Bab 4 : Lebih Rapuh.

1276 Words
Matahari bahkan belum menunjukkan sinar hangatnya, tapi keringat dingin sudah membanjiri wajah oval Keitari. Dara berusia dua puluh tiga tahun itu berulang kali menyerukan kata, “Kumohon, jangan seperti ini." dalam tidurnya. Jelas ia sangat ingin terjaga. Namun, kelopak matanya seakan tertimpa beban puluhan ton. Ingatan yang melekat erat di otaknya, berputar seperti kaset kusut. Tidak peduli dia terjaga maupun terlelap, memori yang berusaha dia lupakan itu tetap menyakitinya. “Semua ini tidak akan bisa berjalan lancar, meski kita memaksakan diri untuk tetap bertahan. Paham kita tidak lagi sama, dan yang paling utama kita mulai saling menyakiti satu sama lain. Mengakhirinya adalah jalan terbaik untuk kita dan juga anak-anak." Tutur seorang pria separuh baya dalam mimpinya. “Bagus, deh kalo itu mau lo! Emang lebih baik kita cerai. Toh, lo udah gak bisa diharapkan lagi. Meladeni, lelaki gak punya pekerjaan cuma membuang waktu gue!” Seseorang baru saja menyahuti ucapan pria yang tak lain adalah papanya Kei. Berbeda dengan suara papanya yang sarat akan kepahitan, suara wanita itu terdengar begitu lantang. Bahasa yang dia gunakan pun terdengar tidak enak didengar. Kei menoleh ke arah orang itu, kali ini dia melihat mamanya yang muncul, membuat air mata Kei menganak sungai di pipi. “Anak-anak, ikut sama lo. Melihat muka mereka, pasti bikin gue ingat sama muka lo, dan itu memuakkan. Jadi bawa anak lo sejauh mungkin dari gue! Bawa parasit-parasit itu pergi!” Ini adalah kepingan ingatan, sesaat sebelum kedua orangtuanya bercerai. Kei selalu ingin melupakan masa kecilnya, tapi sialnya durasi dia mengingat kenangan buruk, jauh lebih sering dibandingkan saat dia melupakannya. Sebagai mahasiswi semester akhir dari fakultas keperawatan, di salah satu universitas negeri di Jakarta. Tentu saja dia sedang sangat sibuk mempersiapkan materi untuk sidang akhir, ditambah dengan mengingat segala kenangan buruknya. Kei harus bersyukur karena dia tidak menjadi gila, walau banyak tekanan yang kini harus dipikul pundaknya. "Aku anak mama, aku bukan parasit. Kami bukan parasit, Ma." Kei terengah-engah saat bangun dari tidurnya yang tidak pernah nyenyak. Tubuh gadis itu terperanjat hingga terduduk, bahkan sampai terbungkuk-bungkuk nyaris mencium lututnya sendiri. Degup jantungnya mulai normal, saat dia menyadari yang baru saja terjadi hanya mimpi belaka. Kei menyeka keningnya dengan kasar, wajah pucat dipenuhi peluh itu menampakkan ekspresi muak. Sekali lagi, dia memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Efek dari beberapa shot wiski dan selusin bir yang ditenggaknya tadi malam. "Aku tidur di sini lagi." Kei menghela napas, matanya melirik arloji yang dikenakannya. Ini baru jam setengah lima pagi, akan tetapi Kei sudah harus bergegas agar tidak tertinggal kapal yang akan berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok ke Surabaya, yang akan berlayar sekitar pukul setengah tujuh nanti. Sembari memunguti tas dan sepatunya, kali ini pandangan Kei jatuh pada pria tampan yang baru saja bisa tidur setelah mengurus dirinya semalam suntuk. "Aku pamit, D." Gumamnya lirih. Jakarta masih sepi saat Kei berjalan kaki menyusuri kompleks tempat tinggal Dean. Pagi buta begini di mana dia bisa mendapatkan tumpangan, bahkan ojek online pun belum ada. Kei mendesah, menatap bulan yang masih bertakhta. Ini akan menjadi hari yang cerah, sangat tepat untuk sebuah perpisahan. Dia tertawa menyadari hal yang baru saja terlintas di benaknya. Kei benar-benar andal dalam satu hal, yaitu keahliannya dalam melarikan diri. "Bahkan kalau dipikir-pikir lagi, aku memang persis seperti dirimu...," "Mama." Imbuhnya sembari menyeka setitik air mata yang lolos begitu saja. Manusia memang seperti itu, dipenuhi oleh gengsi dan prasangka. Sebab ada kalanya saat berkata jujur justru akan dianggap dan diperlakukan seperti orang yang menyedihkan. Salah satu ego manusia adalah benci dikasihani. Benci saat diri sendiri pun mengakui ketidakmampuannya. Keitari Tanwira salah satu orang yang berpikir jika seseorang mengetahui dirinya yang sejujurnya, maka dia akan selamanya dicap sebagai orang yang menyedihkan. Seseorang akan bersikap baik padanya hanya karena rasa kasihan. Dan tentu saja dia tidak mau siapa pun, mengetahui kalau sebenarnya dia selalu merasa tidak percaya diri. “Ironis." Kei kembali menggumam, dia merapatkan jaket yang dicurinya dari rumah Dean. Itu jaket yang selalu Dean pinjamkan padanya setiap kali Kei pulang dari rumahnya. Jaket yang selalu membuatnya merasa begitu kecil, jaket sederhana milik Dean, entah kenapa terasa begitu hangat. Membuatnya jadi menginginkan sesuatu yang tidak semestinya dia harapkan, Kei harus berhenti merasa haus akan perhatian pria itu. Dia tidak boleh berharap bisa dilindungi dan dianggap berarti oleh si empunya jaket. Ya, Kei harus. "Semakin aku membencimu, semakin serupa aku denganmu.” Jemarinya mengusap-usap lengannya sendiri, seraya mempercepat langkahnya. Dia sadar betul, berkeliaran di waktu seperti ini dengan mengenakan rok mini jelas bukanlah hal yang tepat. Jika dia bernasib sial, Kei bisa saja bertemu dengan orang jahat, preman, atau orang mabuk. Dan itu akan sangat berbahaya. Entah ini pengaruh jaket yang dikenakannya, atau Kei memang seorang penakut, yang pasti dia ingin cepat-cepat sampai ke rumah Mayang, menyerahkan surat untuk sahabat-sahabatnya itu. Lalu bergegas pulang ke indekosnya, mengambil barang-barang yang sudah dia kemas sejak beberapa waktu lalu. Kali ini, Kei melarikan diri sangat jauh. Seperti sepinya jalan yang dia lalui pagi ini, hidupnya pun akan kembali sunyi tanpa sosok Dean dan Mayang di sisinya. Kei memang egois, dia tidak mengizinkan mereka yang mencintainya menemani hatinya yang kesepian. Namun, Kei jauh lebih jahat terhadap dirinya sendiri. Kei tidak pernah memberi kesempatan untuk dirinya menikmati cinta yang layak untuk wanita seusianya. “Dulu juga aku sendirian, kali ini pun aku pasti bisa melaluinya dengan mudah. Aku tidak akan menyesalinya.” Matanya terpejam menikmati sapuan angin, aroma lautan dengan dengung mesin kapal menemani pelariannya menuju tempat baru. Tempat di mana dia akan menutup rapat hatinya, kali ini Kei tidak akan membiarkan seorang pun masuk ke dalamnya. Sudah cukup hatinya remuk redam saat harus meninggalkan cintanya di Jakarta. Kei tidak ingin merasakan kehilangan dirinya untuk kesekian kali. Dia akan bertahan dalam kesepiannya, toh sebelum Dean dan Mayang hadir, Kei memang sudah sendirian. Pasti tidak akan sulit menjalani hari-hari tanpa tawa dan candaan mereka. Kei lupa satu hal penting, jika dulu dia terbiasa dengan kesepian itu semua karena dirinya belum pernah mencicipi cinta dan persahabatan. Namun, kali ini dia sudah tumbuh menjadi seseorang yang berbeda dengan dirinya yang dulu. Di tempat lain, kedua orang yang sedang Kei pikirkan tampak sangat menderita. "Dia gak ada di indekosnya. Masuklah May, aku juga mau pulang." "Terus gimana dengan Kei kalau kamu enggak mencarinya, D!" Dean menatap Mayang dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Entah itu amarah atau kesedihan, yang pasti saat ini Dean sedang hancur, sehancur-hancurnya. "Terus gue harus cari perempuan jahat itu ke mana, May? Kalau dia gak mau kita temukan, kenapa kita harus mencarinya?" "Karena perempuan jahat itu, sahabat kita. Dia sahabat dan juga cintamu, D." jawaban Mayang tepat mengenai ego yang coba Dean tunjukkan. "Gue tulus ke dia, May." Mayang memahami apa yang sahabatnya rasakan, meski dia tidak tahu pasti apakah kehilangan yang dia rasakan sama dengan yang Dean rasakan. Namun, Mayang setuju satu hal dari ucapan Dean. Kei memang gadis jahat. Dia benar-benar jahat, karena membuat mereka begitu bergantung padanya. Lantas kini dia tinggalkan begitu saja, seolah-olah mereka tak saling mengenal. "Kita lebih jahat, D. Selama ini kita sibuk membicarakan diri kita pada Kei, tanpa satu kali pun sadar kalau Kei tidak pernah menceritakan tentang dirinya. Mungkin selama ini kita bergantung pada seutas tali yang lebih rapuh daripada tali kita sendiri." Dean menyalakan motornya, suara mesin dan knalpot berpadu sempurna saat dia menarik gasnya. Dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, setelah mendengar ucapan Mayang. Dalam hati bertekad dia akan menemukan wanita itu apapun caranya, bahkan jika itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dean pasti akan menemukannya, dan meminta pertanggungjawaban padanya. Saat itu terjadi, Dean tidak akan membiarkan Kei tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia tidak akan membiarkan Kei merasa sendirian lagi. "Jangan menjalin hubungan dengan pria manapun Kei. Kumohon, tunggu sampai pria egois ini menemukanmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD