Dua Penjaga

1162 Words
“Tidak perlu. Ibu hanya ingin meminta kamu mengantarkan ini,” ucap Maya, memperlihatkan rantang biru berisi dua ke arah Hana. Kening Hana berkerut, “Ke mana, Bu?” “Ke kantor Hanan. Hafal, kan?” Hana bergeming, jantungnya bertalu lebih cepat. Dia harus ke kantor Hanan? Bukannya tak ingin, tetapi malu dan bagaimana dengan orang-orang di kantor nanti? Apa Hanan tidak akan marah? Namun, jika dia menolak pasti akan membuat sang ibu mertua merasa heran. Ya sudahlah, akhirnya dia mengangguk. “Hafal, Bu.” “Ya udah, gih, siap-siap. Terus langsung ke kantor Hanan, Mang Eman udah nunggu di parkiran.” “Baik, Bu. Aku ganti baju dulu bentar.” “Jangan lupa dandan,” kata Maya setengah berbisik, lalu memberikan rantang itu pada Hana. Sementara Hana hanya tersenyum malu, menerima rantang itu dan menutup pintu setelah Maya pergi. Dia harus segera bersiap. Rantang dia letakkan di atas meja rias, kakinya dia bawa ke arah lemari. Mencari baju mana yang pas untuk dia kenakan. Ke kantor, rapi, sopan, bersih. Gamis putih dengan rompi hitam lengan panjang menjadi pilihan kali ini. Hana tersenyum, menatap pantulannya di depan cermin. Jilbab pashmina hitam sudah melekat di kepala. Tak lupa, dia menaburkan make up, tidak terlalu tebal, natural, tetapi membuatnya terlihat lebih cantik. Tas selempang segera dia sambar, ke luar. Di tangan kanan, rantang berisi bekal untuk sang suami sudah dia bawa. Begitu sampai di parkiran, lelaki paruh baya berseragam hitam sudah membukakan pintu untuknya. Mobil mulai berjalan meninggalkan pekarangan. Menyusuri jalanan yang tetap saja dipenuhi pengendara. Hana paham sekarang. Sopir yang mengantarnya bernama Mang Eman, lalu asisten rumah tangga biasa disebut Bi Juleha. Ibu mertuanya memanggil mereka dengan sebutan itu. “Mang, nanti kalau ada toko buah, mampir dulu, ya.” “Siap, Neng!” Baru saja Hana meminta, toko buah sudah ada di depan mata. Sesuai perintah sang majikan, mobil berhenti tepat di depan toko. “Sudah, di sini saja, Mang. Nggak perlu nyebrang. Biar saya saja yang ke luar.” “Baik, Neng.” Hana tersenyum, membuka pintu dan keluar dari mobil. Melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang melintas. Aman. Dia menyebrang secepat kilat. Memilih buah yang sudah dibungkus rapi, dapat, membayarnya. “Terima kasih,” ucapnya pada wanita penjaga toko, lalu berbalik badan. Belum sempat dia melihat ke kanan, sebuah mobil truk sudah melintas dan membuat Hana terpaku. Bajunya basah kuyup terkena cipratan air hujan yang menggenang di lubang jalanan, truk itu melaju sangat kencang. Hana hanya bisa memejamkan mata, melafalkan istighfar. Beruntung, buah yang dia pegang tidak ikut basah. Sementara penjaga toko buah sudah melontarkan sumpah serapah pada truk itu dan membela Hana. “Huh, dasar sopir nggak tau adab maneh! Jalan segitu gedenya, masih aja merepet ke pinggir yang ada lobang! Cilaka sia, di jalan!” “Sudah, Bu. Tidak apa-apa,” kata Hana, berbalik badan menatap penjaga toko yang masih saja mengumpat sopir truk dengan campuran bahasa sunda. “Neng gimana atuh, itu teh truk m**i hahajaan pisan. Kesel ibu, masa lobang segede gitu nggak keliatan main bablas aja.” “Nggak papa, Bu. Mungkin tadi sopirnya lagi buru-buru.” “Eleuh-eleuh, si Neng m**i sabar pisan. Ya sudah atuh, nya, Neng pulang terus ganti baju. Mandi yang bersih. Biarkan tuh si truk itu mah, nanti juga ada ganjarannya.” “Iya, Bu. Permisi.” Hana berpamitan, menyeberang jalanan setelah memastikan semuanya aman. Belum sempat dia membuka pintu, Mang Eman sudah terlebih dahulu cekatan. Namun, pria itu juga tampaknya menyadari baju Hana yang basah kuyup di bagian lutut