Bangun

1034 Words
"Azam, Azam, Azam," ucap wanita yang kini sedang berbaring lemah tak berdaya, tapi dia masih sempat menyebut nama suaminya sebanyak 3 kali. "Izma, kamu sudah sadar Izma, ini aku Ibrahim, ya Tuhan. Aku bersyukur kamu bisa bangun secepat ini," Ibra begitu senang mendengar Izma menyebut nama seseorang, ibra tahu Azam adalah nama suaminya, tetapi Ibra tetap bersyukur, masih bisa menyebut nama itu. Ibra dengan segera menekan bel agar Suster dan Dokter segera datang ke ruangan itu, tanpa menunggu lama Suster itu pun berlarian ke ruangan Intensive Care Unit. "Ada apa, Pak?" Tanya suster tersebut kepada Ibra. Ibra tersenyum dan mengatakan bahwa Izma yg berkata sesuatu. "Baiklah, Pak silakan Bapak tunggu di luar. Kami akan segera memeriksa kondisi pasien," Suster itu berkata sambil menorehkan sedikit senyum yang manis, dengan segera Ia pun menuruti perkataan sang Suster. Dia berjalan keluar dari ruangan Intensive Care Unit. Tetapi 10 menit kemudian Suster itu pun keluar, dan menyuruh Ibra untuk masuk ke dalam ruangan Intensive. "Bagaimana kondisi dari teman saya?" Tanya Ibra dengan penuh harap bahwa Suster dan Dokter akan memberikan kabar yang bahagia untuknya, sebuah kabar baik yang di tunggu selama ini. "Maaf Pak sepertinya tadi alam bawah sadar pasien sedang mengingat seseorang. Bisa saja dia mengatakan sesuatu padahal sebenarnya dia sendiri tidak mengingat hal itu, pasien belum bisa sadar," ucap Suster tersebut menjelaskan kepada Ibra. Ibra begitu sedih mendengar kabar bahwa Izma belum sadarkan diri. Anda yakin bahwa tadi dia mendengar Izma menyebut nama suaminya sebanyak 3 kali. Tetapi kini Izma kembali tertidur dengan lelap, seolah Izma enggan untuk bangun kembali. "Terima kasih Suster, atas bantuannya!" Ucap Ibra kepada Suster tersebut. "Sama-sama Pak, saya permisi dulu ya, kalau ada sesuatu lagi tolong tekan Belnya," Suster itu tersenyum. Lalu dia pergi meninggalkan Ibra sendiri dalam kegalauan. Ibra kini kembali masuk ke dalam ruangan Intensive. Dia berjalan perlahan dan duduk di depan Izma. Pria itu merasa sangat sedih, ketika mendengar ucapan bahwa Izma belum bisa siuman. Rasanya sangat berat untuk dirinya, melihat kekasih hatinya seperti itu. Ibra ingin segera terbangun, agar mengetahui semua kejadian yang telah menimpa Izma, karena Ibra akan membalaskan semua rasa sakit Izma terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada Izma. "Bangunlah Izma aku mohon, bangunlah katakan padaku semuanya, tentang dirimu. Katakan padaku siapa yang telah membuat kamu seperti ini, aku sungguh penasaran kenapa orang sebaik kamu bisa mempunyai musuh yang sangat berat, seperti itu. Hingga hampir membunuh dirimu," Ibra kini menggenggam tangan Izma dengan lembut, Ibra sengaja melakukan hal itu agar Izma membalas reaksinya. Tetapi sayang sekali tidak ada balasan reaksi sedikit dari Izma. "Azam, Azam," wanita itu kembali menyerahkan nama sang suami. Matanya terpejam tapi Air mata tiba-tiba saja menetes pada pipinya. Walaupun dalam keadaan koma, masih saja meneteskan air mata. Suara halusnya terus menyerahkan nama Azam dan membuat Ibra benar-benar merasa sedih kenapa Izma masih belum sadarkan diri juga. "Bangunlah Izma. Aku berjanji akan mempertemukan dengan suamimu. Yang penting kamu bangun dulu jangan seperti ini!" Pria itu meneteskan air matanya, dia benar-benar merasa sedih karena kasihan kepada wanita yang kini berada di hadapannya. Wanita yang bahkan membuka matanya pun tidak sanggup, selalu berharap bahwa Izma akan segera bangun. "Haruskah aku mempertemukanmu dengan suamimu, tetapi aku tidak sanggup mempertemukan kalian berdua karena aku yakin suamimu yang telah membuat kamu seperti ini," ucap Ibra dengan tetesan air matanya, dia benar-benar sedih melihat kondisi wanita yang sangat dia cintai, terpuruk seperti ini lemah lemah tak berdaya dan hampir mati. Tetapi tiba-tiba saja Izma membuka matanya dengan perlahan. Wanita itu melihat kearah sekelilingnya, dan dia melihat ada seorang laki-laki tengah menangis menitikan air matanya, sambil menggenggam tangannya dengan begitu erat. Dengan perlahan Izma menatap pria itu agar bisa mengenali pria tersebut. "Ibra," suara yang lembut itu menyerukan nama Ibrahim dan membuat Ibra tersentak. Pria itu dengan segera menatap kearah Izma. Alangkah terkejutnya dia melihat wanita yang sangat ia khawatir ini terbangun menatapnya. "Izma, kamu bangun, kamu bangun Kamu bangun, apa ini bukan ilusi?" Ucap ibra begitu terkejut melihat wanita yang ada di hadapannya terbangun. Pria itu benar-benar tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan, saking dia mencemaskan Izma siang dan malam. "Ibra," sekali lagi Izma berkata dengan pelan. Dia menyerahkan nama pria yang berada di hadapannya kini. "Iya Izma ini aku Ibra. Adakah yang kamu inginkan, ce-ce cepat katakan padaku," Ibra sedikit gagap ketika membalas perkataan Izma. "Azam, mana Azam?" Wanita itu mempertanyakan keberadaan suaminya, air mata tiba-tiba menetes di mata wanita itu lalu dia pun mencoba untuk bangun tetapi tidak bisa. "Aku tidak tahu suamimu berada di mana, saat itu aku menemukanmu terjatuh dari tangga, dengan keadaan yang sangat parah, lukamu telah mengeluarkan banyak darah dan," Ucapan Ibra terhenti. "Dan apa?" Izma mengerutkan keningnya dengan suara yang begitu pelan. "Sudahlah, lupakan," "Sudah berapa lama aku di sini?" Wanita itu benar-benar lemah. "Sudah hampir satu bulan kamu di sini, Ah iya Aku harus memberitahukan Suster bahwa kamu sudah siuman," ucap Ibra dengan segera menekan tombol, agar segera datang menghampiri mereka. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya seorang Suster datang menghampiri mereka. Suster itu tersenyum manis ketika melihat pasiennya sudah keluar dari masa kritis, dan sudah bangun dari koma. Dengan segera suster itu memberikan pemeriksaan kepada wanita tersebut. "Sangat bersyukur anda bisa selamat dari tragedi kecelakaan itu. Walaupun memang kondisi anda saat ini sudah terluka, begitu parah," ucap Suster itu dengan senyuman yang manis kepada Izma. "Tanganku, kakiku juga tidak bisa bergerak. Apa yang terjadi?" Izma berkata dengan sangat lemah. "Anda harus bersyukur bahwa anda sudah terbebas dari maut. Anda datang ke rumah sakit dengan kondisi yang sangat parah, tulang tengkorak anda retak, tangan dan kaki anda pun patah. Anda juga telah kehilangan janin anda, anda keguguran," tutup Suster tersebut menceritakan kronologis kejadian. "Apa maksudnya, apa iya aku keguguran, jangan bercanda seperti itu kepadaku!" Gadis itu berkata begitu pelan. Bibirnya bergetar air matanya menetes, tanpa bisa di bendung lagi. Ucapan keguguran benar-benar telah membuat dia sedih dan menderita. Wanita itu bisa menggerakkan salah satu tangannya, dan menyentuh ke arah perutnya sendiri. Saat itu tetesan air mata benar-benar dia keluarkan dengan begitu deras, dia menangis sejadi-jadinya, sambil memegang perutnya. Wanita itu menangis saat kuat, tenaganya sungguh sangat lemah, dia sedih mendengar bahwa bayinya kini sudah tidak ada lagi di dalam rahimnya. Semoga Izma bisa menghadapi semuanya dengan kuat. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD