Chap. 10

1757 Words
“Mama langsung ke kamar aja, ya. Biar Cici aja yang ke dapur buat ambil bubur sumsumnya.” Chandra—perempuan yang baru saja duduk di sofa itu mengangguk dan membiarkan anak pertamanya untuk pergi ke dapur. Mengambil makanan yang sudah ia tunggu sejak kepulangannya ke Indonesia. Sebenarnya ia bisa saja ke dapur guna mengambil apa yang ia inginkan. Namun sayangnya anak keduanya, alias si bungsu Reza kini malah tidak ingin lepas darinya dan terus memeluk sejak mereka bertemu di bandara. Yang mana harus menjadikan Ciama alasan agar anak yang kini memeluk tubuhnya itu agar bangun. “Adek gak mau lepasin Mama dulu? Mama baru aja sampe, lho..” “Gak mau!” Tolak Reza dengan wajah cemberutnya. Membuat Chandra hanya bisa menghela napas dan mengusap kepala anak lelakinya itu. “Mama udah berangkat gak bilang-bilang sama Eja! Nanti kalau Eja lepasin, Mama pergi lagi nyusul Papa. Gak mau! Gak akan Eja lepasin!” “Gak boleh gitu, dong. Mama ‘kan nemenin Papa juga karena emang ada urusan di sana. Masa Mama tinggalin urusan Mama?” Tanya Chandra berusaha meyakinkan anaknya agar mau duduk di sampingnya saja dan mengobrol biasa. Anak lelakinya ini memang kelewat manja. Sangat berbeda dengan sosok Ciama yang lebih mandiri. Padahal jarak keduanya sangat jauh. 11 tahun. Dan bisa dibayangkan bagaimana manjanya Ciama seharusnya, kan? Tapi anak itu sangat mandiri sampai Chandra merasa jika umur Reza dengan Ciama sangat dekat. “Kata Om Geo, kalau Mama ikut Papa lagi, Eja bisa punya adik! Eja gak mau! Kak Cici aja gak mau dengerin Eja. Masa Mama juga gak mau dengerin Eja kalau punya adik?” “Mana bisa! Mama gak mungkin hamil lagi, lah!” Balas Ciama yang baru saja datang dengan satu mangkuk putih berisikan bubur sumsum yang dipesan sang mama. “Lho, emang kenapa kalau punya adik? Bagus—“ “Gak mau!” Tolak Ciama dan Reza bersamaan. Membuat Chandra menatap anaknya bergantian. “Tapi Mama emang beneran telat,” ungkap Chandra dengan cengiran khasnya. Ciama melongo melihat Mamanya yang kini malah tersenyum misterius. “Mama gak bercanda, kan?” “Masa Mama bercanda. Makanya pulang ke sini karena pengen tahu ini beneran telat aja apa telat karena—“ Prang. Chandra terpaksa menghentikan ucapannnya dan melihat putri sulungnya yang kini tengah berdiri di depannya setelah menaruh mangkuk dengan suara yang sangat keras. “Kak Cici jangan digituin! Kalau nanti kaca meja sama mangkuk Mama pecah gimana?” “Mama kira Ciama bakal seneng? Gak lucu, Ma!” Ujar Ciama sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya. Chandra yang melihatnya hanya bisa menghela anpas. Memang tidak akan ada celah yang baik untuk mengumumkan hal seperti ini kepada Ciama. Belum lagi gadis itu juga sudah sering melarang dirinya untuk tidak terus melakukan program yang sangat membuat gadis itu muak. Alasan yang sangat logis tentu saja karena gadis itu tidak mau semakin dipusingkan dengan perihal adik. Reza saja sudah membuat gadis itu kerepotan. Terlebih jika Reza sedang dalam mode menyebalkan. Orang tuanya saja sampai tidak bisa mendiamkan anak itu. Beruntungnya Ciama memiliki umpan terbaik agar anak itu diam dan tidak berulah. “Kalau Reza gimana?” “Gak! Mama mending ke Papa lagi aja, sana. Kirain pulang karena kangen sama Adek. Kalau punya kabar kaya gitu, mending gak usah pulang,” gerutu Reza dengan tangan mulai lepas dari pinggang sang mama. “Iya, deh. Mama bercanda.” “Beneran bercanda?” Tanya Reza dengan tampang seriusnya. Yang tentu saja Ciama diam-diam membuka pintu dan mendengar dari kamarnya. “Iya. Kalaupun beneran ada, Mama mau stok nanas aja. Doain aja semoga bukan.” “Ngapain stok nanas?” Tanya Reza polos. “Kan katanya Adek gak mau punya bayi lagi?” “Iya. Tapi kenapa malah stok buah nanas? Kan Mama sukanya buah melon sama buah blueberry.” “Beda, Sayang. Oh iya, Mama tadi gak sengaja liat bunga anggrek di vas tengah rumah. Punya siapa? Tumben Kak Cici beli? Emangnya dia punya uang?” Tanya Chandra dengan ujung mata yang melihat ke arah kamar Ciama yang sedikit terbuka. Sadar Mamanya melihat ke arahnya, Ciama buru-buru menutup pintu kamar. Tapi karena rasa keingin-tahuannya yang terlalu tinggi, membuatnya kembali membuka pintu dan melihat Mamanya yang sudah tidak melihat ke arah kamarnya lagi. “Itu dari Kak Marcel,” jawab Reza jujur. Lemes banget mulutnya, heran! Batin Ciama dari kamar. “Lho, Bang Marcel tadi ke sini? Mau ngapain? Emang Abang Rian nginep di sini?” Tanya Chandra yang sengaja memperbesar suaranya karena melihat Ciama yang semakin membuka pintunya. “Tadinya kan kita dianter sama Kak Marcel. Cuman gak jadi, soalnya Kak Cici langsung ngajak Adek turun pas Kak Marcel bentak Adek.” “Bentak?” “Iy—“ “Reza! Kerjain pr kamu! Besokkan harus dikumpulin!” Teriak Ciama dari kamarnya yang berhasil membuat Reza mencebik dan menghentakkan kakinya. Sebenarnya Reza bisa saja membantah apa yang Kakak suruh. Hanya saja mata Mamanya yang kini tengah bersinar menandakan ada yang tidak beres itu membuat Reza akhirnya bangkit dan pergi ke kamarnya. Bibirnya sesekali mencebik dengan kesal. “Marcel ke sini?”     ***       Rian duduk di sofa dengan wajah lelahnya. Lelaki itu sampai tak sadar jika saat ini tunangannya sedang memberikan minum padanya seraya tersenyum. “Makasih, Sayang.” “Ekhem! Tante berasa tak kasat mata, ya!” Sindir Chandra seraya terbatuk. Rian yang mendengarnya langsung menyengir lebar dan meminta maaf. Lelaki itu lalu duduk dengan tegak sebelum akhirnya melihat ke arah Chandra yang kini menggelengkan kepala tak percaya. sosok Rian yang memang sangat baik dan terkadang suka menebar senyum itu sekarang bisa menebar gombalan. “Kamu baru banget pulang kerja. Gak papa Tante ganggu gini?” Tanya Chandra tidak enak hati. “Harusnya Rian yang bilang gitu sama Tante. Maaf ya, Tante. Harusnya Rian yang ke rumah Tante, malah Rian nyuruh Tante ke sini. Padahal Tante baru aja sampe.” “Tante malah bersyukur banget kamu ajakin Tante ketemuan di apartemennya Angel. Kalau di rumah nanti yang ada Ciama denger. Gagal dong acara gibahin anak sendiri,” kelakar Chandra seraya terkekeh di akhir kalimat. Rian yang mendengarnya tidak bisa untuk tidak ikut tertawa. Begitupun dengan wanita yang ada di sebelahnya—Angelica Paramitha, tunangannya. “Jadi apa yang mau Tante tanyain?” “Kamu tahu Marcel tadi pagi ke rumah Tante, gak? Dia juga bawa bunga,” ujar Chandra langsung pada intinya. Rian menggeleng tidak tahu. Karena memang ia tidak tahu jika Marcel ke rumah Ciama. Yang ia tahu, Ciama menjemput Tante Chandra dengan mobil Rifky—teman satu kampusnya yang kebetulan ada di sekitar situ. Selebihnya ia tidak tahu. Lagipula untuk apa Marcel ke rumah Ciama? Bukankah semalam wajahnya sudah dihancurkan oleh calon adik iparnya? Apa lelaki itu tidak sadar juga dengan apa yang diperbuatnya? Jika memang begitu, maka Marcel sudah tidak—ah ralat, sudha bukan lagi manusia baik. Belum lagi lelaki itu sekarang mulai berani memasang status dan juga bertanya bagaimana caranya bertamu dan tata cara untuk melamar. Yang benar saja jika lelaki itu belum sadar juga! “Gak tahu. Dari mana Tante bisa tahu kalau Marcel ke rumah?” Tanya Rian balik. “Bunga anggrek. Ada bunga anggrek warna ungu di vas. Biasanya bunga anggrek di vas depan itu warnanya putih. Ini berubah. Tante kira Cici yang ganti. Pas nanya sama Eja, katanya itu dari Marcel. Berarti dia ke rumah, kan?” Rian menganggukkan kepalanya ragu. “Eh, dia beli anggrek buat Ciama? Aku kira buat Orien,” ujar Angel dengan suara lirihnya. Namun karena Chandra termasuk perempuan dengan telinga super tajamnya, wanita itu langsung menatap Angel dnegan tatapan meminta penjelasan. Rian berusaha tidak menepuk keningnya. Bagaimana bsisa Angel tidak mengontrol ucapannya di depan Chandra? Terlebih gadis itu juga mengatakan tentang Orien. “Orien? Siapa dia?” Tanya Chandra dengan nada bingungnya. “Tante gak tahu? Dia kan—“ “Temennya Marcel, Tante!” potong Rian cepat. Chandra menatap aneh pada Rian yang tampak menutupi sesuatu. Tidak percaya dengan apa yang Rian ucapkan, Chandra memilih melihat Angel dan mengeluarkan mata tajamnya agar gadis itu jujur padanya. Sedangkan sekarang Rian sedang menggelengkan kepala agar Angel tidak mengatakan apapun atau habis sudah Ciama nantinya. Dan seakan koneksi mereka kurang terjalin karena ldr akhir-akhir ini, Angel tidak paham dengan kode yang Rian berikan. Gadis itu malah dengan santainya mengedikkan bahu. “Dia, kan calon tunangannya Marcel, Tante.” Chandra terdiam sesaat dengan mata yang melihat ke arah depan dengan kosong. Sedangkan di sebelah Angel, Rian sedang menepuk kening dengan keras. Habis sudah harapan Ciama. Walau sebenarnya Rian juga ingin membuat anak itu sadar dengan apa yang ia lakukan, tapi bukan berarti Ciama harus mendapat penolakan dekat dengan Marcel lewat Mamanya kan? Itu terlalu berlebihan menurut Rian. Belum lagi ia tidak tahu apa saja yang sudah terjadi hari ini pada Ciama dan juga Marcel. Akan sangat rumit jika Chandra memutuskan hal tanpa matang-matang. Walau Rian tahu bagaimana sosok Tantenya ini, tetap saja terlalu bahaya untuk tahu yang sebenarnya tentang Marcel sekarang. “Kenapa kamu kasih tahu itu?” bisik Rian pada Angel dengan nada yang tegas. Angel langsung menoleh dan menggeleng tidak mengerti. “Emangnya kenapa? Lagian Tante Chandra kan emang wajib ta—“ “Tapi bukan gitu caranya!” Tekan Rian dengan wajah frustasinya. “Aku salah?” Tanya Angel dengan wajah polosnya. “Nggak. Kamu gak salah. Aku yang salah karena gak tahu kalau kejadiannya bakal kaya gini,” lirih Rian seraya menyugar rambutnya ke belakang. “Jadi, Marcel mau tunangan?” Tanya Chandra setelah sekian lama. “Apa Ciama udah tahu tentang hal ini, Rian?” “Ri-Rian gak tahu, Tante. Tapi kayanya Ciama belum tahu, tunangannya juga belum tentu—“ “Tadi Reza bilang sama Tante kalau mereka sempat diantar sama Marcel. Tapi tiba-tiba aja Ciama minta diturunin di tengah jalan setelah denger Marcel bentak ke Reza. Sebenernya apa aja yang Tante gak tahu? Kenapa Ciama gak pernah cerita sama Tante?” Rian menghela napas berat. “Rian gak tahu pasti, Tante. Tapi coba Tante tanya sama Mama. Biasanya Ciama suka curhat sama Mama kalau dia lagi ada di rumah. Siapa tahu Mama ngerti dan tahu semuanya,” saran Rian yang sebenarnya hanya pengalihan agar Chandra tidak langsung pulang ke rumah dan ia bisa menghubungi Ciama agar gadis itu mewanti-wanti masalah yang akan datang selanjutnya. “Padahal Tante baru aja muncul. Kenapa harus ditiban masalah yang susah, sih? Mana ini tentang Ciama lagi!” Gerutu Chandra seraya mengambil tasnya dan berpamitan guna pergi dari apartemen Angel. Yang tentu saja Rian berikan senyuman hangat. Usai melihat pintu apartemen tertutup, Rian segera menatap Angel. “Yang, cepetan telepon Ciama sekarang!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD