“Biarkan saya masuk! Saya hanya ingin memberikan makanan dan buah-buahan ini untuk suami saya makan siang!”
“Duh, dari pada buat OB, mending buat kami, Mbak, makanannya. Sini,” pinta oenjaga berbadan kekar tetapi lebih pendek dari temannya.
Hana menyembunyikan makanan itu di belakang punggung, menatap kedua penjaga itu dengan datar. Ada sedikit rasa kesal karena mereka membuat waktunya tersita untuk memberikan makana itu pada Hanan.
“Biarkan saya masuk, Pak. Tolong, nanti makanan ini akan dingin.” Nada suara Hana sedikit rendah, memelas, meminta agar dua penjaga itu membiarkannya masuk. Jika tidak, makanan yang dia bawa akan dingin.
“Jangan mimpi! Sana pergi!” ucap penjaga, mendorong Hana sampai mundur beberapa langkah.
“Hei, ada apa ini?” ujar seseorang dari belakang, membuat dua penjaga itu terkejut, mengenali siapa pemilik suara itu. Mereka berbalik badan, menepi dari pintu, membiarkan sosok itu ke luar bersama sekertarinya.
“Ada apa?” Nada suara sosok itu terdengar dingin. Pria berpakaian formal dengan setelan jas hitam.
“A-anu, Pak. Ada perempuan yang memaksa masuk, pakaiannya kotor, lalu ....”
“Dia membawa rantang dan buah-buahan, Pak. Katanya untuk suaminya. Palingan juga OB, Pak, suaminya,” adu dua penjaga itu pada bos mereka, sang pemilik perusahaan.
Sesaat mereka terkekeh, berbeda dengan raut wajah sang bos. Masih tetap dingin dan datar. Membuat mereka seketika terdiam dan menunduk kembali.
“Mana orangnya?”
“Itu, Pak ....” Salah satu penjaga menunjuk ke arah Hana yang sedang berlutut memegang kaki, sepertinya tadi keselo saat didorong oleh dua penjaga.
“Aww ...,” ringis Hana, memegang mata kaki yang terasa nyeri. Kemudian, berbalik badan saat mendengar penjaga itu mengobrol dengan seseorang.
Mata Hana mengerjap, dia gelagapan saat yang dilihat adalah suaminya. Sementara Hanan, lelaki itu menatap kedua penjaga dengan tatapan kesal.
“Dia wanita yang kalian cegah masuk?”
Dua penjaga itu mengangguk, tanpa berani mendongak.
“Iya, Pak. Perempuan itu hanya istri OB, tidak pantas untuk masuk ke kantor besar seperti ini.”
Gemeretak pelan dari gigi Hanan terdengar, membuat dua penjaga semakin menunduk dalam. Mereka tidak tahu apa kesalahan yang sudah mereka perbuat?
Sementara itu, Alex--sekertaris Hanan sudah menatap kedua penjaga itu dengan iba. Mereka pasti akan mendapatkan masalah besar.
Hanan berjalan menghampiri gadis yang masih setia berlutut itu, membuat para penjaga keheranan. Dia ikut berlutut, melihat apa yang dilakukan gadis itu.
“Kakimu keselo?” tanyanya, Hana bergeming. Menunduk dalam. “Apa dua penjaga itu yang membuat kakimu seperti ini?”
Kali ini, Hana mengangguk. Kemudian, punggungnya terasa disentuh oleh tangan. Selanjutnya, dia diminta berdiri dan Hanan langsung menggendongnya setelah meletakkan rantang dan keranjang buah itu di lantai. Berjalan dengan tegap nan gagah, seperti tidak ada beban yang tengah dia bawa.
“Lho, Pak? Kok, wanita ini digendong dan dibawa masuk? Bukannya dia istri OB?”
Hanan menoleh, memelotot pada penjaga yang berkata seperti itu. Kemudian, menatap Alex. “Bawa rantang dan buah itu ke ruangan.”
Alex, lelaki bertubuh tinggi semampai itu mengangguk, melakukan perintah sang bos. Membiarkan bosnya membawa wanita itu menuju ke dalam. Kemudian, menatap dua penjaga dengan lekat.
“Wanita yang kalian cegah masuk, kalian hina sebagai istri OB, itu istrinya Pak Hanan, bodoh!” tuturnya kemudian mengambil rantang dan kerinjang buah dan masuk ke dalam, meninggalkan dua penjaga yang sudah saling menatap dengan raut terkejut. Tamat sudah riwayat mereka!
Tak perlu berpikir panjang, dua penjaga itu bergegas masuk ke dalam. Menyusul bos mereka. Mereka akan meminta maaf karena telah memperlakukan istri sang CEO dengan tidak sopan. Mereka bersedia melakukan apapun asal tidak di keluarkan dari kantor ini.
Di dalam ruangan. Semua karyawan tengah menatap heran pada bos mereka. Siapa yang menyangka, jika Hanan bisa bersikap romantis juga pada seorang wanita. Namun, siapa gadis yang beruntung itu? Lagi pula, mengapa gadis itu digendong oleh Hanan?
Sementara itu, Hana tengah terpaku menatap ketampanan Hanan dari dekat. Bibirnya tak terasa terangkat ke atas, tersenyum. Dia baru tahu, jika Hanan bisa se-perhatian ini.
Akan tetapi, senyumnya mendadak sirna berganti dengan malu saat menyadari semua karyawan tengah menatapnya dan Hanan, mereka mungki berpikir sama sepertinya. Tidak menyangka dengan sikap Hanan. Atau, mereka mengangumi sosok suaminya itu?
Wajar saja, wajah suaminya tampan. Seorang CEO, muda. Pastilah para wanita terpesona dengan sosok berkharisma seperti Hanan.
Berbeda dengan Hanan, lelaki itu justru tetap berjalan lurus, tegak, menghiraukan tatapan semua orang. Kemudian, berhenti tepat di depan pintu.
“Siang, Bu Hana. Selamat datang,” sapa seorang karyawan wanita, berjilbab segi empat hitam dan tersenyum ramah.
Sontak semua orang ber-oh ria. Ternyata itu Bu Hana, istri bos mereka. Pantas saja Hanan bersikap romantis dan perhatian sekali. Tidak ingin membuat istrinya lelah berjalan. Pun, wajah wanita itu sejak tadi tidak terlihat. Rupanya, bersembunyi di balik d**a Hanan. Wajar saja, itu haknya.
Ternyata, bos dingin dan tegas itu bisa bersikap manis juga jika dengan sang istri. Membuat mereka merasa iri dengan Hana. Bagaimana tidak? Sosok Hanan itu sangat sempurna di mata mereka.
Hana hanya mengangguk, tersenyum. Dia tidak tahu siapa wanita yang menyapanya itu. Hanya senyuman yang bisa membalasnya.
“Sella, minta pihak butik untuk mengirimkan gamis abu ke sini. Sekarang.”
“Yang bagaimana, Pak, modelnya?”
“Sederhana, elegan. Mereka tau selera saya. Hubungi saja dan minta secepatnya. Ukuran untuk istri saya, kamu tau, kan?”
Wanita berjilbab segi empat bernama Sella itu menggeleng ragu. Dia memang tidak tahu.
“L,” ucap Hana, tersenyum. Sella mengangguk, lalu berpamitan dan undur diri. Sementara Alex, membukakan pintu untuk bosnya, membiarkan Hanan dan sang istri masuk.
Alex ikut masuk, tetapi hanya untuk meletakkan rantang dan buah-buahan di atas meja. Setelahnya, dia kembali ke ruangan sendiri. Tidak ingin mengganggu privasi sang bos.
Sementara itu, Hanan menurunkan Hana di sofa merah dengan pelan. Membuat Hana, menunduk malu, menghela napas pelan.
“Kenapa datang ke sini, sih?” Hanan duduk di samping Hana, menarik rantang agar mendekat ke arahnya.
“I-ibu yang memintanya, Mas. Katanya, Mas Hanan tidak suka makan siang di luar, suka lupa karena sibuk bekerja. Jadi, Ibu mengutusku untuk ke sini.”
Hanan melihat sekilas ke arah sang istri, lalu menatap rantang. Tampak rendang lezat buatan sang ibunda sudah tersaji di depan mata. Namun, ada bumbu rendang yang hampir ke luar. Mungkin karena tadi Hana didorong oleh penjaga.
“Permisi, Pak!” Terdengar suara ketukan pada pintu kaca beberapa kali, membuat Hanan dan Hana menoleh ke sumber suara.
“Masuk!” Hanan tak memedulikan siapa yang datang, dia sibuk menata makan siangnya.
Sejak kecil, rendang memang sudah menjadi makanan kesukaannya. Masakan sang ibunda memang tidak ada dua. Selalu enak dan membuat hati gembira.