ke bawah. “Yaa Allah gusti, Neng! Piye to, kunaha? Kunaon? Piye? Eh, maksudnya kenapa bisa basah gitu bajunya, Neng?” “Nggak papa, Mang. Tadi ada truk, terus main laju aja kencang, ada lobang di sana, jadinya bekas air hujan nyiprat ke baju saya,” tutur Hana, menunjuk ke arah lubang tepat di depan toko buah, lalu di akhiri kekehan kecil. Karena gamis yang dia kenakan putih, membuatnya terlihat jelas terkena air. Sedikit kotor memang, tetapi yang namanya musibah siapa yang mau? Tidak ada. Semuanya takdir. “Jadinya gimana, Neng? Mau pulang dulu atau—“ “Langsung saja ke kantor, Mang. Kasian Mas Hanan, pasti sudah laper. Lagi pula, ini hanya sedikit kok. Nggak papa.” “Bener, Neng?” tanya Mang Eman dan langsung diangguki Hana. “Ya sudah, silakan masuk, Neng!” Hana mengangguk, memasuki mobil kembali dengan buah yang sudah dalam keranjang kecil di pangkuannya. Mobil kembali melaju, tak ada percakapan lagi. Dia juga tidak tahu, apa tanggapan Hana nanti. Pun, dengan karyawan di sana. Bagaimana pendapat mereka, jika melihat seorang istri dari Hanan yang notabenya CEO di sana, datang dengan pakaian basah dan kotor? Biarlah, dia akan menghiraukan itu semua. Baginya, Hanan jauh lebih penting. Jika dia ganti baju terlebih dahulu, maka akan membuat makanan menjadi dingin dan tentunya, Hanan akan telat makan siang. Setengah jam berlalu, mobil memasuki parkiran. Dua penjaga sudah berdiri tepat di depan pintu, berseragam hitam, berdiri tegak dan berbadan kekar. Sudah dipastikan, siapapun yang akan bertamu di kantor ini, tidak bisa sembarang orang. Penjagaan begitu ketat. Belum sempat Hana membuka pintu, Mang Eman sudah terlebih dahulu membukakannya. Entah sejak kapan sopir itu ke luar, sudah ada di depan pintu saja. “Terima kasih, Mang.” “Sama-sama, Neng!” Hana berjalan santai ke arah pintu, membawa rantang dan buah-buahan di tangan dengan senyum mengembang. Sementara Mang Eman, sopir itu tengah memarkirkan mobil dahulu. Baru berjalan beberapa langkah, Hana dihentikan tepat di depan pintu oleh dua penjaga tersebut. Mereka memandang Hana dari bawah sampai atas, membuat Hana merasa risih. “Maaf, Mbak. Mbak tidak bisa masuk.” “Lho, kenapa?” “Heh, Mbak! Lihat penampilan Mbak, kotor, basah. Mending Mbak pulang, deh! Jangan kotori kantor ini!” usir salah satu penjaga, teman penjaga di sampingnya mengangguk. Hana menatap sekitar, besar sekali, megah, mewah. Pantas saja dia dihentikan. Mungkin karena penampilannya yang seperti ini, bisa membuat kantor kotor. “Kenapa? Kagum dengan kantor kami? Ha ha, iyalah, kantor ini kantor pusat. Pemiliknya Pak Hanan. Mbak tidak bisa masuk jika tanpa kepentingan. Lagi pula, ini apa?” Penjaga itu mengambil paksa rantang yang dibawa Hana, membuat Hana terkejut dan berusaha memintanya kembali. “Heh! Lihat, dia membawa nasi sama rendang. Jhiaaaah! Situ mau numpang makan di sini, hah?” cibir penjaga, kemudian kedua penjaga itu tertawa keras. “Kembalikan!” ujar Hana, merebut kembali rantang tersebut dengan cepat. Dia mencoba menerobos, tetapi langsung dihalangi penjaga. “Mau ke mana, hah? Kantor ini tidak menerima makanan dari luar. Apalagi, dari ....” Penjaga itu melihat Hana dari bawah sekali lagi. “Wanita kotor seperti kamu, ha ha haa!” Kembali terdengar tawa meledak, kedua penjaga itu memperlakukan Hana seperti tamu tak diundang. Jika dipikir, memang benar, dia datang kemari memang tanpa undangan. “Biarkan saya masuk. Saya mau ketemu sama suami saya.” “Suami yang mana?” tanya penjaga berbadan tinggi kekar. “Paling suaminta OB,” celetuk penjaga di sampingnya. Gelak tawa lagi-lagi terdengar keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD