Memberikan Amanah

1118 Words
“Mass ...,” tegur Hana, agar Hanan tidak lagi marah hanya karena hal sepele. Wanita itu sekilas menatap Hana, lalu menatap Hanan seraya tersenyum manis. “Maaf, Pak. Tadi saking buru-burunya, katanya baju ini sudah ditunggu.” “Iya, sangat ditunggu. Baju istri saya kotor. Lihatlah.” Wanita itu melihat ke arah Hana, benar, bajunya kotor. “I-istri, Pak?” “Iya.” “O-oh ... kalau begitu, saya permisi, Pak.” Hanan mengangguk, membiarkan karyawannya itu pergi. Sementara wanita berdress merah itu, menatap tajam ke arah Hana. “Lihat saja lo, gue jamin pernikahan kalian nggak akan bahagia!” gumamnya pelan kemudian melenggang pergi. Di sisi lain, Hana tengah menormalkan jantungnya. Insiden tadi membuat hatinya sangat berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Hal itu adalah yang pertama kalinya. Mengapa takdir hari ini seakan membuatnya terus merasakan kebahagiaan ini? Namun, dia juga bersyukur. Berharap Hanan tidak lagi bersikap dingin dan kaku padanya. “Cepat, ganti baju di sini. Saya akan ke dapur, menghangatkan makanan.” “Masak sendiri?” “Memangnya kenapa?” “Oh, enggak. Ya s-sudah kalau Mas Hanan mau ke dapur.” “Jangan lupa kunci pintu, supaya saat ganti pakaian aman.” Hana mengangguk, menatap kepergian sang suami dengan senyum yang mengembang. Gegas, dia menutup pintu sesuai dengan perintah sang suami. Dan akan membukanya lagi setelah selesai. *** Lagi-lagi semua orang terpaku dengan apa yang ada di depan mata. Bos besar mereka, membawa rantang ke arah dapur? Yang benar saja. Semua karyawan, baik laki-laki atau pun perempuan, mengerjap beberapa kali, memastikan apa yang mereka lihat benar adanya. Namun, tetap saja, tidak ada perubahan. Hanan tengah melangkah menuju dapur. “Eh, eh, lihat deh. Pak Hanan bawa rantang ke dapur!” bisik salah seorang staf wanita pada teman di sampingnya, begitu juga dengan staf laki-laki. Hanan hanya melihat sekilas, lalu berjalan lurus, menghiraukan bisikan mereka yang terdengar sampai ke telinga. Jika bukan karena rasa lapar yang sudah mendemo sejak tadi, dia tidak akan membiarkan mereka berani berbisik sepata kata pun. Para office girl dan boy yang tengah berbincang sambil istirahat makan siang pun, sontak berdiri tatkala bos mereka masuk ke area tempat mereka. “Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang office boy berkulit sawo matang, tersenyum ramah sambil sedikit membungkukkan tubuh dengan sopan. “Tidak. Saya hanya ingin menghangatkan makanan. Gas ada?” “Ada, Pak.” Hanan berlalu ke arah kompor, meninggalkan office boy yang masih terdiam di tempat. Sejenak matanya mengedar, menatap sekeliling. Bersih, pekerjaan mereka bagus juga. “Kenapa kalian berdiri? Kalau mau makan, makan saja. Tidak perlu berhenti.” “I-iya, Pak ...,” jawab para office boy dan girl secara bergantian, mengangguk paham kemudian melanjutkan makan siang. Namun, kali ini tanpa ada suara gurauan lagi. Sementara Hanan, lelaki itu meletakkan rantang di samping kompor. Kemudian, mengambil wajan dan meletakkannya di atas kompor. Api mulai menyala dengan sedang, lalu rendang berpindah tempat ke wajan. Bunyi dering ponsel mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dapur, termasuk Hanan. Dia segera merogoh saku celana, mengeluarkan benda pipih lima koma lima inci, melihat siapa yang menghubunginya di jam makan siang seperti ini. Tertera nama salah satu pengusaha, dia segera menggeser tombol hijau ke kanan. Menempelkan ponsel ke daun telinga, mulai terdengar suara sapaan di seberang sana. “Sebentar, Pak. Irvan! Van ... Irvan!” “Iya, Pak?” Office boy yang tadi menyapa Hanan, menghampiri sang bos dengan tergopoh-gopoh. Meninggalkan makan siangnya. “Tolong kamu urus rendang saya, lalu bawa ke ruangan, ya. Bilang sama istri saya, pulang duluan saja. Saya mau ada meeting dadakan.” “Baik, Pak.” Irvan mengangguk, sedikit membungkuk, membiarkan Hanan berjalan melewatinya sambil berbicara dengan seseorang di depan sana. Semua office boy dan girl yang tengah makan siang, sontak berdiri saat Hanan melintas. Mereka menatap kepergian Hanan dengan wajah tegang, detik selanjutnya bersorak ria, lalu dapur kembali riuh saat bos besar itu sudah kembali ke ruangan. Berbeda dengan Irvan, lelaki kisaran usia dua puluh tahunan itu segera menunaikan perintah sang bos. Memastikan rendang aman dan kembali ke ruangan tanpa satu kekurangan. Sebenarnya bisa saja jika Irvan masuk sebagai staf. Namun, ijazahnya yang hanya lulusan SMA, hanya bisa membawanya menjadi seorang office boy. Tak apa, itu saja sudah menjadi hal yang patut dia syukuri. Banyak di luaran sana yang tidak mempunyai pekerjaan. Dan menjadi office boy adalah pekerjaan yang halal. Di ruangan lain, Hana sudah mengganti gamis putihnya dengan gamis abu. Anggun sekali. Gamis abu yang terbuat dari bahan siffon dipadu dengan wofis premium itu sangat jatuh tatkala dikenakan di tubuhnya. Terlebih, ditambah dengan renda hitam dibagian pergelangan tangan dan pinggang, membuat dia lebih terlihat anggun, senada dengan jilbab yang dikenakan. Sepuluh menit sudah berlalu sejak dia mengganti pakaian, tetapi Hanan belum juga kembali. Apa selama itu, menghangatkan makanan? Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, Hana berdiri, berharap itu sang suami. Dia tersenyum ceria, berseri bak akan menyambut raja. Namun, bukankah suami adalah raja dan istri adalah ratu? Dia sudah tidak sabar menunjukkan gamis baru yang dipesan suaminya itu sangat cocok di tubuhnya. Namun, tatkala pintu terbuka wajahnya berubah. Senyumnya sirna. Yang datang bukan suaminya, melainkan seorang office Boy. “Maaf, Bu. Ini dari Pak Hanan. Katanya ditaruh saja di ruangan,” ucap Irvan dengan sopan. Hana memaksakan senyuman. “Oh, iya, terima kasih,” ucapnya seraya menerima nampan dari pemuda di depannya. “Kata Pak Hanan, Bu Hana disuruh pulang saja. Beliau ada meeting mendadak.” “Oh ... iya iya. Terima kasih.” Hana tersenyum menatap kepergian office boy itu, entah namanya siapa, tetapi dia suka dengan kesopanan yang pemuda itu tunjukkan. Dia menutup pintu, meletakkan nampan di atas meja. Menatap rendang yang sudah mengeluarkan kepulan asap. Tempatnya masih sama, di dalam rantang. Namun, pandangannya telah berubah menjadi kecewa. Ke mana Hanan? Dia sudah berjanji akan makan. Namun, kenapa malah pergi sebelum memakan sesuai nasi di hadapannya? Dia sudah jauh-jauh datang ke sini, sampai dihina dan terkilir. “Ya sudahlah, aku pulang saja,” putus Hana, menyambar tas selempang, tak lupa gamis sebelumnya dia masukan ke dalam tas belanja dari butik tadi. Dia segera ke luar setelah menutup rendang dan membiarkan makanan padang itu tetap berada di atas meja. Semua karyawan berdiri tatkala dia keluar dari ruangan, tersenyum ramah, sedikit menunduk, membiarkan Hana melewati semuanya. Hanya hanya tersenyum sesaat, lalu melangkah ke luar dengan perasaan yang sudah kecewa. Matanya sudah berkaca-kaca, air sudah mengembun di pelupuk. Tanpa dia sadari, semua karyawan sebenarnya tengah terpukau dengan penampilan dirinya. Jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya. Benar-benar cantik. Make up natural membuat Hana terlihat manis, ditambah gamis mewah itu membuat siapa pun akan meras airi dengan Hana. “Cantik, ya, Bu Hana. Pantas saja Pak Hanan tergila-gila,” puji karyawan wanita berambut panjang hitam bergelombang, kemudian diangguki temannya yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD