“Kamu mau menyentuhku?” tanya Caitlyn terkejut.
Kali ini giliran Darcio yang kelihatan sedikit salah tingkah. Pikirnya, dia bodoh sekali. Harusnya dia lebih bisa menjaga ucapannya. “Maksudku, bagaimana mungkin aku menyelamatkanmu kalau aku saja tidak boleh menyentuhmu?” jawabnya ngelantur. “Misalkan, seperti saat kamu tenggelam? Kalau aku mau memberikanmu nafas buatan, bibir kita pasti akan bersentuhan, bukan?”
Padahal kata ‘menyentuh’ yang tadi Darcio lontarkan mengandung makna yang berbeda. Bukan menyentuh sebagai saudara, tetapi bersentuhan layaknya pasangan yang sedang saling mencinta. Dan Caitlyn bisa membaca hal itu.
Caitlyn tersenyum, “Jawabanmu tidak masuk akal. Bukankah …” Dia mengalihkan sejenak tatapan matanya pada bibir dan jakun Darcio, yang menurutnya, terlihat sangat menarik. “… tadi kamu yang bilang sendiri kalau kamu rela mengorbankan nyawamu untukku?” imbuhnya.
Darcio kalah telak. Dia tidak bisa mengelak lagi. “Kamu menang, Nona Caitlyn,” tuturnya.
“Menang apa?”
“Kamu sudah berhasil membuatku kelihatan bodoh dan tak berlogika,” jawab Darcio. “Maaf jika bercandaanku tadi menyinggung perasaanmu.”
“Kamu tidak menyinggung perasaanku,” tampik Caitlyn. “Aku tak pernah bercanda seintim ini dengan ayahmu. Setiap kali menghabiskan waktu dengannya, aku lebih merasa seperti seorang anak yang dilindungi malaikat penjaganya.”
“Lantas bagaimana denganku?” tanya Darcio. “Apa yang kamu rasakan setelah menghabiskan waktu bersama denganku?”
“Aku belum bisa menjawab pertanyaanmu. Belum ada satu hari kita menghabiskan waktu bersama.”
Darcio tersenyum, “Kalau begitu, itu artinya kita harus lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk mencari tahu apa jawabannya.”
Caitlyn merogoh ponsel yang dia simpan di dalam handbag-nya. Ponselnya berdering. Ada satu panggilan masuk dari kekasihnya, Zaiden. Dijawabnya panggilan masuk itu segera. “Ya, sayang?” sapanya.
“Kamu sudah pulang kantor?”
“Sudah. Aku lagi ada di ranch market, mau beli buah-buahan.”
“Ranch market?”
“Ya, sama bodyguard baruku. Soalnya aku mau mampir ke rumah sakit Harapan Indah setelah ini buat menjenguk bodyguard lamaku yang lagi sakit stroke,” jelas Caitlyn. Dia lanjut bertanya, “Kamu masih di tempat gym?”
“Yup, barusan aku kedatangan ‘murid’ baru. Dia bilang mau melatih otot lengan dan mau belajar pilates.”
“Siapa?”
“Aktris pendatang baru, namanya Giselle Moon.”
Caitlyn terperangah, “Wow, kamu yang jadi personal trainer-nya?”
Zaiden tersenyum lebar, “Bukan cuma aku. Temanku, Loretta, juga akan jadi personal trainer-nya.”
“Selamat, sayang. Bisa-bisa kamu makin terkenal di kalangan artis-artis.”
“Thanks, babe,” ujar Zaiden. “Nanti kuhubungi lagi, ya? Sampai jumpa nanti, sayang.” Panggilanpun terputus.
“Yang barusan meneleponmu pasti Zaiden?” tanya Darcio, yang sedaritadi terus memperhatikan dan mendengarkan obrolan Caitlyn di telepon, sambil menerka-nerka.
Caitlyn memandang Darcio heran, “Kok kamu tahu?”
“Karena itu suara laki-laki, dan tidak mungkin kamu bilang ‘sayang’ dengan wajah sesenang itu kalau bukan dengan kekasihmu sendiri.”
“Kamu terus memperhatikanku?” tanya Caitlyn dengan manik yang agak terbeliak lebar.
Darcio mengangguk, “Ya. Kamu tidak menyadarinya?”
Caitlyn hanya menggeleng.
“Aku seorang pemerhati yang handal, Nona Caitlyn.”
Caitlyn terdiam sejenak sebelum lanjut bertanya, “Apa yang kamu pikirkan selama aku teleponan dengan Zaiden tadi?”
“Tidak ada,” jawab Darcio seraya menggeleng. “Aku cuma mau tahu apakah yang meneleponmu tadi orang yang berbahaya atau bukan. Karena seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya, sudah jadi tugasku untuk selalu melindungimu.”
Keduanya tiba di rumah sakit Harapan Indah pukul enam lewat dua puluh lima. Sagara Komarovski menyuguhkan senyumnya saat dia melihat kedatangan putra sematawayangnya serta Caitlyn, yang telah lama dia anggap selayaknya putri kandungnya sendiri. Dia tidak sendirian, melainkan sedang bersama dengan seorang dokter dan juga seorang perawat. Seluruh biaya rumah sakitnya ditanggung oleh ayah dan ibu Caitlyn.
Karena penyakit stroke-nya, Sagara jadi kesulitan bicara. Dia hanya mengandalkan sebuah pena dan sebuah buku untuk menuliskan apa yang mau dia ucapkan. Tulisannya pun semrawut dan agak susah dibaca.
“Kamu baik-baik saja?” tulis Sagara di bukunya. Dia lalu menyerahkan buku tebal yang sampulnya berwarna coklat tua itu pada Caitlyn.
Setetes air mata Caitlyn meleleh usai dia membaca apa yang dituliskan oleh Sagara. Bahkan dalam keadaaan tak berdaya pun, bodyguard-nya ini masih saja memikirkan soal dirinya. “Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya sembari menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya. “Terima kasih sudah mengirimkan Darcio untukku. Aku harap penyakitmu lekas sembuh.”
“Bagaimana perkembangan penyakit ayah saya, dok?” tanya Darcio sambil meletakkan buah-buahan segar yang dibelinya ke atas meja.
Dokter tersebut lalu mengajak Darcio untuk bicara di depan kamar pasien, sementara Caitlyn masih menemani Sagara di kamarnya. “Ada kemungkinan untuk sembuh dan kembali seperti sedia kala, namun proses penyembuhannya akan memakan waktu yang lama,” jelasnya.
“Jadi ada kemungkinan kalau ayah bisa jalan dan bicara kembali dengan normal?” tanya Darcio penuh harap.
Sang dokter mengangguk, “Kami akan berusaha sebaik mungkin. Tuan tidak usah khawatir.”
Caitlyn lalu menghampiri Darcio kembali, tak lama setelah Darcio selesai berbincang-bincang dengan sang dokter. “Ayahmu suka sekali dengan buah apelnya,” ucapnya, yang sama sekali tak direspon oleh Darcio. Dia terlihat gundah, dan mimiknya itu sedikit banyak membuat Caitlyn khawatir. “Apa kata dokter?” tanyanya.
“Dokter bilang proses penyembuhan ayah akan memakan waktu yang tidak sebentar.”
Untuk pertama kalinya Caitlyn melihat sosok Darcio yang murung. “Bersabarlah,” gumamnya seraya mengusap-usap pundak Darcio. Dia terdiam sejenak. Sudah sejak sampai di rumah sakit Caitlyn mau menanyakan hal ini, “Omong-omong … ibumu ke mana?”
“Ibuku belum lama ini meninggal,” jawab Darcio. “Dia mengidap depresi menahun dan memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri.”
“Maaf. Aku turut berduka,” lirih Caitlyn.
Darcio beralih memperhatikan sejenak dress span warna merah maroon yang sedang dikenakan Caitlyn. Dress itu tidak terlalu tebal, dan Caitlyn tidak mengenakan apa-apa lagi untuk melindungi tubuhnya dari suhu rumah sakit yang dingin. Darcio melepas setelan abu-abunya lalu memakaikannya untuk Caitlyn. “Udaranya sedang dingin, jangan sampai kamu jatuh sakit,” pesannya.
Sama seperti ayahnya, Darcio-pun masih bisa mementingkan keselamatan orang lain di tengah-tengah kesulitannya sendiri. Mereka sungguh manusia-manusia yang tidak egois. “Terima kasih,” tutur Caitlyn dengan senyumnya.
“Terima kasih kembali untuk orangtuamu yang sudah bersedia membayar seluruh biaya perawatan ayahku,” kata Darcio. “Waktu itu saat ayah jatuh di tangga, aku langsung membawanya ke rumah sakit. Untungnya pada saat itu aku lagi ada di rumah. Selagi dokter menangani ayahku, tiba-tiba saja ibumu menelepon.”
“Apa yang sudah dilakukan orangtuaku rasa-rasanya tak mampu membayar seluruh jasa ayahmu. Dia sudah menjagaku sejak aku masih kecil. Dia adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa.”
Darcio tersenyum, “Dan sekarang saatnya aku yang menjagamu.” Dia lalu menghabiskan waktunya sebentar untuk mengecek ponselnya.
Caitlyn yang penasaran itupun ikut memandangi layar ponsel Darcio. Ada panggilan masuk dari seorang perempuan bernama Irina. Entah siapa gerangan perempuan itu. Tetapi alih-alih menjawab telepon tersebut, Darcio malah mematikannya dan menyimpan ponselnya kembali di saku celana panjangnya. “Kenapa teleponnya tidak dijawab?” tanyanya heran.
“Nanti saja.”
“Aku lapar,” ucap Caitlyn yang perutnya keroncongan. “Mau mampir sebentar ke kafetaria?” ajaknya.
Darcio hanya mengangguk dan tersenyum.
*****
Kelar membeli dan menyantap makanan instan di kafetaria rumah sakit, tanpa sengaja Darcio dan Caitlyn berjumpa dengan Zaiden. Dia sedang jalan sendirian di lobby rumah sakit sambil memegangi ponselnya, tadinya hendak menghubungi Caitlyn. Dia menghampiri Caitlyn dan langsung memeluknya saat mendengar Caitlyn memanggil namanya.
“Kebetulan sekali kamu mampir ke rumah sakit?” tanya Caitlyn seraya melepas pelukan Zaiden. Dia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan Zaiden di rumah sakit ini.
“Aku sengaja mampir buat menjemputmu,” jawab Zaiden mesra.
Caitlyn menatap Darcio sekilas. Pasti canggung sekali rasanya kalau jadi dirinya. Demi mencairkan suasana, Caitlyn lalu mengenalkan Darcio pada Zaiden, “Kenalkan, ini Darcio Komarovski, dia anak Sagara Komarovski, bodyguard lamaku yang lagi sakit dan dirawat di sini.”
“Jadi kamu yang sekarang jadi bodyguard barunya Caitlyn?” tanya Zaiden.
“Ya,” jawab Darcio singkat. Diperhatikannya Zaiden sambil sedikit memicingkan matanya. “Aku sempat melihatmu di parkiran mobil apartemennya Caitlyn pagi itu,” sambungnya.
Zaiden tersenyum miring, “Oh, ya?”
“Iya, tapi kamu tidak melihatku.”
“Kamu tahu di mana apartemennya Caitlyn?” tanya Zaiden dengan dahi mengernyit.
“Tentu saja aku tahu. Semua demi keselamatan Caitlyn, jadi aku harus tahu di mana dia tinggal, dengan siapa saja dia berinteraksi, dan tempat-tempat mana saja yang biasanya dia kunjungi.”
Dahi mulus Zaiden tambah mengerut, “Bukankah itu menguntit namanya?”
“Bukan, itulah caranya bodyguard bekerja,” tampik Darcio. “Ayahku bilang untuk selalu siap siaga. Jadi seandainya ada sesuatu yang buruk terjadi pada Caitlyn, aku bisa dengan mudah menolongnya tanpa harus repot-repot mencari tahu lagi di mana tempat tinggalnya. Lengah dan telat sedikit saja maka nyawa yang akan jadi taruhannya.”
“Tapi orang yang mau berbuat jahat tidak melulu melakukan tindak kejahatannya di rumah atau di kantor, kan?” debat Zaiden. “Bagaimana kalau orang itu berencana mencelakai Caitlyn di tempat yang kamu tak tahu? Apa kamu mau memasang chip GPS di tangannya supaya kamu bisa melacak setiap gerak-geriknya?”
Darcio mengangguk, “Memang, orang yang mau melakukan tindak kriminal tentunya sudah memikirkan rencananya matang-matang.” Dia mendebat balik argumen Zaiden, “Tapi kemungkinan kalau ada orang jahat yang mau mencelakai Caitlyn di tempat tinggal atau di tempat kerjanya tetaplah ada. Jadi tidak ada salahnya bagiku untuk mengetahui di mana Caitlyn tinggal dan kerja sekarang.”
Dan Caitlyn yang mendengar keduanya terus-terusan adu mulut soal siapa yang paling benar itupun jadi sakit kepalanya. “Saudara-saudara sekalian, sudah cukup berdebatnya?” tanyanya sarkas. “Aku di sini, tidak akan ada yang mencelakaiku. Lalu apa gunanya mempermasalahkan hal yang tidak penting?”
Darcio dan Zaiden sama-sama tidak merespon. Perangai kedua lelaki tampan itu persis seperti dua bocah laki-laki yang sedang rebutan mainan.
Caitlyn menghela nafas panjang. Dia lalu melayangkan pandangannya pada sebuah jam tangan kulit yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan tepat pukul jam delapan malam. “Aku harus balik sekarang. Besok aku masih harus kerja,” ucapnya pada Darcio.
“Mau kuantar?” tawar Darcio tanpa mempedulikan keberadaan Zaiden.
Sejujurnya Caitlyn merasa tidak enak hati menolak tawaran Darcio. Tapi kekasihnya ada di sini sekarang dan dia tahu, Zaiden pasti datang dengan membawa mobilnya. “Um, tidak usah, Darcio,” ujarnya. “Sampai jumpa besok, dan titipkan salamku buat ayahmu.”
“Baiklah, sampai jumpa besok,” ucap Darcio. Entah mengapa, tapi ada sedikit kekecewaan yang menyambar hatinya saat Caitlyn lebih memilih untuk pulang dengan Zaiden dibanding dengan dirinya. Meski Darcio tahu, dia juga tidak berhak marah. Mustahil dia dan Caitlyn bisa bersama-sama.
Dia dan Caitlyn sudah terikat dalam hubungan asmara masing-masing.
Tidak lupa Caitlyn menanggalkan setelan milik Darcio, yang masih dia pakai untuk menutupi tubuh bagian atasnya itu. Tanpa Caitlyn sadari, hal itulah yang membuat Zaiden jadi makin cemburu pada Darcio. Walaupun sesungguhnya, meminjamkan pakaian ke orang lain agar orang tersebut tidak kedinginan adalah hal yang lumrah. “Sepertinya kamu lebih membutuhkannya daripada aku,” tuturnya seraya mengembalikan setelan tersebut pada pemiliknya.
Diterimanya setelan tersebut seraya tersenyum. “Hati-hati di jalan,” pesan Darcio. Dia lalu kembali menuju kamar pasien dengan langkah gontai. Didapatinya ayahnya tengah berbaring sendirian di ranjang sambil nonton acara opera.
Sagara membuka bukunya, yang terus dia letakkan di atas pangkuannya itu, dan kembali menuliskan kata-katanya di buku tersebut. “Kamu tidak pulang?” tanyanya.
“Nanti,” jawab Darcio sambil tersenyum. Dia lalu duduk di samping ranjang Sagara, “Aku mau menemani ayah dulu.”
“Bagaimana hari pertamamu bekerja sebagai bodyguard Caitlyn?” tanya Sagara kembali dalam tulisannya.
“Sangat menyenangkan, ayah,” jawab Darcio.“Caitlyn adalah perempuan yang baik dan pekerja keras. Kelihatannya dia juga sangat menyayangi ayah. Dia bahkan tahu kalau ayah punya alergi kacang dan suka makan buah apel dan buah jeruk.”
Sagara tersenyum. Dia kembali menggerakkan penanya di atas buku tebal tersebut. “Cantik?” tanyanya.
“Ya, dia sangat cantik dan menarik.”
“Kamu pasti akan menyukainya.”
Darcio hanya tersenyum tipis.
Sagara memperhatikan sejenak wajah tampan putranya lalu lanjut menulis kembali, “Pulanglah. Kamu kelihatan capek.”
“Aku belum mau pulang.”
Sagara lalu menyerahkan buku tebal itu pada Darcio. Saat Darcio melihat-lihat apa saja isinya, ternyata buku itu tidak hanya digunakan Sagara sebagai sarana komunikasi. Namun dia juga menggunakan buku itu untuk mencatat semua hal tentang Caitlyn, mulai dari apa-apa saja hal yang disukai dan tidak disukai Caitlyn, termasuk beberapa kenangan indahnya, yang telah dia lalui bersama dengan putri pewaris Damaris Gorup tersebut.
“Ayah mencatat semua ini sejak Caitlyn masih kecil?” tanya Darcio iba. Usia buku ini boleh jadi sudah tua, tapi kondisinya masih bagus dan belum terlalu usang. Itu tandanya ayahnya benar-benar menjaga buku itu dengan sepenuh hati.
Sagara mengambil buku itu lalu kembali menuliskan perasaannya, “Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang. Isinya penting. Ayah sangat menyayangi Caitlyn.”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