Jenuh

1131 Words
Hanan bergeming di tempat, sedangkan Hana hanya bisa menunduk sambil tersenyum malu. Degup jantungnya sudah tak bisa dikompromi lagi. Dia melihat kaki Hanan melangkah ke arahnya, sontak matanya terpejam. Menunggu hal selanjutnya yang akan dilakukan Hanan dengan perut yang berbunga-bunga. Refleks mata Hana terpejam tatkala bibir Hanan menyentuh keningnya. Terasa hangat, ada desiran nyaman di hati saat sentuhan kedua itu terjadi. Tenyata, seperti ini rasanya bersentuhan setelah halal. Jauh lebih menyenangkan dan tentunya, berpahala. Bibir Hana tertarik ke samping, hatinya berbunga, jantungnya berdebar bak genderung perang sudah ditabuh dengan kerasnya. Seperti akan melompat dari tempatnya jantung itu. “Hati-hati, Mas!” peringat Hana setengah berteriak saat Hanan memasuki mobil, lelaki itu hanya melihat sekilas padanya, lalu mengangguk pelan. Kemudian, kereta besi beroda empat itu sudah meninggalkan halaman, meninggalkan Hana yang masih terdiam menatap kepergian sang suami sampai hilang dari pandangan. Sementara Maya dan Arya, kedua orang tua itu sudah masuk terlebih dahulu sambil tersenyum puas. Mereka tidak menyangka, Hanan akan melakukan itu. Selama ini, putra mereka itu sangat terpuruk. Namun, sikapnya pada Hana tidak begitu buruk. Hana terkekeh kecil, menutup wajah dengan kedua tangan. Kakinya berjingkrak senang, membayangkan kecupan kedua di kening setelah akad. Hatinya begitu senang sekali. Euforia bahagia seakan melekat pada jiwanya. Matanya mengedar, takut ada yang memperhatikan sikapnya tadi. Beruntung, sepi, tidak ada orang sama sekali. Dia menoleh ke belakang, kedua mertuanya juga sudah masuk. Syukurlah, untung saja. Dia membawa kaki jenjangnya masuk ke dalam, pagi ini dia belum sarapan. Perutnya terasa lapar sekali. Terlebih, sekarang bukan di rumahnya sendiri, dia harus bisa membiasakan diri untuk beradaptasi. “Han, sini!” panggil Maya saat melihat menantunya masuk ke dalam, wajah gadis itu terlihat berseri. “Iya, Bu!” Hana mengangguk, lalu berjalan ke arah sang ibu mertua yang berada di sofa keluarga. Senyumnya masih menghiasi wajah, tak dapat dia sembunyikan. “Kamu pasti belum makan, kan?” Maya tersenyum, tampak Hana mengangguk malu. “Ya sudah, makan dulu. Di meja makan sudah ada sarapan. Kamu suka nasi goreng?” “Iya, Bu. Su-suka.” “Ya sudah, makan, ya. Ibu sama Papah sudah makan.” Hana mengangguk, melangkah menuju dapur. Dia sempat celingukan, mencari sosok ayah mertua. Di mana beliau? Tidak terlihat keberadaannya. Tangannya terulut membuka tudung saji merah yang menutupi separuh meja makan. Matanya berbinar saat melihat makanan. Seperti sudah tidak makan dalam jangka waktu lama saja. Padahal, baru beberapa jam. Nasi goreng kecap dan telur mata sapi terlihat menggugah selera sekali. Membuat air liur Hana hampir saja ke luar. Dia dengan cepat menarik kursi, menuangkan nasi goreng ke atas piring. Tak lupa satu telor mata sapi di atasnya. Garfu dan sendok sudah tersedia. Hana menengadahkan tangannya, melafalkan doa makan. Mengusap wajah dengan pelan tatkala doa telah usai di langitkan. Kemudian, mulai menyendok makanan dan memasukannya ke dalam mulut. Akan tetap, belum sempat dia melanjutkan suapan kedua. Sang ibu mertua sudah datang dan duduk tepat di depannya. Sendok berisi nasi goreng yang semula akan mendarat di mulutnya, mengudara dengan mata terpaku melihat Maya. “Kenapa? Ayok, dilanjutkan makannya.” Hana tersenyum kikuk, mengangguk pelan, lalu memasukan satu suap ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan anggun. Di depan ibu mertua harus bersikap anggun, bukan? Itulah yang tengah Hana lakukan. “Ibu mau bicara sesuatu sama kamu, Han.” Hana mengerjap, “Apa, Bu?” tanyanya dengan mulut penuh, lalu melanjutkan mengunyah makanan. Terdengar helaan napas begitu berat keluar dari mulut Maya. Sesaat dia menunduk, meremas jari jemari sendiri. Ragu tuk mengutarakannya, tetapi Hana harus tahu. “Kamu makan saja, tapi dengarkan ibu berbicara.” Hana mengangguk, melanjutkan makan sambil menunggu sang ibu mertua berbicara. “Han, ibu ingin berpesan. Kamu pasti sudah tau, bagaimana sikap Hanan. Putra ibu itu ... dingin, keras kepala. Tapi, percayalah Han, dia sebenarnya baik dan tulus. Namun ... karena ada suatu masalah, dia sekarang lebih banyak diam. Dulu tidak seperti itu, Hanan dulu ceria, hangat, humble, tapi sekarang ....” Maya menunduk, membuat Hana memperlambat mengunyah makanan. “Sekarang Hanan berubah. Dia sering emosi, dingin, keras kepala. Dan ... ibu tidak tau kenapa Hanan bisa sampai minum alkohol. Tapi, kamu tenang saja, Han. Ibu sudah meminta Hanan untuk berhenti meminumnya,” kata Maya kemudian mendongak menatap Hana yang masih mengunyah makanan dengan raut wajah tidak terkejut sama sekali. “Kamu tidak terkejut?” tanyanya, menatap sang menantu yang tengah minum. Sarapan Hana sudah selesai, satu piring nasi goreng sudah berpindah tempat ke perut Hana. “Ibu ....” Hana meletakkan gelas, lalu menggenggam tangan Maya, menatap wanita itu dengan senyum yang tulus. “Aku sudah tau, kalau Mas Hanan minum alkohol. Aku tidak mempermasalahkannya. Dia hanya sedang khilaf. Aku tau, dia akan mendengarkan Ibu.” Maya tersenyum haru, Hana memang gadis yang baik. Tak salah dia menjodohkan putranya dengan gadis ini. “Terima kasih.” *** Baru setengah hari Hana menjalani aktivitas di rumah sang ibu mertua, rumah berbeda dari tempat dia tumbuh. Rumah yang membuatnya harus adaptasi. Semuanya sudah berbeda, dia bukan lagi sang putri di istana ayahnya. Sekarang, dia sudah menjadi istri dari seorang lelaki bernama Hanan. Setengah hari dilewati begitu jenuh terasa. Sejak tadi, dia hanya bisa berselancar di sosial media setelah menyelesaikan sarapan. Ibu mertuanya tak mengizinkan Hana untuk melakukan pekerjaan apapun. Katanya, sudah ada asisten rumah tangga. Jadi, biarlah mereka yang mengerjakan pekerjaan rumah. Akan tetapi, hal itu malah membuat Hana merasa bosan. Biasanya, saat masih lajang dulu dia sering mengikuti acara kegiatan sosial. Namun, setelah menikah ayahnya tak mengizinkan lagi. Katanya, harus berbakti pada suami. Saat dulu di rumah sendiri, Hana merasa bebas melakukan apapun. Bahkan, terkadang pekerjaan rumah dia lakukan. Walau ada asisten rumah tangga, tetapi tak membuat dia menjadi pribadi yang manja dan bermalas-malasan. “Huh, apa lagi yang harus aku lakukan?” tanya Hana pada diri sendiri, melihat ke sekeliling kamarnya. Semuanya sudah rapi, dibereskan oleh asisten rumah tangga saat dia sarapan tadi. Menata baju ke lemari sudah dia lakukan setelah salat subuh tadi, membersihkan pakaian oleh asisten rumah tangga. Ah, jenuh sekali rasanya. Dia yang terbiasa aktif melakukan kegiatan, saat santai seperti ini merasa tidak ada semangat melewati waktu. Mata Hana melirik ke arah balkon, menikmati pemandangan di balkon mungkin lebih baik. Dari pada tidak ada kegiatan sama sekali. Dia beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menujua balkon. Benar, cuaca sangat mendukung. Terasa sejuk sekali dari atas sini, angin bertiup menyentuh kulit dengan lembut. Hana memejamkan mata, membentangkan tangan. Menikmati setiap sentuhan angin yang menerbangkan jilbab instan cream yang dia kenakan. “Sejuk sekali,” gumamnya dengan sudut bibir terangkat. Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Suara dari luar sana memanggil namanya. Hana berbalik badan, seperti tak asing dengan suara itu. “Ibu ...,” gumamnya sambil melangkah mendekati daun pintu, memutar knop, membukanya dengan hati-hati. Tampak wanita hampir setengah abad sudah berdiri di depan pintu. “Ibu.” Hana tersenyum, mempersilakan Maya masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD