Semalaman Sasfa tidak bisa tidur. Ranjang luas ditempati ia berdua bersama Andra. Sepuluh menit yang lalu, Sasfa telah memasang guling di tengah-tengah, berfungsi sebagai garis marka agar Andra tidak melampaui batasan yang ada.
"Ya Tuhan, takdir macam apa ini, kondisi Andra tidak berubah meski usianya 25 tahun, entah apa dosa yang dilakukan kedua orang tuanya di masa lalu. Tapi aku tidak mampu menjalani semua ini."
Gelisah menyerang benak, Sasfa malah mengait-ngaitkan kemungkinan kesehatan Andra terganggu akibat karma atau semacamnya.
Pandangan Sasfa menatap sesaat, pemuda itu meringkuk di sampingnya, satu tangan memeluk guling, sedang satu jempolnya tersumpal di dalam mulut.
Mendengus napas berat, Sasfa menatap takdirnya miris.
"Syukur esok aku mulai bekerja, jika tidak pasti stres, mengawasi tingkahnya yang random itu."
Andra seringkali melakukan hal-hal tidak terduga, seperti tadi pagi, Andra mengenakan sepasang dalaman warna merah milik Sasfa, lalu berenang dengan girangnya. Anggota keluarga dibuat tertawa oleh polahnya itu.
"Menurut mereka lucu, tapi bagiku tidak sama sekali."
Akibat kejadian itu, Sasfa meminta lemari tambahan, ia kunci rapat agar Andra tak bisa lagi mengacak barang sesuka hati.
Rasa kantuk kian mendera, perlahan matanya memejam, Sasfa merasuk ke alam mimpi yang begitu menyenangkan.
Esok hari, ruang makan terasa hangat dengan kehadiran Sasfa serta Andra duduk berdampingan. Semua bahagia , kecuali Sasfa. Selera makannya bahkan turun drastis.
"Nak, makan yang banyak, kamu harus kuat dan sehat, satu bulan lagi Bastian juga akan menikah. Tentu banyak persiapan yang harus kita buat."
Ibu Lusi meletakkan nasi beserta lauk-pauk ke atas piringnya. Sasfa terdiam tanpa ekspresi.
Yang dibicarakan ikut bergabung, Bastian Hartawan, CEO tampan dengan ketampanan di atas rata-rata, tingginya sekitar 170 cm, dadanya bidang seolah menjadi tempat yang paling sandaranable.
Batin Sasfa berdecak, kekaguman itu lahir secara alami. Di kantor The Luxury Corporation, Bastian merupakan Bos yang Sasfa kagumi, sedang di rumah, mereka menjadi saudara ipar.
"Kamu tampak cantik," bisik Bastian di dekat telinganya.
Sasfa mematung, kesadarannya berputar, bertanya di dalam hati, apakah kupingnya masih normal atau tidak.
"Hei, bisa tolong ambilkan lauk itu?" tunjuk Bastian membuyarkan lamunan Sasfa.
"Eh, iya Kak,"
Patuh, Sasfa mendekatkan piring keramik berisi udang krispi di dekat Bastian.
"Gimana tidurmu semalam, apakah nyenyak?" tanya Bastian lagi. Senyumnya ramah, namun itu hanya sebatas basa-basi.
"Biasa saja, Kakak pasti bisa menebaknya," sahut Sasfa pelan. Wajahnya bahkan enggan menoleh.
Bukan karena angkuh, Sasfa sangat grogi jika berhadapan dengan Bos tampan tersebut. Lima tahun lamanya, sejak bergabung dengan perusahaan selama itu juga Sasfa menyimpan rasa kagum di dalam hatinya.
Pandangannya bergulir, dari Bastian si pemilik kesempurnaan, menuju Andra yang sangat menyebalkan. Sasfa mengutuk di dalam hati, bahwa Tuhan berlaku tidak adil.
Di suapan terakhir, tanpa sengaja sendok Sasfa terlepas dari genggaman. Bastian menoleh, lalu meminta Sasfa tak perlu berjongkok.
"Ganti yang baru, itu sudah kotor," ucapnya penuh perhatian.
Hati Sasfa menghangat, tatapannya meremang diikuti bulir airmata keluar dari sudutnya.
"Betapa indahnya, jika punya pasangan sempurna semacam dia. Hari-hariku pasti diselimuti kebahagiaan, ditambah ototnya yang kekar... seperti apa rasanya jika dipeluk.... bibirnya seksi... pasti lembut andai bisa bertautan pada sebuah ciuman mesra."
Angannya melayang-layang, hasratnya naik sejalan dengan jantungnya berdebar tidak karuan.
"Kamu melamun?" tegur Bastian menyaksikan kebungkaman si adik ipar.
"Eh, ga ada kok Kak. Saya hanya terpikir beberapa hal."
Pipi Sasfa merona, ia pun buru-buru membuang tatapan ke arah lain.
Acara menyantap selesai, Andra meraih tangan Sasfa sambil menautkan kelima jarinya. Rona kebahagiaan memancar di wajahnya, senyumnya mengembang karena menganggap Sasfa sebagai belahan jiwa.
"Aku ikut bekerja ya, kata mama aku kan udah dewasa, kamu pasti bisa mengajariku kan?" selorohnya enteng.
"Eh, ga bisa Ndra! di kantor, kami menjalani tugas dengan serius. Lagian tidak ada game, kamu pasti bosan nanti."
Sasfa berupaya melepas genggaman Andra, ia selalu risih diperlakukan seperti ini.
"Ah, pokoknya mau ikut!!" rengek Andra tidak suka penolakan.
Bu Lusi terbiasa menghadapi tingkah Andra, ia pun bertutur lembut demi memberi pengertian.
"Besok ya Nak, katanya kamu ingin pergi ke galery seni, hm?" ucapnya mengalihkan perhatian.
"Oh iya, aku lupa. Tapi maunya pergi bareng Sasfa Ma....."
Kening Sasfa berkerut, pikirnya berputar-putar untuk mencari cara.
"Lain kali ya Ndra, hari ini ada rapat penting. Aku ga bisa."
"Janji ya, lain kali bisa ikut?"
"Iya, janji, lain kali..." Sasfa berucap asal, penting ia bisa menghindar untuk momen hari ini. Sedang besok belum pasti, Sasfa berada di rumah tersebut karena terpaksa. Hatinya belum mantap, apakah ia akan menerima Andra atau minggat lagi seperti kemarin.
Andra setuju, ia percaya dengan janji Sasfa usai mereka saling menautkan jari kelingking.
Lega, beberapa saat kemudia Sasfa duduk di mobil bersama kakak ipar, mereka memiliki tujuan yang sama, jadi hal ini lebih efesien.
Sepanjang jalan keduanya saling diam. Tepat ketika lampu merah menyala, Bastian membuka obrolan agar kekakuan di antara mereka berangsur luluh.
"Sejujurnya, aku sangat memahami perasaanmu Fa." Tatapan hangat menyapu paras cantik sang adik ipar, manik hitamnya, lesung pipi, juga bibir sensual merupakan ciri khas yang amat disukai Bastian.
"Maksud Kakak apa?" tanya Sasfa malu-malu.
"Kotak makan yang kamu berikan sebulan yang lalu, isinya adalah pancake durian favoritku. Boleh ku tebak? bahwa sebenarnya kamu naksir kepadaku?"
Sasfa meremas jari-jarinya sendiri, wajahnya menatap lurus, tidak berani menoleh ke arah Bastian.
"Akupun menyukaimu Fa," sambung Bastian kemudian. "Tapi aku tidak berdaya, papa memilihmu menjadi pengasuh Andra, adikku yang OON itu."
Sunyi, Sasfa tidak mampu menanggapi, jauh dalam hatinya berbunga, pengakuan Bastian merupakan wujud dari keinginannya selama ini.
"Fa, jadilah kekasihku, kita akan menjalani hubungan ini diam-diam. Aku janji, akan memberimu kebahagiaan di seluruh dunia."
Barulah Sasfa mengalihkan atensinya, pandangan mereka saling mengunci, ada keinginan besar yang muncul di hati masing-masing.
Tangan Bastian merayap di atas paha, sentuhan itu terasa nyaman, Sasfa termangu, perlakuan lembut dari Bastian terasa seperti mimpi.
Tanpa aba-aba, tatapan tenang yang tergambar di wajah Sasfa seolah memberi izin. Bastian mendekati paras cantik itu, lalu memberi kecupan singkat di keningnya. Netra Sasfa membelalak di tengah keterkejutan, bibir mungil mengatup rapat, sedang hatinya menghangat seakan dihujani jutaan kelopak bunga di musim semi. Rasa bahagia tersebut belum pernah ia dapat selama ini, secara kebetulan, Bastian merupakan lelaki idaman yang terus terngiang di benak Sasfa setiap hari.