Zahra terus menerus memberikan perhatian kepada Andri hingga membuat pria tampan itu sedikit merasa tidak nyaman, bukan tanpa alasan. Karena kini mereka berdua sudah dewasa sudah pasti banyak hal yang berubah.
Setiap hari, Zahra selalu berpenampilan tidak seperti biasanya. Semua itu agar selalu terlihat cantik di hadapan Andri. Bahkan dirinya mulai berpakaian sedikit feminin, makeup yang tebal serta warna lipstik yang begitu merah.
Dia sudah berdiri di depan rumah menunggu Andri datang menjemput, tidak lama dari kejauhan terlihat motor yang digunakan Andri. Zahra bergegas berlari kecil menuju ke arah jalan yang tepat berada di depan rumah.
“Tumben, kamu berdandan seperti ini.” Andri melihat penampilan Zahra dari ujung rambut sampai kaki sambil mematikan mesin motor.
“Kenapa? Pasti kamu pangling, iya.” Zahra mengatakan itu sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Tepatnya kaget.” Pandangan mata Andri masih tidak lepas memandangi Zahra, yang menurutnya aneh jika berdandan seperti itu.
Lain halnya dengan Zahra, gadis cantik yang membiarkan rambutnya tergerai itu merasa kalau saat ini. Andri tengah memperhatikan dirinya yang semakin membuat dia salah tingkah.
“Ayo, kok. Malahan bengong.” Zahra menggoyangkan lengan Andri. Yang membuat pria itu tersadar.
“Yakin?”
Zahra tampak bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu, sedangkan Andri kembali memastikan mungkin saja Zahra akan memperbaiki penampilannya dahulu. Yang menurutnya terasa terlalu berlebihan.
“Yakin untuk apa?” Zahra menatap bingung.
Andri menarik napas pelan sambil berkata, “iya, kamu kerja dengan penampilan seperti ini.”
“Memang ada yang salah? Udah, ayo.” Zahra langsung menaiki motor tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Andri.
“Ra!”
“Kenapa lagi?” kesal Zahra.
“Sudahlah. Lupakan saja.” Andri tidak mau membahasnya lagi dan langsung menyalakan mesin motornya.
“Helmnya, mana?” Zahra menyodorkan tangannya ke arah depan.
Karena terlalu fokus dengan penampilan Zahra sampai membuat Andri lupa memberikan helm, tanpa berkata apa pun dia menyerahkan helm menggunakan tangan kiri.
“Kamu enggak suka, iya?” Zahra memulai pembicaraan diantara mereka.
Sebenarnya Andri ingin mengutarakan pendapatnya saat mendengar Zahra berkata seperti itu, tetapi dia memikirkan kembali. Lagian, tidak penting juga kalau memang sahabatnya lebih nyaman seperti itu. Tentu itu haknya.
“Enggak, kok.”
“Benaran?” Zahra memastikannya kembali, sambil tersenyum karena berpikir Andri menyukai penampilan dia yang sekarang.
“Iya.” Andri hanya menjawab singkat.
Tanpa terasa motor yang dikendarai Andri telah sampai di depan tempat kerja Zahra, seperti biasa dia melepaskan helm yang digunakan olehnya. Perhatian kecil itu tentu semakin membuat Zahra semakin yakin kalau Andri juga menyimpan perasaan kepadanya.
“Nanti jangan lupa makan.” Zahra begitu memerhatikan setiap hal, terkadang membuat Andri hanya bisa terdiam karena tidak mengerti.
“Oh, iya, kamu juga.”
“Aku jalan dulu,” pamit Andri.
“Iya, hati-hati. Nanti kasih kabar kalau sudah sampai,” pinta Zahra.
“Memang kenapa? Enggak biasa kamu seperti ini.” Andri cukup kaget saat mendengarnya.
“Cuma ingin tahu saja, kalau kamu sudah sampai,” ucap Zahra.
“Oke.” Andri tanpa pikir panjang setuju saja dengan hal itu, menurutnya masih wajah hingga dia tidak keberatan.
Tanpa membuang waktu Andri langsung melajukan motornya, Zahra masih berdiri di sambil terus melihat ke arah Andri yang perlahan-lahan sudah menghilang diujung jalan. Setelah memastikan Andri telah pergi, dia memutar badannya dan melangkah masuk ke dalam, tetapi belum juga sampai dirinya dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita di depannya hingga membuat Zahra berteriak.
“Yang lagi jatuh cinta. Romantis banget,” goda wanita itu sambil tersenyum mengejek.
“Bikin kaget tau,” ucap Zahra dengan nada kesal. Beruntung suasana pagi itu masih sepi hingga dia tidak malu karena teriakannya tadi.
“Masa?” Nia menggoda Zahra kembali.
Zahra langsung melotot kepada Nia karena berkata begitu, andai saja hatinya sedang tidak senang sudah pasti dia akan mengomeli Nia, tetapi dia malas meladeni Nia yang terkenal dengan mulut comelnya. Dia bergegas berjalan melewati Nia begitu saja.
Nia melihat tidak percaya karena kali ini. Zahra mepedulikan dirinya sama sekali membuat Nia sedikit kesal lalu bergegas menyusulnya.
Sudah hampir satu jam, tetapi dia belum juga mendapatkan kabar dari Andri. Padahal sebelumnya pria itu telah berjanji kepadanya dengan perasaan dipenuhi amarah. Zahra mulai mengirim pesan yang begitu sangat banyak.
**
Andri begitu sangat sibuk karena suasana toko sangat ramai pembeli hingga dia lupa memberikan kabar kepada Zahra, setelah sepi pria itu baru bisa beristirahat. Dan berniat untuk meminta maaf karena lupa mengirim pesan.
Akan tetapi, betapa terkejutnya dia. Saat melihat begitu banyak pesan yang dikirimkan oleh Zahra. Karena berpikir ada hal penting dia langsung membukanya lalu mulai membaca satu persatu. Dia tidak habis pikir mengapa Zahra marah-marah padanya tanpa alasan yang jelas.
Bahkan semua isi pesannya hanya omelan yang membuat Andri malas untuk menanggapinya, dia merasa kalau kali ini Zahra sudah berlebihan dengan bersikap seperti itu.
“Kenapa dia marah-marah? Memang salahku apa? Aneh banget. Lagian hanya kabar begitu saja, rasanya tidak penting juga.” Batin Andri sambil kembali memasukan ponselnya.
Gara-gara hal itu membuat Andri pusing sampai tidak fokus dalam bekerja, Wa Haji yang melihatnya tentu heran karena tidak biasanya Andri melakukan kesalahan seperti ini.
“Andri!”
Andri menoleh saat mendengar Bos memanggilnya, dia lalu berlari menghampiri pria paruh baya terkenal dengan ciri khas kain sarung yang selalu digunakan olehnya. Menyadari kesalahan yang dilakukan Andri menundukkan wajahnya.
“Kamu ada masalah?” Wa Haji berpikir jika pria dihadapkannya tengah memiliki masalah hingga membuat keteledoran.
“Enggak, Wa. Maaf, saya akan lebih hati-hati lagi,” ucap Andri yang masih menunduk tanpa berani menatap pria itu.
“Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi. Dan anggap ini sebagai pembelajaran.” Wa Haji memberikan nasehat, dia memang bukan orang yang gampang menyalakan karyawannya jika mereka langsung menyadari kesalahannya.
Andri memberanikan diri mengangkat kepala, dia menatap penuh dengan penyesalan karena tidak fokus dalam bekerja. Wa Haji mengenal baik bagaimana Andri hingga memaklumi kesalahan ini.
Dia memutar badan dan melanjutkan pekerjaannya, tetapi masih memikirkan pesan yang dikirim Zahra yang membuatnya semakin curiga kepada gadis itu. Entah mengapa sikap, perilaku bahkan akhir-akhir ini Zahra begitu sangat perhatian menyisakan pertanyaan yang belum bisa dia temukan jawabannya.
“Lain kali fokus. Jadi enggak kena omel,” celetuk Yogi yang berjalan menghampiri meja kasir.
“Gue, lagi pusing. Makanya bisa salah,” ucap Andri sambil menarik nafas panjang.
“Tumben banget, cerita kalau ada masalah.” pinta Yogi menyandarkan tubuhnya di salah satu rak sambil menatap ke arah Andri yang terlihat kusut sekali.
“Malas, nanti jadi bahan ejekan.” Andri tidak menanggapi permintaan Yogi dan memilih fokus menyelesaikan tugasnya.
“Tergantung.” Yogi berkata sambil menaikkan kedua bahunya.