Bujukan

1065 Words
Hanan segera berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di kursi ruang tamu, netranya menatap lurus ke depan menghiraukan dua orang yang memperhatikannya sejak ia masuk. “Ibu ...,” panggil Hanan seraya sorot mata sejenak melirik ke arah wanita paruh baya, lalu ke arah dua orang tersebut meminta penjelasan. “Duduk, Nak ...,” pinta Arya sambil menepuk-nepuk sofa di sampingya. Hanan mengangguk seraya tersenyum tipis, lalu duduk tepat di samping sang papah. “Ada apa, Pah? Mereka siapa?” akhirnya, pertanyaan itu ke luar dari bibir tipis Hanan. Arya menarik napas dalam, lalu sejenak melirik ke arah istrinya yang duduk di samping kiri, sementara putranya di samping kanan. Kemudian, beralih menatap kedua tamu yang sudah menatapnya dan tersenyum saat tatapannya berhenti pada Hanan. “Kenalkan, Pak Burhan dan Nak Hana,” ujar Arya sembari menepuk bahu putranya pelan dan melirik ke arah dua orang yang duduk di seberangnya. Merasa namanya di sebut, pria dewasa yang berpakaian formal segera mengangguk dan tersenyum. Sementara itu, gadis berlesung pipi dengan tatapan mata sendu itu hanya bergeming. Raut wajahnya tak mengekspresikan apapun. Lantas, Arya segera menjelaskan apa maksud dan tujuan Ayah dan anak tersebut. Burhan adalah sahabatnya. Ia dan Burhan sudah sepakat, untuk menjodohkan putra dan putri mereka. Persahabatan yang terjalin sangat lama sejak masa putih biru, keduanya ingin persahabatan itu tetap abadi dengan menjodohkan Hanan dan Hani. Namun, berbeda dengan ekspresi kedua insan yang di maksud. Hanan dan Hani saling pandang, lalu melirik ke arah Ayah mereka masing-masing. Keduanya bergeming cukup lama, memperhatikan apa yang Arya jelaskan. “Iya, Nak. Kami ingin kamu dan Hana menikah. Apakah kamu bersedia, menjadi suami Hana?” tanya Burhan setelah membenarkan perkataan sahabatnya, Arya. Tangan Hanan mengepal, lalu menatap tajam pada sang papah. “Jadi Papah nyuruh aku pulang lebih awal hanya untuk hal enggak berguna ini!” ujarnya dengan lantang sembari berdiri. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun dan tak kuasa ia tahan lagi. “Hanan, sampai kapan kamu begini? Kamu sudah berumur dua puluh lima tahun, sudah sepatutnya kamu menikah. Usiamu sudah matang, Nak,” ujar Arya mencoba tetap bersikap tenang sembari mendongak menatap putranya. Hidung mancung Hanan kembang kempis menahan emosi. Akhirnya, hal yang ia khawatirkan sejak menerima telepon dari sang papah terjadi juga. Bukannya ia enggan menikah, tetapi untuk saat ini ia memang belum siap untuk hubungan tersebut. “Terserah!” bentak Hanan, lalu melenggang pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Burhan dan Hana yang sedari tadi menyimak, menelan saliva kasar. Mereka tidak menyangka, kedatangannya membuat pemuda tersebut marah besar. Arya melirik sang sahabat, tampak raut kecewa sudah di tampilkan Burhan. “Han ... maafkan atas sikap Hanan. Ia hanya masih shock mendengar perjodohan ini,” ujarnya kemudian kembali duduk. “Biar Ibu yang bicara sama Hanan ya, Pah!” ucap Maya kemudian segera beranjak dari tempat duduknya dan menyusul sang putra. “Tidak apa-apa. Mungkin Hanan hanya butuh waktu.” “Tapi saya merasa tidak enak hati denganmu, Han!” jujur Arya, lalu menunduk pasrah. “Hana, ayok kita pulang, Nak!” ajak Burhan pada putrinya. Hana mengangguk seraya tersenyum. “Iya, Ayah.” “Kami pamit dulu. Assalamualaikum!” ucap Burhan sembari menjabat tangan Arya. Maya menatap punggung putranya. Hanan tengah menatap lalu lalang kendaraan dari kaca jendela. Rumahnya yang berada di tepi jalan, membuatnya leluasa menikmati kendaraan. “Nak ....” Hanan menoleh, netranya menangkap sosok wanita yang sudah melahirkannya puluhan tahun silam. Namun, tatapannya begitu datar. Tak ada ekspresi apapun, lalu kembali membelakangi Maya sang ibunda. “Hanan ... dengarkan Ibu baik-baik, Nak,” ujar Maya kemudian mendekat ke arah putranya. Ia segera mengutarakan apa yang ada di hati. Bahwasanya, ia beserta Arya sang suami hanya ingin putra mereka segera bangkit dan memiliki keluarga. Mereka tidak ingin Hanan terus-terusan seperti ini tanpa memikirkan masa depan. Lewat pernikahan, mungkin bisa membuat putra mereka melupakan masa lalu dan fokus menata masa depan. Terlebih, Hana adalah gadis yang cantik, cerdas, telaten, ulet, juga pandai mengurus rumah meski sudah bergelar sarjana satu tahun yang lalu. Hana adalah gadis pilihan kedua orang tuanya untuk dijadikan menantu. Gadis ramah dan pendiam, itu pasti bisa membuat Hanan melupakan semuanya. “Nak ... apa kamu tidak ingin bangkit dari masa lalumu? Apa kamu tidak ingin, melihat kedua orang tuamu bahagia?” tanya Maya melirik ke arah Hanan, lalu kembali menatap lalu lalang kendaraan yang masih setia memadati jalanan. Hanan bergeming. Hatinya membenarkan ucapan sang ibunda, lalu melirik ke samping di mana wanita itu berdiri. Kemudian menghela napas berat. Seberat beban hidup dan masalahnya. Maya pasrah, tak mendapati respon apapun dari putranya setelah menunggu beberapa menit. Ia berniat pergi dan memberikan ruang agar Hanan bisa memikirkan ucapannya. “Bu ....” Langkah Maya berhenti, saat mendengar sang putra memanggil namanya. Kemudian berbalik badan dan menatap Hanan penuh tanda tanya. “Aku mau menikah dengan Hana!” tutur Hanan mantap tanpa keraguan sedikit pun. Mata Maya berbinar, lalu bibirnya tertarik ke samping. “Alhamdulillah!” syukurnya pada Sang Kuasa karena telah berhasil membujuk Hanan. “Baiklah, Ibu akan atur semuanya dan akan segera mengabari pihak Hana. Satu minggu lagi kamu tunangan, persiapkan semuanya, ya.” Maya segera berlalu dari hadapan Hanan setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Hatinya terus melafalkan hamdalah bada Sang Kholiq, bersyukur karena keinginannya memiliki menantu akan segera terwujud. Apalagi, menantu itu adalah Hana. Gadis manis nan baik hati yang akan meluluhkan hati Hanan dan membuat putranya itu bahagia. Berbeda dengan Hanan, lelaki itu menghela napas kasar. Ia berada di posisi serba salah. Jika menolak, kerua orang tuanya akan bersedih. Jika menerima, ia yang harus mengalahkan egonya. Hanan segera mengempaskan tubuhnya ke atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu. Tiba-tiba wajah gadis yang tak sengaja ia lihat tadi terlintas di pikirannya dan membuatnya tersenyum simpul. “Cantik,” gumamnya hampir tak bersuara. Akan tetapi, lagi dan lagi bayangan masa lalu mengalahkan bayangan Hana. Tangannya terulur memegang kepala yang terasa berdenyut, lalu keringat dingin ke luar membasahi pelipisnya. “Argh!” keluh Hanan frustrasi. Ia segera berjalan meski tertatih-tatih ke arah nakas dan mengambil pil biru putih dan bergegas meminumnya. Seakan obat itu adalah penyelamat baginya. Hanan menghela napas, lalu mengusap keringat yang berada di pelipisnya. Napasnya memburu setelah denyutan di kepala reda. Setiap kali bayangan itu hadir, selalu membuatnya kehilangan oksigen dan hampir meregang nyawa. Tak ingin bayangan itu hadir kembali, Hanan segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Azan dzuhur telah memanggilnya untuk melaksanakan empat rakaat pertangahan hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD