First Kiss

1890 Words
            Ale menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang terletak di pinggiran kota. Ia mengernyitkan dahi, setengah tak percaya bahwa itu tempat tinggal Shera. "Yang ini rumahmu?" Ale memastikan sekali lagi.             "Ya." Shera menjawab seraya membuka pintu mobil. Dikunci. Ia menoleh ke arah dokter Ale. "Dikunci?"             "Biar aku saja, bisa rusak pintu mobilku, jika kau membukanya sendiri," ujar Ale sadis.             Shera diam di tempat sambil mengepalkan tangan, napasnya memburu cepat. Kesal sekali, kenapa makhluk planet itu selalu melontarkan kata-kata keji padanya?! Merusakkan pintu mobil bagaimana? Mentang-mentang orang kaya, seenaknya sendiri menghina orang lain. Shera merasa harga dirinya dicabik-cabik. Dalam hatinya bersumpah, suatu saat akan membalas manusia patung itu!             Ale membukakan pintu mobil untuk Shera. Lama ia menunggu, Shera tak jua keluar dari dalam mobil. Rupanya gadis itu sedang melamun, hingga tak menyadari jika pintu mobil sudah dibuka. Ale tersenyum samar melihat kekesalan di wajah Shera melalui kaca spion. Lucu sekali.              "Pantatmu kram?" Ale bertanya kurang ajar. Entah mengapa berada di dekat Shera membuatnya selalu ingin menggoda gadis itu. Hatinya merasa puas ketika berhasil membuat Shera marah atau kesal.             Shera mendesis pelan mendengar suara dewa patung itu, "apa!?"             "Kenapa masih duduk di situ?"                Shera menghela napas keras, sambil menekuk wajahnya, ia menghentak keluar dari dalam mobil. Jika tidak teringat hutangnya, ia pasti sudah mencakar wajah Aleron. Tanpa menoleh lagi, ia berjalan melewati pekarangan rumahnya. Malas sekali berbasa-basi untuk meminta Aleron ikut mampir ke dalam rumahnya. Sudah pasti pria arogan itu akan menolak. Mana mau dia masuk ke dalam gubuknya ini.             Aleron mengikuti Shera, berjalan di belakang gadis itu. Suasana tempat tinggal Shera lumayan asri dengan banyak tanaman hijau. Meski rumahnya hanya terbuat dari kumpulan papan bekas, tapi tetap terlihat bersih dan rapi. Ale suka di sini, tenang dan nyaman. "Anda bisa menunggu di luar jika merasa jijik untuk masuk ke dalam," ujar Shera sarkas.                         Ale melirik Shera sekilas, tidak menjawab ucapan gadis itu dan masuk ke dalam mendahului Shera. Sampai di dalam ia pun kembali dibuat terperangah. Ternyata suasana di dalam pondok ini pun bersih dan rapi. Pondok? Ya, Ale menyebut tempat ini pondok. Di dalam hanya terdapat satu ruangan saja yang tidak terlalu luas dan berbatasan langsung dengan dapur, hanya disekat dengan meja setinggi pinggang, yang juga berfungsi sebagai meja makan. Di sudut ruangan di samping jendela yang menghadap ke arah jalan,              Ale melihat sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu. Tak banyak lagi interior yang bisa ia saksikan. Hanya almari dan rak kecil serta tikar yang terbuat dari rotan digelar di depan sebuah televisi berukuran 14 inci. Sederhana tapi nyaman. Ale menghampiri kursi bambu panjang dan mengempaskan tubuhnya di sana. Mengabaikan ekspresi melongo dan kesal Shera.             "Apa saya juga perlu menyuguhkan teh?" tanya Shera bernada sinis. Shera menatap dokter patung itu dengan pandangan jengkel. Apa dia tidak punya sopan santun? Ia menghampiri Ale, berdiri menghadap Ale sambil berkacak pinggang.                     "Tentu saja, tapi aku tidak suka teh, kopi saja!" Ale menjawab angkuh. Shera mengatupkan rahangnya kuat, pria ini benar-benar keterlaluan! "Maaf, saya lupa ternyata gulanya habis."                 "Kebetulan, aku lebih suka kopi pahit," jawab Ale dengan nada yang sangat menjengkelkan, "terlalu sering konsumsi manis juga tidak baik untuk ginjal," tambah Ale, sengaja menekankan kata ginjal untuk membuat Shera semakin geram. Sukses. Ale ngakak dalam hati melihat Shera berjalan ke dapurnya sambil menendang apapun yang dilewatinya.             Tak berapa lama, Shera kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir kopi. Ia meletakan kopi di atas meja dengan keras, membuat sebagian kopi tumpah ke dalam tatakan. Ia merengut menatap Ale. "Silakan diminum," ujar Shera ketus.              Ale diam, memperhatikan Shera dengan ekspresi dingin, datar dan tidak bisa ditebak. Ia berkedip sekali sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kopi di atas meja. "Lima menit." Ale berucap sambil mengambil cangkir kopinya.             "A-apa?" Shera bingung. Lima menit apanya?             Ale mencecap sedikit kopinya, kemudian meletakkannya kembali ke atas meja. Ia menatap Shera datar sambil berdiri. Dengan mengantongi kedua tangannya di saku celana, Ale berjalan mendekati tangga kayu yang baru saja tertangkap oleh penglihatannya. Penasaran, ia pun menaiki tangga sempit itu. Shera mengejar Ale, bingung. "Tunggu! Apa yang Anda lakukan?!" Ish! Dasar manusia tidak tahu diri, seenaknya sendiri di rumah orang lain.             Ale berhenti di puncak tangga teratas. Lagi, ia dibuat takjub. Pemandangan sebuah kamar yang sangat minimalis namun sangat hangat menyambutnya. Sepertinya kamar Shera. Rapi dan cantik sekali penataannya. Tidak luas, tapi entahlah, Ale merasa akan betah berlama-lama di dalam sini. Ia melirik kasur selebar satu meter di sudut, samping kanannya. Sempit sekali jika harus tidur berdua di sana. Plak! Memangnya dirinya mau menginap di kamar Shera? Hahaha, lucu sekali.             Ale melepas sepatunya dan masuk ke dalam kamar Shera. Ia membuka semua jendela kamar. Lebih terang. Semilir angin yang masuk melalui jendela pun menambah suasana segar di dalam kamar. Ale kembali mengedarkan pandangannya, ia melihat sebuah pintu di seberang tangga. Penasaran, ia pun menghampiri pintu tersebut dan membukanya. Ternyata sebuah balkon kecil yang manis sekali. Ale harus menundukkan kepala saat melewati pintu, karena terlalu rendah. Ia berdiri sambil memejamkan mata dan merentangkan tangan. Damai sekali.             Shera berdiri di pintu, mengamati Ale dalam diam. Ia terpaku saat melihat senyum Ale, entah memang tersenyum atau tidak, wajahnya masih kaku seperti biasa, tapi ia dapat melihat sudut bibir Ale sedikit terangkat. Tiba-tiba  Ale membuka mata dan menoleh, membuat dirinya gelagapan. Ia tertawa garing dan berjalan mundur, kembali masuk ke dalam kamarnya. Huft! Kenapa dia harus menoleh saat dirinya sedang memperhatikan seperti tadi?              Belum sempat bernapas lega, Shera kembali dibuat spot jantung. Tiba-tiba saja Ale sudah mengikutinya masuk ke dalam dan terus berjalan mendekat ke arahnya, membuatnya gugup. Kakinya melangkah mundur menghindari Ale, sampai punggungnya menabrak dinding kayu. Matanya membesar, melihat Ale semakin mendekat padanya. Apa yang akan dia lakukan? Jantung Shera berdebar tidak karuan.             "Lima menit, siapkan keperluanmu! Aku tunggu di bawah!" Ale berkata sambil melewati Shera, membiarkan gadis itu olahraga jantung sendiri.             