Bab 5 : Bubur dan Nasi

1360 Words
Enam bulan sebelumnya.... Bunyi-bunyi aneh memenuhi segala penjuru kamar, atau bahkan terdengar hingga kamar sebelahnya. Suara aneh itu berasal dari si empunya kamar yang baru saja kembali dari alam mimpi. Mulutnya terbuka lebar dengan tubuh melengkung sempurna. Setelah selesai menguap dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, dengan berat hati disingkirkannya selimut dari tubuhnya. Itu adalah Keitari Tanwira, mahasiswa fakultas keperawatan di sebuah universitas di Jakarta. Dia bangkit dengan perlahan dan mulai mengayun langkah menuju pintu kecil bercat coklat di sudut kamar kontrakan, yang disewanya selama menuntut ilmu. "Tuan muda, bawa kopi buatanmu, nanti aku terakhir sarapan bubur depan kampus." Dia sempatkan mengirim pesan suara pada seseorang yang dipanggilnya Tuan Muda. Senyuman melengkung sempurna di wajah cantiknya, yang seketika berubah jadi aneh saat dia menguap lebar. Kamar yang dia tempati hanya diisi kasur berukuran sedang, yang terletak di tengah ruangan. Lemari pakaiannya pun terbuat dari bahan plastik murah, yang dia tempatkan pada sisi kiri dekat dengan pintu kamar mandi. Sedangkan sisi kanan ruangan ini dipenuhi dengan berbagai macam buku, yang tersusun seperti gunung. Laptop dan nakas kecil diletakkan di bawah jendela, keberadaan benda itu tentunya menambah kesempitan ruangan yang Kei tempati. Beberapa sepatu tersusun rapi di sebuah rak kecil yang terletak di balik pintu utama. Meski sempit, kamar bercat biru muda ini terlihat cukup tertata rapi. Si empunya kamar sepertinya tidak memiliki waktu untuk membuat ruangan yang ditempatinya terlihat lebih berantakan, daripada yang terlihat kini. "Deal. Aku on the way ke indekosmu." Sebuah pesan singkat masuk, membuat si empunya kamar mengira-ngira apa jawaban yang sahabatnya itu berikan. Ini adalah hari liburnya, Kei ingin menghabiskan waktu luangnya bersama pria itu. Meski mereka selalu bertengkar, tapi itu cara mereka menunjukkan kepedulian satu sama lain. Biasanya sejak pagi buta pun Kei sudah berangkat bekerja di sebuah cafe, yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan pada hari-hari tertentu dia tidak pulang guna mengejar waktu antara kerja dan kuliah. Semua itu dia lakukan demi meringankan segala kebutuhan kuliahnya, Kei tidak bisa terus-terusan meminta uang pada ayahnya. Ya, dia harus ambil andil dalam memenuhi kebutuhannya sendiri, meskipun jumlahnya tidaklah besar. Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. "Anak pintar." Kei menggumam sesaat setelah dia membaca balasan Dean. Handuk berwarna navy dengan motif bunga lotus, melilit tubuhnya yang agak tambun hingga batas lutut. Kei memiliki model rambut berwarna ash brown yang membingkai wajah ovalnya, helaian rambutnya tampak basah menutupi sebagian besar punggung. Lagi-lagi dia menguap lebar, sepertinya dingin air tidak sanggup menghapus seluruh kantuknya. "GENDUUT!!! Ayo, berangkat. Koko udah kepalang lapar, nih." Teriakkan mengganggu dari depan kamarnya membuat Kei mendengus. Cepat sekali orang itu sampai, pikirnya. Padahal jarak rumah Dean dengan indekosnya cukup jauh. Jangan-jangan pria itu mengebut saat berkendara ke sini. "Dut, Koko semangat banget nih, jarang-jarang Dudut libur kerja kayak gini." Di mata teman-temannya, Kei tidak jarang dianggap hanya menghabiskan waktu yang dimilikinya dengan kerja dan kuliah. Padahal pada kenyataannya, Kei cukup menikmati hidupnya. Dia juga pandai mengatur waktu antara bekerja, kuliah serta waktu yang dia pergunakan untuk bersenang-senang dengan beberapa teman atau orang yang baru ditemuinya, serta yang utama bersenang-senang dengan sahabatnya. Hanya satu yang tidak bisa Kei lakukan, yaitu menikmati rasanya jatuh cinta. Sungguh dia sangat ingin melakukan itu, melupakan segala penat yang menimpa pundaknya selama ini, hanya dengan bertemu pandang dengan seseorang yang begitu mencintainya. Namun, apalah daya, penatlah yang terus datang untuk menambahkan beban di pundaknya dan itu terjadi hampir di setiap hari. Mau bagaimana lagi, jika yang datang padanya bukanlah cinta yang selalu orang-orang gaungkan. Meski begitu bukankah Kei harus tetap bersemangat? Ya, dia tidak boleh menyerah pada keadaan sebab hidup akan terus berlanjut, tidak peduli seberat apa beban yang dia pikul di pundaknya. Dan pada dasarnya dia memang bukan seorang gadis pemurung. Dia selalu menjadi magnet tertawa teman sekampusnya, walau tidak jarang dia melakukan itu semata-mata untuk membohongi dirinya sendiri dari rasa lelah. Dapat dipastikan Keitari adalah orang yang cukup disukai teman-teman di fakultasnya. "Duuutt!!!" "Berisik. Cepetan masuk dulu, aku baru kelar mandi." Dia mengomel pada pria yang sedari tadi terus berteriak di depan pintu kamarnya. Pemandangan ini sudah biasa terjadi. Melihat Kei membiarkan seorang pria masuk kamarnya bukanlah hal baru, terutama jika pria itu adalah Dean. Tetangganya pun tidak mau ambil pusing, sebab mereka juga melakukan hal serupa. Kei memang memilih tinggal di indekos bebas, gaya hidupnya membuat Kei tidak betah berlama-lama dalam kos, jadi waktu yang dia gunakan di indekos dapat dihitung dengan jari. Tempat itu tak ubahnya seperti toilet umum bagi Kei. Yang dia pergunakan untuk mandi, berganti pakaian, dan menunaikan kebutuhan biologisnya. Tidak pernah lebih dari itu. "Nih, kopinya." Tangan Dean terulur menyerahkan termos kecil berisi pesanan Kei. Cairan hitam dengan rasa pahit itu langsung berpindah tangan secepat dengan isinya yang berkurang. "Mantap. Kopi orang kaya memang beda." Pujinya sembari mengacungkan jempol setelah meminum kopi buatan sahabatnya. "Dasar penjilat, cepetan berpakaian. Enggak dingin apa telanjang begitu." Jawaban Dean berhasil membuat senyum di bibir Kei berubah menjadi tawa. "Kenapa? Jangan bilang kalo lo nafsu ngelihat gue begini. Mau gue buka aja sekalian?" "Anak Setan, mulut lo makin parah aja. Buruan berpakaian sana, geli gue ngelihat ulet handukan." "Kalo lo sampai nafsu sama ulet handukan ini, awas aja. Gue bakal tinggalin lo!" "Gak mungkinlah, sana pakai baju!" Dean melempar bantal ke arah Kei yang tak kunjung masuk ke kamar mandi untuk berpakaian. "Bentar dulu, Gila! Gue ngambil bajunya dulu." Bagi keduanya, berteriak dan saling mengejek, sudah seperti garam dalam masakan. Tidak enak rasanya jika belum melakukan itu saat mereka menghabiskan waktu bersama. "Mayang gak bisa ikut, dia disuruh kondangan di kampung sebelah sama emaknya." Dean tertawa terbahak-bahak diakhir ucapannya. Si empunya nama memang menghadiri sebuah acara, tapi itu jelas bukan acara pernikahan. Mayang, gadis yang dibicarakannya itu memiliki kehidupan yang melelahkan sebagai seorang putri tunggal pemilik butik mewah di Jakarta. Dia sering diajak menghadiri pertemuan-pertemuan penting, karena ibunya ingin Mayang meneruskan usahanya ketimbang menjadi seorang dokter seperti ayahnya. "Gue udah nitip kacang sama pisang, ke Mayang. Doain aja dia bawa banyak bungkusan." Kei semakin tertawa mendengar candaan sahabatnya itu. Entah belajar darimana sampai Dean tahu hal itulah yang biasa terjadi pada saat ada hajatan di desa-desa. Terkadang para ibu membawa pulang kue atau buah yang disajikan, untuk anak-anaknya di rumah. "Omong-omong soal kondangan. Kita juga nyari yang hajatan, yuk. Udah lama gak makan ayam kecap khas hajatan." "Gak jadi sarapan bubur?" Kei menyahuti usul Dean dengan sebuah pertanyaan. "Jadilah. Bubur dan nasi itu makanan yang berbeda, Kei." Jawaban yang membuat si empunya nama menggelengkan kepalanya. Entah pria itu benar-benar genius atau bodoh. Nasi dan bubur terbuat dari bahan baku yang sama, bagaimana dia bisa bicara seperti itu, padahal pria berusia dua puluh empat tahun yang memiliki nama lengkap Kenzo Deanara Gentari itu adalah mahasiswa semester akhir dari fakultas kedokteran, sama seperti Mayang. Dia memang orang yang humoris saat bersama Kei dan Mayang, tapi terkadang candaannya lebih menunjukkan sisi bodohnya ketimbang pura-pura bodoh. Semester lalu Dean direkrut menjadi ketua tim empat, yang beranggotakan tiga orang mahasiswa dari bidang medis yang berbeda. Si tampan yang memiliki kadar percaya diri yang amat tinggi ini, selalu menyempatkan waktunya untuk mengejek Kei yang kebetulan cukup unik di matanya. Kenzo Deanara, nyaris seluruh kampus mengenalnya. Dia cukup populer di kalangan mahasiswi hingga dosen pembimbing sekalipun. Selain terkenal sebagai pria tampan dan genius, dia juga terkenal karena memiliki kelainan pada matanya, yang dalam bahasa medis disebut dengan Heterochromia. Sedikit info, Heterochromia adalah kelainan yang diakibatkan kurangnya melanin pada pupil mata yang bisa membuat warna mata bisa berubah-ubah saat dilihat dari pencahayaan yang berbeda. Warna matanya akan berubah menjadi abu-abu pudar jika dalam pencahayaan tinggi dan akan berwarna biru pekat saat pencahayaan di sekitar menurun. Menurut Dean kelainan ini berpengaruh besar pada kariernya sebagai pria tampan yang jelas-jelas tidak ada kaitannya sama sekali. Dean sendiri sudah tampan meski tanpa Heterochromia itu. Dengan sorot mata yang tajam diperkuat dengan sepasang alis tebal, postur tubuhnya pun atletis serta ia memiliki kulit berwarna tan yang membuatnya begitu manis. Dean memang tampan dan berkarisma, hidungnya mancung dan sedikit runcing. Dia juga memiliki rahang yang kokoh. Tidak diragukan lagi ia akan tetap dikagumi meski hanya memiliki satu warna mata saja. Terlebih otak encernya tidak akan pernah menyulitkan langkah seorang Kenzo Deanara untuk jadi populer, terutama di kalangan para gadis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD