Dean baru saja mematikan mesin motornya saat dia menemukan Mayang sudah berdiri di pinggir jalan sambil menangis. Sebenarnya hal apa yang terjadi? Di pagi buta begini Dean sudah mendapatkan telepon dari Mayang, yang menyuruh Dean datang ke rumahnya. Dan setelah mendengar suara serak dan terisak-isak Mayang, Dean cepat-cepat datang ke sini. Entah hal buruk apa yang menimpanya, sampai tangisan itu belum juga reda hingga Dean tiba.
"Kenapa, May?" Tanyanya.
Bukan mendapatkan jawaban, Mayang justru jadi semakin histeris. Jika biasanya seorang tamu akan disuguhi minum, Dean malah disuguhi tangisan begini. Memangnya hal penting apa yang sudah terjadi? Ke mana juga perginya si Kei, biasanya kalau ada masalah pada Mayang, gadis itulah yang datang pertama kali untuk membantu menenangkannya. Mereka bahkan lebih sering menyelesaikan masalah berdua saja, tanpa perlu Dean turun tangan. Tapi, kali ini Kei tidak kelihatan batang hidungnya, setelah semalam suntuk membuat onar di rumah Dean. Ke mana perginya orang itu? Dia bahkan tidak menyadari saat Kei meninggalkan rumahnya.
“Dia sudah pergi.”
“Siapa?” Dean menyahuti saat turun dari motornya.
“Kei... Kei pergi ninggalin kita, D!”
Adalah kata-kata yang paling Dean takuti, tapi kini justru menjadi kata pembuka untuk harinya. Mayang yang menyampaikan berita itu pun tampak sama terlukanya. Baru kali ini Dean melihat wajah sahabatnya pucat dengan ekspresi sesedih ini.
“Tunggu dulu, maksudmu Kei mati, begitu?”
“Dean! Aku gak lagi bercanda."
Mendapat bentakan begitu, Dean turut meninggikan suaranya. Apa Mayang bercanda? Kenapa tiba-tiba saja gadis itu marah pada Dean, padahal dia cuma bertanya.
"Lo pikir gue lagi bercanda gitu?"
"Kei pergi, D."
Tangisan Mayang lagi-lagi meledak, jujur saja Dean ingin sekali membungkam mulut sahabatnya itu. Dia tidak bisa mendengar apapun yang gadis mungil itu ceritakan. Telinganya hanya menangkap suara raungan, 'Kei pergi, D' hanya kata-kata itulah yang bisa Dean mengerti, selebihnya hanyalah bahasa alien. Mayang sangat berbakat menggunakan bahasa Indonesia, hingga tidak terdengar seperti bahasa Indonesia. Belum lagi suara mengganggu dari tarikan napas saat hidung berair.
"Berhenti dulu nangisnya!" Dean ikut berteriak agar sahabatnya bisa mendengar ucapannya.
"Gue gak ngerti apa yang barusan lo ceritain May. Jadi tenangin diri lo secepat mungkin. Dan jawab pertanyaan gue. Sebenarnya apa yang terjadi, kemana juga si Gendut pergi, biar gue yang cari dia."
Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya Mayang bisa mengendalikan emosinya. Setidaknya kali ini ucapan yang keluar dari mulut Mayang bisa Dean pahami.
"Tadi, Mang Nurdin ngasih aku surat ini, katanya Kei menitipkan surat ini pagi-pagi sekali.”
Mayang menyerahkan sebuah amplop putih pada Dean, pinggiran amplopnya sudah terdapat sobekan, pertanda Mayang sudah lebih dulu membacanya. Air mata kembali membanjiri pipinya saat mengingat isi surat yang baru dia berikan pada Dean. Mayang tidak menyangka persahabatannya dengan Kei harus berpisah dengan cara seperti ini.
“Dear, sayangku Mayang dan si Lembek Dean. Kalau kalian baca surat ini, aku pasti sudah berada jauh dari kalian."
Dean menatap wajah Mayang sebelum dia melanjutkan membaca isi dari surat itu. Dia ingin memastikan Mayang dan Kei tidak sedang bersekongkol untuk menjahilinya di pagi buta begini. Namun, jika ini benar-benar surat perpisahan yang Kei tulis, lebih baik Dean dijahili kedua wanita itu daripada harus berpisah dengan cara ditinggalkan seperti ini.
“Ini beneran udah enggak lucu, May. Cepat suruh si Gendut keluar, biar gue antar dia pulang. Enak aja pagi-pagi buta udah bikin orang kesal.”
“Apa kamu ngelihat aku lagi ketawa? Sejak kapan aku setuju diajak bercanda seperti ini? Kamu kenal aku, D. Aku enggak pernah bisa pura-pura menangis. Kei benar-benar pergi ninggalin kita, dan kamu harus mencarinya. Jangan biarkan Kei kesepian, D. Dia pasti lagi terluka, entah apa masalahnya, tapi kumohon cari dia, D. Cari sahabat kita."
Dean buru-buru membuka kembali surat di tangannya saat melihat Mayang semakin menangis, jawaban wanita bertubuh mungil itu seketika membuat Dean gemetar. Dean berharap Kei akan muncul dari balik gerbang rumah Mayang, sambil tertawa terbahak-bahak melihat Dean terkejut seperti saat ini.
“Sebelum kalian berdua memaki aku. D, coba kamu kasih Mayang tisu biar dia bisa lap dulu hidungnya yang ingusan. Aku tahu Mayang pasti bakal nangis sampai hidungnya semerah tomat, tapi aku mohon kalian jangan membenciku terlalu banyak, ya. Aku pergi bukan karena enggak tahan dengan cubitanmu Mayang, kamu juga D jangan pernah berpikir kalau kepergianku ini karena kesalahanmu. Ini bukan salah kalian. Aku pergi karena kalah pada diriku sendiri, jadi aku harap kalian bisa cepat beraktivitas seperti biasanya.”
Harapan hanya tinggal harapan saja, faktanya gadis yang sangat Dean cintai itu sudah pergi. Kali ini bukan sekadar ancaman, kali ini sesuatu yang sangat berarti dalam kehidupan Dean benar-benar telah direnggut paksa darinya.
“Oh, iya May, saat pacarmu itu mulai tidak peka, mending kamu pukul kepalanya sambil suruh dia lebih perhatian, kalau dia enggak mau sampai kehilangan kamu. Dia pasti bakal meluangkan lebih banyak waktunya untuk bersamamu. Mayang sayangku, terima kasih sudah mau menjadi sahabat pertamaku, terima kasih sudah mempercayakan banyak kisahmu padaku, ah aku bakal kangen banget sama kamu dan Dean. Dan untuk lelaki yang hobinya membanggakan kegantengannya. Aku cuma mau bilang, terima kasih teh chamomile-nya, terima kasih untuk semua malam yang kamu habiskan untuk menjagaku, berkatmu aku tahu kalau di dunia yang kacau ini masih ada lelaki yang lurus. Aku tidak lagi memujimu, ya, D. Aku justru curiga kamu gak bisa melakukan itu pada perempuan."
Bahkan disaat seperti ini pun Kei masih sempat untuk menggodanya. Gadis itu benar-benar tidak memiliki perasaan. Apa dia tidak sedih melakukan perpisahan dengan cara seperti ini? Dean benar-benar ingin menyumpah, tapi dia tidak sanggup. Dia takut kata-katanya akan berakibat buruk pada Kei, Dean terlalu takut membayangkan nasib Kei berubah buruk karena sumpah atau pikiran buruk dari dirinya.
"Satu lagi, kuharap kamu tidak sering-sering merasa kesepian, seperti sebelumnya. Aku khawatir saat membayangkan kamu terpuruk sendirian. Soalnya, sekarang aku udah enggak bisa nemenin kamu main kertas-gunting-batu kayak biasanya. Aku udah gak bisa lagi nemenin kamu melakukan pertaruhan aneh lagi."
Air mata luruh begitu saja membasahi pipi pria jangkung itu. Semakin Dean membaca surat dari Kei, semakin terasa jauh pula gadisnya itu.
“Aku pamit, ya. Maaf karena berpamitan dengan cara norak begini, soalnya aku yakin enggak bakal sanggup kalau harus ngomong langsung ke kalian. Terima kasih sudah mau berbagi tawa dengan orang gila sepertiku, terima kasih juga karena kalian enggak pernah menghakimi hidupku yang hancur begini. Aku bakal selalu berdoa supaya kalian sehat dan bahagia selalu. Nanti kalau seandainya kita ketemu lagi, aku harap saat itu aku udah berhasil menang melawan diriku sendiri. Peluk jauh dari si Gendut Keitari.”
Dean meremas surat yang baru saja dia baca lalu melemparnya begitu saja. Tindakan Dean, langsung membuat Mayang berteriak histeris sambil terus menangis. Gadis mungil itu memungut kembali surat yang sahabatnya tinggalkan, lalu berusaha membuatnya kembali rapi. Tindakan yang sia-sia saja, berapa kali pun dia menggosoknya dengan telapak tangan, surat itu tetap lecek.
“Kalian bercandanya udah keterlaluan, May cepetan suruh si Gendut keluar!”
“Dia beneran udah pergi, Dean!” sahut Mayang sambil berteriak.
“Enggak mungkin May, ini pasti akal-akalan si Gendut aja, iya, kan?! Semalam dia masih datang ke rumahku. Dia juga minta dibuatin kopi, terus pas aku ketiduran dia menghilang seperti biasanya. Anak itu, kan emang jelmaan jelangkung, datang gak dijemput, pulang gak diantar.”
“Dean, dia beneran udah pergi, nomornya pun udah enggak aktif sejak aku terima surat ini.”
“Aku bakal cek indekosnya, kamu diam saja di sini dan coba terus menghubunginya, mengerti?! Si Gendut enggak mungkin pergi ke mana-mana, May. Aku pasti bakal menemukannya. Harus!”
“Kamu bawa motornya hati-hati.”
Dean hanya menanggapi ucapan Mayang dengan seulas senyum dan anggukan kepala. Dia tidak yakin bisa tenang saat mengendarai kuda besi miliknya, tapi Dean tidak akan mati sebelum dia bisa menemukan Keitari Tanwira, si perempuan jahat yang sudah mencuri hatinya.
“Perempuan Iblis!” Dean tertawa terbahak-bahak,
“Dasar gak punya hati!”
Dia menendang motornya saat mendapati kamar kos Kei sudah kosong. Wanita itu benar-benar pergi kali ini, Kei tidak memberikan satu kesempatan pun untuk Dean mendekati hatinya. Bagaimana Dean bisa jatuh pada wanita sekejam Kei, bahkan sampai bertekuk lutut oleh gadis yang sebelumnya tidak pernah Dean anggap sebagai wanita?