Zahra bangun lebih awal, dia berniat membawakan sarapan untuk Andri. Hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Zahra berusaha sekuat tenaga, bahkan rela menghalalkan berbagai cara untuk mencari perhatian Andri.
“Kamu memasak sebanyak ini?” Marni menunjuk ke arah meja yang terdapat banyak sayuran.
Zahra kaget dan langsung memutar badannya hingga membuat piring di tangganya jatuh. Beruntung pecahan itu tidak mengenai kaki ibunya.
“Ibu, bikin kaget saja.” Zahra lalu berjongkok untuk membersihkan piring yang pecah.
“Makanya, lain kali hati-hati.” Marni bergegas membantunya.
“lagian, Ibu. Kenapa datang tiba-tiba?” Zahra menoleh ke arah ibunya.
Marni menggerutu karena keteledoran Zahra membuat salah satu piring pecah. Mendapat omelan dari ibunya membuat dia bergegas bangkit dengan perasaan sedikit kesal karena hanya sebuah piring bisa membuat dirinya kena marah.
“Ibu marah karena ini?” Zahra kembali menjatuhkan pecahan piring hingga berserakan di lantai.
“Kenapa diberantakkan lagi? Nanti bahaya.” Marni mengangkat kepalanya sambil menatap kesal karena ulah Zahra.
“Lagian, karena hanya karena piring saja, Ibu mengomel. Kan, nanti bisa beli lagi.” Zahra merasa piring itu lebih berarti daripada dirinya.
Tidak ingin ada kesalahpahaman Marni segera berdiri. Tentu bukan tentang piring yang dipermasalahkan, tetapi karena Zahra tidak hati-hati bisa saja pecahan itu melukai kakinya.
Niat membawakan sarapan untuk Andri berakhir dengan kekesalan hingga membuat dia tidak berniat melanjutkannya, padahal ingin sekali hari ini. Membawa sesuatu yang istimewa untuk diberikan kepada Andri.
“Biar Ibu yang lanjutkan.” Marni langsung berjalan menuju ke arah kompor.
“Iya, aku juga udah malas.” Zahra mengatakan itu sambil melangkah pergi begitu saja dari sana.
Marni hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Zahra. Dengan perasaan kesal dia bergegas menuju kamar sambil menggerutu sepanjang jalan, kalau saja ibunya tidak datang sudah pasti semuanya sudah selesai dan tidak berakhir berantakan.
**
Seperti hari-hari sebelumnya tidak pernah terlewat, untuk menjemput Zahra. Bahkan sebagian orang mungkin berpikir kalau mereka berdua pasangan kekasih karena begitu dekatnya.
Sebenarnya Andri mulai merasakan hal aneh, karena semakin hari Zahra memperlihatkan sikap yang tidak biasa. Bahkan beberapa hari lalu dirinya tidak percaya kalau Zahra akan menunggu dirinya pulang kerja demi bisa pulang bersama. Karena merasa tidak enak membuat Andri memutuskan untuk membicarakan hal itu.
Selama perjalanan menuju tempat kerja, Andri sedikit bingung bagaimana cara mengatakan hal itu. Terlebih dia sangat takut jika Zahra akan tersinggung atas ucapannya nanti.
“Ra, lain kali kamu tidak usah sampai menunggu aku.” Andri memulai pembicaraan diantara mereka.
“Memang kenapa? Kamu keberatan?” Zahra kaget saat mendengar ucapan seperti itu.
“Bukan begitu. Aku takut jika orang-orang akan salah sangka.” Andri berusaha memberi pengertian agar tidak ada orang yang akan salah paham atas kedekatan mereka berdua.
“Iya, Nggak usah didengarkan.” Zahra mengatakannya dengan sangat enteng.
Andri kembali dibuat terkejut, dia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Tentu sebagai seorang pria yang cukup dewasa dia takut jika di luar sana ada yang menyukai Zahra justru akan salah paham dengan kedekatan mereka. Dan itu yang paling tidak dia inginkan.
Akan tetapi, Zahra berpikir sebaliknya. Jika orang lain menganggap mereka memiliki hubungan maka jalan untuk bersama dengan pujaan hatinya itu terbuka lebar. Tanpa terasa motor yang dikendarai Andri telah sampai. Lagi-lagi Zahra merasa sedih karena harus berpisah dengan Andri dalam waktu cukup lama.
“Nanti kalau aku belum jemput jam lima, kamu pulang duluan saja,” pinta Andri sambil melepas helm yang digunakan oleh Zahra.
“Nggak.” Zahra dengan tegas menolaknya.
“Kamu itu kenapa?” tanya Andri dengan raut wajah heran sekaligus bingung. Karena setiap kali tidak bisa menjemput pasti Zahra akan datang ke tempat kerjanya.
“Pokoknya, kita berangkat bareng. Pulang juga harus bareng,” jawab Zahra dengan penuh penekanan di setiap katanya.
“Terserah kamu saja,” ucap Andri sambil menyalakan mesin motornya kembali.
“Hati-hati, jangan lupa makan,” ujar Zahra. Dia begitu sangat perhatian hingga membuat Andri semakin bingung, sampai berpikir jika telah terjadi sesuatu hingga membuat sikap gadis cantik yang tengah berdiri di hadapannya itu berubah.
Tidak mau banyak berpikir dia hanya membalas anggukan disertai senyuman yang mampu membuat hati Zahra berbunga-bunga. Andri lalu melajukan motornya meninggalkan Zahra yang masih berdiri sambil melambaikan tangan.
Seharian senyum terukir di ujung bibirnya, dia sudah tidak sabar ingin waktu cepat sore hingga bisa kembali bertemu dengan Andri. Rasanya sangat tersiksa ketika harus berjauhan – terkadang Zahra ingin sekali selalu berada di samping pria yang sudah berhasil menjadi pemilik hatinya.
**
Setelah pulang kerja, Zahra mengajak Andri untuk pergi berjalan-jalan.
“Gimana? Kalau kita ke pasar malam." Zahra yang berpikir ingin mengajak Andri pergi ke sana.
“Boleh, tapi aku nggak bisa lama.” Mengingat dirinya telah memiliki janji dengan Yogi.
“Iya, nanti kita sebentar saja.” Zahra mengatakannya sambil tersenyum.
Zahra langsung mengajak Andri untuk berpamitan kepada ibunya sebelum mereka pergi, setelah mendapat izin keduanya langsung berjalan keluar rumah.
“Jangan pulang malam-malam.” Teriak Marni dari dalam.
“Iya, Bun.”
Karena jarak rumah dan pasar malam tidak jauh Zahra mengajak Andri untuk berjalan kaki, selama perjalanan menuju ke sana Zahra terlihat sangat manja bahkan beberapa kali mengajak Andri bercanda. Tanpa sadar tangan Zahra sudah melingkar di lengan Andri. Hal itu membuatnya cukup terkejut dan merasa tidak nyaman.
“Ara!”
Arah mendongakkan kepalanya karena postur tubuh Andri cukup tinggi membuat dia sedikit kesulitan jika berjalan beriringan. Dengan isyarat matanya Andri melihat ke arah lengan di mana tangan Zahra berada.
“Biar lebih nyaman jalan seperti ini.” Zahra menjawabnya sambil tersenyum.
“Jangan gini,” pinta Andri.
“Udah, ayo.” Zahra langsung mengajak Andri melanjutkan perjalanan tanpa mempedulikan permintaannya.
Andri hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak bisa berkata apa pun lagi selain mengikuti apa kemauan Zahra. Tidak butuh waktu lama keduanya telah sampai. Suasana begitu ramai sampai membuat Zahra mengeratkan pegangannya di lengan Andri.
Selama berada di sana tidak henti Zahra memberikan perhatian. Dan sesekali menyuapi makanan yang mereka beli beberapa saat lalu. Meski sudah mencoba menolak, tetapi gadis itu terus memaksa hingga membuat Andri hanya pasrah menerima setiap perlakuan yang diberikan Zahra walau terasa canggung.
Tidak terasa mereka berdua hampir dua jam memutari pasar malam, Andri teringat akan janjinya kepada Yogi, apalagi dia sudah telat hingga memutuskan untuk mengajak Zahra pulang.
“Ra, ayo,” ajak Andri setelah sadar dia melupakan hal yang penting.
“Ke mana?” Zahra menoleh dengan penuh tanya.
“Kita pulang sekarang, aku masih ada urusan,” ucap Andri sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.
Tanpa menjawab sama sekali, dia segera menarik tangan Andri hingga membuatnya pria itu terdiam melihat sikap Zahra yang kini jauh berbeda dari Zahra yang dia kenal dahulu.