Setelah beberapa menit, Shera baru tersadar, tujuannya pulang adalah mengambil baju ganti dan keperluannya untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah napasnya mulai teratur, ia pun bergegas mengambil tas dan memasukan apa saja yang dibutuhkannya.                                                                                         ***             Shera duduk dengan tidak nyaman di kursi samping ranjang pasien sang Ayah. Pasalnya, dokter Aleron tidak juga beranjak dari kamar perawatan Ayahnya, pasca mengantarnya kembali ke rumah sakit, selepas mengambil baju gantinya. Beruntung, Shera tak lupa membawa beberapa buku untuk dibaca, jadi ia bisa menyibukan diri. Namun, sesekali ia masih melirik Ale yang berdiri bersandar di jendela kaca terus menatap ke arahnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa dokter patung itu sudah beranjak dari tempatnya, tapi ia salah, bahkan sudah hampir satu jam, dokter itu belum juga beranjak dari tempatnya. Hah, dia benar-benar sinting! Apa matanya tidak juling menatap ke satu arah terus menerus?             Shera menutup bukunya dengan keras. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat menghampiri Ale. Shera berkacak pinggang dan berdiri tepat di hadapan Ale. Sedikit mendongak, ia mendelik pada Ale.             "Kenapa terus ngelihatin saya?" Shera bertanya gusar.             Bukannya menjawab, Ale malah memperhatikan ekspresi marah Shera, tanpa senyum, tanpa ekspresi, membuat gadis itu makin kesal.             "Kenapa diam saja! Jawab!" Shera gregetan.             Ale menghiraukan perkataan Shera. Ia tetap memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Shera, menjadikan kemarahan gadis itu sebagai hiburan yang menyenangkan. Semakin marah Shera, maka Ale merasa semakin terhibur. Sinting? Ya, mungkin.             Shera mengbuang napas keras. Manusia patung ini telah menguras kesabarannya. Dia gila! Jadi, Shera yang merasa masih waras, yang harus mengalah. Ia mengatur napasnya, menenangkan diri. Mendelik sekali lagi ke arah Ale sebelum berbalik menuju kamar mandi. Ia harus menyiram wajahnya dengan air untuk mendinginkan pikiran. Saat akan berbalik, indera pendengarannya menangkap suara iblis, yang sukses membuat amarahnya kembali bangkit.             "Apa semua makanan yang masuk ke dalam tubuhmu, hanya bisa diserap oleh pipimu?" Ale bertanya dengan nada yang tenang, tapi sangat menjengkelkan?             Shera kembali mendongak menatap Ale, "apa?"             "Pipimu sangat gendut, tapi mengapa dadamu rata seperti bayi?" Ale mengarahkan matanya ke d**a Shera, kemudian mengamati ekspresi Shera.             "Apa?!" Shera shock mendapat pertanyaan kurang ajar semacam itu.             "Kurasa Bra berukuran 34 A pun terlalu besar untukmu."             Shera menganga, shock, sampai tidak tau harus menjawab dan bersikap bagaimana. Pria itu benar-benar sudah keterlaluan! "Apa dengan membeli ginjal saya, itu berarti Anda bisa bersikap kurang ajar pada saya? Apa Anda pikir saya tidak memiliki hati?" Shera bertanya dengan suara gemetar menahan tangis. Harga dirinya benar-benar jatuh.             "Memang tidak, hatimu pun sudah jadi milikku." jawab Ale tanpa perasaan, "kau lupa, semalam tertidur dan ngiler di mobilku?"             Shera menganga makin lebar. Ia menatap Ale tak percaya. Pria ini benar-benar kejam! Dia serius dengan ucapannya untuk mengambil hatinya?!             "Kenapa tidak sekalian saja ambil jantung saya, mata saya atau organ yang lain?" Shera bertanya sinis. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.             "Tentu saja aku akan mengambil semuanya, kau pikir aku akan membiarkanmu utuh? Toh, hidupmu sudah berakhir, jadi sekalian saja kuambil semua." Ale tersenyum setan.             Shera tak dapat lagi menahan air matanya. Ia merangsek maju dan memukuli Ale membabi buta. Ia tidak perduli dengan hutangnya, toh seluruh hidupnya sudah diambil oleh dokter gila itu. Shera menangis dan kalap. Ia mencakar dan memukul bagian manapun dari tubuh Ale yang bisa dijangkaunya. "Pria kejam! Tidak berperasaan! Gila! Psikopat!" Shera memaki di antara tangisan dan pukulannya. Yang membuatnya semakin histeris adalah Ale tetap diam pada posisi semula, tidak melakukan perlawanan. Ia malah terlihat seperti sedang menonton acara favoritnya. Shera tidak peduli, ia semakin keras memukuli Ale, sampai tangannya terasa sakit, napasnya juga putus-putus.             "Sudah." Ale menangkap tangan Shera, menghentikan serangan gadis itu. Ia mengamati wajah Shera yang basah air mata. Gadis itu masih menangis sesenggukan. Ale membungkuk, ingin mengamati wajah Shera lebih dekat. Butir butir air mata berkilau seperti kristal yang menghiasi wajah Shera, mengacaukan pikiran Ale. Pemandangan di hadapannya ini adalah pemandangan terindah yang pernah ia saksikan.             CUP!!!             Ale menempelkan bibirnya pada bibir Shera, membuat gadis itu berhenti menangis seketika. Ia merasakan tubuh Shera melemas. Refleks, Ale menahan pinggang Shera dan memeluknya. Ya Tuhan! Apa yang ia lakukan? Ohh Tuhan, dirinya mencium seorang gadis. Bagaimana ini?! Kepala Ale buntu. Bingung, campuran antara ingin segera melepaskan ciumannya, atau tetap bertahan pada posisinya saat ini dan terus merasakan nikmat dan hangatnya sebuah ciuman.             Deringan ponsel, membuat Ale segera tersadar dan buru-buru melepaskan kecupannya. Sebelah tangannya masih menahan pinggang Shera yang terlihat masih terpukul, sebelah lagi merogoh saku jasnya. Ale menjawab, tanpa melihat siapa peneleponnya.             "Apa!" bentak Ale.             "Siapa yang kau bentak?!"             "Maaf... Ale tidak tahu, Ale pikir..."             "Sudah kau lamar gadis itu?"             "A-apa?" Ale terkejut.             "Ck! Apa perlu Ayah turun tangan, melamarnya untukmu?"             "Ayah..." Ale belum menyelesaikan ucapannya, tapi suara di seberang yang ternyata adalah Aidan Blackstone, sudah memotong ucapannya.             "Kau sudah menciumnya, kan?"             "Apa?!" Ale terkejut! Bodoh Ale! Seharusnya ia tahu, sang ayah memiliki seribu mata.             "Bagaimana menurutmu jika Ayah lapor pada Bunda? Huahahaha..."             "Tidak! Ayah, tolong jangan bilang Bunda..." Ale memohon, bisa ruwet urusan kalau Bundanya sampai tahu. Ucapan sang Bunda merupakan titah tertinggi di rumahnya, sang ayah akan memastikan kemauan sang istri dipenuhi.             "Kita lihat nanti, hahaha....!"             "Ayah..!" Sambungan sudah terputus. Ale mengantongi lagi ponselnya. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Sesaat kemudian ia tersadar, sebelah tangannya masih melingkar di pinggang Shera. Memastikan Shera tidak roboh, Ale melepaskan pelukannya dan berjalan tergesa keluar ruangan, meninggalkan Shera yang langsung jatuh terduduk di lantai sembari memegang bibirnya.                                                                                              ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD