kekesalan Zahra

1017 Words
Yogi yang masih merasa penasaran, memutuskan untuk kembali bertanya setelah mereka berdua pulang kerja. Sedangkan Andri tentu tidak ingin membuat suasana hatinya semakin kacau. Saat hendak pulang tiba-tiba Yogi menghampiri dirinya, Andri yang sudah tau apa yang akan di tanyakan olehnya langsung menghindar karena malas. Apalagi saat ini suasana hatinya sedang tidak baik. Akan tetapi, Yogi yang banyak ide langsung berdiri dihadapan motor Andri membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kelakuan Yogi tentu semakin membuat Andri semakin kesal padahal niatnya ingin segera menjemput Zahra. Dan mengatakan tentang maksud semua pesan yang dikirimkan. "Lo itu, maunya apa? Udah sana. Menyingkir." Andri menatap tajam sambil mengatakan itu. "Ayolah." "Apaan? Jangan bikin gue makin kesal," ucap Andri. "Memang salah gue apa? Kenapa harus kesal." Yogi berkata dengan sangat enteng. Dan merasa tidak membuat kesalahan. Kalau saja tidak ingat kalau yang ada dihadapannya saat ini Yogi, sudah pasti Andri akan memberikan pelajaran agar menyingkir dari jalan. Tapi percuma juga karena dia sangat mengenal bagaimana karakter Yogi yang tidak akan menyerah jika sudah penasaran. Dengan sangat terpaksa Andri mengurungkan niatnya lalu kembali turun dari motor, melihat itu Yogi tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Andri tidak jadi pulang. Andri lalu berjalan ke arah bangku yang tidak jauh dari mereka, di susul oleh Yogi yang mengekor dibelakangnya. Dengan perasaan senang. "Sekarang, gue tanya. Mau Lo apa?" Andri duduk sambil menaruh helmnya dengan kasar hingga mengeluarkan suara. "Jangan galak-galak begitu," ucap Yogi yang langsung duduk di samping Andri. "Gue lagi malas bercanda, jadi katakan ada apa?" Andri memasang wajah kesal. Yogi segera memutar badannya hingga menghadap ke arah Andri, tentu dia sangat penasaran jika mengingat lagi kejadian tadi pagi saat bekerja. Mengingat selama ini. Andri sangat hati-hati dalam pekerjaannya dan baru kali ini membuat kesalahan hingga mendapat teguran dari Bos mereka. Berbeda dengan Andri, yang ada dalam pikirannya saat ini. Adalah semua pesan omelan serta cacian dari Zahra. Dia tidak habis pikir apa yang membuat gadis itu hingga sampai seperti itu, padahal menurutnya tidak penting juga memberikan kabar terlebih mereka hanya sebatas sahabat. "Lo, kenapa hari ini? Gue perhatikan tidak fokus bekerja. Apa ada masalah?" Yogi menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa Lo pernah dekat atau mempunyai teman wanita?" Andri berkata lalu menarik nafas panjang. Yogi sedikit bingung saat mendapatkan pertanyaan begitu karena selama ini. Jangankan dekat, mempunyai teman wanita saja tidak, sekarang dirinya mengerti apa yang membuat Andri hingga tidak konsen hari ini. "Jangan bilang. Lo lagi ribut sama pacar," celetuk Yogi sambil nyengir. Andri menoleh sambil memasang raut wajah bingung, kenapa dia bisa memiliki teman yang begitu bodoh. Sampai berpikir sejauh itu, tetapi dirinya juga salah karena pertanyaannya menjurus ke arah situ. "Lain kali saja kita bahas, gue udah telat." Andri segera beranjak sambil meraih helm. "Iya, kok. Main pergi saja, kan, belum selesai." "Kapan-kapan, kita lanjut lagi. Oke," ucap Andri sambil melangkah pergi dari sana. Yogi terdiam, dia merasa sangat bingung. Ditambah rasa penasarannya belum juga mendapat jawaban, tetapi apa mau dikata sekarang Andri sudah pergi dan dia harus sabar sampai temannya itu mau melanjutkan pembicaraan mereka. *** Zahra terus berjalan mondar-mandir karena sudah hampir setengah jam menunggu Andri yang tak kunjung datang, perasaannya semakin bertambah kesal belum lagi tidak ada satu pesan pun balasan dari Andri. "Tumben banget, apa jangan-jangan dia marah? Terus ninggalin aku." Namun, dia segera membuang perasaan itu jauh-jauh. Karena sangat yakin kalau Andri tidak akan tega melakukan hal itu, sambil menunggu Zahra memutuskan untuk membeli minum terlebih dahulu. Tenggorokannya terasa kering belum lagi kaki yang terasa pegal karena berdiri lama sekali. "Kamu belum pulang?" tanya Nia. "Belum, kenapa? Apa ada masalah?" Zahra menjawabnya dengan ketus. "Enggak ada, cuma heran saja. Masih melihat kamu di sini," ucap Nia sambil menautkan kedua alisnya. "Iya, enggak usah diliat." Zahra yang kesal lalu melangkah pergi dari sana. Nia yang merasa dicuekin langsung berlari kecil mengejar Zahra, dia heran padahal selama ini tidak memiliki masalah apa pun hingga rasanya aneh jika Zahra bersikap seperti itu. "Ara!" Zahra tetap berjalan tanpa mepedulikan panggilan dari Nia, bukan tanpa alasan dirinya menghindari Nia. Setelah tahu kalau perempuan bertubuh kurus serta memiliki lesung pipi itu ternyata suka sekali menyebarkan gosip hingga dia sekarang ingin menjaga jarak dengannya. "Kamu kenapa? Aku punya salah?" tanya Nia yang berhasil mengejar Zahra. "Enggak ada, cuma aku lagi buru-buru," jawab Zahra. "Tapi, kamu aneh, Ra." Nia merasa kalau Zahra memang berusaha menjauhinya. Zahra menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Nia yang berada di sampingnya, dia sebenarnya merasa tidak enak bersikap begitu, tetapi karena takut menjadi bahan gosip untuk Nia dengan terpaksa dia menjauh. "Itu perasan kamu saja, ya sudah. Aku duluan, iya." Zahra segera berpamitan. Nia hanya terdiam, sambil menatap kepergian Zahra. Meski begitu dia sangat yakin kalau saat ini temannya itu sedang berusaha menghindar, dan memutuskan untuk esok hari berbicara kembali. Setelah berjalan cukup jauh, dia yakin kali ini Nia tidak lagi mengikutinya. Niat untuk membeli minum pun di urungkan saat melihat dari kejauhan motor yang dikendarai Andri telah datang. Zahra merapihkan dahulu penampilannya, sebelum Andri sampai. Tidak lupa memakai kembali lipstik merah agar semakin menunjang penampilannya dihadapan Andri. Andri menghentikan motornya tepat di depan gerbang pabrik, dia mulai mencari sosok Zahra hingga pandangan matanya tertuju ke arah seorang wanita yang melambaikan tangan. Tanpa berpikir panjang dia lalu menghampirinya. "Kenapa menunggu di sini? Biasanya di depan gerbang," tanya Andri sambil menatap heran. "Tadinya mau beli minum, cuma enggak jadi," jawab Zahra. "Ya sudah, beli dulu saja. Biar aku tunggu di sini," ujar Andri sambil mematikan mesin motornya. "Enggak usah, kita langsung pulang saja." Jawab Zahra. "Benaran?" Andri memastikan kembali. "Iya." Andri lalu meraih helm dan langsung memasangkannya, jantung Zahra berdetak kencang setiap kali mereka berdua berdekatan, tetapi sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan itu karena belum siap untuk mengutarakannya. Sejenak Zahra menatap wajah tampan yang sudah berhasil mencuri hatinya, andai saja dia berani untuk berkata jujur mungkin tidak akan tersiksa setiap mereka berdua berjauhan. Di lain sisi dirinya sangat takut jika Andri marah karena pesan yang dikirimkan olehnya tadi pagi. Andri awalnya berniat menanyakan tentang pesan yang dikirimkan oleh wanita yang berdiri dihadapannya saat ini, tapi dia mengurungkan niatnya itu. Dia berpikir mungkin Zahra kesal hingga bisa bersikap begitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD