Dengan perasaan kesal yang masih bercokol dalam hati, Maya melepaskan tangannya dari telinga Hanan. Menatap sang putra dengan tajam, hidungnya kembang kempis.
“Ibu kenapa, sih?” tanya Hanan seraya mengusap telinga kanan dengan pelan, tambah berdenyut sudah sakit di telinga. Sang ibunda benar-benar tega sekali.
“Kamu itu, ibu kirim makan siang lewat Hana, supaya kalian bisa makan berdua, malah sibuk dan ninggalin Hana gitu aja!” kesal Maya, menoyor kepala Hanan.
Beruntung, Hanan anak yang berbakti. Dia tidak berani melawan Maya, apalagi sampai melukai fisik. Biarlah dia yang tersakiti, asal amarah sang ibunda segera reda.
“Yaa, maaf, Bu. Banyak kerjaan tadi,” tutur Hanan, mendongak menatap sang ibunda yang sudah menatapnya dengan tajam, dia menunduk dalam. Sudahlah, jika ibu sudah marah seperti ini, urusannya bisa panjang. Siap-siap saja diomeli sepanjang jalan kenangan. Eh, sepanjang hari.
“Tapi, bisa kan, kalau kamu sisihkan waktu sepuluh menit saja buat makan? Ibu capek-capek buat makanan buat kamu, malah nggak dimakan! Udah nggak suka masakan ibu lagi kamu, hah?”
“Bu-bukannya gitu, Bu. Tapi –“
“Tapi, tapi! Tapi apaa?” sungut Maya, mendelik kesal ke arah sang putra. Amarahnya belum reda, dia belum puas mengomeli Hanan, mengeluarkan segala uneg-unegnya.
Tak ada jawaban, Hanan hanya bisa menunduk dalam. Percuma saja menjawab, toh, tetap saja ibu yang menang. Jadi, lebih baik diam dan dengarkan. Dari pada membuang tenaga dan suara sia-sia.
“Kenapa diam, hah? Nggak bisa jawab, kamu? Nggak punya telinga buat dengar? Atau nggak punya mulut?” cecar Maya, menarik telinga kemudian mencubit pipi Hanan, sampai anaknya itu meringis kesakitan.
“Sakit, Bu. Dijawab salah, nggak dijawab, lebih salah. Ribet banget sih, ngadepin wanita,” gumam Hanan di akhir kalimat, dia benar-benar tidak paham dengan jalan pemikiran wanita.
Kadang berbicara ‘A’ maunya ‘B’. Kadang berbicara ‘B’ maunya ‘A’. Fix, wanita makhluk paling aneh di dunia. Tidak ada cara efektif menghadapi mereka ketika marah dan mood buruk selain diam dan mendengarkan. Diam saja walau sesekali mereka mencubit pipi, menoyor kepala, mencubit pinggang, menarik telinga, atau memukul lengan. Sakit memang, tetapi biarkan, dari pada wanita semakin marah, akan lebih panjang bin ribet urusannya. Enggak akan selesai-selesai.
“Ibu nggak terima kamu perlakukan Hana seperti itu.”
“Anak ibu aku atau Hana, sih?”
“Hana! Karena kamu sekarang bersalah, maka kamu harus bertanggung jawab.”
“Tanggung jawab apa, sih? Ribet banget.” Hanan mulai kesal, ibunya itu ada-ada saja. Masa hanya karena tidak makan siang, dia harus tanggung jawab. Tanggung jawab apa, coba?
“Ibu nggak mau tau, nanti malam, kamu ajak Hana ke luar. Dinner, makan malam. Berdua!”
“Hah? Nggak, pokoknya enggak mau! Aku nggak mau,” tolak Hanan, lalu bersandar pada kursi. Memalingkan wajah ke samping, tak ingin melihat ekspresi sang ibunda.
Maya memelotot, detik selanjutnya air mukanya sudah berubah menjadi sendu. Embun menggenang di pelupuk, lalu berbalik badan dan mengempaskan tubuh di sofa.
Sekilas matanya menatap meja, ada rantang yang tadi dia serahkan pada Hana untuk dibawa ke kantor. Tampak rantang itu sudah kosong, tersisa bumbu rendang yang berceceran di dalamnya.
Selanjutnya, Maya menutup wajah dengan kedua tangan, menangis sedikit keras, terisak. Di samping itu, Hanan terkejut dan beranjak dari tempat duduknya, menghampiri sang ibunda.
“Bu ....” Hanan berusaha meraih tangan Maya, tetapi langsung ditepis kasar oleh wanita itu.
“Diam, kamu! Kamu sudah tidak sayang lagi dengan ibu, hu hu hu ....”
Hanan celingukan, takut jika karyawan mendengar tangisan sang ibunda. Bisa repot refutasinya nanti. Akan ada cibiran, ‘seorang Hanan, CEO di perusahaan besar, telah membuat ibunya menangis histeris karena menolak makan siang'. Aduh, bisa gawat urusannya.
“Bu ... maaf. Hanan minta maaf, Ibu jangan nangis lagi.” Hanan menggenggam kedua tangan Maya, kali ini sang ibunda tidak lagi menepis tangannya.
Tampak jelas air mata mengalir deras di pipi wanita yang telah melahirkannya puluhan tahun silam itu. Hatin Hanan meringis, dia paling tidak bisa jika melihat sang ibunda menangis.
“Buuu ... maaf, ya.”
Maya menggeleng, masih terisak dengan air mata mengalir tanpa jeda. Menghiraukan tatapan sendu dari sang putra, tak peduli lagi, anak itu memang harus diberi pelajaran agar bisa menghargai perasaan wanita.
“Kamu tau tidak, Hana sampai menangis karena kecewa kamu tinggalkan! Dia sudah jauh ... jauh datang ke sini, malah kamu tinggal!” ujar Maya, suaranya sedikit parau.
“Iyaiya, Bu. Maaf. Lihat, makanan itu sudah aku makan. Jadi, jangan menangis lagi, ya.”
Maya menggeleng, masih tergugu dan melepaskan genggaman tangan Hanan. Kemudian, menghadap kesamping dan menghiraukan keberadaan sang putra.
Hanan yang menyadari dirinya dicampakkan, menghela napas panjang. “Baiklah, aku setuju untuk makan malam di luar, dinner dengan Hana. Asal Ibu tidak lagi menangis,” putusnya, menatap sang ibunda penuh harap. Berharap Maya akan berbalik dan menghadapnya lagi, tersenyum.
Benar, Maya berbalik badan. Dia menatap Hanan dengan lekat. “Serius?”
Hanan mengangguk. Lantas, Maya langsung menghapus air mata dengan tisu yang dia bawa di dalam tas. Kemudian, bercermin memastikan make up tidak luntur. Membuat Hanan menggeleng tak percaya, rupanya, dia tertipu lagi dengan acting sang ibunda.
“Ibu pura-pura lagi?”
Perkataan Hanan menghentikan aksi Maya yang tengah bercermin, wanita itu memasukan cermin bulat ke dalam tasnya lagi. Menatap intens pemuda di depannya.
“Kalau ibu tidak menangis, kamu tidak akan menyesal dan memnyetuji makan makan, kan?” tanyanya, mendelik kesal.
“Ya sudah, ibu mau apa lagi? Aku mau kerja.”
“Nggak, ibu nggak akan ganggu kalau kamu sekarang pulang.”
“Pulang nanti kan, Bu, selepas Asar.” Hanan mengeluh, permintaan ibunya itu selalu saja membuatnya harus memeras pikiran. Bagaimana tidak? Di saat pekerjaan sedang banyak sekali, sang ibunda terus saja meminta hal-hal yang tidak masuk akal.
“Mau, ibu nangis lagi?”
“Heuh!” Hanan mendengkus kesa, berdiri. “Ayok, pulang!” Akhirnya, dia pasrah juga. Gegas merapikan meja dan memasukkan beberapa berkas-berkas ke dalam tas, sedangkan Maya tersenyum puas. Tetap saja, ibu yang selalu memang.
“Ayok, pulang. Kenapa masih senyam-senyum. Nggak jadi, pulangnya?”
“Iyaa, pulang. Nah, gitu, dong. Anak ibu ini, namanya,” puji Maya, merangkul bahu Hanan, lalu berjalan beriringan ke luar ruangan.
Maya tersenyum lebar penuh kemenangan. Bagaimana pun, anak tetaplah anak. Tidak akan bisa menolak kemauan ibunya, termasuk Hanan.
Semua staf berdiri, tatkala Hanan dan Maya melintas, tersenyum ramah ke arah mereka. Tak lepas dari pandangan, keduanya menjadi sorotan sepanjang ruangan.
“Ibu tunggu di sini, aku mau ke ruangan Alex dulu. Ada pekerjaan bentar.”
Belum sempat Maya menjawab, Hana sudah melenggang pergi. Dia tidak ingin mendengar omela dari ibundanya lagi. Bisa-bisa karyawan akan mendengarnya.