Terima Kasih Ayah

1478 Words
Ale yang sudah terjaga, kembali memejamkan mata, purapura tidur karena melihat Shera mulai bangun. Ia mengintip sedikit melalui celah matanya. Shera terlihat kebingungan. Ale ngakak dalam hati melihat wajah cengonya. Shera terkejut bercampur ling-lung saat bangun dan menyadari dirinya tengah berbaring di d**a Aleron. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Shera bergegas menyingkirkan tubuhnya dari d**a Aleron. Ia merebahkan diri di samping Aleron sembari mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Perlahan, kilasan memori saat dirinya merayu dokter patung itu berputar di ingatannya. Benarkah seperti itu kejadiannya? Atau cuma mimpi? Shera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia terisak mengingat betapa murahan dirinya, menyodorkan diri pada laki-laki. Sekalipun Ale adalah suaminya tapi, tetap saja mereka menikah karena terpaksa. Shera sendiri tidak mengerti, mengapa dirinya bisa menjadi begitu jalang? "Apa yang terjadi?" Ale bertanya, pura-pura terkejut. Jantung Shera rasanya mau copot mendengar suara Ale. Bagaimana ini? Ia bersembunyi di balik selimut sambil menggigit bibir. Ya Tuhan, apa yang harus dilakukannya sekarang? Ingin rasanya ia lenyap dari muka bumi saat ini juga. Berelut dengan pikiran dan kekhawatirannya, Shera terkejut, saat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap. Aleron menatapnya tajam. "Eh, hehehe... pagi." Shera tersenyum kecut. Ale memasang wajah dinginnya. Ia menatap tajam Shera yang tidak menyadari sebagian tubuhnya ter-ekspos karena selimutnya tersingkap. "Kau mencuri keperjakaanku?" Ale bertanya dingin, padahal sesungguhnya ia ngakak dalam hati. "Apa?!" Shera terkejut, "bukankah di sini aku korbannya?" Shera menjawab sengit. Air matanya mulai bercucuran. "Kau yang terus meminta tolong padaku! Menurutmu apa yang harus kulakukan!" Bentak Ale, "justru karena menolongmu, aku kehilangan kesucianku." Ale mengatakan dengan nada kesal. Shera menghentikan isak tangisnya. Ia menatap Ale cengo seraya berkedip beberapa kali, bingung. "Maaf," ucap Shera akhirnya. Mungkin memang dirinya yang salah. "Apa dengan maaf, bisa mengembalikan kesucianku?" Ale mendengus. "Lalu aku harus bagaimana?" Shera bertanya putus asa. Ia pun sangat menyesali kebodohannya. Shera ingat jika semalam memang dirinya yang terus merayu dan memohon pada Ale untuk menyentuhnya di mana-mana. Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya semalam? "Kau harus bertanggung jawab!" bentak Ale. "Iya, aku akan bertanggung jawab." Shera menunduk, "tapi, bagaimana caranya?" "Jika dia menginginkan, kau harus bersedia memenuhinya." "Apa?!" Shera membelalak, "itu tidak mungkin." "Lalu harus meminta pada siapa, jika kau pelakunya?" Ale mendelik. Shera diam beberapa saat. Berpikir. "Baiklah." Shera menjawab dengan suara serak, menahan malu juga tangis. Matanya berkaca-kaca. Ale maju mendekati Shera. Sepertinya, bercandanya kali ini keterlaluan. Ia memeluk Shera, dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. "Maaf." Ale mengusap punggung dan rambut Shera, berusaha menenangkan. s**t! Tindakan gentle-nya justu membuatnya ingin lagi mendengar desahan Shera yang memanggil namanya. Ale merebahkan Shera dan mengungkungnya. Ia mengusap air mata di pipi istrinya, kemudian mengecup kedua mata Shera, berlanjut ke semua wajah Shera. Untuk pertama kalinya, Ale tersenyum lembut pada istrinya. "Dia minta lagi, boleh?" Ale menatap Shera hangat. Shera diam cukup lama, sebelum kemudian mengangguk pasrah.                                                                                     *** Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Shera terbangun mendengar suara bel di kamar yang terusterusan berbunyi. Ia melirik ke arah sebelah, Ale masih pulas dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. "Ale, bangun...!" Shera menggoyang lengan Ale. Sejak semalam Ale berulang kali meminta Shera menyebut namanya, jadi Shera pikir Ale tidak akan keberatan jika mulai sekarang ia memanggil hanya namanya. "Kenapa?" Ale membuka matanya yang masih setengah mengantuk. "Sepertinya ada tamu." Ale duduk sambil mengucek matanya, "siapa pagi buta begini sudah datang?" Ale memakai celana dan kaosnya sambil menggerutu, karena dirinya baru saja bisa tidur beberapa menit yang lalu. Berjalan tersaruk ia menuju pintu dan membukanya. "Halo sayaaang... maaf, Nenek menganggu pagi buta begini." Marina nyelonong masuk ke dalam diikuti oleh Julian, Carmila juga Aidan. Mereka semua langsung duduk di sofa, di sudut ruang kerja Ale. "Shera masih tidur?" Carmila Blackstone bertanya lembut pada putranya. "Eh, tidak Bunda, Ale panggil sebentar," ujar Ale sambil melangkah ke kamarnya, tapi sang Bunda menahan tangannya. "Tidak usah, biarkan dia istirahat." Sang Bunda tersenyum penuh pengertian. Ale menarik kursi dan duduk berhadapan dengan kedua orangtua juga kakek dan neneknya. Sepertinya ada urusan mendesak, sampai mereka datang subuh begini. Pintu kamar terbuka. Shera keluar kamar mengenakan kemeja Ale yang ada di almari, ia mengambil sekenanya saja. "Siapa yang daa..." Shera tak dapat menyelesaikan ucapannya. Ia begitu terkejut karena ternyata di kantor Ale sudah banyak orang, Ayah mertua juga kakek mertuanya ikut datang kemari. Shera tersenyum salah tingkah sembari mendekat dan mencium tangan mereka satu per satu, "maaf, saya tidak tahu.." "Tidak apa-apa sayang, duduklah." Carmila tersenyum lembut. Ale berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk Shera, sementara ia duduk di tepian kursi. "Kau sudah membuka amplop yang ayah berikan semalam?" Aidan Blackstone bertanya pada putranya. "Belum." "Buka dan bacalah dulu." "Apa sepenting itu sampai Ayah haus datang sepagi ini untuk memastikan apa aku sudah membuka isinya?" Aidan Blackstone terkekeh geli mendengar nada sarkas sang putra. "Sudah jangan banyak bicara, buka saja. Ayah janji setelah ini kau bisa bebas melakukan apapun dengan istrimu." Ia melirik ke arah menantunya. "Kanda, masih pagi jangan mulai...!" Carmila menegur sang suami. Malas mendengar ucapan ngelantur sang ayah, Ale memilih masuk ke kamar untuk mengambil amplop pemberian sang ayah semalam. Ia membukanya. Ternyata dua buah lencana keluarga Blackstone, yang pada masing-masing lencana sudah terembos nama Aleron Blackstone dan Shera Blackstone. "Ini untuk apa?" Ale kembali sembari memegang dua lencana Blackstone. "Itu hadiah dari Ayah, untuk bulan madu kalian," jawab Aidan, "dengan lencana itu, kalian bisa bepergian ke mana saja tanpa perlu membawa uang dan identitas lain. Cukup tunjukan lencana itu." Aidan menjelaskan. "Iya, itulah salah satu kejeniusan ayahmu. Ia bisa mencipatakan program di dalam lencana itu yang bisa digunakan di mana saja, baik di hotel di seluruh dunia, mall, restoran dan di mana pun." Julian ikut menjelaskan. "Eh, terima kasih Ayah." Ale tidak tahu lagi harus mengatakan apa. "Sabtu malam, kalian berangkat. Jet pribadi sudah Ayah siapkan, rundingkan sendiri bersama istrimu ke mana tujuan kalian." Aidan menjelaskan. "Oya, sebaiknya kalian nanti pulang, supaya persiapannya lebih baik. Shera kan juga perlu mencoba gaun pengantinnya," Marina Blackstone terlihat antusias sekali, "karena acaranya mendadak jadi nenek memutuskan untuk membeli gaun pengantin yang sudah jadi saja." Ia menatap cucu menantunya meminta persetujuan. "I-iya, Nek." Shera menjawab kikuk. "Baiklah, sepertinya mulai sekarang kamu sudah bisa lepas dari pengawasan Ayah, " Aidan Blackstone bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Ale. Ia memberi isyarat pada Ale agar mendekat padanya. "Kemarilah." Ale mengikuti peritah sang Ayah. Ia berdiri berhadapan dengan ayahnya. Ale heran sekali, melihat sang Ayah mengamati wajahnya. Semakin lama semakin dekat. Apa ayahnya akan menciumnya? Plak! Itu tidak mungkin, bodoh! "Ayah?" "Jangan bergerak!" Aidan membentak. Ale kembali berdiri diam. Beberapa saat kemudian, Aidan Blackstone menarik sesuatu dari kelopak mata Ale. Awalnya Ale pikir itu adalah bulu mata. Ternyata bukan. Benda itu kecil tipis, menyerupai bulu mata? "Kau bebas, sekarang." Aidan tersenyum pada putra sulungnya itu. Ale diam. Inikah yang dimaksud Om Bian beberapa waktu lalu? Ayahnya telah memasang semacam chip berukuran sangat kecil pada tubuh istri dan putra-putrinya. Chip itu berfungsi untuk merekam segala aktifitas dan kegiatan mereka dan terhubung dengan perangkat milik Aidan. Sifatnya hampir mirip dengan satelit. "Ayah..." Ale tak bisa mengungkapkan perasaannya pada sang Ayah. Ternyata sampai sebesar ini kasih sayang ayahnya terhadap dirinya. "Terima kasih banyak." ujar Ale. Aidan tersenyum miring, "Ayah pernah menjadi se-usiamu." Ale merangsek maju dan memeluk sang Ayah. "Kau tidak berterima kasih secara khusus, atas kado yang Ayah berikan semalam?!" Aidan bertanya dengan nada tersinggung. "Apa?" Ale cengo.                                                                                         *** "Ale... kita terlambat!" Shera yang sudah berpakaian rapi menolak, ketika Ale masih berusaha mencumbunya. Siang ini mereka harus pulang ke kediaman Blackstone untuk persiapan pernikahan mereka besok. "Sekali lagi, please..." Ale memohon. Shera menghela napas keras. Heran sekali, mengapa Ale seperti tidak ada puasnya. Entah sudah berapa kali sepagian ini, Shera menuruti kemauan Ale. Bahkan, ketika mandi pun, Ale masih sempat meminta. Dan sekarang, ketika mereka sudah berpakaian rapi dan siap berangkat, Ale masih saja merengek seperti bayi meminta mainan. "Please... aku akan menghubungi Bunda dan mengatakan jika kita terlambat datang." Ale memelas, "sebentar saja..." "Terserah saja." Shera menyerah. Ale tidak akan berhenti merayu sampai dirinya mengatakan 'ya'. Ale tersenyum penuh kemenangan. Ia mengangkat tubuh Shera dan merebahkannya di kasur. Ale melucuti pakaian Shera juga dirinya sendiri. Ia mengungkung sang istri dan mulai mencumbunya. Mencecap setiap rasa dan aroma Shera. Sesaat kemudian Ale berhenti dan menatap Shera. "Apa aku boleh mengikat kedua tanganmu?" "A-apa?!" Shera terkejut dengan pertanyaan Ale. Ale mengambil ikat pinggang di lantai. "Ke-kenapa?" Shera menatap ikat pinggang Ale, ngeri. "Hmm, aku senang melihatmu pasrah dan tak berdaya di bawah kuasaku. " Ale tersenyum setan sembari mengangkat kedua tangan Shera, dan mengikatnya di kepala ranjang. "Kamu tidak akan menyakitiku bukan?" Shera bertanya takut. "Tentu saja tidak!" Ale meyakinkan. Ia melihat Shera dengan perasaan puas. Ale mulai mencumbu Shera lagi. Kali ini, ia lebih leluasa karena Shera tidak bisa menolaknya. Hanya rintih dan desah kenikmatan yang keluar dari bibir Shera. Sebentar yang dikatakan Ale ternyata berjam-jam. Alhasil mereka baru datang ke rumah orangtua Ale saat makan malam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD