Usai

1216 Words
Pria kisaran lima puluh tahunan itu terkekeh, kembali memijatsang ponakan. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Hanan. Walau pemuda itu bersikap dingin, tetapi rasa khawati itu tersirat jelas di bola matanya. Perlahan namun pasti, setelah berkali-kali juga Hana menjerit, meringis, akhirnya urut telah usai. Membuat Ali bisa melafalkan hamdalah, tugasnya telah selesai. Gegas, dia merapikan kembali bahan-bahan. Memasukan beberapa peralatan. Menatap sang ponakan, tersenyum. Mengusap rambut Hana dengan penuh kelembutan. “Jaga diri baik-baik. Hati-hati, jangan sampai terpeleset lagi. Kalau ada apa-apa, kabari ayahmu atau paman.” Hana tersenyum. “Iya, Paman. Terima kasih.” “Paman pergi dulu. Nan ....” Ali menatap pemuda itu dengan serius. “Titip Hana, ya. Paman pergi dulu. Ini ... tuangkan ke dalam mangkuk, lalu kasih air sedikit. Aduk sampai merata, oleskan ke bagian punggung Hana yang sakit. Setiap pagi dan malam,” jelasnya panjang lebar, memberikan sebungkus kecil serbuk cokelat. Hanan mengangguk paham, tersenyum. Mengucapkan terima kasih dan gegas mengantar Ali sampai ke depan pintu apartemen. Menatap kepergian pria tersebut, lekas menutup pintu dan kembali ke kamar. Tampak Hana sudah tertidur pulas, wajah gadis itu sangat lugu sekali. Manis. Dia segera mengahmpiri Hana. Menarik selimut sampai ke dagu sang istri, menghela napas. Hari ini tidak ada kerjaan apapun, tersebab mengambil cuti menikah selama satu minggu. Baru berjalan tiga hari, itu artinya masih ada empat hari yang tersisa. Hanan mengedarkan pandangan. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Bosan sekali jika harus terus berdiam diri. Lebih baik dia keluar apartemen saja, mencari udara segar mungkin lebih baik. Sesaat dia menatap ke arah Hana, gadis itu sedikit terusik dengan cahaya sang surya dari celah jendela. Dia segera ke arah sana, menarik gorden agar bisa menghalangi cahaya. Mulai melangkah ke luar, menutup pintu. Menyusuri koridor, memasuki lift. Setiap kali akan ke luar, seperti sudah menjadi hal yang wajib naik lift. Jika tidak, maka harus naik tangga darurat. Dan itu, sangat melelahkan. Beberapa karyawan hotel hilir-mudik, membawa beberapa berkas. Para office girl dan office boy pun, tersebar di beberapa sudut. Membersihkan ruangan, setiap jengkal hotel. Hanan tersenyum pada beberapa orang yang tak sengaja dia temui, sebelum akhirnya dia berhenti tepat di depan lobi, pintu utama. Angin segar langsung terasa. Menusuk pori-pori, membawa dia pada ingatan lama. Kenangan bersama seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. “Anginnya segar ya, Sayang!” seru seorang gadis tatkala mereka sudah sampai di taman. Hanan tersenyum. Membiarkan gadis itu memutar badan, menikmati udara dengan riangnya. Sesekali terkekeh. Membuat dia semakin merasa nyaman di dekat gadis tersebut. “Hanan! Sini!” ujar gadis tersebut, memanggil Hanan dengan tangan melambai. Lelaki itu kembali tersenyum, duduk berdua di bawah pohon rindang. Mereka menikmati udara, terasa sejuk dan damai di hati. “Permisi, Pak!” Hanan tersentak, membuka mata, tampak office boy sedang mengepel teras hotel. Ternyata tadi hanya bayang kenangan semata. Mengapa mendadak dia mengingat sosok itu? “Oh, iya. Maaf,” ucap Hanan, melangkah meninggalkan hotel. Berjalan beberapa langkah. Akhirnya, kaki Hanan membawanya pada satu tujuan. Parkiran, gegas dia memasuki mobil. Kendaraan beroda empat itu mulai menyala, berjalan dengan pelan, menyusuri jalan raya. Kemudian, mulai menambah kecepatan laju. Sesekali Hanan mengedarkan pandangan. Mobil sudah membawanya jauh dari hotel. Namun, kendaraan itu belum juga mau berhenti di pusat tujuan walau telah melakukan perjalanan kisaran dua puluh menit. Tampak di depan sana sudah banyak orang berkerumunan, sontak Hanan menginjak pedal rem. Mobil berhenti. Dia segera ke luar, mencari tahu apa yang terjadi di sana. “Permisi ... permisi,” ucap Hanan, mulai menerobos kerumunan. Matanya menangkap sosok wanita sudah terkapar di atas aspal dengan darah di mana-mana. Dress selutut yang dikenakan, sudah sedikit terkoyak. Beruntung, ada warga yang sigap menutupnya dengan koran. Dia dengar, ambulance akan datang sebentar lagi. Kasian sekali nasib wanita malang itu. Wajah ayuhnya sudah tergores aspal, haigh heels pun hanya sebelah, entah ke mana satunya lagi. “Apa yang terjadi, Pak? Kenapa bisa sampai seperti itu?” tanya Hanan, sudah ke luar dari kerumunan. Menatap pria paruh baya yang sedang menunggu ambulance datang, lelaki itu yang menghubunginya. “Menurut keterangan warga, gadis itu tertabrak saat tengah bertengkar dengan pacarnya. Sepertinya pacarnya itu tidak sengaja mendorong sang gadis,” jelas seorang Bapak-bapak memakai pakaian batik, seperti seorang lurah. “Terus pacarnya ke mana, Pak? Yang nabrak bagaimana?” “Pacarnya kabur, warga tidak berhasil mengejar. Yang nabrak seorang supir truk, dia sudah diamankan.” “Alhamdulillah ...,” gumam Hanan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak. Terima kasih,” pamitnya, tersenyum getir. Hati Hanan terasa sesak. Seperti ada yang telah menusuknya dengan jarum yang begitu tajam. Kecil, tapi sangat perih. Dia melangkah gontai, memasuki mobil. Ingatannya telah kembali pada masa kelam. “Arrrggghhh!” Hanan memukul stir mobil, mendengkus kesal. Menahan amarah, dadsnya naik turun, ingatan itu telah kembali. Dia tidak boleh terus berada di sini. Gegas, tangannya menarik gas, mesin telah dinyalakan, berbalik arah. Kemudian, menancap gas, melaju dengan kecepatan tinggi. Seperti sedang dalam keadaan mabuk, Hanan mengemudi tanpa sadar akan kecepatan. Ingatan itu begitu menyakitkan. Kenapa mendadak kembali setelah tiga tahun lamanya? “Aaarrrghhh!” Hanan menjambak rambutnya frustrasi, mobil telah menepi beberapa saat lalu. Walau bagaimana pun, dia tidak ingin mati dahulu. Masih banyak yang harus dia perbaiki, tetapi dimulai dari mana? Rasa bersalah itu terus saja menghantui. Akhirnya, dia memutuskan ke suatu tempat. Tempat yang selama tiga tahun ini telah membantunya tuk melupakan masa lalu, sejenak, tetapi tak apa. Bergulat dengan pikiran sendiri, merasa dihantui. Percayalah, itu sangat menyakitkan sekali. Tidur pun tidak tenang sama sekali. Sudah beberapa kali berobat ke psikiater, bahkan rutin bulanan. Namun, tetap saja, tak ada hasil. Empat bulan lalu, dia memutuskan untuk menyerah saja. Alunan musik sudah terdengar, menggema memenuhi ruangan. Lampu kerlap-kerlip menyala, menemani setiap orang yang berjoget ria di bawah keindahannya. Hanan menatap sekitar dengan jiwa terasa sesak, penuh amarah. Empat bulan lalu dia datang ke sini, menghabiskan setiap malam dengan beberapa gelas. Atau bahkan, puluhan. Ditemani alunan melodi, tidurnya terasa pulas. Dia sudah sampai beberapa menit yang lalu. Jika boleh jujur, hatinya sudah mulai lelah untuk minum. Namun, apa daya? Tak ada cara lain untuk menenangkan pikirannya. Bayangan masa lalu terus saja mengganggu. “Tam-bah la-gi ...,” pinta Hanan, menyodorkan gelas kecil. Beberapa saat menunggu, gelas itu sudah kembali terisi. Ditenggaknya dengan rakus, sampai habis tak bersisa. Kembali, dia menyodorkan gelas. Meminta diisi lagi, meminumnya lagi. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap dia lanjutkan. Padahal, hari masih pagi. Namun, keinginannya tuk bisa menenangkan pikiran tak ada cara lain. Pengunjung pun masih sepi. Biasanya akan mulai ramai saat sore sampai malam hari. Peduli amat dia dengan pengunjung lain, yang penting dia bisa tenang. Tidak tersakiti lagi dengan kenangan. Hanan menyodorkan gelas lagi. Entah sudah berapa botol yang dia minum. Dituangkan lagi oleh sang karyawan di sana, meminumnya lagi. Setelah menghabiskan berpuluh gelas, cekukan muncul. Matanya terasa berat, kepala sudah pusing. “Berapa?” tanya Hanan, suaranya sudah serak, lemas, dengan mata dipaksakan untuk terbuka. Sang karyawan menyebutkan harga, totak gelas yang sudah diminum. Lekas, Hanan segera membayar. Meninggalkan tempat itu dengan langkah sempoyongan menuju parkiran. Dengan susah payah, dia membuka pintu mobil. Masuk ke dalamnya dan tertidur. Matanya sudah tidak kuas untuk dibuka kembali, kepalanya terasa berat. Dari pada membahayakan diri di jalanan, lebih baik dia tidur saja di dalam mobil. Meski tengah dalam keadaan mabuk, hati nurani dan akal sehatnya masih berfungsi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD