Tubuh yang gemetar, di sela-sela ketakutan dan kekecewaan bercampur menjadi sebuah tangis yang memilukan. Dia meronta di antara relung hatinya yang patah. Dia menangis di antara duka derita yang dia rasakan. Bukan cuma tubuhnya yang hancur, tetapi hatinya pun sudah tidak bisa berbentuk lagi.
Beribu luka dia rasakan seolah ratusan pedang telah menusuk hatinya. Lirih dan sendu sudah merasuk ke dalam jiwanya. Dia tak kuasa menanggung semua derita yang di rasa.
Sesuatu bahkan itu, adalah seseorang yang diharapkan tumbuh besar dalam rahimnya, kini telah tiada. Sebuah luka yang sangat besar mengucur deras mengeluarkan banyak darah kesakitan. Wanita itu benar-benar terpuruk karena kehilangan bayinya.
Sebuah janin yang Bahkan masih sangat kecil dan tak berdosa, kini telah tiada karena ketamakan seseorang. Wanita itu menangis menjerit sejadi-jadinya ketika mengingat sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya telah tiada. Tangisan itu begitu lirih semua yang mendengar pasti menitikkan air matanya.
"Izma sudahlah jangan menangis lagi, jangan seperti ini aku tidak tega melihatmu terpuruk seperti ini!" Pria tampan itu benar-benar tidak tega melihat wanita yang sangat dia cintai menjerit, meratapi nasibnya yang pilu.
"Bayiku-Bayiku. Kenapa dia meninggalkan aku? aku bahkan belum sempat belum sempat melihat wajahnya. Dia pergi meninggalkan aku dalam kesendirian Aku tidak punya siapa-siapa lagi, selain bayiku," wanita itu sekali lagi menjerit berteriak tak karuan, sambil memeluk perutnya sendiri mengelusnya dengan begitu lembut, seolah-olah disana masih tersimpan buah hati kesayangannya.
"Sabarlah Izma, Tuhan lebih menyayanginya dan Tuhan berkehendak lain, kita hanya manusia hanya bisa bermain peran dengan sebaik-baiknya, tetap semuanya, Tuhan yang menentukan," Ibra menggenggam erat tangan wanita yang kini sedang tersakiti itu.
Pria tampan berusia 24 tahun itu benar-benar tidak tega melihat wanita yang dia kasihi menangis dalam sendu.
"Kenapa Tuhan tidak adil padaku? Kenapa Tuhan selalu mengambil orang yang aku sayangi, mengambil Ayah diriku, baru saja dia juga Mengambil buah hatiku, Tuhan juga memberikan aku suami yang bukan sepenuhnya milikku, aku ingin memiliki dia seutuhnya. Aku ingin memiliki seseorang yang hanya bisa kumiliki sendiri, aku tidak bisa terus melanjutkan ini," Izma menangis dalam keterpurukannya, dia meratapi nasibnya yang begitu sial karena selalu saja di tinggalkan orang yang paling dia sayang.
"Apa maksudmu dengan suami_," Ibra menghentikan kata-katanya, mencoba untuk mencerna semua yang Izma katakan sampai akhirnya Ibrahim mengerti bahwa apa yang dikatakan Izma adalah semua rahasia tentang hidupnya.
"Dia bukan milikku seutuhnya, aku telah mengambil milik orang lain, dan itu adalah kesalahanku, dan kini kesalahan terbesarku adalah mencintai pria itu. Betapa bodohnya aku malah mencintai pria yang harusnya aku musuhi, mencintai pria yang harusnya aku jauhi, sehingga aku terluka seperti ini," kembali lagi nangis itu pun membuat suasana riuh di ruangan itu, Suster pun datang melihat keadaan Izma Suster menyarankan agar Izma tidak terlalu histeris dan menangis.
Tetapi wanita itu benar-benar tidak bisa melakukannya. Hanya bisa terus menangis meraung-raung karena hatinya begitu sakit, dia bahkan kini menjadi orang yang tak sanggup untuk menggerakkan tubuhnya, apalagi gerakan hatinya kembali kepada Azam.
"Jadi kamu menikah dengan pria yang sudah beristri?" kata Ibra dengan suara yang pelan, namun penuh dengan tanda tanya. Kening Ibra mengerut ketika itu, dia mengharap sebuah kawaban yang pasti dari Izma, karena menurutnya itu semua begitu membingungkan.
"Iya, dia menikah denganku, menjadikan aku istri keduanya, ini sungguh memilukan. Aku pikir dan tidak bisa memiliki seutuhnya," wanita itu terus menitikkan air matanya kesakitan dalam hatinya, dia sungguh tak bisa menghentikan tangis, dia terus menangis karena hatinya begitu teriris luka, yang dia rasakan saat ini begitu dalam. Sehingga dia tak sanggup untuk menghentikan suara tangisnya.
Ibra langsung berpikir, mengerutkan dahinya, seolah-olah dia mengetahui sesuatu hal. Pria itu mengambil kesimpulan dengan sangat cepat.
"Apakah istri pertama dari suamimu yang telah mendorongmu dari tangga?" Tanya Ibra yang mata yang memicing, mengharapkan Sebuah Jawaban pasti dari wanita yang sekarang sedang bergetar dengan tangisannya.
Izma menghentikan tangisannya dia menatap kearah Ibra, dan dia pun mengangguk kembali menangis meraung-raung. Wanita itu tak sanggup berkata, Ia hanya memberi sebuah anggukan yang bisa di berikan kepada Ibrahim. Dia benar-benar merasa takut mengingat kejadian tersebut.
"Kurang ajar, kurang ajar, aku akan membunuh wanita itu, wanita yang telah melukaimu!" Tangan Ibra mengepal dengan sangat kuat. Wajahnya memerah menahan semua kemarahannya. Dia begitu marah pada wanita yang telah membuat Izma menderita seperti ini.
"Bayiku, aku harus apa? Aku telah kehilangannya, bayiku, anakku. Aku hanya punya dia, aku harus apa, aku sekarang bahkan tidak bisa bangun, tidak bisa melakukan apapun, aku harus bagaimana?" Kembali tangis itu memecah semua keheningan, membuat Ibra benar-benar tersentak. Pria itu meneteskan air matanya, saking tidak teganya mendengar ucapan yang Izma katakan.
"Kamu harus sembuh, kamu harus sembuh aku akan membantu membereskan semua rasa sakit hatimu, sembuhlah!" Pria itu mengelus lembut pipi Izma yang basah itu, membuat Izma menatap Ibra dengan tatapan yang sangat pilu.
"Aku harus apa, aku harus apa? Haruskah aku bertemu dengan Azam dan mengatakan semuanya?" Wanita itu benar-benar kebingungan dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia benar-benar merasa kehilangan bayi yang sudah tiada itu.
"Apakah kamu mencintainya?" Ibra menatap tajam kearah Izma, dia ingin mengetahui kebenaran, apakah Izma mencintai sang suami.
"Aku mencintainya. Aku Mencintainya, hiks hiks hiks." kembali tangis itu meriuhkan suasana. Ibra benar-benar mengepalkan tangannya, dia ingin sekali menghajar pria yang disebut dengan nama Azam itu.
"Jika kamu terus bersamanya, kamu akan terus tersakiti oleh istri pertamanya," Ibra meyakinkan bahwa Aliza pasti akan terus menyakitinya, jika Izma terus bersama dengan Azam.
"Aku harus apa, harus apa, huhu huhu ?" wanita itu tidak menghentikan tangisnya kesakitan yang di rasa malah menambah air mata yang menetes di pipinya.
"Ayo kita buat wanita itu menyesal telah menyakitimu!" ucap Ibra sambil menggenggam tangan Izma dengan begitu erat.
Wanita itu terus menangis, sambil menatap Ibra yang begitu menggebu, ingin menemaninya membalaskan rasa sakit hatinya. Isakan tangis pun kini mulai reda. Tetapi air mata Izma tidak kunjung habis.
"Aku ingin bertemu Azam terlebih dahulu,"