Aleron berjalan mondar-mandir dalam ruang kerjanya. Jantungnya berdegup kencang. Ya Tuhan, kenapa dirinya sampai bisa mencium Shera?
"Aarrrghh!" Ale meninju almari untuk meredakan debaran jantungnya yang semakin menggila ketika mengingat rasa dari ciuman pertamanya. Hangat dan lembut, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajahnya terasa panas kala memutar lagi detik-detik keberaniannya mencuri ciuman gadis tawanannya. Huft! Ternyata efeknya sampai sedahsyat ini. Naluri kelelakiannya yang selama ini tertidur, mulai menggeliat dan bangun.
Ale berhenti memutari ruang kerjanya. Sesaat ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebelum kemudian memutuskan untuk duduk bersandar di kursinya. Ia mencoba membuang jauh bayangan Shera. Tapi sial, semakin berusaha membuang bayangan gadis itu, semakin ia ingin bertemu dengannya. Ada apa ini?! Hah, sinting sekali jika dirinya sampai kecanduan seorang wanita seperti ayahnya yang sudah kecanduan bundanya.
Ale mengambil segelas air putih di meja kerjanya dan menegaknya sampai habis, berharap perasaannya akan menjadi lebih baik. Tapi sekali lagi ia salah, perasaannya masih tidak karuan.
Kling!
Ale mengambil ponselnya di atas meja. Sebuah pesan masuk via line.
Baru segitu, kelimpungan! Ayah sudah mencetak 6 anak, menurutmu bagaimana rasanya?!
Aleron melempar ponselnya kembali ke atas meja. Pesan dari sang Ayah, tidak membuatnya jadi lebih baik. Ia mendengus, jengkel pada sikap teror sang Ayah. Apa pedulinya tentang rasa membuat anak?! Ale bangkit berdiri, ia memutuskan untuk menemui sang ayah di kantornya dan meminta tolong secara langsung agar sang ayah behenti meneror dan menguntit dirinya.
***
Keluar dari dalam lift khusus yang menuju ke lantai teratas gedung tempat kantor Presiden Direktur berada, Ale melihat Bian baru saja keluar dari ruangan Ayahnya.
"Om," Ale menghentikan Bian yang hendak masuk ke dalam ruang kerjanya sebagai asisten pribadi Presdir. "Ayah di dalam?" Aleron bertanya kepada Bian, sahabat sekaligus asisten pribadi Aidan Blackstone.
"Ada, baru saja selesai rapat." Bian menoleh dan tersenyum hangat pada Ale. "Sibuk eh? Jarang terlihat."
"Maaf, Ale belum sempat mengunjungi Om dan Tante Nara." Ale merasa bersalah.
Bian mengangguk mengerti, "Om tahu, kamu pasti sibuk sekali di rumah sakit."
"Ale akan menyempatkan waktu menjenguk Tante." Janji Ale.
"Jangan memaksakan diri, Henara pasti mengerti dengan kesibukanmu." Bian menjawab dengan nada sendu. Henara, istrinya selalu menganggap Ale dan adik-adiknya sebagai putra mereka, karena hampir dua belas tahun menikah dengan Bian, mereka belum juga mendapat momongan. Henara sempat hamil di awal pernikahan mereka, tapi karena sebuah kecelakaan, akhirnya keguguran.
"Tidak, Ale janji akan datang." Ale menjawab pasti, ia pantang untuk ingkar janji. "Baiklah, Ale masuk dulu."
"Tunggu!" Bian menahan lengan Ale, ia menatap Ale dengan ekspresi kebapakan, "Om dengar, kamu sudah menemukan calon istri, benar begitu?"
Ale terkejut. Sedetik kemudian sadar, "Ck! Ayaaaahh...!" Ale mengerang frustrasi.
Bian tertawa melihat ekspresi Ale, ia tahu Aidan memang jail pada semua putra-putrinya. "Mau om kasih tau satu rahasia, supaya ayahmu tidak terus menguntitmu?" Goda Bian.
"Apa?!" Ale penasaran.
Bian mendekati Ale dan berbisik di telinga putra sulung sahabatnya itu.
"Serius, Om?" Ale terkejut bukan main. Tak menyangka sang ayah bisa sampai mempunyai ide brilian seperti itu? Bahkan Bundanya pun tidak tahu. Ale sendiri heran, dengan otak jenius tingkat tinggi seperti itu, mengapa sang ayah tidak pernah berusaha mengembangkan itu? Hidupnya hanya berpusat pada kebahagiaan bundanya saja. Jika Bundanya mengatakan ayah harus berangkat kerja, maka ayahnya akan kerja, jika Bunda berkata ayahnya harus begini dan begitu, itu pula yang akan dilakukan sang ayah.
"Tentu saja." Bian tertawa renyah.
"Ok, makasih Om, Ale masuk dulu." Ale mengangguk ke arah Bian sebelum masuk ke dalam kantor sang ayah. Ia tidak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu, karena sang ayah selalu berkata, pintu kantornya terbuka lebar untuk keluarganya, kapanpun mereka membutuhkan. Mungkin bagi orang lain, kebijakan Aidan Blackstone ini dianggap sangat bijaksana dan sayang keluarga, tapi tidak bagi Ale. Sebagian dari dirinya menyesal, mengapa tadi tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Alhasil saat ini dirinya harus menyaksikan ciuman panas sang ayah dan sekretarisnya.
Aidan Blackstone sudah menyadari kehadirannya, tapi sama sekali tidak berniat mengakhiri ciumannya. Kedua tangannya malah sedang membuka beberapa kancing blouse teratas milik sang sekertaris, yang duduk di pangkuan Aidan blackstone. Sekretaris itu tidak menyadari kedatangan Ale karena duduknya membelakangi Aleron. Ale memutar bola matanya jengah melihat sekretaris itu pasrah saja dengan semua perlakuan Aidan dan sama sekali tidak berusaha menolak ketika ciuman Aidan kini semakin turun ke leher dan dadanya.
Aleron berjalan ke sofa dan mengempaskan dirinya di sana. Pemandangan seperti ini sudah sering dilihatnya. Ayahnya benarbenar tidak tahu situasi dan kondisi! Mau di rumah, di kantor, kelakuan sama saja, m***m tingkat akut. Lebih baik, Ale menunggu sang ayah berhenti dengan sendirinya, lebih aman. ! Menghentikan kesenangan sang ayah sama dengan menantang perang, dan Ale tahu, ia tak akan pernah mungkin menang melawan sang ayah.
Deringan ponsel Aleron mengagetkan Aidan Balckstone dan juga sekretarisnya. Seketika sang sekretaris menoleh ke arah Aleron. Ia mendorong tubuh Aidan, begitu menyadari di dalam ruangan ternyata ada orang lain.
Aleron menjawab panggilan teleponnya yang ternyata dari rumah sakit. Mereka mengatakan jika ayah Shera baru saja mengalami kejang-kejang. "Baiklah, aku akan segera ke sana!" jawab Ale. Sambil berjalan tergesa ke arah pintu. Ale berpamitan, "maaf, aku harus kembali ke rumah sakit, ayah Shera kejang."
***
"Maaf." Ale berjongkok di hadapan Shera yang saat ini sedang duduk terpaku di sofa.
"Tidak perlu memita maaf, saya tau dokter sudah berusaha yang terbaik." jawab Shera tanpa menatap Ale, pandangan nanar ke depan.
Aleron menghela napas keras. Ini pertama kalinya ia merasa sangat bersalah pada keluarga pasien. Ia tahu, kemungkinan ini pasti terjadi, tapi sungguh, jauh di dalam hati Ale tidak pernah berharap ini semua terjadi pada ayah Shera. Ale tidak tahan melihat kesedihan di wajah Shera.
"Aku akan berupaya lebih baik," janji Ale. Entah bagaimanapun caranya, ia akan berusaha untuk membuat otak ayah Shera kembali bekerja dengan baik. Ia akan berkonsultasi dengan sang Ayah yang memiliki kejeniusan luar biasa.
"Saya tau, kemungkinan ini pasti terjadi," Shera menghela napas, "saya... tetap mensyukurinya, paling tidak saya masih bisa merasakan kehidupan Ayah. Hanya saja..." Shera tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia tidak tahu lagi bagian mana dari tubuhnya yang masih bisa ia tawarkan sebagai bayaran biaya perawatan sang ayah. Apalagi saat ini ayah Shera mengalami koma, yang tidak bisa diprediksi sampai kapan. Hidupnya hanya bergantung pada alat bantu pernapasan dan alat-alat medis yang lain. Jika semua alat itu dilepas, Shera tidak bisa membayangkan kehilangan sosok ayah yang selama ini bersamanya.
"Apa? Katakan?!" Ale, tidak suka dibuat penasaran.
"Saya mohon, tetap berikan perawatan terbaik untuk ayah, meski membutuhkan waktu tak terbatas, saya akan berusaha membayar semuanya. Saya akan mulai kembali bekerja." Shera menguatkan tekad.
"Apa katamu?" Ale tidak suka mendengar Shera pergi bekerja, sebagaimana yang Ale ketahui dari salah satu ayahnya, jika Shera bekerja sebagai penyanyi di cafe dan club malam.
"Saya berjanji akan membayar, tolong..." Shera memohon.
"Kamu sanggup membayar biaya rumah sakit secara utuh?"
"Saya.. akan usahakan." Shera menjawab mantap.
"Kau sudah tau berapa tagihan ayahmu sampai hari ini, jika saja kau tidak menjual kedua ginjalmu?" Ale menatap tajam Shera, "belum untuk kedepan. Ayahmu koma untuk jangka waktu yang tidak bisa diprediksi."
"A-apa? Eh... be-berapa semua?"
"Tidak perlu kusebut nominalnya. Yang perlu kau tahu, meskipun kau bekerja 24 jam nonstop seumur hidupmu, itu tetap tidak cukup." Aleron mengamati wajah pias Shera. Gadis itu terlihat kalut.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" Shera memejamkan matanya erat, tidak sanggup membayangkan jika semua alat penunjang kehidupan sang ayah dilepas.
"Aku punya solusi, jika kau bersedia." Ale berkata datar, sama sekali tanpa ekspresi.
"Apa? Katakan, apapun itu saya akan berusaha melakukannya!" Shera menjawab tanpa berpikir.
"Bekerjalah padaku. Aku akan menanggung seluruh biaya rumah sakit ayahmu begitu pun segala kebutuhanmu." Ale menatap langsung ke dalam mata Shera. Ale melihat jelas keterkejutan di wajah gadis itu.
"Pekerjaan semacam apa itu?" Shera bertanya was-was, "jika harus menjual diri, maaf saya tidak bisa. Ayah tidak akan pernah ridho jika saya melakukan hal rendah semacam itu."
"Tidak! Aku tidak tertarik pada d**a-mu yang seukuran anak kelas lima SD," Ale menjawab keji. "Kau hanya perlu mematuhi segala perintahku."
"A-apa? Perintah?" Shera bingung.
"Hmm."
"Apa semacam b***k?" Shera mendelik, "tapi Anda sudah membeli dua ginjal saya dan menjadikan saya tawanan?"
"Ya. Dan kali ini aku membeli seluruh kehidupanmu, bagaimana?" Ale menatap Shera tanpa berkedip, ia senang melihat wajah Shera kembali memerah dan berwarna, "pikirkanlah, kuhitung sampai tiga, jika kau menjawab tidak, terpaksa aku harus mele..."
"Baik, saya bersedia... tolong jangan dilepas semua alat penunjang kehidupan Ayah." Shera buru-buru menjawab. Yang ia tahu, pria di hadapannya ini kejam, tidak berperasaan dan tidak main-main dengan ancamannya. Buktinya, hanya tertidur di mobilnya saja, pria itu sudah meminta hatinya.
"Bagus." Ale menjawab datar, meski dalam hati melonjak gembira.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Pijat pundak-ku."
"Pi-pijat?" Shera bertanya heran.
"Iya, pundaku kaku sekali, cepat!" Ale berteriak sambil membalikan badan. Saat ini punggungnya menghadap Shera.
"Baiklah." Shera menjawab pasrah. Shera menghela napas pelan. Ia tahu, dengen menyetujui penawaran Aleron, ia tidak lagi memiliki kebebasan, harga diri ataupun cita-cita. Namun, ia harus rela demi sang ayah.
***
Ale memencet bel beberapa kali. Saat ini dirinya bersama Shera sedang berada di rumah Om Bian, salah satu sahabat sekaligus asisten pribadi ayahnya. Ale sudah berjanji akan datang, maka ia pun datang. Shera berdiri di belakang pungungnya membawa parcel buah, yang mereka beli saat dalam perjalanan kemari.
Pintu terbuka. Seorang pembantu menyapa mereka. "Mas Ale? Ibu ada di halaman belakang, silakan masuk."
"Baik, terima kasih, Bik." Ale memberi isyarat pada Shera agar mengikutinya.
Ale masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke halaman belakang. Ia sudah sering berkunjung kemari, bahkan menginap, jadi semua penghuni rumah termasuk pekerjanya sudah hafal dengannya. Rumah ini sudah seperti rumah kedua bagi Ale juga kelima adiknya. Dan entah karena alasan apa, hari ini dirinya datang dengan membawa Shera.
Sampai di halaman belakang, Ale melihat Tante Henara sedang menyiram bunga di pot-pot kecil. Beliau tidak menyadari kehadiran Ale dan Shera, karena duduk membelakangi mereka. Ale berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara, kemudian menutup kedua mata Tantenya itu.
"Siapa?" Henara bertanya sambil tersenyum. Dari wangi parfumnya, ia sudah tahu jika yang datang Aleron. "Ale?"
"Tante..." Ale melepas tangannya dan berjongkok di hadapan Henara. Ia mencium tangan juga kedua pipinya. "Tante sehat?"
"Seperti yang kamu lihat," Henara tersenyum senang. Ia mengusap kepala Aleron, putra sulung sahabatnya. Henara sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. "Ayo duduk."
Ale melirik Shera yang masih berdiri sambil membawa parcel di pelukannya. "Tante, kenalin ini Shera..." Ale menunjuk Shera.
Shera maju, ia meletakan parcel buah di meja dan ikut berjongkok di samping Ale. Ia mencium tangan Henara juga kedua pipinya, "saya Shera, tante.."
"Tante Henara, Hmm, bisa dibilang ibu keduaku," Ale menjelaskan datar.
Henara menitikan air mata mendengar Ale menyebutnya sebagai ibu kedua. Ia bahagia mendengarnya, "terima kasih sayang." Herana mengusap kepala Ale. "Ahh, iya... siapa Shera ini?" Ia bertanya pada Ale.
"Apa?" Ale cengo. Tak menyangka pertanyaan itu akan terlontar dari tantenya, karena Ale sendiri bingung bagaimana menyebut statusnya dan Shera.
Henara melihat ada semburat merah di wajah Ale. Ia tertawa renyah, tapi tak ingin mendesak lagi. Henara yakin sekali Shera adalah gadis yang penting untuk Ale, jika tidak, mana mungkin Ale membawanya kemari? "Ya sudah, ayo masuk dulu, kebetulan tadi tante bikin kue."
Ale mengangguk dan mendorong kursi roda Henara masuk ke dalam rumah, diikuti Shera di belakangnya.
***