Sedekat Itu

1251 Words
Mata sipit lelaki itu terus memperhatikan sang gadis tatkala usai membersihkan diri. Gadis bergamis putih itu sudah berbalik badan, membuat dia bisa mengintip dari celah pintu. Perlahan namun pasti, gadis itu seperti kesulitan untuk berjalan ke arah pintu. Entah apa yang dilakukan sehingga membuatnya kesulitan seperti itu. Padahal, tadi dia berjalan biasa-biasa saja. Dia menghela napas saat melihat mata gadis itu terpejam, sesaat sebelum benar-benar akan meraih knop pintu. Namun, tak disangka, gadis itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terpeleset ke belakang. “Hana!” pekiknya, gegas mematikam shower yang sejak tadi mengguyur tubuh, lalu ke luar, melangkah dengan hati-hati karena benar, lantai lumayan licin setelah kaki menyentuh air. Dia segera meraih handuk yang terletak di meja wastafel sebelum akhirnya menghampiri sang gadis. Ditatapnya dengan lekat, gadis itu tengah meringis. “Mata itu diciptakan buat melihat. Kalau kamu memejamkan mata, bagaimana bisa melihat sekitar? Terpeleset kan jadinya,” ketusnya dengan tatapan tak beralih dari sang gadis. “Awww ...,” lirih Hana, masih memejamkan mata, memegang punggungnya yang terasa sakit, menghiraukan ucapan lelaki itu. “Udah, cepat, berdiri. Memangnya mau di sini terus?” “I-iya, maaf ....” Hana mencoba berdiri, tetapi punggungnya malah semakin terasa sakit dan berakhir di lantai kembali. “Awww ... sakit, Mas ....” Hanan menghela napas panjang, manja sekali gadis di depannya itu. Beruntung, dia sudah selesai membersihkan diri. Jika belum, entah apa yang bisa dia lakukan. Tanpa aba-aba lagi, Hanan langsung meraih tubuh kecil Hana, membawanya ke dalam pelukan. Dia berdiri dengan tegak, menatap lurus ke depan. Kemudian, mencoba membuka pintu peralahan, dengan susah payah pintu itu akhirnya terbuka. Gegas, dia melangkah ke luar. Membawa tubuh sang istri menuju kasur. Sementara Hana, gadis itu tidak berani untuk membuka mata. Jantungnya masih berdebar tidak karuan sejak Hanan menyentuh tubuhnya. Terlebih, air bekas mandi Hanan, menetes ke wajahnya dari dagu lelaki tersebut. Membuat jantung Hana tak lagi bisa diajak kompromi. Berpacu lebih cepat. Dia sedikit meringis pelan saat Hanan membaringkan tubuh di kasur, pelan sekali laki-laki itu melakukannya. Namun, di samping itu juga dia akhirnya bisa menghela napas lega. Berdekatan dengan Hanan dengan jarak hanya beberapa senti seperti tadi, membuat jantungnya tidak waras. “Terima kasih,” ucap Hana setelah membuka mata, tersenyum ragu. Tampak lelaki itu tak menggubris ucapannya, berbalik badan, lalu membuka lemari dan mencari pakaian yang akan dikenakan. Hana merasa bersalah, sebab seharusnya dia yang menyiapkan segala keperluan Hanan. Tak ingin merasa berdosa, akhirnya Hana mencoba untuk bangkit. Punggungnya terasa begitu sakit, tetapi dia menghiraukannya. Benar-benar ingin membantu sang suami. Dengan susah payah, Hana akhirnya bisa duduk. Membuat tulang di punggungnya terasa seperti remuk, sakit yang tak bisa digambarkan. Sesekali dia juga meringis pelan. Namun, kembali mencoba untuk berdiri agar bisa sampai pada posisi suami. “Awww!” jerit Hana, tak sempat berpegangan pada kepala ranjang, membuat dia tersungkur ke lantai. Mendengar jeritan juga suara seperti orang jatuh ke lantai, membuat Hanan berbalik badan. Dia membulatkan mata dengan sempurna, tatkala melihat gadis yang baru saja dia nikahi beberapa jam yang lalu sudah terkapar di lantai, meringis. “Hana!” pekiknya kemudian segera menghampiri sang istri. Baru saja dia memakai kaus oblong, gadis itu sudah membuat ulah lagi. “Arrrgh! Kenapa kamu bisa di lantai? Kalau mau jalan, lihat-lihat kondisi. Punggung kamu baru saja keselo, nggak mungkin bisa jalan untuk sementara waktu,” omel Hanan, meski begitu, dia tetap kembali memangku tubuh Hana dalam pelukan, membaringkannya lagi di atas kasur. “Ma-maaf, Mas ... tadi mau bantu Mas Hanan untuk cari baju.” “Buka jilbabmu.” Hana tersentak, menatap Hanan dengan penuh tanda tanya. Dia masih ragu, belum pernah memperlihatkan rambutnya pada siapa pun selain ayah dan para saudara laki-laki mahram-nya. “Nggak usah geer. Saya mau lihat luka kamu parah atau tidak,” ketus Hanan, meralat ucapannya barusan. Gadis itu mengangguk dengan perasaan yang sudah tak menentu. Perlahan, tangannya melepas jarum pentul yang tersemat di bawah dagu. Selanjutnya, menarik jilbab merah muda dari kepala, memeluk kain mahkota itu di depan dads. Tekurai indah rambut hitam sepinggang, lurus sekali. Harum semerbak bunga dari shampo, menusuk ke indra penciuman. Rambut yang masih setengah basah-karena baru saja keramas-itu tetap terlihat cantik, membuat Hanan sejenak tak bisa mengalihkan pandangan. Sementara itu, Hana sudah tertunduk. Malu lebih tepatnya. Dia meremas jari jemari yang tertutup jilbab, jantungnya kembali bertebar. Seperti ada yang aneh menyusup masuk ke dalam relung hati. Mata sipit itu beralih menatap lemari, lalu berbalik badan. Meninggalkan Hana yang masih menunduk. Gegas, membuka lemari dan kembali ke kamar mandi setelah mendapatkan celana training yang sejak tadi dia cari. Setelah selesai, Hanan ke luar. Menggantungkan handuk di penjuru ruangan dekat balkon. Tujuannya, agar bisa terkena angin dan cepat kering. Pun, jika siang bisa terkena matahari. Dia menatap Hana yang masih saja menunduk, menghampiri gadis itu. Duduk tepat di depan Hana, menatap gadis itu kembali dengan lekat. “Ikat rambutmu di mana?” Hana mendongak, menatap lelaki itu dengan ragu. “Di dalam laci meja rias,” ujarnya menatap meja rias yang berdekatan dengan lemari pakaian. Hanan mengikuti arah pandang Hana, menghela napas. Dia berdiri, beranjak dari tempat duduk menuju meja rias tersebut. Mengambil ikat rambut. Ada beberapa warna di sana, entah kenapa dia memilih warna merah jambu. Warna itu tarlihat sangat manis denyan wajah Hana. “Sedikit miringkan posisi tubuhmu.” Hana bergeming. Dia tidak tahu harus merespons bagaimana. Pasalnya, menjawab atau melakukan apa yang lelaki itu perintahkan. Tak berselang lama, Hanan langsung membopong tubuh sang istri. Membuat Hana refleks melingkarkan tangan ke leher lelaki tersebut. Hanan juga terkejut saat tangan mulus nan putih itu mendadak melingkar. Sejenak, mata mereka temu pandang. Dalam pelukan, saling berdekatan, tubuh Hana memang kecil, membuat Hanan tidak merasakan beban sama sekali saat menggendongnya. Hanan segera memutuskan pandangan itu, lalu membantu Hana untuk duduk. Kali ini dia yang bersandar pada kepala ranjang dan Hana, bersandar pada pahanya. Dengan perlahan, tangannya mulai meraih rambut Hana. Harum bunga dari shampo menusuk hidung, membuat dia sontak memejamkan mata. Sesaat, sebelum akhirnya menghela napas dalam. Ikat rambut itu perlahan Hanan ikatkan pada rambut Hana, membuat gadis itu hanya bisa memejamkan mata. Baru kali ini, rambutnya benar-benar disentuh oleh laki-laki. Terlebih, laki-laki itu sudah berstatus sebagai suami.. Kembali, Hanan menghirup udara. Harum shampo itu masih begitu terasa. Leher jenjang Hana sekarang sudah terlihat begitu jelas. Begitu juga dengan tengkuk dan juga bahu. Hanya saja, ada gamis putih yang sedikit menutupi. “Sudah. Rambut kamu panjang, jangan sampai ribet sendiri. Punggung kamu sedang sakit, jadi pastikan rambut tetap terikat dengan rapi,” ujar Hanan. Kali ini nadanya tidak terlalu terdengar ketus, tetapi masih saja terdengar dingin. Hana mengangguk pelan. “Terima kasih.” Gadis itu terus menunduk, masih merasakan kehadiran Hanan di belakangnya. Membuat dia gugup seketika. Entah apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering, Hana mengedarkan pandangan. Tampak segelas air putih sudah ada di atas nakas, dia mencoba bangkit. Menyadari Hana melakukan itu, Hanan segera menahannya. Bertanya apa yang gadis itu lakukan? Air, Hana menunjuk pada gelas yang ada di samping Hanan. “Ini, minumlah,” ucap Hanan, membuat Hana berusaha menoleh. Namun, merasakan nyeri di punggung membuat dia meringis. “Awww!” “Sakit lagi, punggungmu?” Hana mengangguk. Dia tidak berbohong, punggunya terasa semakin sakit jika dia bergerak sedikit saja. Tak ada cara lain, akhirnya Hanan mengalah. Lelaki itu sedikit memajukan tubuhnya. “Ini, minumlah.” Hana segera meminum air yang disodorkan Hanan, menyisakan sampai setengah gelas. Haus terasa, membuat tenggorokannya kering. “Buka gamismu.” “Uhuk ... uhuk!” Hampir saja Hana tersedak jika tak segera menghela napas, berusaha bersikap tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD