Sasfa benar-benar pergi, menaiki taksi yang telah ia pesan lima menit sebelumnya, duduk tenang namun tatapannya dingin.
"Jalan Pak!" serunya memerintah.
Sementara sang sopir nampak ragu.
"Maaf Mbak, sepertinya kerabat Mbak tidak mau anda pergi," cetusnya ketika pandangan menangkap bayangan Andra melalui center mirror.
"Dia bukan KERABATKU!!" sentak Sasfa kesal. Ia dan Andra bahkan belum genap 24 jam menjadi pasangan suami-istri.
"Tetap saja Mbak, kasihan dia." Empati pak sopir lebih besar ia berikan terhadap Andra. Pemuda yang berdiri di pintu pagar terisak, ada seorang pembantu yang berupaya menenangkannya.
"Jadi Bapak ga mau jalan? kalau gitu aku cari taksi lain!!" ancam Sasfa, satu tangannya bersiap membuka pintu.
"Ba--baik Mbak. Saya antar."
Kendaraan warna biru melenggang pergi, menelusuri jalanan lengang perkotaan.
Jam menunjuk pukul sebelas, sampai di halaman rumah, Sasfa mengendap tanpa suara. Kepalan tangannya mengarah ke pintu kayu, namun benaknya tiba-tiba ragu.
Senyum kedua orang tua terngiang di kepalanya. Menimbang lebih jauh, Sasfa akan menerima segala konsekuensi dari tindakan kaburnya malam ini.
"Assalamualaikum," ucapnya lirih, wajahnya menyembul pada batas pintu, di dalam sana ibu Lasmi dan suaminya tengah sibuk menghitung hasil sumbangan para tamu.
"Sasfa??" pekik sang ibu terkejut. Ditambah koper putih di sisi kanan.
Mereka duduk bersama, Sasfa menceritakan kondisi Andra, tak lain adalah suaminya.
"Kurang ajar kamu!! uang mahar sudah kami gunakan untuk membayar hutang! biaya kuliah, juga adik-adikmu, kalau kamu egois seperti ini, lantas bagaimana jika pak Hartawan meminta mahar itu dikembalikan hah?"
Pak Santoso sontak menghardik, matanya memicing tajam, seolah bersiap menerkam Sasfa yang menurutnya kelewat batas.
"Tapi Pak," Sasfa mendongak, ditatapnya wajah sang ayah, berharap mendapat toleransi atas ketidak nyamanan yang ia terima.
"Tidak ada tapi!! kamu pikir mudah cari uang? 2M, lagian, apa susahnya berbakti kepada orang tua? hidupmu hanya sekali Fa!! ingat, keempat adikmu adalah tanggung jawabmu juga!!"
Tangis Sasfa pecah, tentu saja ia sangat sayang pada para saudarinya, namun membayangkan kondisi Andra, harapan untuk hidup bahagia layaknya pasangan sangat sulit untuk digapai.
"Pak, mereka itu butuh pelayan, bukan istri. Apa kebahagiaanku tidak penting? Bapak mengorbankan aku, padahal Bapak tau yang sebenarnya."
Miris, sejauh ini Sasfa berusaha keras mencari uang demi menutup kebutuhan keluarga, namun begitu ada jalan pintas, sang ayah malah menyodorkan Sasfa seperti benda.
"Dasar cengeng!! mau nguli seumur hidup, kamu ga akan bisa ngumpulin duit sebanyak itu Fa! jadi terima saja. Lagian, kamu akan mendapat jatah bulanan yang jauh lebih besar daripada gaji di perusahaan."
Ucap pak Santoso sangat enteng, mengemas tumpukan uang ke dalam sebuah tas.
Tatapan Sasfa beralih pada ibu Lasmi, ragu, namun asa di dalam hati masih membumbung tinggi. Biasanya, kasih sayang seorang ibu akan senantiasa membela anaknya.
Sasfa merebah di pangkuan, sedang bu Lasmi mengusap keningnya penuh kelembutan.
"Fa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Keluarga kita minim pemasukan, jadi saran Ibu, terima saja hubunganmu bersama Andra. Semoga, kelak suamimu bisa sembuh."
"Jika tidak?" potong Sasfa putus asa.
"Ya, mau bagaimana lagi, kamu mesti berbakti seumur hidup. Lagian mereka itu kaya raya Fa. Kamu ga akan rugi."
Malam semakin larut, kondisi rumah bu Lasmi juga sunyi sebab ke empat anak lainnya sudah lelap sejak tadi.
Untungnya amarah pak Hartawan masih bisa diredam, usai sang menantu meninggalkan rumah semalam, pagi ini atas bujukan istrinya, pak Hartawan menyambangi kediaman sederhana milik pak Santoso. Keduanya berbincang panjang lebar, tidak ada ketegangan yang mengisi perbincangan pagi ini.
"Syukurlah jika Sasfa bersedia kembali, harapan kami sangat besar, kami janji, Sasfa tidak akan kekurangan apapun."
Kendaraan mewah membawa Sasfa pergi, menuju ikatan baru yang membutuhkan banyak pengorbanan darinya.
Tiba di kediaman pak Hartawan, Andra langsung menyambutnya, berlari cepat kemudian mendarat di pelukan Sasfa.
"Lepasin Andra....." titah Sasfa risih.
Mau tak mau Andra menjauh. "Yeee, Sasfa kembali. Jangan pergi lagi ya, nanti ku pinjemin mainan baru untukmu." Soraknya sambil melompat-lompat kegirangan.
Netra Sasfa memicing sesaat, ingin mencela sikap Andra namun tak enak hati karena ada kedua mertua di dekatnya.
Bu Lusi ikut mendekat, mengulas senyum manis di depan menantunya. "Selamat datang kembali ya Fa, semoga kamu betah. Ayuk masuk dulu, bibi membuat masakan kesukaanmu."
Menuntun langkahnya, Sasfa disambut layaknya menantu kesayangan. Di balik itu semua, tanggung jawab besar menanti di depan sana. Menghadapi Andra setiap hari pasti butuh effort lebih. Sasfa masih bingung, pikirnya mengambang antara harus menerima atau tidak.
Selesai sarapan, hanya Sasfa yang memasang wajah murung, makanan di atas piringnya juga tidak habis sepenuhnya. Si bibi berlari dari arah belakang, rautnya panik mengabarkan tingkah Andra yang membuatnya panik.
"Nyonya, lapor, itu Andra nyemplung di kolam renang,"
"Oh, kalau hanya mandi biarin Bik, si Andra kan pandai berenang," sahut bu Lusi masih santai dengan sendok di tangannya.
"Tapi Nya, itu.... Andra mengobrak-abrik koper non Sasfa, mengambil pakaian dari dalam sana."
Kedua mata Sasfa membola. "Pakaian???"
"I--iya Non, pakaian.... da--lam....."
Bu Lusi dan Sasfa saling mengunci pandang. Tercengang, Sasfa buru-buru bangkit dari kursinya, berlari ke arah kolam renang tempat Andra sedang menikmati waktu.