Lihat Saja

1179 Words
Beruntung, Mang Eman sudah bekerja bertahun-tahun di rumah ini. Jadi, tidak terkejut saat mengetahui amarah Maya, wanita yang terlihat sangat elegan dari luar, kalem. Yang biasanya bersikap lembut pada siapa pun, tetapi saat marah seperti singa dibangunkan dari tidur. “Baik, Nyonya. Saya mau minum dulu, Nyonya, boleh?” tanyanya hati-hati, takut jika pertanyaan itu malah membuat sang majikan semakin marah. “Iya, silakan. Saya ambil tas dulu dan izin sama Tuan.” “Baik, Nyonya.” Mang Eman menghela napas lega, seperti terlepas dari cengkeraman maut. Setelah percakapan itu, keduanya berpisah. Mang Eman pergi ke dapur mencari minum, menuntaskan rasa haus di tenggorokan. Sementara Maya pergi ke arah kamar. “Pah, tau nggak? Hanan itu benar-benar keterlaluan! Ibu kirim rendang lewat Hana, berharap mereka bisa makan siang bersama. Ternyata Hanan malah meeting dan pergi ninggalin Hana gitu aja. Ibu benar-benar kesal!” adu Maya pada sang suami yang tengah duduk di kursi kerja ditemani beberapa dokumen penting. Arya yang sedang memeriksa dokumen lama, mendongak menatap wajah sang istri yang terlihat sangat kesal. Dia menutup dokumen itu, berdiri. “Kok, bisa?” “Ya, bisalah, Papah!” kesal Maya, mengentakkan kaki ke lantai. “Pokoknya ibu mau ke kantor, kasih anak itu pelajaran. Hanan benar-benar keterlaluan. Hana jadi sedih karena perlakuan dia! Stop, Papah jangan larang,” ujarnya, memotong Arya yang hendak membuka suara. “Siapa yang mau cegah? Papah cuma mau bilang, inget, jangan pake otot. Itu di kantor, harus kasih contoh yang baik ke karyawan.” “Iyaaa. Ibu berangkat dulu.” Maya menyambar tas di atas meja rias, lalu menghampiri sang suami kembali. “Pah, salim!” ucapnya dengan nada yang masih kesal sembari mengulurkan tangan, lalu mennyalami tangan Arya. “Wa’alaikumsalaam warohmatullah wabaraakaatuh!” jawab Arya, menatap kepergian sang istri. Kemudian, terkejut karena pintu ditutup begitu keras. Dia hanya bisa menggeleng kepala, sifat gelap istrinya itu akan muncul kalau sudah kesal dengan perbuatan Hanan. “Hanan ... Hanan ... tidak tau apa, ibumu itu bisa jadi macan betina yang ganas sekali kalau sudah marah,” gumamnya pelan, membuka kembali dokumen. Sementara di ruangan lain, Hana sedang meringkuk di atas kasur. Menenggelamkan wajah di bawah bantal, terisak, menahan sesak yang bergemuruh di d**a. Setelah salat Zuhur, moodnya tak bisa lagi diajak kompromi. Pasca berdoa tadi, mengalir lagi air mata tanpa diminta. Sampai saat ini, air mata itu masih saja setia. Bagi sebagian orang mungkin terlihat lebay dan terlalu berlebihan dalam menyikapi. Namun, bagi Hana hal itu amat menyakitkan. Di mana saat dia memberikan perhatian, yang didapat malah kepahitan Dia tidak meminta lebih, selaku wanita yang notabenya seorang istri, pengantin baru, mempunyai hati yang lembut, dia hanya ingin perhatiannya ditanggapi dan diperhatikan kembali. Itu saja, tidak lebih. Dan rata-rata setiap wanita memiliki fitrah ingin diperhatikan oleh orang yang dia sayang. Bukankah itu hal yang wajar? Akan tetapi, harapannya sudah lenyap, hancur berkeping-keping. Dia pikir, saat Hanan menggedongnya tadi dan insiden di ruangan itu, Hanan telah berubah. Namun, ternyata masih tetap sama. Tidak ada beda. Salahkah jika dia ingin dianggap ada oleh suami sendiri? Baiklah, jika memang tidak bisa makan karena alasan sibuk. Namun, tak bisakah masuk ke ruangan sebentar dan berpamitan padanya? Mengatakannya langsung bahwa dia akan pergi? Kenapa harus melalui perantara office boy? Tak bisakah Hanan menyisihkan waktu satu menit saja untuk berbicara padanya langsung? Sungguh, dia meras tidak dianggap ada oleh suami sendiri. Hal itu yang membuat Hana merasa sakit hati. Tak lama, kantuk menyerang. Hana terlelap dengan bantal masih tetap menutupi wajah ayunya dan pintu terkunci dari dalam. Sengaja, untuk saat ini dia hanya ingin sendiri. Bolehkah dia bersikap seperti itu? Dia juga ingin mendapatkan hak ketenangan sesaat. Hana mulai menyusuri mimpi, mengurusi lorong kegelapan sehingga kesadarannya tak lagi ada. Napasnya mulai beraturan setelah tadi menangis cukup lama, membuat napasnya memburu. *** Di dalam mobil, Maya terus saja merutuki anak itu. Dia mengungkapkan kekesalannya tak tanggung-tanggung. Membuat Mang Eman selaku sopir hanya bisa terdiam, sambil mengiba pada Hanan dalam hati. Kasian sekali anak itu, sedang dalam masalah yang besar. Tidak ada kemarahan yang paling menakutkan di dunia ini bagi laki-laki, selain kemarahan Tuhan, Ibu, dan Istri. Namun, hal itu berlaku bagi mereka yang beriman dan tulus menyayangi dua wanita berharga itu di dalam hidupnya. Dua wanita yang menjadi penyebabnya lahir ke dunia dan yang mendapinginya dalam suka dan duka. “Stop, Mang. Di sini saja.” Maya menghentikan mobil tepat di depan pintu parkir, dia sudah tidak sabar untuk memberikan pelajaran pada Hanan. Tak masalah, jika harus berjalan kaki dari parkiran ke kantor. Sesampainya di depan pintu, dua penjaga langsung membungkuk menyambut kedatangannya. Mereka tahu, siapa yang datang. Ibu dari bos besar. Membiarkan Maya masuk tanpa pertanyaan sepatah kata pun. Begitu juga dengan Maya, dia hanya melirik sekilas dua penjaga pintu dan lekas masuk begitu saja. Kemarahannya sudah di puncak, Hanan benar-benar sangat keterlaluan. Sementara dua penjaga tadi saling menatap, bertanya dalam hati. Hari apa ini? Kenapa keluarga bos besar mereka datang secara mendadak ke kantor? Tadi istri Hanan, sekarang ibunya. Tumben sekali. “Siang, Bu!” “Selamat datang, Bu Maya.” Beberapa sapaan dan sambutan terdengar saat Maya melintasi ruang staf. Dia hanya menanggapinya dengan senyuman, kaki tetap melangkah cepat ke arah ruangan Hanan. Tas putih, mewah dan branded dia bawa di tangan kanan. Sengaja, ruangan Hanan berada di lantai satu. Maya yang memintanya. Tujuannya? Agar saat dia dan suami berkunjung, tidak perlu lelah dan susah payah menaiki lift atau tangga, maklum saja, sudah berumur. Mana kuat melangkah jauh dan tinggi seperti itu. “Hanan mana?” tanya Maya, to the point pada sekertaris Hanan, Alex. “Pak Hanan ada di ruangan, Bu,” jawab Alex, sedikit menunduk. “Terima kasih,” ucap Maya kemudian melenggang pergi dan berhenti di depan pintu ruangan berpintu dua. Dia langsung masuk begitu saja. Tampak Hanan tengah menatap layar laptop dengan serius, sesaat matanya menatap keyboard, lalu layar laptop. Begitu terus sampai tak menyadari telah datang seseorang yang sudah menatapnya dengan tajam dan siap menerkam. “Hanan! Kamu benar-benar keterlaluan!” ujar Maya, menggebrak meja, membuat Hanan sontak mendongak dan terkesiap karena terkejut. “Ibu ... ngagetin aja! Ada apa, sih? Datang-datang bukannya ketuk pintu dulu atau ucap salam, ini malah main nyelonong dan marah-marah nggak jelas,” ujar Hanan kembali menatap layar laptop dengan serius. “Nggak jelas katamu? Heh!” Maya kembali menggebrak meja, membuat Hanan mengelus d**a, terkejut. “Kamu pikir ibu tidak tau, hah?” “Apa? Aku aja nggak tau, Bu. Kenapa, sih? Bicara tuh yang baik-baik coba, jangan sambil marah kayak gini.” Maya gemas sendiri, dia menghampiri Hanan, menarik telinga kanan anak itu dengan keras, membuat Hanan meringis kesakitan. “Aww, aww, lepasin, Bu! Sakit, awww ....” “Biarin, rasain ini, hahhh ... kamu sudah keterlaluan, Hanan! Ibu marah sama kamu!” Maya melepaskan tangannya dari telinga Hanan, membuat Hanan mengusap telinganya pelan. Terasa berdenyut sekali tarikan maut dari tangan sang ibunda. “Marah kok, bilang-bilang,” gumam Hanan sembari mengusap telinga yang sepertinya sudah memerah, berdenyut sampai ke pipi. “Apa katamu, hah?” Maya kembali menarik telinga Hanan. “Aduh, aduh, Bu. Sakit, aww ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD