“Kami mohon maaf, Pak. Kami tidak tau,” ujar salah satu penjaga setelah masuk ke dalam ruangan dan berdiri menghadap sang bos beserta perempuan yang beberapa saat lalu mereka perlakukan dengan tidak baik.
“Kami tidak tau kalau dia istri Bapak. Lagi pula, pakaiannya kotor dan membawa rantang. Jadi, kami pikir—“
“Heh!” Hanan melempar sepotong rendang ke baju penjaga yang hendak melanjutkan ucapannya, menatap penjaga yang bajunya sudah kotor terkena bumbu rendang itu dengan tajam.
“Jadi, jika dia bukan istri saya, kalian akan tetap memperlakukan tamu semena-mena begitu? Dasar, bodoh! Buat malu kantor saja!” hardik Hanan, tak terima mereka memperlakukan Hana tidak baik seperti tadi. Enak saja mereka bilang minta maaf.
“Sudah, Mas. Tidak baik marah-marah di depan makanan.”
“Tidak bisa, Han! Mereka sudah keterlaluan. Harus saya kasih pelajaran!” Hanan hendak berdiri, tetapi tangannya dicegah oleh sang istri.
Hana menggeleng pelan, pertanda dia tidak ingin jika Hanan melakukan hal yang tidak-tidak. Sementara Hanan, lelaki itu hanya bisa menggeram dan menatap tajam pada dua penjaga itu.
“Ke luar kalian! Mulai sekarang, kalian saya PECAT!” teriak Hanan, menekan kata ‘pecat’ agar mereka tidak lagi berani mengusik ketenangannya dan Hana.
Dua penjaga itu terkejut, mendongak. Menatap Hanan dengan raut wajah memelas, meminta belas kasihan agar mereka masih tetap di izinkan bekerja.
“Pak, saya mohon ... jangan pecat saya, Pak. Anak istri saya nanti makan apa, Pak. Saya benar-benar minta maaf, Pak ....” ucap penjaga bertubuh tinggi dan kekar.
“Iya, Pak. Saya juga minta maaf. Sebentar lagi saya mau menikah, Pak. Jika Bapak pecat saya, pernikahan saya bagaimana, Pak.” Penjaga bertubuh sedikit pendek itu menimpali, menangkupkan kedua tangan dengan tatapan penuh harap.
“Saya tidak peduli, itu urusan kalian. KELUAR SEKARANG! Atau perlu saya panggil satpam, hah?!”
“Ba-baik, Pak. Kami permisi.” Dua penjaga itu pasrah, menunduk lesu sambil melangkah ke luar. Sekilas menatap Hanan, masih berharap dipanggil dan diberikan kesempatan kedua.
Napas Hanan memburu, dadanya naik turun. Menahan amarah yang memuncak. Keterlaluan sekali mereka memperlakukan Hana sampai terkilir seperti itu.
“Mas ....”
“Jangan protes, saya tidak suka!” bentak Hanan, memotong ucapan Hana, membuat sang istri terdiam dan menunduk dalam.
Hanan memalingkan wajah, menatap rendang yang sudah dingin. Dia tak lagi memiliki selera makan. Perutnya sudah terisi oleh amarah terlebih dahulu.
Hana memejamkan mata, tangannya mengelus pelan kaki yang terkilir. Ngilu sekali rasanya. Apa separah itu efek terkilir? Sakit sekali.
Mereka bergeming cukup lama, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanan yang tengah berusaha meredakan amarah, sedangkan Hana tengah menahan sakit di kakinya. Membiarkan rendang dan nasi tertiup angin, menjadi dingin tanpa berniat disentuh oleh mereka.
“Mas ... rendangnya sudah dingin.”
Hanan menoleh, menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Kemudian, menatap Hana dengan lembut. “Kamu tidak makan?”
“Sudah kenyang,” jawab Hana, memaksakan senyuman. Dia tidak Ingin membuat Hanan khawatir.
“Baiklah, saya akan makan kalau kaki kamu sudah membaik. Coba, saya lihat.” Hanan beranjak dari tempat duduk, lalu berlutut di depan Hana. Membuat istrinya memundurkan kaki sampai merapat ke sofa.
“Tidak usah, Mas.”
“Saya mau lihat,” kekeuh Hanan, menunduk, mencoba melihat kaki Hana yang terus disembunyikan.
“Enggak.” Hana berdiri, membuat Hanan mendongak. “Aku nggak mau kalau kakiku diurut.”
“Jangan bandel kayak anak kecil.” Nada bicara Hanan terdengar dingin.
“Aku mau, tapi kalau Mas Hanan mempekerjakan dua penjaga itu lagi.”
“Kenapa, sih? Ngeyel banget. Mereka itu salah dan harus dikasih pelajaran supaya jera.” Hanan ikut berdiri.
“Mas ... nggak gitu juga ngasih pelajaran ke anak buah.” Hana duduk kembali, begitu juga dengan Hanan. Entah kekuatan magnet apa yang membuat Hanan ikut melakukan hal yang Hana lakukan.
“Coba, deh, Mas pikir. Kalau Mas Hanan yang ada di posisi mereka, bagaimana rasanya? Mas sudah menikah, kalau Mas dipecat, bagaimana rasanya?”
“Yaa, nggak mungkin dipecat dong. Orang saya pemiliknya.”
“Iya, sekarang. Kalau semisal Mas jadi karyawan biasa dan ada di posisi mereka, bagaimana? Mas mau kasih makan apa aku kalau tidak punya pekerjaan? Pun, dengan yang mau menikah, Mas tau sendiri, biaya menikah itu nggak murah. Kasian mereka, Mas,” jelas Hana panjang, berharap Hanan mau mengerti apa yang dia maksudkan.
“Oke, sekarang, berikan kakimu.”
Hana tersenyum. Jika Hanan sudah berkata ‘A’ maka pasti dilakukan. Dan kata ‘Oke’ artinya setuju. Tampak suaminya sudah kembali berlutut, memeriksa kaki Hana.
Hanan mendongak, lalu mengusap pelan kaki Hana. “Sakit?”
Hana mengangguk.
“Kamu itu, kenapa, sih, mudah sekali jatuh? Waktu malam pertama, nyungsep di kamar mandi. Sekarang, didorong gitu aja langsung terkilir,” ungkit Hanan seraya memeriksa keadaan kaki sang istri.
“Yaa, itu kan nggak sengaja, Mas. Maaf.” Hana menunduk, antara menahan malu mengingat malam pertama itu dan malu karena kembali terilir ditolong Hanan.
Dalam hati, dia juga merutuki Hanan. Tadi saja, menggendongnya sampai ruangan. Jelas sekali Hanan khawatir. Lihatlah sekarang, laki-laki itu malah mencibirnya. Aneh sekali.
“Satu ... dua ... tiga!” Hanan memberikan aba-aba, membuat Hana gelagapan. Entah apa yang harus dia lakukan. Hana hanya bisa memegang pada sofa.
“Awww!” jeritnya, saat merakan kaki yang terkilir ditarik oleh Hanan sampai menimbulkan suara seperti tulang yang patah. Ngilu sekali rasanya, terasa berdenyut sampai ke ulu hati.
“Gimana, enakan?”
“Sakit ...,” lirih Hana, mengusap kakinya. Suaminya itu tega sekali menarik kakinya yang terkilir tanpa bicara terlebih dahulu.
“Manja banget, sih. Coba berdiri.”
Hana memajukan bibirnya sesaat, hampir saja air mata ke luar jika tak segera dia seka. Sakitnya bukan main, ngilu dan berdenyut sekali.
“Iyaa.” Hana berdiri dengan hati-hati, lalu melangkahkan kaki kanan, kaki kiri yang tadi terkilir dia angkat dengan pelan, melangkah menuju Hanan yang sudah berdiri tak jauh darinya.
“Ayok, coba bali selangkah. Jangan manja!” ujar Hanan, menatap Hana dengan datar.
Perlahan, tetapi pasti. Hana melangkahkan kaki kiri yang kedua kalinya. Aman. Dia ingin mencoba sekali lagi. Namun, mendadak nyeri menjalar, dia membulatkan mata dengan sempurna, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Spontan, Hanan langsung menangkap tubuh sang istri sehingga membuat jarak di antara mereka hanya beberapa senti, keduanya saling menatap satu sama lain.
“Permisi, Pak, ini baju ... AAAAA!!!”
Hana dan Hanan terkejut, lalu menoleh ke sumber suara. Seorang wanita memakai dress merah sudah ada di ambang pintu, menutup wajah dan membuat tas belanja yang dia bawa jatuh ke lantai.
“Kamu siapa? Jangan mikir yang aneh-aneh, saya hanya menolong Hana yang akan jatuh!” Hanan menjelaskan tanpa diminta, lalu menuntun Hana untuk kembali duduk di kursi.
Wanita itu membuka mata setelah menurunkan kedua tangan dari wajah, menatap kikuk ke arah Hanan dan Hana yang sudah duduk di sofa merah. Ruangan megah nan mewah itu memang khusus di desain untuk Hanan seorang.
Dia memungut tas belanja, lalu berjalan ke arah Hanan dan berdiri tepat di depan meja. Meletakkan tas belanja itu di atas meja, tersenyum kikuk.
“Maaf, Pak. Saya ingin mengantarkan pakaian yang Bapak pesan dari butik. Mbak Sella sedang ada keperluan, jadi saya yang antar ke ruangan Bapak.”
“Kenapa tidak ketuk pintu dulu?”