Janji Sakral

1061 Words
Setelah memilih beberapa gaun pengantin, akhirnya Hana, Hanan, serta sang sopir ke luar dari butik. Mereka menghela napas lega, suasana di dalam membuat rasa bosa singgah. Hanan menatap lalu lalang kendaraan dengan tangan yang sudah masuk ke dalam saku celana menunggu sopir memarkirkan mobil. Sementara itu, Hana yang berdiri tepat di belakangnya terus menunduk. Sesekali netra sipitnya melirik ke arah belakang dari sudut mata, sebelum akhirnya menatap lurus ke depan saat Hana mendongak. Bibir Hana tertarik ke samping, saat menatap punggung calon suaminya. Perutnya seperti penuh dengan kupu-kupu, lalu di susul dengan debaran janung dan hati yang sudah berbunga-bunga. Apakah ini yang di namakan cinta? Apakah rasa ini akan tetap sama dan membawa kebahgiaan atau malah sebaliknya? Hana bermonolog dalam hati. Ia takut, jika rasa itu nantinya akan membunuhnya. Ia tidak ingin, rasa itu membuatnya malah ke luar dari syreat. Ia enggan melawan kehendak Sang Kuasa demi cintanya. Semoga saja tidak. Doa Hana dalam hati. “Heh!” Hana terlonjak kaget saat suara seseorang membentak. Tampak tatapan pria di hadapannya menajam seakan aka memangsa korban. “Cepat masuk! Dari tadi di panggil juga. Ngelamun atau tuli kamu?” ketus Hanan, lalu masuk ke dalam mobil. Hana mengangguk paham kemudian menyusul pria tersebut memasuki mobil. Bedanya, ia duduk di kursi belakang. Sementara Hanan dan sopir duduk di kursi depan. Sepanang perjalanan, tangan Hana terus saja menepis air mata yang memberontaj ke luar dengan kasar. Ia mengalihkan tatapannya ke samping, menatap kendaraan lain dari kaca jendela. Hatinya sesak saat mendengar ucapan ketus dari Hanan. Namun, ia segera melafalkan istigfar. Karena bagaimana pun, itu kesalahannya. Ia melamun dan tak mendengar panggilan dari calon suami. *** Satu bulan berlalu begitu cepat layaknya angin yang mengelilingi bumi. Tak kasap mata, tetapi bisa dirasa. Fajar telah mengingsing, mengeluarkan semburat orange dan jingga di balik kabut putih serta embun yang menyapa. Sementara itu, semua orang tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing sejak ba'da subuh. Pernikahan akan di gelar tepat pukul delapan nanti. Tamu-tamu mulai berdatangan, meski waktu akad masih satu jam lagi. Baik dari kelurga, kerabat, sahabat, tetangga, rekan kerja, kolega bisnis, semuanya hadir lebih awal. Tentu saja, untuk menyaksikan putri dan putra dari duan pengusaha yang cukup ternama. Para tamu enggan melewatkan momen penting seperti ini. Bibir seorang gadis tertarik ke samping menatap pantulannya di depan cermin dengan degup jantung yang semakin memompa lebih cepat. Sebentar lagi, ia akan melepas masa lajangnya dan berganti menjadi status istri dari seorang Hanan. Hana semakin terlihat cantik meski dengan make up natural. Auranya semakin terpancar, tatkala bibir tipisnya berwarna merah muda. Kemudian bulu mata palsu, serta eyeshadow peach membuatnya lebih terlihat elegan. Gaun putih dengan design sederhana, lalu jilbab syari senada. Kemudian mahkota kecil sudah tersemat di kepalanya. Hana bersyukur atas nikmat Sang Tuhan karena telah memberikannya paras yang cantik, juga body yang ideal serya kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tak terhingga. Riuh piuh dari luar ruangan membuat fokusnya teralihkan dan segera menyalakan televisi yang sudah di sambungkan ke ruang akad. Hana tersenyum saat melihat Hanan dan kedua orang tuanya memasuki ruangan. Tampak pria itu mengenakan pakaian formal setelan jas hitam, lalu kedua orang yang memapahnya memakai setelan batik berwarna cokelat. Lagi dan lagi hatinya berdebar saat mengingat kedua orang tua itu akan menjadi mertuanya dalam hitungan menit. Suara wanita selaku pembawa acara mulai terdengar memenuhi rumah besar Hana dan membuat hadis itu membenarkan posisi duduknya agar bisa menyimak acara dengan saksama. Keringat dingin memenuhi telapak tangannya, lalu beberapa tetes dari pelipis jatuh membasahi jilbab yang di kenakannya. Jantung Hana semakin berdebar saat pembawa acara itu membacakan serangkaian acara yang akan di selenggarakan. Hana mencoba mencari oksigen dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Beberapa kali ia menghela napas berat, tetapi tak kunjung membuat jantungnya berdetak normal. Hanan mengedarkan pandangan, tetapi tak ia temui sosok calon istrinya. Beberapa di antara tamu, terdengar memuji ketampanannya. Kemudian netranya berhenti pada penghulu yang sudah duduk di depannya dengan Burhan, Ayah dari Hana ikut duduk di samping penghulu sebagai wali. Hanan menarik napas dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Meski pernikahan ini bukan atas kehendaknya, tetapi tak bisa di pungkiri ia terserang nervous. “Siap, Nak?” tanya penghulu sembari menatap Hanan. Hanan mengangguk. “Siap, Pak!” Hana yang menyaksikan itu semua, menggigit bibir bawahnya pelan dengan degup jantung yang sudah tak bisa di ajak kompromi. Kemudian, netranya kembali fokus menyimak acara di ruang utama rumahnya. “Ananda Hanan, sudah siap?” ucap penghulu setelah berjabat tangan dengan Hanan di atas meja. “Siap!” ujar Hanan dengan mantap. Sejenak netranya melirik ke arah kedua orang tuanya, mereka tampak bahagia. Haruskan ia memilih ego dan membiarkan kebahagiaan orang tuanya pupus? Waktu untuk membatalkan pernikahan masih ada, selama belum ada akad dilaksanakan. Namun, lagi-lagi hati nuraninya menolak keras dan memilih melanjutkan pernikahan. “Baiklah, kita mulai,” ujar penghulu setelah mengedarkan pandangan. Semua tamu bergeming, menyaksikan janji sakral yang akan di ucapkan oleh mempelai pria. Sementara itu, fotografer dan vidiografer sibuk mengabadikan momen. “Bismillahirrohmaanirrohiim. Ananda Muhammad Hanan bin Bapak Arya, saya nikahkan dan engkau saya kawinkan dengan putri dari Pak Burhan yang mana walinya telah di hibahkan pada saya, yakni Aninda Hana Nur Jannah binti Burhan dengan mahar lima gram emas dan perak, tu-nai!” ucap penghulu dengan lantang. “Saya terima nikah dan kawinnya, Hana Nur Jannah binti Burhan dengan mahar tersebut, tunai!” tutur Hanan dengan satu tarikan napas. Semua orang yang menyaksikan hal tersebut, kompak membaca hamdalah. Bersyukur karena akad telah lancar dilaksanakan. Hana meneteskan air mata. Haru menyelimuti hatinya. Tak henti-hentia ia melafalkan hamdalah. Kini, ia resmi dan sudah sah menjadi istri Hanan. Lantas, suara seseorang membuat Hana terlonjak. Netranya menangkap sosok gadis yang memakai gamis biru muda yang tengah berjalan ke arahnya. “Mari, Mbak. Turun ke bawah,” ajaknya kemudian Hana mengangguk. Semua mata tertuju pada anak tangga. Di mana seorang wanita memakai gaun putih bak bidadari yang turun dari kayangan. Pancaran kecantikan Hana, membuat mereka tak mampu berkedip. Hanan menatap Hana lekat, gadis cantik itu telah resmi menjadi istrinya. Hatinya mengakui kecantikan Hana. Gadis itu terus menunduk dengan tangan mengangkat gaun dan berjalan secara perlahan. Penghulu segera mempersilakan Hana duduk di samping mempelai pria, lalu meminta keduanya menanda tangani berkas-berkas serta surat nikah. Kemudian, Hanan memasangkan cincin emas lambah pernikahan pada jari manis Hana. Hana terpejam, saat merasakan benda kenyal menyentuh keningnya. Jantungnya semakin berdebar, saat Hanan mencium keningnya dan membuat para tamu bersorak sorai menyaksikan adegan romantis tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD