mulai menghindar

1207 Words
Tidak seperti biasanya, Andri langsung pulang tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Zahra. Hal itu membuat gadis itu terdiam sambil melihat kepergian Andri dengan raut wajah sedih. “Apakah kamu marah?” Pertanyaan itu langsung muncul dalam hatinya, mengingat kembali bagaimana setiap pesan yang dia kirim berisi kata-kata yang sedikit kasar. Kini Zahra hanya bisa menyesali kebodohannya sendiri. Di dalam rumah Marni merasa cemas karena Zahra pulang telat, sesekali dia melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul enam, tetapi perasaan itu seketika sirna saat melihat Zahra sudah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah kesal. “Kamu lembur?” tanya Ibunya sambil melihat kearah pintu. “Enggak.” Zahra menjawabnya singkat sambil melangkah masuk. “Tapi, kenapa pulang terlambat? Ibu sejak tadi cemas,” ucap Marni. Dia lalu beranjak dari duduknya. “Tadi Andri telat jemput, jadi aku menunggunya.” Zahra menjelaskan mengapa dirinya bisa telat pulang. Marni menaikkan alisnya sebelah, sejak dulu dia sudah memberi tahu agar Zahra tidak selalu tergantung kepada pria itu. Apalagi mereka sudah sama-sama dewasa, dan pasti sudah memiliki kesibukan masing-masing. Seperti biasa Zahra tidak mau peduli karena sejak mereka kecil keduanya selalu bersama. “Lain kali, kamu pulang sendiri saja. Kasihan jika Andri harus mengantar jemput setiap hari,” ujar Marni sambil melangkah menuju ke arah dapur. “Dia saja tidak keberatan, kenapa Ibu protes?” Zahra tidak suka saat mendengar hal itu. “Memang kamu tahu? Bisa saja, kan,” ujar Marni sambil menyalakan kompor untuk menghangatkan makanan. Zahra semakin kesal, belum lagi sikap Andri yang cuek tadi kepada dirinya dan sekarang harus mendengarkan ocehan dari ibunya. “Iya, aku tahu. Apa yang tidak aku tahu tentang Andri.” Zahra mengatakannya dengan sangat bangga. Marni memutar badannya sambil menatap tidak percaya, karena putrinya begitu sangat percaya diri saat mengatakan itu. Mungkin memang ada benarnya, tetapi mereka berdua sudah dewasa sudah pasti banyak yang berubah. Mendapat tatapan seperti itu tentu membuat Zahra tidak nyaman. “Kenapa? Memang ada yang salah?” tanya Zahra yang membalas tatapan ibunya. “Iya, jelas. Kamu salah kalau berpikir begitu, sekarang kalian bukan anak kecil lagi. Sudah pasti banyak yang berubah,” jawab Marni. “Tidak ada yang berubah, buktinya Andri masih sama seperti dulu,” ujar Zahra yang begitu sangat yakin dengan hal itu. “Terserah, kamu saja, Ibu hanya mengingatkan. Jangan sampai nanti terjadi masalah yang justru akan membuat hubungan kalian renggang.” Marni mengatakan itu sambil membalikkan badan. “Udah, aku mau ke kamar dulu. Dengarkan omongan Ibu malahan bikin aku pusing.” Zahra mengatakan itu sambil melangkah pergi menuju ke kamar. “Anak sekarang, kalau diberikan nasihat malah tidak mau dengar,” gumam Marni. ** Andri berjalan gontai memasuki rumah, Dian yang datang menyambutnya merasa heran melihat Andri terlihat sangat kusut tidak seperti biasa. “Kamu kelihatan lelah sekali, apa hari ini toko sedang ramai?” tanya Dian sambil berjalan menghampirinya. “Enggak juga, Mak. Cuma tadi ada sedikit masalah,” jawab Andri. “Masalah apa?” Dian terkejut saat mendengarnya. Andri menarik nafas panjang, entah bagaimana cara menjelaskan hal itu. Terlebih dia tidak mungkin mengatakan kalau semua itu gara-gara ulah Zahra yang begitu banyak mengirimkan pesan tidak jelas. Sampai membuat dirinya tidak fokus. Dian meminta Andri untuk duduk dan dia berjalan ke arah dapur untuk membawakan minum, Andri menyadarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata. Sambil mengingat kembali setiap perkataan dalam setiap pesan itu, dia tidak habis pikir mengapa Zahra bisa berkata demikian padahal dirinya hanya lupa memberikan kabar saja. Dian kembali sambil membawa segelas teh hangat lalu segera meminta Andri meminumnya agar bisa lebih tenang, tanpa berkata Andri menghabiskan teh itu hingga tandas. “Sekarang ceritakan sama Emak,” pinta Dian sambil mendudukkan dirinya di hadapan Andri. “Tadi aku salah menyortir barang, sampai kena teguran dari Wa Haji,” jawab Andri dengan wajah tertunduk. “Kok, bisa?” ujar Dian yang kembali dibuat kaget. Andri mulai menceritakan awal mula semuanya terjadi hingga dia bisa membuat kesalahan itu, Dian tidak menyangka bahwa Zahra bisa berbuat seperti itu sampai membuat putranya mendapatkan masalah. “Emak, kan, sudah bilang. Jangan terlalu dekat, tetapi kamu tidak mau dengar,” ucap Dian dengan nada kesal. “Sudahlah, Mak. Lagian itu bukan salahnya.” Andri kembali membela Zahra di hadapan Emaknya. “Sampai kapan, kamu membelanya?” Dian tidak terima karena Andri selalu membela gadis itu. “Andri, tidak membelanya. Cuma ini bukan kesalahan Zahra.” Andri masih tetap pada pendiriannya. Kalau apa pun yang terjadi tadi itu semua karena kelalaian dirinya dalam bekerja, Dian sudah sangat lelah menasihati Andri, tetapi tetap saja tidak didengarkan. Padahal sebagai seorang Ibu, dirinya tahu kalau gadis itu menaruh hati kepada Andri. Tidak ingin jika Emaknya terus menyalahkan Zahra, dia memutuskan untuk membersihkan diri dan beristirahat. Dian hanya membulatkan mata karena tidak menyangka Andri masih tidak mau mendengarkan ucapnya. “Kamu memang susah, nanti jangan menyesal jika gadis itu semakin merepotkanmu,” Dian berkata sambil menoleh ke arah Andri. “Itu tidak akan terjadi, Mak.” Setelah mengatakan itu Andri melangkah pergi begitu saja. “Gadis itu. Sampai kapan? Dia merepotkan anakku terus menerus,” batin Dian. Malam hari. Andri dan kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam, tiba-tiba di suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka. Dian beranjak dari duduknya berniat ingin melihat siapa yang bertamu malam-malam. Wanita paruh baya itu berjalan menuju ke arah pintu utama, saat pintu dibuka betapa terkejutnya ketika melihat siapa yang datang. Zahra langsung memberikan senyuman kepada Dian. “Zahra, ada apa malam-malam ke sini?” tanya Dian sambil menatap penuh kebingungan. “Apa Andri ada, Bibi?” jawab Zahra. “Ada, kalau boleh tahu ada apa mencari Andri? Ini sudah malam.” Dian berkata dengan sedikit penekanan di ujung kalimatnya. Zahra sedikit bingung, dia sendiri entah mengapa bisa berbuat hal bodoh sampai malam-malam datang ke rumah Andri, tetapi rasa rindunya tidak bisa dibendung lagi. Sekaligus dia ingin bertanya tentang sikap Andri tadi sore yang begitu dingin terhadapnya. “Ada hal penting, Bi. Apa boleh aku masuk?” tanya Zahra. Dia mulai merasakan kedinginan karena setelah berjalan kaki cukup jauh, Dian yang masih merasa kaget sampai lupa menyuruhnya masuk. “Maaf, Bibi sampai lupa.” Dian lalu mengajak Zahra masuk. Setelah berada di ruang tamu, Dian meminta Zahra untuk menunggu sebentar karena dia akan memanggilkan Andri. Sambil menunggu Zahra melihat ke sekeliling ruangan yang bernuansa kuno, bahkan terdapat barang-barang antik yang terpajang rapi. Dian melangkah menuju ruang makan sambil sesekali melirik ke arah belakang, Andri melihat ke arah Emaknya dengan tatapan heran begitu juga dengan Anton yang tampak bingung. “Kenapa, Emak berjalan seperti itu?” tanya Anton. “Iya, memang siapa yang datang, Mak?” Sambung Andri. “Zahra,” bisik Dian. “Apa?” Andri kaget setelah tahu siapa yang datang. Anton melihat kearah Andri yang terlihat panik sedangkan Dian hanya menyunggingkan senyuman di ujung bibirnya, baru dari siang dirinya mengingatkan hal itu dan sekarang terjadi. “Mak, bilang saja. Aku lagi nggak enak badan,” pinta Andri yang bergegas berdiri. “Kamu kenapa?” Anton bingung dengan tingkah Andri. “Nanti aku jelaskan, tolong, iya, Mak.” Andri kembali mohon. Dian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tanpa berkata apa pun lagi Andri langsung berlari menuju kamarnya. Dia sengaja melakukan itu demi menghindari Zahra. Anton yang tidak mengerti hanya terdiam dengan kebingungannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD