Lantai basement begitu sepi, mobil silver milik Bastian terparkir pada tempat paling ujung. Di dalamnya, kedua sejoli sedang bertukar saliva, Sasfa meremat krah kemeja kakak ipar, sementara Bastian menahan tengkuknya sambil melumat bibir ranumnya penuh semangat. Sasfa terhuyung ke belakang, tangan kekar Bastian sigap menahan punggungnya.
"Cukup kak," bisiknya disertai rona wajahnya memerah.
"Tidak ada siapapun di sini, mari kita bersenang-senang dulu, Andra tidak bisa memenuhi tugasnya, maka biarkan aku memanjakanmu, Fa."
Bastian menjamah area paha, perlahan masuk, bersiap meregangkan kaki Sasfa yang saling menghimpit.
Kaca mobilnya hitam pekat sehingga menambah kepercayaan diri Bastian, area khusus yang mereka tempati juga tidak terjangkau oleh kamera cctv, Bastian sengaja memilih lokasi paling aman guna melancarkan aksinya.
"Tidak sekarang Kak, aku belum siap," Sasfa merapatkan roknya kembali, mendorong d**a bidang itu supaya mundur.
"Kenapa?" Bastian mengernyitkan keningnya. Padahal ia tahu betul, Sasfa menyimpan rasa kagum, hampir mustahil jika gadis bermata sipit tersebut menolak pesonanya.
"Ada rapat pukul delapan, kita harus begegas," melonggarkan sabuk pengaman, Sasfa turun lebih dulu.
Aneh, nuraninya memberontak. Bastian sosok lelaki yang karismanya tidak tertandingi, postur tubuhnya kekar dan tinggi, bayangan andai larut dalam pelukan, apalagi sambutan sang CEO membuncah, jika mau, Sasfa bisa saja mendapat segala kebahagiaan yang ia idam-idamkan.
Tapi hatinya berkata lain, batinnya merasa bersalah, tiba-tiba ingatan tentang momen sakral pernikahan mencuat, menjadi garis pembatas di antara keduanya.
"Huh, padahal tinggal sedikit lagi. Konyol!! kenapa aku malah menolak!!" rutuknya dalam hati.
Pintu lift terbuka, Sasfa masuk sendirian, memegangi dadanya yang bergemuruh.
"Sejauh ini, Bastian selalu acuh terhadapku, lalu sekarang, mendadak membuka jalan bagi kami untuk menjalin kasih. Hatiku senang, tentu saja, tapi rasanya aneh."
Benak Sasfa bergelut, menyambungkan momen satu dan yang lainnya, ingin berpikir positif, akan tetapi nalurinya berkata seolah ada yang mengganjal.
Jauh di belakangnya, Bastian menatap punggung Sasfa hingga wujudnya benar-benar menghilang.
"SIALL!!" dengusnya sembari memukul bagian kemudi. "Berani sekali dia menolakku! ku pikir sangat gampang menjinakkan gadis miskin itu!!"
Tidak ada ketulusan di balik perubahan sikapnya, Bastian punya tujuan khusus yang berhubungan dengan keuntungan pribadi semata.
Ponselnya berdering, mengalihkan atensi Bastian, sapaannya kasar diikuti nadanya kesal.
"Iya Sayang, kenapa?"
"Kamu lupa? kenapa belum ditransfer? aku butuh 20 juta untuk bersenang-senang!" cetus Vivian dari jauh.
"Maaf, aku sibuk dengan pekerjaan akhir bulan. Banyak yang mesti aku urus," muka Bastian senantiasa masam.
"Aku ga mau tau ya Bas!! jika kamu tidak mampu memenuhi kebutuhanku lebih baik kita putus! tubuh dan pikiranku mahal. Jika stres sedikit saja akan berpengaruh buruk pada penampilanku."
"Oke Sayang, aku paham. Aku kirim sekarang juga," Bastian mengalah.
"Nah gitu dong, percuma, statusmu sebagai putra konglomerat, sedang hidupmu terlalu hemat!" sungutnya berapi-api.
"Sorry, aku benar-benar pusing. Jangan marah terus ah, nanti muncul keriput di sekitar matamu lho,"
"Terserah! ini semua gara-gara kamu Bas! oh iya, selama dua hari ke depan aku ada pemotretan untuk iklan terbaru, ditambah meeting dengan para klien. Jangan menelepon jika bukan kondisi darurat."
"Iya Sayang, aku paham."
Panggilan selesai.
Menyimpan kembali ponsel ke dalam saku, Bastian mengingat bahwa misinya baru saja dimulai.
Sebagai putra tertua, harusnya Bastian memiliki kuasa penuh atas aset keluarga Hartawan, namun yang tidak diketahui orang lain ialah, bahwa Bastian merupakan anak angkat. Usianya setahun lebih tua dibanding Andra, hal itu memicu persaingan ketat yang Bastian rasakan.
Untungnya, keadaan Andra di bawah rata-rata sehingga posisi Bastian masih aman hingga sekarang. Ia digadang-gadang akan diangkat menjadi pewaris The Luxury Corporation di masa mendatang.
"Kalian pikir bisa menghambat cita-citaku hah? Andra tidak mungkin sembuh. Sementara itu, kalian harus bersiap dengan kehancuran di masa depan."
Seperti kacang lupa kulitnya, Bastian memiliki niat busuk terhadap keluarga yang telah memberinya hidup mapan. Nanti, saat ia dinobatkan sebagai pemilik perusahaan secara sah, ia akan segera mengambil alih kuasa atas perusahaan cabang. Selanjutnya?
Mengirim bu Lusi dan pak Hartawan ke panti jompo merupakan puncak dari usahanya selama ini. Keserakahan mendarah daging di dalam diri Bastian, tumbuh dalam kehangatan keluarga angkatnya namun semua itu tidak cukup membuatnya bersyukur. Bastian ingin lebih, lebih dan lebih.