Tunangan

1113 Words
Sesuai rencana, satu minggu setelah pertemuan pertama yang berakhir tak semestinya itu, kini Hanan beserta kedua orang tuanya sudah berada di rumah Hana. Rumah berlantai dua dengan dominan warna cokelat itu akan menjadi saksi bisu awal ikat hubungan antara Hanan dan Hana. Semua orang yang berada di ruangan tersebut tersenyum, kecuali Hanan yang setia menampakkan raut wajah datarnya. Beberapa tamu berdecak kagum atas kecantikan yang di pancarkan oleh Hana. Gadis itu memakai gamis merah muda dengan jilbab pashmina berwarna senada. Kulitnya yang putih, bibir yang ranum serta lesung pipi membuatnya semakin terlihat manis. Hana, gadis itu terus menunduk menyembunyikan senyum manisnya. Tak bisa di pungkiri, ia menyukai Hanan sejak saat pandangan pertama satu minggu yang lalu. Ketampanan Hanan berhasil membuat jantungnya berdebar. Benar kata orang, cinta itu tak memandang waktu dan tempat. Kapan dan di mana rasa itu hadir, tak bisa kita pilih. Pun pada siapa rasa tersebut di maksudkan. Banyak yang sudah puluhan tahun menikah, tetapi tak kunjung saling mencintai meski sudah saling memberikan hak pasangannya masing-masing. Banyak juga yang sudah memiliki buah hati, tetapi rasa cinta belum hadir. Akan tetapi, rasa itu hadir hanya dalam sekejap mata di hati Hana. Cinta memang tanpa syarat, ia datang begitu saja tanpa memperdulikan bagaimana latar belakang orang yang di tuju. Rumah mewah itu di hias sedemikian rupa. Beberapa sanak saudara serta tetangga ikut hadir menjadi saksi awal ikatan hubungan antara Hana dan Hanan. Acara demi acara telah usai di gelar. Benda bulat berupa emas putih dengan satu mata mengkilap sudah terlingkar di jari manis Hana. Semua orang mengucapkan hamdalah atas kelancaran acara tersebut. “Mari ... silakan semuanya menikmati hidangan,” ujar Burhan dengan senyum yang tak pernah pudar. Ia bahagia, akhirnya sang putri sudah resmi menjadi calon menantu dari sahabatnya sendiri. Ia yakin, Hanan akan menjaga Hana dengan baik. Mengingat Arya adalah orang yang sangat bertanggung jawab, pasti putranga juga seperti itu. Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. “Bagaimana, Nak? Suka sama cincinya?” tanya Maya menatap hadis di depannya. Hana mendongak, netranya mendapati sosok wanita paruh baya yang tadi memasangkan cincin pada jari manisnya. Kemudian bibir tipis nan ranumnya tertarik ke samping. “Suka, Tante,” ucapnya hampir tak terdengar. Semburat merah di pipinya tak dapat di sembunyikan lagi. Kupu-kupu yang beterbangan di perutnya membuat pipinya merona. “Duh ... kamu itu manis banget si, Sayang!” puji Maya kemudian menyubit pipi Hana pelan. Hana terkekeh menahan malu. “Tante bisa aja.” “Eeh ... jangan panggil tante. Tapi ... panggil Ibu, ya! Ibu Maya,” tutur Maya kemudian tersenyum. Burhan dan Arya yang duduk berdampingan tersenyum saat melihat kedua wanita tersebut mengobrol, lalu keduanya saling pandang. “Alhamdulillah, ya. Akhirnya apa yang kita inginkan, akan segera tercapai.” “Iya, Han. Saya juga bersyukur, Hanan akhirnya bisa menerima perjodohan ini,” tutur Arya pada sahabatnya, Burhan. Hanan yang duduk di samping sang papah hanya terkekeh, wajahnya tak menampilkan raut bahagia atau pun sebaliknya. Namun, hatinya tak bisa di pungkiri. Ia mengagumi kecantikan Hana yang sudah resmi menjadi calon istrinya. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, yakni satu bulan yang akan datang. Awalnya Hanan menolak, karena waktu satu bulan baginya sangat singkat. Bagaimana jika ia tak siap membina rumah tangga? Akan tetapi, paksaan dan desakan dari kedua orang tua yang tak ingin menunda lagi membuatnya pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia mengikuti alur takdirnya sesuai keinginan kedua orang tua. Sebenarnya bisa saja, Hanan membatalkan dan menolak perjodohan ini. Namun, ia tahu batasan menolak keinginan orang tua. Ia tidak ingin menjadi anak yang durhaka karena melawan keinginan kedua orang tuanya, padahal keinginan tersebut berupa ibadah penyempurna agama.  *** Hanan menghela napas kasar. Sejak pagi sampai siang ini ia dan Hana terus pergi ke satu tempat ke tempat lainnya. Pernikahan yang akan di adakan satu bulan lagi membuat keduanya harus pergi ke butik untuk mengukur baju pengantin dan beberapa keperluan pernikahan lainnya. Di temani sopir probadi Hana, ketiganya sampai di butik. Namun, sebelum Hana dan Hanan menginjakan kaki di teras butik, seseorang memanggil Hanan. Merasa namanya di sebut, Hanan menoleh ke belakang. Begitu pun dengan Hana dan sang sopir pribadi. Tak ingin ada setan di antara Hanan dan Hana, jadilah sopir di hadirkan menemani perjalan mereka dengan Hana duduk di belakang sendiri, seperti tuan putri yang di kawal oleh para ajudan. “Hanan! Loh, lo ada di sini juga?” tanya pria berpakain formal sama seperti Hanan. “Lo ngapain di sini, Ki?” ujar Hanan menatap sahabat lamanya saat masa putih abu-abu. “Gue mau ke toko kue. Biasa, istri lagi ngidam,” jawab Rizki seadanya sembari menunjuk toko kue dengan dagu, tepat berada di samping butik yang akan Hanan kunjungi. “Lo udah nikah? Wah, hebat lo! Enggan ngabarin gue lagi!” ujar Hanan kemudian terkekeh. “Sorry, Bro. Gue lupa. Lo juga sih, kemarin ngilang tiga bulan. Jadikan anak-anak pada enggak tau!” “Iyaiya, its okey.” “Eh, itu siapa? Kenalin, dong!” ucap Rizki saat melihat gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya tepat di samping mobil hitam milik Hanan. “Itu ... tunangan gue.” “Waw! Demi apa, lo?” “Lo enggak percayaan amat, itu liat cincin di jarinya,” ujar Hanan kemudian lelaki di hadapannya melakukan apa yang Hanan katakan. Benar, ada benda putih melingkar di jari manis gadis tersebut. “Iyaiya, gue percaya. Udah liat.” “Jadi lo ke sini mau booking baju pengantin?” Hanan memutar bola mata malas. “Bukan, mau beli kue sama kayak lo!” “Sorry, Bro. Becanda!” ucap Rizki kemudian keduanya terkekeh. “Ya udah, gue ke toko kue dulu, ya. Istri udah nunggu soalnya,” ujar Rizki kemudian berpamitan. Lantas, kedua sahabat yang sudah lama tak berjumpa itu terpisah kembali. Rizki masuk ke dalam toko kue, sementara Hanan masuk ke dalam butik. Beberapa kali Hana mencoba gaun pengantin, tetapi tak kunjung ada yang ia sukai. Seakan semuanya tak selaras dengan keinginan. Ingin menjahit, tetapi waktu satu bulan pasti tidak akan cukup. Mengingat butik ini adalah butik ternama yang bisa dipastikan banyak pesanan. Hanan dan sopir yang menunggu di ruang depan, menghela napas berat saat Hana tak kunjung ke luar dari ruang ganti. Namun, mata mereka tak bisa berkedip saat mendongak dan mendapati sosok gadis memakai gaun putih. “Cantik,” gumam Hanan saat melihat Hana berdiri di hadapannya tengah tersenyum dan menunduk malu. Gaun putih bertabur beberapa pernak-pernik di bagian pinggang sampai ke mata kaki, serta brokat pada bagian d**a, serta model gaun yang tak begitu rumit membuat Hana semakin terlihat cantik. Bukan hanya sopir dan Hanan yang terpesona, semua karyawan butik berdecak kagum memuji kecantikan Hana sampai clien yang tengah mereka layani juga ikut melirik ke arah Hana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD