Malam Pertama

1148 Words
    Shera melirik Ale, canggung. Setelah semua keluarga Blackstone pamit, tinggal mereka berdua di ruang perawatan Ayahnya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada pria patung yang saat ini telah resmi menjadi suaminya itu, tapi Shera bingung mau memulainya darimana.     "Ehh... a-apa menikah juga termasuk pekerjaan saya?" Shera bertanya takut.     Aleron yang sedang bergelut dengan ponselnya, menoleh dan menatap Shera. "Menurutmu?" Ale balik bertanya.     Shera mendengus pelan. Ditanya baik-baik malah balik nanya. Dasar makhluk planet! Biarlah, Shera tak peduli, mau itu pekerjaan atau bukan juga terserah! Yang penting, ia melakukan semua itu demi ayahnya tercinta. Ia berharap semoga ayahnya lekas sadar dan dirinya bisa segera terbebas dari dokter sadis itu. Shera mengambil air segelas air mineral di atas meja dan meminumnya. Rasanya sedikit aneh. Apa sudah masuk expired? Shera membolak-balik minuman itu, mencari tanggal kadaluarsanya. Masih lama. Kenapa bisa pahit begini?     Ale yang melihat Shera membolak-balik minumannya, merasa heran. Apalagi yang dilakukan gadis itu? "Kenapa?"     "Tidak, hanya saja rasa air mineral ini sedikit aneh."     "Coba kulihat!" Ale merebut minuman di tangan Shera dan melihat keterangan di sana, "Oh, ini air Reverse Osmosis, memang rasanya agak pahit." Aleron menjelaskan.     "Benarkah?" Shera memang tidak tahu.     "Hmm, seperti air oksigen kan memang sedikit aneh jika tidak terbiasa meminumnya."     "Ohh, ya sudah." Shera mengambil lagi minumannya di tangan Ale dan menghabiskannya. Ia memang haus sekali, dan kebetulan minuman itu ada di meja, entah siapa yang meninggalkannya di sana. Pasti salah satu dari patung Blackstone. Siapa yang peduli? Shera terkikik dalam hati.     Setelah menegak minumannya sampai habis, Shera merebahkan tubuhnya di sofa sambil membaca buku. Ia melepas jaket yang sejak tadi dipakainya karena merasa gerah, dan kembali bergelut dengan buku yang dibacanya.     Ale melirik Shera cuek. Ia sedang membalas beberapa pesan yang masuk via email, ketika ada satu pesan masuk via whatsappnya.      Selamat menikmati! Ayah janji, kali ini akan memberimu privasi. ·__·     Ale mengernyitkan dahi membaca pesan dari sang ayah, tidak mengerti apa maksudnya. Aneh sekali. Saat itulah, indera pendengarannya menangkap rintih pelan Shera. Ale menoleh. Matanya membelalak melihat Shera yang menggeliat dan mengerang di sofa panjang. Ale berjongkok di lantai, ia menepuk-nepuk pipi Shera.     "Shera... ada apa?"     "Tolong..." suara Shera putus-putus.     Ale kelimpungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia lupa jika dirinya adalah seorang dokter. Tubuh Shera banjir keringat, padahal suhu AC sudah yang paling rendah.     "Panaas... tolong..." Shera merintih.     Ale memegang dahi Shera. Tidak panas. "Bagian mana yang sakit?"     "Tolong..." Shera menatap Ale dengan pandangan mata berkabut, meminta pertolongan. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Tiba-tiba saja ia merasa sangat kepanasan, jantung berdebar-debar dan haus.     "Katakan yang jelas, bagian mana yang sakit!" Ale berteriak tak sabar.     "Akuuhh... ti-daaak tahuu..." Shera menjawab terbata.     Ale ingat sejak pagi, Shera hanya makan sedikit bubur. Mungkin lambungnya. Ale memeriksa perut Shera dan menekan beberapa bagian di sana.     "Apa di sini yang sakit."     Shera merintih pelan, kemudian menggeleng.     "Yang ini?"     "Ti-daaak..."     Ale bingung, "apa ini waktunya kau datang bulan?"     "Sudaaah beberapa hari laluuhh..." Shera memejamkan matanya rapat. Tubuhnya terasa tidak karuan.     Apa keracunan? Ale mengambil bekas tempat minum Shera di meja dan melihat lagi kadaluarsanya. Masih lama. Ia mencium bau gelas itu. Tidak ada yang aneh. "Kau beli di mana air minum ini?" Ale bertanya.     "Tolong... sakiitt..." Shera menggeliat.     Ale tersentak. Ia teringat pesan yang baru beberapa saat yang lalu masuk ke ponselnya. Ia bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi satu nomor. Tidak sampai nada tunggu kedua, panggilannya sudah dijawab.      "Ada apa? Kau tidak tau caranya? Menyedihkan!" suara di seberang sana menjawab.     "Apa yang ayah lakukan pada Shera?"      "Tidak ada! Ayah hanya lupa membawa minuman yang seharusnya untuk Bundamu."     "Ayaaaah!" Ale geram, "berapa dosis yang Ayah campurkan!?" Ale bertanya gusar. Ia sudah bisa mencium akal licik sang ayah, pasti dalam minuman tadi sudah dicampur obat.      "Cukup untuk sepanjang malam. Hahaha..."     "Aku tidak mau memakai cara seperti ini, Ayah!"      "Kalau begitu abaikan saja sampai efek obatnya memudar."     "Shera tersiksa!" Ale berteriak.      "Kau tahu cara menolongnya. Sudah, Ayah ada perlu dengan Bundamu. Selamat berjuang."     "Ayah!"     Aidan Blackstone memutus sambungan telepon.     Ale mengacak rambutnya frustrasi. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Ia tak tega melihat Shera menggeliat kepanasan dan tersiksa, tapi.... Ia pun berjongkok di samping Shera sembari mengusap keringat di dahi Shera.     "Tolong..." Shera menatap Ale, memohon pertolongan.     "Badanmu sakit semua?" Ale bertanya dengan suara serak, yang dijawab anggukan kepala oleh Shera. "Aku pijit saja." ujar Ale. Ia bertekad untuk tidak memanfaatkan kondisi Shera. Ia akan menemani Shera sampai efek obat perangsang itu menghilang dengan sendirinya. Ia tahu, dengan atau tanpa persetujuan dari Shera, dirinya berhak atas Shera, karena dia sudah sah menjadi istrinya. Tetapi tetap saja, Ale tidak mau memakai cara kotor untuk mendapatkan haknya.     Shera merintih dan mendesah setiap Ale menyentuh dan memijat tubuhnya. Entah mengapa, tubuhnya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan Ale. Ia semakin ingin ingin disentuh lagi dan lagi. Keinginannya semakin lama semakin menuntut.     "Ale... please..." Akal sehat Shera mati. Ia dengan beraninya memanggil dokter Aleron hanya dengan Ale saja.     Ale kelimpungan. Suara Shera yang menyebut namanya terdengar sexy dan menggoda. Sepertinya, sebentar lagi pertahanannya akan runtuh.     Shera menggulingkan tubuhnya dan jatuh di pangkuan Ale yang bersimpuh di lantai. Ia menyandarkan kepalanya di d**a Ale. "Ale..." Shera merengek.     Ale mengembuskan napas keras. Ia menyerah. Miliknya di bawah sana pun semakin keras dan mendesak, meminta perhatian. Ale memegang dagu Shera dan menatap gadis itu tajam. "Kau yakin ingin melakukannya?"     "Apaah?" Shera hanya bersandar lemas di d**a Ale.     "Baiklah, aku akan membantumu, tapi tidak di sini." Ale menatap Shera dengan lembut, "kita ke ruanganku." ujar Ale sambil mebempelkan bibirnya di bibir Shera. Gadis itu melenguh keras saat Ale mulai memperdalam ciumannya. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Ale dan mengerang, protes, saat Ale melepaskan ciuman mereka.     "Sabar." Ale tergelak. Ia berdiri kemudian mengangkat tubuh Shera, membawanya ke ruang pribadinya.                                                                                                      ***     Ale melirik jam di dinding kamarnya, di rumah sakit, sudah pukul 3 pagi. Ia memang memiliki kamar pribadi di rumah sakit ini, sebagai tempat istirahat ketika pekerjaan di rumah sakit menuntutnya untuk lembur atau stand by ketika ada pasien yang berada dalam pengawasan ketat. Ia mengamati Shera, istrinya yang saat ini sudah bisa tertidur pulas di pelukannya. Sisa-sisa air mata yang mengering terlihat di wajah sang istri. Pergulatan mereka semalam benar-benar tak bisa dilupakan. Menakjubkan membuat Ale tersenyum sendiri ketika mengingatnya. Pantas saja sang ayah begitu bergantung pada Bundanya. Ternyata seperti ini rasanya? Ale terkekeh sendiri.     Ada rasa hangat yang merasuki diri Ale. Rasa bangga, puas dan bahagia karena dialah yang pertama bagi Shera. Ia merasa bersyukur karena dipaksa menikah dengan Shera, karena ternyata memang jauh di dalam dirinya, Ale pun menginginkan Shera. Hanya saja dirinya terlalu bodoh untuk menyadari itu.      Sekali lagi Ale tersenyum menatap Shera dan menarik sang istri agar lebih merapat padanya. Tak berapa lama, ia pun ikut terlelap bersama Shera.                                                                                                 ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD