkanmu, sayang,” jawabnya.
“Baiklah,” sahut Caitlyn dengan senyumnya.
“Oh, ya, aku hampir saja lupa.” Zaiden melepas sabuk pengamannya lalu beranjak mengambil sebuket bunga mawar merah segar yang dia letakkan di jok bagian belakang mobilnya. Diberikannya sebuket bunga mawar merah itu untuk kekasihnya, “Untukmu.”
Diterimanya sebuket bunga mawar merah tersebut dengan perasaan bahagia. “Jadi dari tadi kamu menaruh buket bunga ini di jok bagian belakang mobilmu dan aku tak menyadarinya? Duh, bodohnya diriku,” ujar Caitlyn sambil bercanda. Dihirupnya sejenak aroma bunga mawar merah segar tersebut. “Terima kasih, sayang. Bunganya harum,” imbuhnya.
Zaiden memberikan Caitlyn kecupan di dahi dan bibirnya. “Sama-sama, sayangku,” sahutnya.
Caitlyn terdiam sejenak sebelum lanjut bicara, “Giselle Moon, aktris pendatang baru yang kamu bilang mau menjadikanmu sebagai personal trainer-nya itu, kalau tidak salah yang main film ‘Manusia Tanpa Cinta’, bukan?”
“Benar,” jawab Zaiden. “Kamu sudah nonton filmnya?”
Caitlyn menggeleng, “Belum, sayang. Aku kurang suka sama genre filmnya.”
“Sejujurnya aku juga belum nonton filmnya,” kata Zaiden. Dia mengganti topik pembicaraan, “Omong-omong, bagaimana dengan bodyguard barumu?” Ada sedikit kecemburuan yang terpancar di sorot matanya.
“Maksudmu Darcio? Dia menjalankan tugasnya dengan baik kok. Dia bodyguard yang handal, sama seperti ayahnya,” jawab Caitlyn. Dia tak bisa menyembunyikan senyumnya saat dia mengingat kembali bagaimana sengitnya perdebatan tak penting antara Zaiden dan Darcio tadi, yang menurutnya, sangatlah lucu walaupun sukses membuat kepalanya jadi pening.
“Apanya yang lucu?” tanya Zaiden sembari mengernyitkan dahi.
“Kamu lupa kalau tadi kamu sempat berdebat dengan Darcio di rumah sakit?”
“Aku tidak lupa,” jawab Zaiden agak ketus. “Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa dengan mudahnya kamu memberikan alamat apartemenmu padanya? Ayahnya boleh jadi bodyguard yang baik, tapi apakah ada jaminan kalau putranya juga punya perilaku yang sama?” Zaiden tak tahu saja kalau Darcio bahkan juga memegang kunci duplikat apartemen Caitlyn, yang dia peroleh dari ayahnya.
“Ayolah, dia cuma menjalankan tugasnya, sayang,” tegas Caitlyn. “Lagipula pada ujungnya juga dia pasti akan tahu di mana alamat apartemenku. Lalu aku bisa apa?”
Zaiden menghela nafas panjang. “Maaf, aku cuma mengkhawatirkanmu. Dan aku begitu takut kehilanganmu setelah apa yang sudah orangtuamu katakan tentang hubungan kita,” akunya lirih.
Caitlyn paham apa yang dirasakan kekasihnya. Setelah melalui banyak rintangan yang dipenuhi dengan duri dan batu kerikil, pasti tidak mudah bagi Zaiden untuk bisa membangun kepercayaan dirinya kembali. Caitlyn menangkupkan wajah Zaiden dengan tangan kanannya lalu mencium bibirnya selama lima detik lamanya. “Percayalah, aku tak akan pernah meninggalkanmu,” tuturnya serius.
“Aku mencintaimu,” gumam Zaiden. Dia mengecup dahi Caitlyn kembali, “Selamat malam, sayang.”
“Aku juga mencintaimu, sayang,” sahut Caitlyn. “Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai jangan lupa menghubungiku,” pesannya.
**Keesokan harinya**
Caitlyn sedang duduk di depan meja rias seraya memulas bibirnya menggunakan lipstik warna cherry red saat dia mendengar pintu apartemennya diketuk. Dibukanya pintu apartemennya. Bodyguard barunyalah yang tengah berdiri menunggunya. Dia berpakaian setelan rapih dengan sepatu pantofel yang mengkilap. Rambutnya yang tebal dan berwarna hitam agak kecoklatan itu dia sibak ke samping.
“Aku kira kamu tidak akan datang?” tanya Caitlyn seraya menatap Darcio bingung.
Darcio tersenyum, “Ayahku selalu sampai di apartemenmu pukul tujuh, kan? Lalu setelah itu dia yang akan mengantarmu ke kantor?”
“Ya, tapi ‘kan sekarang baru jam enam lewat lima belas?”
“Aku sengaja datang lebih awal karena siapa tahu kamu butuh sesuatu.”
“Masuklah,” ajak Caitlyn. Dia lalu memberikan segelas air mineral untuk Darcio. “Aku bangun lebih pagi soalnya ada janji temu dengan Kimberly. Dia hair stylist langgananku. Habis ini aku mau berkunjung ke salonnya sebentar,” imbuhnya.
“Kenapa tidak merias rambutmu sendiri saja? Bukannya makan waktu banyak kalau setiap pagi harus pergi ke salon dulu sebelum berangkat ke kantor?” pikir Darcio. Dia mengingat kembali bagaimana tatanan rambut dan riasan wajah Caitlyn kemarin. “Aku lihat tatanan rambut dan riasan wajahmu juga bagus. Aku rasa tak ada gunanya berangkat ke salon setiap pagi,” katanya separo memuji.
Caitlyn melempar senyumnya untuk Darcio, “Buang-buang waktu memang, tapi aku sudah terlanjur buat janji dengannya, jadi tidak enak kalau dibatalkan begitu saja. Apalagi dia rela buka salonnya lebih awal demi aku.”
“Aku bisa membantumu merias rambutmu.”
Senyum di wajah cantik Caitlyn melebar. “Sejak kapan kamu merangkap jadi seorang hair stylist?” guraunya. Dia lalu mengalihkan pandangannya sejenak pada setangkai bunga mawar warna peach yang dipegang oleh tangan kiri Darcio. “Um, apa bunga itu …”
“Untukmu,” potong Darcio sembari menyerahkan setangkai bunga mawar itu pada Caitlyn.
Diperhatikannya sejenak setangkai bunga mawar pemberian Darcio. Warna dan bentuknya mirip dengan bunga mawar kesukaan Caitlyn, Juliet rose. Bunga mawar langka yang harganya setinggi langit. Kemungkinan besar bunga mawar ini bukanlah Juliet rose asli, namun usaha Darcio dalam mencari bunga yang mirip dengan bunga kesukaan Caitlyn sungguhlah membuat hati Caitlyn terenyuh.
“Kamu benar, itu bukan Juliet rose asli. Yang asli harganya mahal sekali karena katanya butuh waktu lima belas tahun buat menumbuhkannya,” sambung Darcio, yang seolah-olah tahu apa yang sedang dipikirkan Caitlyn. “Dan maaf cuma memberikanmu setangkai.”
“Aku tak peduli walau kamu cuma memberikan setangkai. Aku juga tak peduli mau bunga ini palsu atau bukan, aku tetap sangat menghargai pemberianmu,” kata Caitlyn. Dia lalu meletakkan setangkai bunga mawar itu di vas yang juga dia gunakan untuk meletakkan bunga mawar pemberian Zaiden. Bunga mawar peach pemberian Darcio terlihat menonjol di tengah-tengah kumpulan bunga mawar merah pemberian Zaiden. “Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku suka bunga Juliet rose?” tanyanya.
“Dari ayahku.”
“Sagara pasti bicara banyak tentangku, ya?”
Darcio mengangguk, “Ayahku sangat menyayangimu, Nona Caitlyn.”
“Benar. Aku tak tahu sudah berapa kali ayahmu menaruhkan nyawanya hanya demi melindungiku,” ucap Caitlyn. “Jadi tadi kamu sempat mampir ke toko bunga?”
“Sebenarnya toko bunga itu belum buka. Pemiliknya keluar cuma untuk menjemur dan menyiram bunganya, tapi aku memaksa mau membeli bunga mawarnya. Karena kalau aku balik lagi ke toko bunga itu siang nanti, aku takut bunga mawarnya sudah keburu dibeli orang.”
“Kamu jadi pelanggann pertamanya dong?”
“Ya, boleh dibilang begitu.”
Caitlyn tersenyum, “Terima kasih, Darcio.”
“Sama-sama, Nona Caitlyn.” Darcio lalu memperhatikan sejenak bunga mawar merah yang mengelilingi bunga mawar peach pemberiannya. “Bunga mawar merah itu dari Zaiden?” tanyanya.
“Ya, dia yang memberikannya untukku kemarin.”
“Apa kemarin malam dia menginap di sini?”
“Tidak,” jawab Caitlyn sembari menggeleng. “Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa. Aku cuma bertanya.”
“Antar aku ke salonnya Kimberly dulu, ya? Habis itu baru ke kantor,” pinta Caitlyn.
Darcio tersenyum, “Aku akan mengantarmu pergi ke tempat manapun yang kamu mau.”
“Termasuk ke nirwana?” gurau Caitlyn.
“Aku bisa membuatmu merasakan indahnya ‘nirwana’,” rayu Darcio. Senyum dan tatapan matanya mengandung arti yang berbeda. Menyiratkan sedikit gaiirah.
“Um, aku lanjut dandan dulu,” tutur Caitlyn kikuk.
“Riasan wajahmu belum selesai? Aku kira sudah.”
“Belum, tinggal pakai maskara.”
Kedatangan Caitlyn dan Darcio di salon disambut dengan meriah oleh Kimberly. Wanita berambut unicorn itu memeluk Caitlyn sebentar lalu memalingkan seluruh perhatiannya pada Darcio.”Ini kekasihmu?” tanyanya dengan tatapan kagum.
“Eh, bukan. Dia bodyguard baru yang menggantikan bodyguard lamaku yang lagi sakit.”
Kimberly melayangkan senyum nakalnya pada Darcio. “Kamu terlalu tampan untuk jadi bodyguard. Kenapa tidak lamar jadi model atau aktor saja?” candanya.
“Aku tidak punya bakat di bidang akting dan modeling,” ujar Darcio.
“Rambutmu …,” kata Kimberly sambil memainkan ujung jari telunjuknya yang lentik itu di pundak Darcio. “… tidak mau kurias juga?” tawarnya dengan tatapan genit.
Darcio menggeleng. “Tidak usah, terima kasih. Kami tak punya banyak waktu karena habis ini Nona Caitlyn harus pergi ke kantor,” tolaknya.
“Hmm oke deh.” Kimberly lanjut bicara kembali pada Caitlyn, “Sering-sering mampir ke salonku, ya? Jangan lupa bawa bodyguard-mu juga.”
Caitlyn tersenyum, “Aku akan sering mampir asalkan kamu memberikanku diskon.”
Kalau bukan karena harus menjaga Caitlyn, ingin sekali rasanya Darcio buru-buru keluar dari salon tersebut. Kimberly bukan cuma menggodanya secara verbal, tapi juga secara non-verbal. Dia suka sekali menyentuh Darcio, entah itu di lengan, pundak, wajah atau rambutnya, tentunya tanpa seizin darinya. Bagi Kimberly, mungkin sentuhan-sentuhan itu cuma sekadar candaan. Namun bagi Darcio, perilaku yang seperti itulah yang paling membuatnya risih. Baru kali ini dia bertemu dengan perempuan segenit itu. Sepertinya harus ada yang memperingati Kimberly soal batasan-batasan dalam bercanda.
“Pemilik salon bernama Kimberly itu centil sekali,” gerutu Darcio sesampainya di dalam mobil kembali.
“Aku rasa dia suka padamu.”
Darcio menggeleng, “Dia bukan tipeku.”
“Kamu tdiak suka tipe cewek genit, ya?”
“Aku lebih suka merayu daripada dirayu,” tukas Darcio. “Dan aku lebih suka tipe perempuan yang kalem, elegan dan pandai sepertimu.”
Caitlyn tersenyum, “Baiklah. Lain kali kalau aku mampir ke salonnya lagi, kamu tunggu di mobil saja.”
“Yeah, aku rasa itu jauh lebih baik.” Darcio lanjut bicara, “Nanti sore mau kujemput?”
“Aku belum bisa jawab. Takutnya aku ada meeting atau tiba-tiba Zaiden mengajakku pergi.”
Darcio tak bertanya lagi. Dia baru bicara kembali setelah sampai di tempat parkir gedung Damaris Group. “Aku akan menunggumu di sini,” tuturnya seraya mematikan mesin mobil.
“Tidak mau pulang saja?”
Darcio menggeleng, “Aku bukan sopirmu, Nona Caitlyn, aku adalah bodyguard-mu. Jadi sudah seharusnya aku terus menjagamu dan tidak pernah meninggalkanmu jauh-jauh. Itu pula ‘kan yang dilakukan ayahku selama ini?”
“Baiklah, tapi kamu tetap boleh pulang atau pergi menjenguk ayahmu kalau kamu mau. Tidak usah izin lagi padaku,” ucap Caitlyn. Sebenarnya dia merasa kasihan pada Darcio. Pasti bosan menunggu bak kambing congek. Tapi apa boleh buat, itu memang sudah jadi tugas dan tanggungjawabnya. “Nanti sore kuhubungi lagi. Jangan lupa makan,” pesannya.
“Semoga harimu menyenangkan, Nona Caitlyn.”
“Kamu juga, Darcio.”
Pas di jam makan siang, Zaiden menghubungi Caitlyn. Dia bilang mau mengajak Caitlyn makan bersama malam nanti, namun menjelang sorenya, dia malah membatalkan janjinya. “Maaf, teman Giselle Moon mau bertemu denganku. Katanya dia juga mau memakai jasaku buat jadi personal trainer-nya dia,” ucapnya di telepon.
“Ya sudah,” gumam Caitlyn seraya memijit pelipisnya yang terasa agak sakit itu. Stres kerjanya yang tinggi membuat kepalanya jadi sering diterjang migrain.
“Kamu tidak marah, kan?” tanya Zaiden khawatir.
“Tidak, aku cuma lagi pusing sama kerjaanku,” tampik Caitlyn. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dengan temanku saja.”
“Temanmu itu laki-laki atau perempuan?”
“Perempuan, sayang. Louissa, Melvan dan Diana. Kamu ingat mereka, kan?”
“Oh, iya, aku masih ingat sama mereka,” ujar Zaiden dengan senyum lebarnya. “Oke, nanti kutelepon lagi. Aku mencintaimu, sayang.”
“Aku juga,” sahut Caitlyn singkat. Dia lanjut menghubungi Darcio, “Kamu masih di parkiran mobil?”
Darico mengangguk, “Ya, aku masih menunggumu.”
“Tunggu aku di situ.” Tiga puluh menit sebelum jam kerjanya berakhir, Caitlyn sudah menutup laptopnya dan merapihkan seluruh barang-barang pribadinya. Dia sudah tak mampu lagi memeras otak dan tenaganya. Dengan langkah lemas dia jalan menuju tempat mobilnya di parkir.
“Sore, Nona Caitlyn,” sapa Darcio saat melihat kedatangan Caitlyn. “Bagaimana harimu?”
“Biasalah, melelahkan. Aku lagi banyak kerjaan hari ini.”
“Mau?” tawar Darcio sembari memberikan Caitlyn sekotak macaron warna-warni. “Aku beli di toko patisserie yang ada di dekat sini.”
Suasana hati Caitlyn seketika berubah jadi lebih baik saat dia merasakan manis dan nikmatnya macaron pemberian Darcio. “Ini macaron terenak yang pernah kucoba,” tuturnya. “Aku paling suka makan makanan manis.”
“Aku tahu,” ucap Darcio dengan senyumnya yang semanis macaron itu. “Makanya aku sengaja membelikan macaron ini untukmu.”
Berkat Darcio, akhirnya Caitlyn bisa tersenyum lagi, “Thanks.”
Darcio beranjak mengambil selembar tissue yang tergeletak di dashboard mobil. Dia bergerak mendekati Caitlyn, lalu menggunakan tissue itu untuk membersihkan remahan macaron yang mengotori sudut bibir Caitlyn. Inilah kali pertama dia berada begitu dekat dengan Caitlyn.
Namun tak sampai lima detik berselang, dia langsung bergerak menjauhi Caitlyn. Darcio tahu apa yang dilakukannya ini salah. Dan dia harus mengontrol dirinya.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