LARA - 2

1091 Words
Yogyakarta. Sovia sudah berada di rumah eyang kakungnya yang ada di Jogja. Kemarin dia di sambut hangat dengan paman dan bibinya, juga eyang kakung yang lama Sovia rindukan. Rasanya Sovia bisa mendapat ketenangan di rumah eyangnya. Sovia membuka jendela kamarnya, hari sudah semakin sore, semburat jingga menyusup ke sela-sela dedaunan yang rindang hingga membias di wajahnya. Rasa sakit masih ia rasakan pada hatinya. Hatinya melara karena terpisah dengan orang yang sangat ia cintai. Bukan tuntutan pekerjaan atau dia melanjutkan pendidikan lagi, dia harus terpisah dengan orang yang sangat ia cintai, itu semua karena cintanya tidak mendapat restu dari ibu kekasihnya. Riri –mamanya Bima– beliu tidak menyetujui dan merestui hubungannya dengan Bima. Itu semua karena masa lalu mamanya Bima dengan bundanya Sovia. Ya, Bundanya Sovia merebut papanya Bima dari Riri. Itu yang menyebabkan Riri membenci Sovia, karena Sovia, Bima dari bayi tidak pernah tahu siapa papanya. Saat melahirkan Bima pun, papanya Bima malah menemani Sovia dan bundanya liburan. Hal yang paling menyakitkan Riri adalah, saat Sovia kecil memanggil Reza –papanya Bima– dengan sebutan ayah. Dan, saat itu adalah saat-saat terakhir Riri dengan Reza. Setelah itu, dengan bangga Dilla –bundanya Sovia– merebut Reza dari sisi Riri. Melahirkan tanpa suami, itu yang membuat sakit hati dan dendam Riri masih belum padam hingga sekarang. Reza lebih memilih menemani Dila dan Sovia berlibur, daripada menemani dirinya melahirkan Bima kala itu. Itu yang Sovia tahu dari almarhum ayah sambungnya. Reza menceritakan semua pada Sovia sebelum Reza meninggal, begitu juga Dila, sebelum meninggal juga menceritakan semua, kalau dirinya merebut Reza dari Riri, dan itu yang membuat Riri masih dendam dengan orang yang menghancurkan hidupnya kala itu, termasuk Sovia, meski dulu Sovia tidak tahu apa-apa soal itu. Sovia mengembuskan napasnya dengan berat, mengingat semua yang diceritakan Reza, ayah sambungnya. Dia tidak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Dia baru merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, tapi semesta tidak mendukung untuk menyatukan cintanya ke jenjang yang lebih sakral lagi, yaitu pernikahan. Cintanya tidak direstui ibu dari kekasihnya. Sovia selalu merasa kalau semua itu adalah takdir atau garis hidupnya. Meski ada yang bilang itu adalah karma yang diterima Sovia karena perbuatan ibunya dulu, merebut papanya Bima dari Bima dan mamanya. Meninggalkan kota kelahirannya, yaitu Surabaya, bukan berarti dia ingin melupakan Bima. Dia hanya ingin hidupnya tenang. Membawa cintanya yang tidak mungkin akan terwujud dalam sebuah ikatan suci. “Bim, kamu lagi apa? Maaf, aku belum bisa menghubungi kamu saat ini. Izinkan aku menenangkan diri, Bim. Biar aku bisa menerima kenyataan ini dulu, kenyataan kalau cinta kita yang tidak bisa bersatu, karena mamamu tidak pernah merestui hubungan kita. Semoga kamu mengerti, Bim. Aku sangat mencintaimu, kamu pria yang terbaik di dunia ini. Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi, meski aku tidak yakin, Tante Riri akan merestui hubungan kita.” Sovia memjamkan matanya dan bergumam, merasakan udara di sore hari yang sedikit teduh. Sovia menutup jendela kamarnya. Dia mengambil ponsel lamanya. Dia sebenarnya ingin mengaktifkan ponselnya itu untuk mengetahui kabar Bima, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia tidak mau berurusan dengan Bima dulu, dia ingin mecari kegiatan yang positif dulu di tempat tinggalnya sekarang. “Sovi, makan dulu, Nak,” panggil Bibinya yang bernama Ani. “Iya, Bi, sebentar lagi Sovi keluar, Sovi mau mandi dulu, Bi,” jawab Sovia, dan bergegas mengambil handuk untuk mandi. Sovia mengambil ponselnya yang berdering dari tadi. Mungkin dari tadi ponselnya berdering saat dirinya sedang mandi. “Arga? Ada apa dia telfon?” gumamnya dengan menggeser icon berwarna hijau. “Hallp, Ar?” “Sov, bagaimana kabarmu? Kenapa kamu tidak memberi kabar aku? Sudah sampai, kan?” “Sudah dari kemarin dong, Ar.” “Aku nunggu kabarmu, Sovia ... kenapa tidak memberi kabar aku?” “Maaf, aku kemarin langsung lihat-lihat ke panti asuhan milik eyang, jadi aku sibuk bermain dengan anak-anak panti.” “Kamu sehat?” “Alhamdulillah, kamu gimana? Kantor aman?” “Aku sehat, kantor juga aman dan beres. Hanya kemarin Bima ke kantor menanyakan kamu, Sov.” “Lalu, kamu bilang apa? Ingat, jangan beritahu aku di sini.” “Iya tidak, tenang saja. Kamu baik-baik di situ, Sov. Jaga kesehatan, ya sudah aku baru mau pulang dari kantor, tadi aku sudah email soal kerja sama dengan Pak Jefri yang aku bicarakan kemarin.” “Oke, kamu juga baik-baik di situ, Ar.” Sovia mengakhiri panggilannya dengan Arga. Dia meletakan kembali ponselnya di atas meja kecil yang ada di kamarnya. Sovia keluar untuk makan, karena dari tadi bibinya sudah memanggil dia untuk makan. Sovia dari tadi siang memang belum makan. Dia sibuk dengan anak-anak panti. Dia juga melihat peternakan milik eyangnya yang ada di sisi panti asuhan. Lumayan sedikit fresh pikirannya. Dia melihat hewan ternak dan memberi makan dengan anak-anak panti, bermain dengan anak panti. Dan, dia menjumpai bayi mungil di panti, kata pengurus panti bayi itu di tinggal di depan panti. Sovia merasa waktunya sangat berharga sekarang, di kelilingi anak-anak yang membutuhkan dirinya. Sovia duduk di samping eyang kakungnya. Dia sebenarnya ingin tinggal di rumah ayahnya yang berada tidak jauh dari eyangnya, tapi dia tidak ingin sendiri. Memang dirinya butuh ketenangan, tapi menyendiri bukan jalan yang terbaik yang harus ia ambil. Dia ingin tenang hatinya, dengan menjalani hari yang bermanfaat. “Eyang, boleh Sovi merawat Bayi yang ada di panti?” tanya Sovia. “Maksud kamu Aksa?” tanya Eyang. “Iya, dia lucu,” jawab Sovia. “Emmm... eyang tidak masalah, tapi kamu akan menetap di sini lama, kan? Biar dia di panti,” ujar eyangnya. “Sovi pengin adopsi Aksa, Eyang,” pinta Sovia. “Mau adopsi? Kenapa kamu tidak menikah saja? Lalu punya anak sendiri, Sovi?” ujar Bibi Ani. “Iya, nanti eyang bicarakan sama pengurus panti, kalau kamu mau mengadopsi Aksa,” ucap Eyang Ridwan yang memberi isyarat pada Ani, agar tidak membahas menikah dengan Sovia. Eyangnya Sovia sudah tahu, apa yang sedang terjadi pada cucunya itu. Sovia sudah menceritakan semua apa yang sedang Sovia alami. Dan, soal mengadopsi Aksa, mungkin agar Sovia tidak terlalu larut memikirkan masalahnya. “Eyang serius mau mengusahakan Sovi untuk mengadopsi Aksa?” tanya Sovi. “Iya, nanti eyang bicara dengan ketua panti, ya? Makan yang banyak, kamu semakin kurus saja sekarang,” ucap Eyang. Sejak pertama bertemu Aksa, dia langsung jatuh cinta. Mungkin dengan mengadopsi Aksa, dia akan bisa melupakan rasa sakit hatinya. Yang ingin ia lupakan adalah rasa sakit hatinya, dan ingin melupakan rasa bersalah pada mamanya Bima karena masa lalu bundanya. Pergi ke Jogja bukan untuk melupakan Bima, melainkan mencari ketenangan dan melupakan rasa sakit hati, serta rasa bersalah pada mamanya Bima.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD