Bab 20: Di Antara Dua Dunia

463 Words
#Novel_Ari_dan_Lia Penulis Cerita: Jakaria Bab 20: Di Antara Dua Dunia Malam semakin larut, tetapi pikiran Ari tak kunjung menemukan ketenangan. Hujan gerimis membasahi kaca jendela kamarnya, menciptakan ritme yang seharusnya menenangkan, tetapi justru semakin menyesakkan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang tak kunjung berdering. Lia sudah tak lagi menghubunginya selama beberapa hari terakhir. Sejak percakapan terakhir mereka, di mana Lia mengatakan bahwa ia harus membuat keputusan besar, Ari tahu bahwa hubungan mereka sudah berada di tepi jurang. Namun, bagaimana ia bisa melupakan Lia? Bagaimana ia bisa melepaskan seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya? *** Di sisi lain kota, Lia duduk di ruang tamunya dengan mata sembab. Suaminya, Bayu, sudah tidur di kamar, tetapi pikirannya masih berputar tak karuan. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, berusaha menahan diri agar tidak menghubungi Ari. "Kau harus memilih," suara Bayu masih terngiang di kepalanya. Lia mencintai Ari, tetapi anak-anaknya adalah segalanya. Jika ia memilih Ari, itu berarti ia harus meninggalkan keluarganya. Tetapi jika ia tetap bersama Bayu, ia harus membunuh perasaan yang begitu dalam terhadap Ari. "Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan, air mata kembali mengalir di pipinya. *** Pagi hari, Ari memutuskan untuk mengunjungi tempat biasa mereka bertemu. Sebuah kafe kecil di sudut kota, tempat mereka berbagi tawa dan rahasia. Namun, hari ini, suasana terasa berbeda. Tak ada Lia di sana. Tak ada bayangan wanita yang ia cintai menunggu dengan senyum hangatnya. Ia duduk di meja favorit mereka, memesan kopi hitam seperti biasa, lalu menatap kosong ke luar jendela. "Menunggu seseorang?" tanya seorang pelayan yang sudah mengenalnya. Ari tersenyum pahit. "Tidak tahu. Mungkin hanya menunggu keajaiban." Pelayan itu mengangguk mengerti, lalu pergi meninggalkannya dalam kesendirian. *** Hari-hari berlalu, dan keputusan yang harus diambil semakin mendekat. Lia tahu ia tak bisa berlama-lama dalam kebimbangan. Bayu mulai curiga, anak-anaknya mulai bertanya mengapa ia sering melamun. Sementara itu, Ari semakin menjauh, seakan memahami bahwa dunia mereka tak bisa lagi bersatu. Pada suatu malam, Lia memberanikan diri menghubungi Ari. "Kita harus bicara," ucapnya lirih. Ari menarik napas panjang. "Aku tahu. Di mana?" "Di tempat biasa." Ia menutup teleponnya, hatinya berdebar tak menentu. Apakah ini akhir dari segalanya? Ataukah masih ada harapan yang tersisa? (Bersambung ke bab selanjutnya...) #Quote: "Dalam sunyi yang menyelimuti malam, cinta tetap berbisik meski tanpa suara." #Puisi: BAYANG YANG MENJELMA MALAM (Jakaria) Di tepi senja kuhirup kelam, Dedaunan gugur terbang terhantam, Bayangmu datang bagai gelam, Menusuk hati hingga terbenam. Dalam gulita kau tetap menetap, Lukisan rindu tak kunjung lenyap, Bintang meredup semakin gelap, Hanya angin yang lirih berdakap. Rintik gerimis menari pelan, Seakan tahu luka terpendam, Kutatap langit mendung bertahan, Menunggu terang; masih kelam. Di batas fajar aku terhuyung, Antara harap yang masih terkatung, Takdir menulis garis bersimpang, Namun hati tetap menampung. Bogor, 10 Maret 2025 #CintaDiAntaraTakMungkin #AriDanLia #RinduTanpaArah #TakdirCinta #BayangDalamMalam #SunyiMenjadiSaksi #LukaYangMengakar #HarapDalamKelam
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD