Lelaki itu menggeleng dengan keras, menolak apa yang dikatakan pria kisaran lima puluh tahun tersebut. Apa yang pria itu katakan? Dia tidak mengerti.
Akan tetapi, penolakan Hanan justru memancing kembali tawa Ali. Merasa tergelitik dengan pernataan Hanan, juga ekspresi yang sudah bisa dia tebak.
“Wajar, jika memang benar kamu cemburu, Hanan. Hana itu kan, istrimu,” ucap Ali di sela-sela tawa kemudian terkekeh kembali.
Hanan hanya bergeming, memasang raut datar. Dia tidak suka jika di pojokkan seperti ini.
“Ah, ya sudah. Saya yang buka resletingnya atau kamu, Nan? Kalau tidak dibuka, bagaimana saya bisa tau lukanya di mana dan ngurutnya bagaimana?” kata Ali, sengaja memancing respons Hanan kali ini.
Benar, Hanan tampak berpikir, sejenak lelaki itu menatap sekitar, sebelum akhirnya tangannya yang terult, mulai menarik resleting gamis Hana dan menampakkan punggung putih nan mulus.
Selain menarik resleting, Hanan juga memperlihatkan letak luka tersebut. Entah kenapa, dia merasa tidak suka jika ada yang menyentuh Hana selain dirinya.
Di sisi lain, Ali yang tadinya memasang wajah manis, memperhatikan gerak-gerik sepasang pengantin baru itu, mendadak ekspresi wajahnya berubah menjadi serius saat melihat lebam biru kemerahan di punggung sang ponakan.
“Yaa Allah!” pekik Ali, menutup mulutu tak percaya. “Kok, bisa punggung kamu sampai terluka seperti ini? Gimana ceritanya, kamu bisa terpeleset?” cecar Ali, yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Pasalnya, dia sudah dekat dengan Hana sejak gadis itu masih kecil. Setahu dia, Hana bukan gadis yang ceroboh apalagi sampai terluka seperti ini, rasanya masih mustahil. Namun, hal apa yang membuat gadis itu bisa terpeleset?
Sementara itu, Hana hanya bisa menunduk dalam. Meremas jari jemari sendiri, apa yang harus dia katakan? Masa iya, menceritakan pengalaman malam pertamanya bersama sang suami.
Sontak Hanan dan Hana saling menatap, seperti kedua pasang mata milik sepasang pengantin baru itu memberikan isyarat dalam diam keduanya.
“Em ... jadi Hana itu jatuh di kamar mandi, Paman.” Hanan berusaha mewakili Hana untuk menjawab pertanyaan. Tidak mungkin rasanya jika dia menceritakan itu semua, bukan?
“Kok, bisa?” tanya Ali, merasa masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Hanan.
“E-eum ... jadi kamar mandinya itu kayak belum dibersihkan, Paman. Masih licin, banyak air juga.” Kini, Hana yang membuka suara.
Ali hanya mengangguk, ber-oh ria. Masuk akal jika memang keadaanya seperti itu. “Tapi, bukannya Ayah Hana sudah memesan apartemen ini? Harus sesuai, dong! Masa bisa teledor seperti ini.”
Sepasang pengantin baru itu mulai gelagapan. Mereka kembali saling pandang, berusaha mencari alasan apa yang tepat, tetapi tidak perlu berbohong.
“Kalau begitu, paman hubungi Ayah kamu dulu, Han. Supaya pihak hotel mendapatkan teguran. Bagaimana bisa, sudah memesan dengan harga yanh cukup lumayan, mereka malah lalai seperti ini dan hampir membahayakan nyawa orang lain.” Ali mengeluarkan ponsel dari saku celananya, berniat ingin menghubungi sang kakak, membuat Hanan dan Hana semakin kalap.
Merasa panik, Hana ingin duduk dan menjelaskan segalanya. Mencegah Ali untuk menghubungi sang ayah. Bisa panjang urusannya jika begitu.
“Awww!” pekik Hana, merasakan nyeri pada punggung terasa kembali, rasa panik membuatnya lupa akan kondisi.
“Hana!” teriak Ali dan Hanan, bersamaan. Keduanya gegas membantu Hana untuk kembali membaringkan tubuh.
“Paman, aww ... jangan hubungi Ayah. Kasian, beliau pasti sibuk. Aku nggak mau bikin Ayah dan Ibu khawatir,” tutur Hana, sesekali meringis, mengusap punggungnya pelan. Berharap rasa nyeri itu sedikit bisa reda.
“Baiklah. Paman langsung urut kamu saja, ya. Nan ... ambilkan bahan-bahan untuk memijat di lobi. Paman bisa menitipkan bahan-bahan itu di sana.”
Hanan mengangguk. Tanpa sepatah kata lekas berlalu dari ruangan. Mendengkus saat berada di ambang pintu. Sesaat dia melirik ke arah belakang dari sudut mata, tampak Hana masih kesakitan dan Ali, lelaki itu bertanya beberapa hal pada istrinya.
Langkah demi langkah mulai berpijak, Hanan menyusuri koridor hotel. Tampak beberapa tanaman, menghiasi sepanjang jalan. Tak lama, tubuhnya sudah masuk ke dalam lift. Benar-benar meninggalkan area tempat tinggalnya.
Dalam ruangan yang indah, desain yang unik nan mewah. Hana sesekali tersenyum malu saat menjawab pertanyaan dari Ali. Keduanya terlihat sangat akrab sekali, seperti tidak ada sekat lagi.
“Bagaimana sikap Hanan padamu, Han? Baik, bukan?”
“Iya, Paman. Alhamdulillah, baik. Walau agak sedikit dingin dan terdengar ketus, aku coba maklumi. Mungkin itu memang sifatnya sejak dulu.”
“Betul. Dalam pernikahan memang sudah seharusnya saling memahami sifat pasangan masing-masing. Kalau paman lihat, Hanan orangnya hangat, tetapi mungkin dengan kamu masih merasa canggun dan asing.”
Tak ada respons lagi, Hana hanya tersenyum simpul sebelum terdengar suara pintu terbuka. Hana dan Ali menatap ke arah sumber suara, lelaki itu sudah kembal. Tangan Hanan menenteng tote bag berukuran medium.
“Terima kasih,” ucap Ali, mulai mengeluarkan beberapa bahan andalannya, meraciknya terlebih dahulu sebelum digunakan, sedangkan Hanan dan Hana, keduanya tetap setia memperhatikan saja.
Ali tampak serius sekali dalam menyatukan beberapa bahan. Minyak urut khusus, beberapa bahan alami, lalu mulai menumbuk semua bahan menjadi satu-kecuali minyak-dalam cobek kayu kecil.
“Kenapa harus pakai itu, Paman?” tanya Hanan, penasaran.
“Supaya selain ada pengobatan dalam lewat pijat dan urut, juga ada pengobatan luar lewat ini. Mungkin kalau kamu cium, aromanya memang sedikit tidak sedap, tetapi khasiatnya itu manjur,” jelas Ali dengan tangan masih setia menumbuk bahan, sesekali menoleh ke arah Hanan.
Hanan mengangguk paham, menoleh ke arah gadis yang masih tengkurap. Kali ini, posisi Hana membuatnya sedikit terganggu. Tatapan gadis itu ke arah sebaliknya dari posisi Hanan. Membuat dia tidak bisa melihat wajah Hana lagi.
“Alhamdulillah, sudah selesai. Sudah halus ini. Sekarang kita mulai, ya.” Ali beranjak dari lantai, kembali duduk di tepi ranjang.
“Berapa lama Paman akan mengobati Hana?”
“Kisaran satu jam.” Ali menjawab singkat.
“Hah? Lama sekali.”
Pernyataan itu membuat Ali terkekeh pelan. “Tidak, hanya setengah jam saja. Yuk, Han, bersiap. Paman akan mulai sekarang,” ucapnya, mulai mengaduk bahan dengan jari telunjuk dan tengah, membaca basmalah dan menempelkan bahan itu pada punggung Hana.
“Bismillah ....” Ali mulali menggerakan tangan, menarik dari arah tengkuk ke bawah. Awalnya, Hana merasa biasa saja. Namun, ketika sampai puncak luka, dia merasakan nyeri begitu ngilu.
“Aaaa!” jerit Hana, membuat Hanan refleks memegang tangannya.
“A-apa yang sakit?” Suara Hanan terdengar sangat khawatir.
Ali tertawa pelan. “Hanan ... Hanan. Namanya juga dipijat, pasti sakit. Jangan khawatir, istrimu tidak apa-apa.”
Hanan gelagapan. Apa reaksinya tadi begitu berlebihan? Sungguh, itu hanya refleks. Dia tidak sengaja melakukannya.