Malam Pertama

1110 Words
Gadis cantik memakai jilbab syar'i itu menunduk malu, saat Hanan usai memberikan doa sembari menempelkan tangan di kepalanya. Tak berani mendongak, semua orang tengah menatapnya dengan takjub. Jantungnya sudah berdebar sejak beberapa saat lalu dan kini, semakin terasa. Seperti akan keluar dari tempatnya, membuat Hana mengeluarkan keringat dingin. Tangannya terulur mengusap keringar di pelipis dengan pelan. Beruntung, tidak terlalu terlihat tersebab kulitnya yang putih dan mulus. Semua orang sepertinya masih belum juga ke luar dari zona baper tadi. “Silakan untuk Nak Hana segera menandatangani surat nikah, Nak Hanan sudah tadi,” ujar penghulu, memecah suasana baper itu. Hana tersenyum simpul, gegas mendekat ke arah meja. Duduk dengan perlahan, gaun bak putri raja itu membuatnya sedikit kesulitan. “Di sini, Nak.” Penghulu menunjuk ke arah bagian bawah kertas, membuat Hana mengangguk. Seolah paham dengan apa yang ada di pikiran Hana, penghulu itu kembali menunjukkan di mana dia harus tanda tangan. Jelas sekali, tangannya sedikit bergetar. Akibat gugup, tubuhnya seperti tidak bisa diajak kompromi lagi. Membuat Hana beberapa kali harus menghela napas demi bisa menetralkan sedikit rasa gugup itu. “Yang tenang, Nak. Tarik napas dulu, biar tanda tangannya rapi.” Perkataan penghulu itu membuat Hana semakin merasa gugup, juga semua orang yang menahan tawa. Pengantin wanita itu sangat terlihat menggemaskan. Berbeda dengan Hanan, lelaki itu menatap datar gadis di sampingnya. Kemudian, tanpa aba-aba melingkarkan tangan di belakang punggu. Lebih tepatnya, memeluk Hana dari belakang, lalu tangannya menuntun tangan Hana agar segera menanda tangan. “Aaaa ... sosweet!” celetuk seseorang, lalu diikuti riuh dari semua tamu undangan. Sejenak Hana menatap sang suami, napasnya memburu. Tak lama, gadis itu tersenyum kikuk, lalu mulai mengikuti arah tangannya dipapah tangan Hanan. Semua orang tersenyum gembira, merasa gemas melihat adegan tak biasa itu. Pengantin pria yang sejak tadi terlihat dingin dan tak acuh, ternyata lebih bisa romantis dari pada yang mereka pikirkan. Tepuk tangan kembali menggema tatkala tanda tangan itu telah usai dilakukan, membuat Hana kembali harus menunduk, malu. Sementara Hanan, lelaki itu hanya tersenyum simpul sesaat sebelum kembali memasang wajah datarnya. Berlanjut pada sesi foto. Kedua mempelai pengantin naik ke atas pelaminan, sedikit lebih tinggi tempatnya dibandingkan dengan kursi para tamu. Sementara sembari menunggu giliran, para tamu mengantre di depan perasmanan. Menikmati beberapa camilan dan makanan berat, ditemani alunan melodi dari musik gambus. Sedikit canggung saat diharuskan berpegangan dengan Hanan, membuat Hana lagi-lagi harus menahan napas. Malu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. “Satu ... dua ... tiga!” Terdengar suara kamera setelah aba-aba dari photografer, membuat kedua pengantin itu sontak melerai pegangan. “Oke. Sekarang, pengantin pria memeluk pengantin wanita. Sedikit menghadap ke kanan,” ucap photografer kembali, memberikan intruksi. Hana menatap lelaki itu sejenak, lalu membiarkan Hanan melakukan apa yang diperintahkan photografer. Lelaki itu memeluknya, erat, tak ada rasa canggung sedikit pun. Hangat terasa di belakang tubuh, dekapan Hanan kembali menggetarkan hati. Hana memejamkan mata, menikmati setiap detik yang dia alami. Kemudian, terdengar suara intruksi lagi dari photografer agae dia dan Hanan merubah posisi. Kini, mereka sudah berganti pakaian menjadi gaun biru muda, serta jas sebaya. Keduanya masih tampak serasi, sepasang kekasih halal yang saling melengkapi. Pose pun berganti beberapa kali. Terakhir, keduanya saling berhadapan. Dengan tangan Hanan memeluk pinggang Hana, sedangkan gadis berpipi kemerahan itu menempelkan tangannya di bagian pundak sang suami, sedikit lebih bawah dari itu. “Oke, bertahan. Satu ... dua ... tiga!” Suara kamera kembali terdengar, memotret pose romantis dari kedua pengantin. *** Acara demi acara telah usai dilakukan, pose pengantin bersama para tamu pun telah usai dilakukan. Menyisakan kegaduhan para karyawan yang sedang membersihkan ruangan, juga gema musik yang masih menyemangati mereka. Kini, siang sudah menjadi gelap. Malam telah menyapa bersama sinar sang rembulan. Hana, gadis cantik itu telah berganti pakaian. Gaun yang indah telah berganti menjadi gamis putih dengan payet renda bagian d**a, juga pergelangan tangan. Duduk di depan cermin, merapikan jilbab pashmina yang sudah kembali tersemat di kepala. Walau rambutnya masih basah setelah keramas tadi, belum siap jika harus melepas jilbab. Mahkota yang selama ini menutup auratnya. Mata Hana menatap lekat bayangannya di depan cermin, tersenyum. Membayangkan beberapa momen manis yang dia lakukan bersama Hanan. Sengaja, mereka tidak pulang ke rumah dulu. Kedua pihak keluarga, meminta mereka untuk tetap stay di hotel satu atau sampai tiga malam lagi. Katanya, sambil bulan madu. Membayangkan itu membuat pipi Hana bersemu merah, menunduk malu, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Jilbab merah muda yang dia kenakan pun, ikut tertarik bagian ujung depannya. Terdengar suara pintu terbuka, Hana menurunkan kedua tangannya. Tampak jelas di pantulan cermin, siapa sosok yang masuk ke dalam kamar. Sontak saja, membuat jantungnya kembali berdegup kencang. “Assalamualaikum ....” “Wa-wassallamualaikum warohmatullah.” Hana menunduk tatkala lelaki itu melewati tubuhnya menuju kamar mandi. Setelah memastikan Hanan menutup pintu, Hana gelagapan. Dia berdiri, menatap ke sana kemari, apa yang harus dia lakukan sekarang? “Hana ....” Gadis itu menatap ke arah pintu kamar mandi, lelaki itu memanggilnya? “Hana!” Benar, lelaki itu memanggil namanya. Membuat Hana semakin gugup, apa yang harus dia lakukan sekarang? “I-iya! Mas ... eh, Kak!” Entah sebutan apa yang cocok untuk Hanan, gadis itu segera mendekat ke arah daun pintu. “Kenapa?” tanya Hana setelah berdiri di depan pintu dengan degup jantung yang bertalu lebih cepat. “Tolong ambilkan handuk, Han!” Hana mengangguk cepat walau lelaki itu pasti tidak melihatnya. Gegas, dia membuka lemari, mencari barang yang suaminya minta. Kembali berlari kecil setelah mendapatkan kain biru tua dan membawanya ke arah pintu kamar mandi. “Sudah dapat!” ucap Hana setengah berteriak agar lelaki itu bisa mendengar suaranya. Lagi pula, Hanan ada-ada saja. Mengapa mandi sampai lupa membawa handuk? “Bawa ke sini! Letakan di atas wastafel!” teriak Hanan dari dalam kamar mandi. Terpaksa, dia harus meminta itu pada gadis tersebut. Salahnya juga, mengapa tadi sampai lupa membawa handuk. Perasaan Hana semakin tak karuan. Antara harus masuk dan menuruti perintah sang suami atau harus bagaimana? Karena jujur, dia belum pernah satu kamar dengan laki-laki, apalagi satu kamar mandi. Sesaat gadis itu menarik napas dalam, mengembuskannya secara perlahan. Kemudian, mulai memutar knop pintu. Tak terkunci, pantas saja Hanan memintanya masuk. Dengan perasaan yang sudah tak biasa, Hana masuk ke dalam. Perlahan seiring matanya juga terpejam. Tak ingin melihat apapun yang ada di ruangan tersebut. Beberapa langkah sukses dia leeati dengan mulus, meraba beberapa barang yang ada di depannya. Dapat, wastafel. Terasa meja kayu di sana, segera meletakkan handuk sesuai permintaan sang suami. Hana berniat kembali, tetapi mendadak lantai yang dia pijak terasa licin dan membuat matanya terbuka lebar, keseimbangan tubuhnya tak lagi bisa dikompromi. “Aaaa!!!” Hana jatuh terjerembap ke belakang, hawa dingin mulai menusuk ke pori-pori. Membuat napasnya semakin memburu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD