
CINTA DI ANTARA YANG TAK MUNGKINBab 1: PERTEMUAN YANG MENGUSIK Ari duduk di sudut sebuah kafe kecil di pinggiran kota Cibinong, jemarinya menggenggam cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Pria berusia empat puluh tahun itu baru saja menyelesaikan satu bab dari novel yang sedang ia baca ketika pintu kafe terbuka, diiringi suara lonceng kecil yang menggantung di atasnya. Mata Ari terangkat dari halaman buku, dan di sanalah ia melihatnya—Lia.Perempuan itu melangkah masuk dengan hati-hati, mengenakan blouse krem sederhana dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat setengah, memberi kesan anggun namun tetap santai. Ari tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu dalam cara Lia membawa dirinya, sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu—pada perasaan yang lama ia tinggalkan.Lia, yang tinggal di Tangerang, memesan secangkir teh hangat, lalu memilih meja yang tidak terlalu jauh dari tempat Ari duduk. Ketika mata mereka bertemu, ia tersenyum sopan. Ari mengangguk singkat, mencoba tetap tenang meski dadanya tiba-tiba terasa sesak.Tak lama, pelayan mengantarkan pesanannya, dan tanpa diduga, sebuah buku jatuh dari tas Lia ke lantai. Refleks, Ari berdiri dan mengambil buku itu sebelum Lia sempat membungkuk."Milikmu?" tanya Ari sambil menyerahkan buku tersebut.Lia mengangguk. "Terima kasih. Kamu suka membaca juga?"Ari melirik sampul buku yang masih dalam genggamannya—judul yang akrab baginya, novel klasik yang sudah beberapa kali ia baca. Ia tersenyum samar. "Bisa dibilang begitu. Buku ini bagus."Percakapan sederhana itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Namun, takdir terkadang memiliki caranya sendiri dalam mempermainkan perasaan manusia. Ari tahu, Lia adalah perempuan bersuami, seorang ibu dari dua anak. Tapi mengapa, sejak pertemuan itu, hatinya terusik dengan kehadiran perempuan ini?(Bersambung ke bab 2)

