3 Hari Berikutnya
Bu Lusi mengamati putranya Andra, mereka berada di ruang tengah, Andra hanya melirik sekilas, tersenyum lalu kedua tangannya kembali sibuk menyusun puzzle.
"Nyonya butuh sesuatu?" sapa bik Surti dari arah belakang.
"Eh, itu Bi, tumben sejak pagi Andra belum berteriak, ku kira ia sakit atau tidur," bu Lusi terkesima, dibanding hari-hari sebelumnya, Andra jauh lebih tenang, tatapannya juga fokus ketika menempel satu potongan bergambar hewan.
"Oh iya soal itu Nyonya. Sejak kehadiran non Sasfa di rumah ini, Andra memperlihatkan sedikit perubahan. Emosinya tertata, kesabarannya juga meningkat. Tadi, dia minta dibelikan gulali, saya ingat pesan Nyonya agar Andra mengurangi makanan manis. Dia tidak marah sama sekali."
Laporan si bibi membuat Lusi menghembus napas lega.
Dari arah lain, pak Hartawan mendengar percakapan mereka, pun ikut bersuara. "Benar kan Ma? keputusan menikahkan Andra tidak salah. Papa optimis, putra kita akan sembuh tidak lama lagi."
Merangkul pundak bu Lusi, secercah harapan muncul seperti sinar terang. 25 tahun lamanya mereka menunggu, bu Lusi sampai tidak berani hamil lagi, takut jika Andra kekurangan kasih sayang, andai ada anak lain yang hadir di tengah-tengah keluarga mereka.
Sudut matanya basah, bercampur antara bahagia dan rasa haru.
Dari balik dinding, Bastian turut mencuri dengar, tangannya mengepal geram, jika kelak Andra sembuh, itu artinya masa depan Bastian menjadi terancam.
Kakinya mengayun tanpa suara, menuruni anak tangga menuju lantai satu rumah. Area dapur menjadi fokus utama, di sana Sasfa tengah belajar membuat puding kesukaan Andra.
Potongan buah terdiri dari strawberry, anggur dan kiwi berjajar rapi pada mangkuk-mangkuk kecil, raut wajahnya memberengut, belum iklhas jika harus memprioritaskan segala sesuatu tentang suaminya yang aneh itu.
"Huh! kenapa ga beli aja sih? ribet tau ga! hari libur bukannya jalan-jalan malah berurusan dengan masakan. Emangnya aku babu apa?"
Di dapur hanya ada Sasfa seorang diri, makanya ia bisa menggerutu tanpa takut.
"Hei, sibuk ngapain sih?" tanya Bastian diiringi senyum waspada. Langkahnya harus berhati-hati sebab Bastian menyimpan niat terselubung dengan dalih mendekati Sasfa.
"Nih, permintaan mama. Katanya ingin mencicipi makanan buatanku," tuturnya diselipi rasa malas.
Menangkap ekspresi Sasfa, Bastian memberi alternatif lain, ia ingin agar Sasfa dan Andra memiliki jarak jauh, ketakutan terbesarnya andai Sasfa memperlihatkan empati, lalu keduanya semakin akrab.
"Ah ini ga penting, mending kita nonton film," merangkul pinggang ramping, Bastian juga mengendus aroma lavender dari helaian rambut Sasfa yang agak basah.
"Kak, tolong jangan begini. Jika ada yang lihat mereka akan salah sangka." Sasfa menggeliat, berupaya melepas dekapan kakak ipar, juga tangan Bastian yang melingkari perutnya.
"Hanya ada kita. Semua orang sibuk di atas. Biasa, tuan muda selalu spesial!"
Alis Sasfa terangkat bersamaan, pasalnya, sejak ia masuk ke keluarga Hartawan, belum sekalipun Bastian memperlihatkan kebencian terhadap Andra di depannya.
"Dia itu kan adikmu, ku pikir Kakak juga sayang sama dia, seperti anggota keluarga lain?" tembak Sasfa.
"Iya, tentu saja aku sayang... maksudku, terkadang aku iri. Gara-gara kondisinya, ia selalu mendapat perhatian dari mama dan papa. Sedang aku dilupakan." Jawab Bastian bernada candaan, senyum palsu ia lontar di depan Sasfa, melakukan sandiwara merupakan salah satu keahlian dari Bastian.
Menggaruk tengkuknya, Bastian cemas andai Sasfa berhasil menemukan kebenaran atas rasa iri yang ia pendam.
"Udah, ayo tinggalin Fa! biar nanti dilanjut sama bibi."
Menarik tangan Sasfa, berniat memaksanya meninggalkan rumah untuk sebentar.
"Tapi Kak, bagaimana jika mama marah?" tangan Sasfa melepas celemek yang menutup di depan perut.
"Ga masalah, nanti aku yang kasih alasan."
Ia pun menurut, genggaman tangan Bastian begitu erat, senyumnya miring, puas sebab berhasil menggagalkan usaha mama Lusi.
"Kak kita mau kemana?"
Keduanya duduk berdampingan, Bastian memakaikan sabuk pengaman menyilang di depan d4da.
"Udah jangan banyak protes. Dijamin seru pokoknya."
"Tapi Kak?"
Wajah mereka hanya berjarak satu jengkal, sepasang mata Bastian menatap lekat pada paras cantiknya. Punggung jemari perlahan bergerak, menyusuri garis pipi Sasfa yang diam begitu tenang.
"Kak, kita di rumah," desah Sasfa pelan. Bagaimana tidak, sorot mata tajam Bastian penuh minat, Sasfa takut andai ciuman berlangsung nikmat seperti tempo hari akan terulang lagi.
"Bibirmu sangat seksi, Fa!! kenyal dan hangat. Sayang kalau dianggurin kan, boleh ku tanya sesuatu?" bisik Bastian menahan gejolak hasratnya.
"Tanya apa Kak?" jawab Sasfa malu-malu. Guratan merah terlukis di wajahnya, diperlakukan demikian romantis, hatinya meleleh seketika.
"Pepatah bilang, yang pertama adalah yang paling berkesan."
"Iya lalu?" Sasfa memberanikan diri menaikkan dagunya, sehingga netra mereka saling mengunci pandang.
"Saat aku mencumbumu kemarin, kamu lebih banyak pasif, kenapa? apakah ada pria lain yang mengisi pikiranmu saat itu? yang pasti bukan Andra kan?"
Pertanyaan tersebut ia lempar guna menyelidiki masa lalu Sasfa. Ini sangat penting.
"Bukan gitu Kak, aku---grogi....."
"Grogi?" sahut Bastian, tawanya nyaris pecah. Meski adik iparnya memiliki keluarga miskin, bukan berarti ia tidak punya kekasih kan?
"Itu momen pertama kali, Kakak mencuri first-kiss milikku."
Terkesima, Bastian tidak habis pikir, ternyata gadis incarannya begitu polos. Itu artinya usaha mengkamuflase akan semakin mudah ia lakukan.
Tidak perlu membuang waktu, Bastian menyambar bibir Sasfa, lumatan lembut perlahan berubah semakin brutal. Setiap inci tidak ada yang terlewat, Bastian menyusupkan lidahnya hingga ke area dalam. Sasfa termangu dibuatnya, desiran darahnya meningkat, sejalan dengan keberanian kakak ipar ketika memberinya ajaran baru. Yakni agar mereka saling menghis4p, memanjakan dan memberi perhatian lebih.