Keluarga Aneh

1440 Words
Ale memberikan segelas teh hangat untuk Shera. Wajah gadis itu masih terlihat pucat. Shera menerimanya dengan tangan gemetar, jika saja Ale tidak segera mengambil alih, gelas itu pasti sudah jatuh ke lantai. Ale mengarahkan gelas berisi teh hangat itu ke mulut Shera. "Minumlah." ujar Ale datar, namun pelan. Shera menyesapnya sedikit. Sesekali ia melirik was-was ke arah Aidan Blackstone beserta kelima adik Aleron yang ikut duduk di ruang keluarga. Mereka terus menatap Shera dengan pandangan dingin dan wajah kaku, penuh ancaman. Tidak ada senyum ramah ataupun sikap bersahabat dari mereka untuk Shera. Apa mereka tidak menyukai kehadirannya di rumah ini atau bagaimana? Shera merinding melihat mata adik-adik Aleron yang sepertinya tidak berkedip ketika menatapnya. Seperti patung saja. Siapa pun jika ditatap dengan cara seperti itu pasti akan mengkerut, takut, apalagi Shera melihat sendiri, mereka seperti psikopat yang ke mana-mana selalu membawa pisau. Apa Dokter Aleron juga sama? Membawa pisau ke mana-mana? Perasaan buruk menghampiri Shera. Apa ia adalah target mereka? Jangan-jangan kebaikan Ale padanya, hanya sebagai umpan agar dirinya masuk ke dalam perangkap para psikopat itu? Shera mencelos. Seketika, ia langsung menoleh ke arah Ale yang duduk di sampingnya. Wajah manusia patung itu masih sama seperti sebelumnya, datar dan tanpa ekspresi. Dan dia terus memperhatikan dirinya. Apa ini sudah saatnya, dirinya untuk dicincang ramai-ramai oleh keluarga ini? Ale dibuat kelabakan, karena tiba-tiba saja air mata Shera bercucuran. Ia menangis tak terkendali dengan tubuh gemetar, bahkan Ale bisa mendengar suara giginya yang berkeletuk. "Shera!" Ale mengguncang tubuh gadis itu. Ya Tuhan, kenapa dia?! Ale bangkit dari duduknya dan berjongkok di hadapan Shera. Ia memegang kedua tangan Shera yang sedingin es, "katakan, ada apa?!" Entah atas dasar apa Ale melakukannya, yang jelas melihat Shera menangis sampai seperti itu, rasa ingin melindungi dalam dirinya muncul. Ale tidak suka melihat gadis itu takut. Tanpa sadar dengan apa yang diperbuatnya, Ale merengkuh Shera kedalam dekapannya. "Tenanglah, tidak ada yang perlu kau takutkan. Ada aku." Ale menghibur. Di belakang punggung Aleron, sang ayah tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik penuh arti ke arah kelima anaknya. Mereka semua tersenyum samar. Aidan tahu, jika ia bertanya secara langsung pada Aleron mengenai perasaannya kepada gadis itu, Aidan akan mendapatkan jawaban yang mengecewakan. Oleh karena itu, daripada bertanya langsung kepada putra sulungnya, Aidan lebih memilih memancing sang putra mahkota agar menunjukkan sendiri perasaannya. Dibantu oleh kelima putra-putrinya, Aidan melancarkan aksinya tanpa sepengetahuan Ale dan istri tercinta. Senyum tipis tersunghing di bibir Aidan dan kelima putra-putrinya. Rencana dua berhasil. "Ada apa?" Bunda Aleron yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarga terkejut melihat Shera tersedu dalam pelukan putra sulungnya. Ia pun ikut duduk di samping Shera. Ale melepas pelukan Shera dengan canggung. Ia baru sadar bahwa seluruh keluarganya sedang berada di sana, melihatnya. Tuhan, sepertinya ia harus bersiap sedia menerima sindiran dan ledekan dari mereka nanti. Bunda Aleron mengusap lembut kepala Shera. Ia tahu, gadis itu pasti sangat ketakutan melihat sikap suami dan putra-putrinya. Saat membawakan sarapan untuk Shera ke ruang keluarga, Carmila mendapati putra sulungnya sedang memeluk Shera yang menangis tersedu. Carmila melirik ke arah suaminya yang sedang tersenyum sinting kepada kelima anaknya. Saat itu juga ia mengamuk. Ia tahu, pasti suami dan kelima anaknya sedang merencanakan sesuatu untuk Shera. "Ale! Bawa Shera kembali ke kamar!" Bunda menghadap Blackstone yang lain, "Alden! Aaro! Alea! Kenapa belum berangkat sekolah?!" "Kata ayah, bolos dulu gapapa, ada urusan mendesak." jawab Alea datar sambil mengerling sang ayah. Bunda memejamkan mata, memohon kesabaran. Sambil bersedap, bunda menatap tajam suaminya, "kanda! Kenapa anakanak diajari untuk bolos sekolah?! Dan kenapa juga, kanda belum berangkat ke kantor?" Aidan Blackstone bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri. Ia memeluk istrinya dari belakang sambil menciumi telinga dan pipi istri tercinta. "Dirimu semakin menggemaskan jika marah seperti itu." ucapnya tanpa sedikit pun berusaha untuk memelankan suaranya. Kelima anaknya yang mendengar rayuan maut sang ayat cuma bisa mesam-mesem sendiri. Sudah hafal dengan tabiat ayah mereka, jika sang bunda sudah marah pasti sang ayah akan berubah menjadi raja gombal. "Jangan mengalihkan pembicaraan!" Bunda membentak. Sang ayah malah terkekeh geli melihat istrinya mengamuk. Menurutnya sang istri seperti kucing yang imut dan lucu alih-alih harimau. Aidan menggigit pelan telinga istri tercinta, "karena kamu selalu mengalihkan duniaku, dinda ..." "Baik, sepertinya kanda sudah tidak membutuhkanku untuk mengurus anak-anak!" Carmila berusaha membebaskan diri dari pelukan sang suami, tapi sia-sia karena suami sintingnya itu sama sekali tidak mengendorkan pelukannya. Aidan Blackstone menghela napas pelan, kemudian menatap kelima putra-putrinya, "Alden, Aaro, Alea berangkat sekolah sekarang juga! Alde, Aldev, cepat pergi ke kantor!" Seperti titah sang raja, kelima Blackstone junior langsung berhamburan dari ruang keluarga tanpa membantah satu kata pun. Mereka berlima berpamitan dan mencium pipi ayah dan bunda bergantian. Setelah kelima anaknya berangkat, Aidan mengangkat tubuh sang istri dan membawanya duduk di sofa. "Apa yang kanda rencanakan untuk Ale dan Shera?" "Apa? Aku tidak punya rencana apapun, selain rencana untuk membuatmu mendesah di ranjang." Aidan tergelak. Oke, Carmila menyerah. Dirinya tidak akan bertanya apapun lagi pada suaminya, karena sampai nanti pun, jawabannya akan selalu menjurus ke arah hubungan ranjang mereka. "Biarkan aku turun! Aku akan mengantar sarapan Shera!" Carmila berkata kesal. Aidan Blackstone tersenyum setan, "Ale bisa melakukannya sendiri, tapi aku juga butuh sarapan sebelum berangkat ke kantor...." "Tidak! Ini masih pagi." Carmila menggeliat, berusaha melepaskan diri. "Persetan dengan pagi!" Aidan mengangkat sang istri dan membawanya ke kamar mereka. "Kanda! Turunkan, jangan sinting!" Aidan mengabaikan penolakan sang istri. Ia membanting pintu kamar agar menutup dengan menggunakan kaki, menenggelamkan teriakan istri tercinta. Shera menatap Aleron bingung. Apakah Bunda Carmila akan baik-baik saja? Apa yang akan terjadi padanya? "Jangan berpikiran yang bukan-bukan! Ayahku sangat memuja Bundaku, jadi tidak mungkin Ayah akan menyakiti Bunda!" Aleron berkata gusar. Kesal sekali mengetahui Shera selalu berpikiran buruk tentang keluarganya. *** Shera duduk bersandar di kepala ranjang, di kamar tamu kediaman Blackstone, dengan Aleron duduk bersila di sebelahnya. Ale membawakan sarapan untuk Shera. Namun, karena Shera masih gemetar, bahkan untuk memegang sendok pun, berkali-kali sendok itu terjatuh. Akhirnya Aleron memutuskan untuk menyuapi Shera. "Apa yang membuatmu ketakutan, sampai menangis histeris seperti itu?" Ale bertanya sambil menyuapi Shera, karena gadis itu masih gemetar ketakutan. "Ka-kalian akan mem-bu-bunuh sa-saya?!" Shera menjawab dengan suara bergetar. "Ck! Keluargaku bukan psikopat sadis seperti yang kau tuduhkan dalam kepalamu!" Aleron menjawab sambil menatap tajam wajah Shera. Lagi, hatinya merasakan sesuatu. Shera... Shera... gadis itu terlihat sangat rapuh dan butuh perlindungan. "Lagipula apa alasan membunuhmu?" Shera menggeleng tak mengerti. Yang ada di bayangannya adalah Bunda Aleron. Bagaimana bisa wanita baik hati itu hidup di antara manusia-manusia patung? Apa mereka mengancamnya? "Auhh..." Shera mengaduh, karena Ale menyentil kepalanya dengan keras. "Buang pikiran buruk dari pikiranmu!" Ale kembali menyodorkan sendok berisi makanan ke dalam mulut Shera. Shera mengunyah makanannya sambil melamun. Ia memikirkan sang ayah, jika dirinya tidak ada, siapa yang akan menjaga sang ayah, atau yang terjadi malah sebaliknya? Sang ayah yang akan meninggalkannya lebih dulu, lalu bagaimana dengan hidupnya? Ale mengamati wajah Shera. Gadis itu sudah berhenti menangis, tapi sisa-sisa air mata masih terlihat di wajahnya. Shera memiliki bulu mata yang lentik, sesaat Ale seperti terhipnotis ketika melihat Shera mengedipkan mata. "Apa yang kau pikirkan?" Ale penasaran. Ahh, ini bukanlah sifatnya untuk mau tau urusan orang lain, tapi entahlah, Ale rasanya ingin mengetahui apapun yang berhubungan dengan Shera. Ya, pasti karena dia tawanannya! Shera menatap Ale, sendu. Ia menghela napas sebelum menjawab, "Ayah." "Aku janji akan mengerahkan kemampuan terbaikku untuk kesembuhan ayahmu." janji Ale, yang kemudian disesalinya. Bodoh Ale! Mengapa harus berjanji padanya?! Padahal kamu sendiri tahu, dengan cidera kepala separah itu, kemungkinan untuk sembuh total sangatlah tipis!! Ale merutuki kebodohannya sendiri. "Bukan itu, saya hanya berpikir, bagaimana jika ayah ternyata harus pergi. Ayah satu-satunya keluarga yang masih tersisa." "Jangan pikirkan itu!" Ale tidak suka suasana sedih begini. "Saya realistis, dok!" Bentak Shera, "saya tau kemungkinan ayah saya sembuh sangatlah tipis." Shera kembali berkaca-kaca. "Jangan khawatir, jika itu terjadi, aku janji akan menjagamu," ujar Ale setelah bergelut dengan gengsi dan egonya, "karena kau adalah tawananku!" Ia menambahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD