First Kiss Andra

1268 Words
Hampir satu jam, Sasfa dan Bastian akhirnya sampai kembali ke rumah mewah. Keduanya jalan beriringan, senyum Sasfa hilang ketika mendapati ibu mertua menyambutnya dengan tatapan nyalang. "Kalian dari mana?" sentaknya diikuti amarah membakar. Bangkit dari sofa, sementara Andra duduk di sampingnya sambil mimik mukanya senantiasa memberengut. "Kami hanya jalan-jalan ke taman sebentar Ma, mumpung hari masih pagi, di sana juga ramai," Bastian membuka suara. Bu Lusi menelisik tampilan Sasfa, semringah terlihat walau dari kejauhan, tepatnya sejak sepasang kaki Sasfa turun dari pintu mobil. "Tadi Mama ngasih tugas ke kamu kan Fa? tapi kamu malah pergi, meninggalkan tanggung jawabmu? Andra adalah prioritas, tidak pantas jika kamu berduaan dengan kakak iparmu. Andra jadi sedih, semua ini gara-gara kamu!" Sosoknya yang lembut beberapa hari yang lalu hilang entah kemana, bu Lusi menekan Sasfa, bahwa ia harus menjaga jarak dari Bastian. "Ma--af Ma," lirihnya mengalah, hatinya justru menggerutu sangsi, menurutnya, Andra yang berjiwa kekanakan tidak akan mempersoalkan kedekatannya dengan Bastian. Pikir Sasfa mengatakan, bahwa Andra tidak memiliki emosional layaknya pria dewasa, semacam cemburu misalnya. "Sasfa itu punyaku! Bastian harus menjauh! AWAS kalau berani menyentuh pipinya lagi!!" ancam Andra ikut murka. Semua orang beralih menatapnya, rupanya, Andra menyaksikan momen ketika Bastian mengusap pipi Sasfa, sesaat sebelum ciuman panas itu terjadi. Untungnya posisi Bastian membelakangi kaca mobil, sehingga Andra hanya menangkap bayangan punggung Bastian ketika mengikis jarak bersama Sasfa. Sebelum kejadian itu terungkap, Sasfa buru-buru mengalihkan atensinya. "Eh iya Ndra, kemarin aku sempat mampir toko buku, ada cerita kesukaanmu, mau lihat ga?" tawarnya panik. "Bohong!! Sasfa berteman akrab dengan Bastian!! aku marah!!!" Kedua pipinya menggembung, tatapan matanya memicing ke satu arah. "Eh, kami hanya berteman biasa, ngapain kamu marah?" bujuk Sasfa menambahkan. Bu Lusi mengedar pandangan ke Sasfa dan Bastian bergantian. "Kecurigaan Andra itu benar, kalian memang atasan dan karyawan, tapi Mama ga suka jika di rumah, kalian terlalu dekat. Lagian Fa, bentar lagi Bastian akan menikah, kamu harus membatasi diri. Pergi berduaan bukan hanya melukai Andra, tapi juga Vivian, calon istri Bastian kelak!" bu Lusi memperingatkan, agar Sasfa tidak melakukan kesalahan yang sama di lain hari. "Maaf Ma," Sasfa memendam perasaan, sejatinya, ia sangat bahagia ketika bersama Bastian, namun hubungan itu terpaksa mereka sembunyikan. Bastian mengangguk kecil, pertanda bahwa ia mengerti tuntutan sang mama. **** Acara pertunangan digelar mewah, Vivian mengundang rekan-rekan model, pun berbaur di dalam suasana gembira malam ini. Mini dress hitam menambah pesonanya, Vivi sapaan akrabnya, nampak seperti pasangan sempurna ketika bersanding dengan Bastian. Di sudut ruang pesta, Sasfa menikmati gelas berisi anggur seorang diri, membandingkan nasib malang harus berjodoh dengan Andra, kontras dengan yang dialami oleh Vivian. Sampai pada tegukan terakhir, senyum pahit itu menguar seiring dengan ratapan penuh sesal yang tertancap di relung hati. "Ini tidak adil! suamiku abnormal, takdirku buruk! ya Tuhan, apa Kau mendengarku hah?? kalau begitu kabulkan permintaanku! aku ingin pasangan sempurna seperti Bastian! tolong sembuhkan Andra!! atau berikan aku penggantinya!!" Kesadaran Sasfa mulai berkurang, tubuhnya lunglai, pipinya lemas bertumpu di atas meja bartender. Melihat dari kejauhan, Bastian hendak mendekat namun segera dicegah oleh Vivian. "Mau kemana Beb? ini acara kita!" tangannya mencekal kuat, Bastian dibuat tidak berdaya olehnya. "Itu, Sasfa sepertinya hampir pingsan, biar ku antar dia ke kamar," "What? dia itu kan Adik iparmu!! udah, ga usah dipikirin. Itu tanggung jawabnya Andra tauk!" Vivi belum mengetahui rencana kekasihnya, Bastian sengaja tidak membagi rahasia, mengenai statusnya sebagai anak angkat keluarga Hartawan. Kesadaran Sasfa hampir habis, jalannya limbung disertai bibirnya meracau tidak jelas, kadang tertawa, namun dalam sekejap berubah menjadi umpatan memilukan. Seorang pelayan mengantar Sasfa untuk naik ke lantai 2, meninggalkan hirup pikuk keramaian yang didominasi rekan-rekan si empunya acara. Tangan Sasfa berusaha berontak, mendorong pelayan itu hingga nyaris terjungkal. "Maaf Nona, sebaiknya anda istirahat," ucapnya terus memaksa Sasfa memasuki kamar utama. Pintu kamarnya ditutup dari luar, Sasfa menggedor berulang kali namun tidak dihiraukan oleh si pelayan. Andra sibuk dengan buku dongeng, pun menoleh ketika Sasfa terus memaki pelayan itu. Tampilan Sasfa begitu cantik, mini dress merah maron sebatas lutut, area d4danya terbuka, pun memantik atensi Andra. "Fa, kamu ga dingin apa? daripada marah-marah mendingan tidur sana!" Insting Andra belum nomal, melalui penglihatannya, ia hanya khawatir andai istrinya itu terkena masuk angin. Jemari kekar itu menuntun Sasfa hingga sampai ke tepi ranjang, merebahkan pelan, lanjut menutupi tubuhnya dengan lembaran selimut. "Kamu bobo duluan gih, aku belum selesai membaca," ujar Andra polos. Kesibukannya setiap hari adalah berkutat dengan buku, jika tidak melukis, maka mengoreksi setiap kalimat pada cerita merupakan kesukaannya. Tangan Sasfa menahan bajunya, senyumnya menggoda, bibir bawahnya terlipat, seolah sengaja tebar pesona dikarenakan ia sedikit mabuk. "Hei, suamiku, sudah berhari-hari kita tinggal bersama, apakah kamu tidak ingin menyentuhku sama sekali hmm?" tanyanya sembari mengedip sebelah mata. Kening Andra mengernyit seketika, tidak paham dengan ucapan istrinya. "A--aku mau belajar... kamu bobo ya, jangan rewel," timpalnya menanggapi. Berupaya melepas cengkraman tangan Sasfa, namun gadis itu tidak menyerah. Bangkit dari posisi baring, Sasfa menarik leher Andra secara spontan, menahan tengkuknya lantas menyatukan bibir mereka melalui lumatan lembut. Andra hanya diam, tidak menolak, tapi juga belum bisa menikmati. Sasfa semakin penasaran, memiringkan wajahnya ke sisi lain, lidahnya menyusup masuk, guna mengeksplor area dalam. Tak disangka, Andra memejamkan kedua mata, darahnya berdesir aneh, yang mana sensasi itu belum pernah ia rasakan seumur hidup. Nadinya seolah hidup, seakan ada aliran listrik membangkitkan jiwanya yang tertidur lama. Meski begitu ia tetap berdiam pasif, benaknya bingung, apakah harus membalas ciuman Sasfa atau tidak. Sekitar lima menit, kesadaran Sasfa benar-benar habis. Tubuhnya lemas, terjatuh di atas ranjang empuk diikuti matanya mengatup rapat. Jantung Andra berpacu, ada setitik kecewa ketika tautan bibir mereka kini berakhir. Andra tersenyum tipis, mengusap kening Sasfa yang nampak polos, kemudian membenahi posisi tidurnya supaya berpindah ke tengah ranjang. ******* Kenangan malam membuat batin Andra bertanya-tanya, pasalnya, aktivitas dewasa seperti itu tidak dijelaskan oleh sang mama. Keesokan hari, Andra duduk di meja makan sendirian, tatapannya kosong mengarah pada photo pernikahan yang terpajang pada permukaan dinding. "Kenapa Sayang, ga suka sama masakannya?" sapa bu Lusi ketika duduk di sampingnya. Andra terkesiap, namun buru-buru menekuk wajah yang berbalut rona bahagia. "Eh, kok malu-malu?" imbuh Lusi memperhatikan gelagat aneh sang putra bungsu. "Eng--nggak ada kok Ma, hehehe......" Andra sengaja menyembunyikan rahasia yang terjadi antara ia dan Sasfa tadi malam. "Yakin ga ada?" tanya sang mama lagi. Andra mengangguk cepat, demi mengusir penasaran dari benak bu Lusi, ia pun mengambil piring kemudian mulai menyantap. Menit berselang, Sasfa juga bergabung di ruang makan, ia telah berganti pakaian, nampak lebih segar jika dibanding tadi malam. "Maaf Ma, tadi malam acara selesai jam berapa? aku sangat ngantuk, tiba-tiba berpindah ke dalam kamar," terangnya merasa tidak enak hati. "Tidak masalah Fa, kamu diantar pelayan karena kondisimu mulai tidak terkendali, Mama juga tidak mengikuti acara sampai selesai, maklum, faktor U." Bu Lusi tidak keberatan, menurut penilaiannya, sebagian besar tamu merupakan rekan Bastian dan Vivi, jadi wajar jika Sasfa merasa canggung kemudian pergi lebih dulu. Duduk di samping Andra, Sasfa bersikap normal sama seperti hari-hari sebelumnya. Akan tetapi berbeda dengan Andra, ia terus memperhatikan, setiap gerakan dari istrinya, mulai saat Sasfa mengambil air minum, nasi, beserta lauk-pauk. "Kenapa? natap aku gitu banget?" protes Sasfa risih. "Euu... itu.. . anu..." Andra terbata. Menggaruk tengkuknya sebab dilanda bingung. "Anu kenapa? kalo bicara yang jelas Andra," desak Sasfa. "Hehe... ga jadi.... kamu makan gih, habis ini temani aku ke toko mainan ya, plissssss.." Bu Lusi tersenyum tipis, "Seminggu ini kamu udah belanja tiga kali loh, katanya mau nabung?" tukasnya mengingatkan. "Ga mau Ma, pokoknya beli mainan," Andra memasang wajah masam, kedua tangannya memukul permukaan meja berlapis kaca. Pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi, Sasfa geleng-geleng kepala, memijat pelipisnya sedang batinnya berucap miris. "Tidak ada yang bisa ku harapkan dari pria ini. Sungguh Menyebalkan......."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD