Garis merah

1283 Words
Edgar terbelalak hampir saja mengeluarkan suara keras dengan ekspresi yang berlebihan jika tidak menyadari kalau mereka berada di tengah keramaian, "kau serius? Ini bisa jadi masalah besar jika kau membocorkannya pada media dan menjadi skandal yang merugikan untuk perusahaan" "Aku tidak akan melakukannya, aku hanya ingin dia bertanggung jawab dan menikahiku, aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah" Jennifer memasang wajah menyedihkan yang membuat Edgar tersentuh tampaknya akan berhasil. Edgar mengingat kembali istrinya yang berada di Amerika, ketika melahirkan buah hati mereka, dirinya tidak ada di samping sang istri dan itu benar benar menyesakkan, belum lagi untuk beberapa bulan istrinya itu harus mengurus buah hati mereka sendiri. Tiap kali mendapat keluhan dari istrinya Edgar selalu merasa bersalah. Dan, kini ada wanita yang mungkin akan mengalami hal serupa, tapi Edgar tidak akan membiarkannya. "Baiklah aku akan mengantarkan mu ke ruangannya, aku akan membantumu bicara dengan sekretaris tuan Max" Edgar tergerak untuk membantu Jennifer bukan untuk balas budi tapi dia mengiba jika seorang wanita harus berjuang melahirkan dan mengurus anaknya sendiri. "Terimakasih Edgar" wanita itu bisa bernapas lega. "Jangan berterima kasih dulu, aku tidak tahu akan berhasil atau tidak" sanggah Edgar. "Ada satu hal yang ingin ku jelaskan padamu" mata Edgar menatap Jennifer dengan lebih serius, Jennifer mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan perubahan mimik wajah Edgar. Pria itu seperti di liputi ketakutan. "Di dalam ruangan tuan Max kau tidak boleh melewati garis merah, itu adalah area terlarang dan berbahaya" Edgar berkata dengan serius. "Apa dia punya penyakit?" Terka Jennifer. "Bukan, jika kau bertemu dengannya di tempat lain mungkin tak masalah dengan jarak, tapi khusus ruangan pribadinya yang itu kau tidak boleh melewati garis merah yang dia buat, sebelum gedung megah ini di bangun tanah ini dulunya adalah tempat berdirinya sekolah menengah, dan di sekolah itu pula tuan Max mendapat perundungan, aku dengar dia di kubur hidup hidup dan garis merah itu adalah tempat dia terkubur dulu, siapa pun yang melewati garis itu artinya dia menyerahkan hidupnya pada tuan Max" penjelasan panjang lebar dari Edgar membuat kepala Jennifer pusing, wanita itu masih berusaha mencernanya. "Benarkah seseram itu? Kalau begitu dia punya trauma masa lalu, dia membuat delusi dengan patokan garis merah itu, pria bodoh!" Ucap Jennifer sambil menggelengkan kepalanya. "Sekali kau melangkahi garis merah itu, kau menyerahkan seluruh hidupmu padanya" cetus Edgar memperingati. "Hidupku hanya milik tuhan, kenapa aku harus takut pada manusia biasa, sekeras apapun seorang Max itu, dia tetaplah manusia, yang dia butuhkan bukan tumbal untuk pelampiasan kemarahannya atas masa lalu yang buruk...." Jennifer melirik ke arah Edgar berusaha membuat pria itu meyakini kata kata yang akan dia ucapkan, "dia hanya butuh di perhatikan, di hargai, dan di cintai semua itu adalah hal yang tidak dia dapatkan dulu sebenarnya dia hanya menginginkan itu saja" "Kau jenius, aku berharap pria sakit itu cepat sembuh" Edgar mengangguk setuju, seseorang yang tersakiti tidak harus selalu menjadi orang jahat untuk menuntaskan dendamnya. "Bagaimana sikap dan cara dia berkomunikasi dengan orang lain saat sedang meeting atau bertemu rekan kerja? Tanya Jennifer penasaran. "Normal saja, namun ketika marah dia sangat menakutkan" Edgar hafal sekali dengan sikap yang di tunjukkan Max di berbagai situasi, dia cenderung pendiam dan tertutup, berkharisma, juga menakutkan ketika marah, Max termasuk kasar meski dia tidak suka mengotori tangannya untuk menyakiti orang, tapi Max punya cara tersendiri yang membuat seseorang jera berhadapan dengannya. "Sekarang aku yang bertanya padamu, jalur apa kau bisa mengandung benih tuan Max? Cinta, bermain main, uang, atau hanya sekadar one night stand?" Meski pertanyaan itu bersifat privasi namun Edgar sangat penasaran, pria seperti Max tidak mungkin asal pilih wanita yang akan di sentuhnya. "Emmm...one night stand" kilah Jennifer, mendengarnya Edgar hanya mengangguk paham, zaman sekarang sangat lumrah melakukan one night stand. Cukup mengobrol, mereka pun berjalan bersama menuju ruangan Max, masih di lantai satu. Ruangan kerja Max begitu elit, di depan pintu besinya terdapat papan dengan nama pria itu yang di ukir indah dari batangan emas, di seberangnya ada sebuah pintu bercat hitam yang tidak lain adalah ruang pribadi Max yang di keramatkan. Lalu ada kubikel yang lumayan besar di sampingnya, itu adalah tempat sekretaris pribadi Max. Jennifer tidak menyangka kalau sekretaris perusahaan besar tidak memiliki tempat pribadi dan malah berjaga di depan ruangan bosnya seperti seorang resepsionis. "Freddy, wanita ini ingin menemui tuan Max" ucap Edgar pada sekretaris itu, Jennifer hanya tersenyum kaku saat Freddy menatapnya. "Siapa kau? Tuan Max sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu" jawab Freddy dingin. "Tolonglah ini sangat darurat, aku janji akan mentraktirmu seminggu ke depan jika mengizinkannya masuk ke ruangan tuan Max" Edgar merayu nya. "Sudah ku bilang tuan sedang sibuk Edgar, kemarin aku hampir saja di gantung di puncak gedung karena mengizinkan bibi nya masuk, apalagi memasukkan orang asing aku pasti akan langsung di habisi" cetus Freddy menolak paksaan Edgar, dia sudah benar benar kapok bertindak di luar kendali boss nya. Edgar mencondongkan tubuhnya lalu berbisik pada Freddy, "wanita itu sedang mengandung anak tuan Max" Freddy terbelalak mendengarnya, kemudian dia melirik ke arah Jennifer , wanita itu hanya mengangguk lalu mengelus perutnya yang masih rata. "Dia akan segera menjadi nyonya Jefferson" timpal Edgar. "Baiklah kau bisa masuk" Freddy mudah sekali percaya dia pikir Jennifer adalah wanita spesial Max, dia pun menundukkan kepalanya di hadapan Jennifer dan membiarkannya masuk ke ruangan pribadi tuannya. "Edgar, terimakasih kau sudah membantuku" ucap Jennifer sebelum masuk ke ruangan Max. "Ini bukan apa apa, semoga kau berhasil memperjuangkan anakmu, dan ingat jangan melewati garis merah itu" pesan Edgar, pria itu mengusap bahu Jennifer lalu melenggang pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Jennifer mengumpulkan keberanian, mengatur ritme jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, dengan satu tarikan dia membuka pintu itu, kakinya melangkah masuk meski sedikit ragu. Ruangan itu cukup luas dengan interior klasik yang di d******i warna hitam dan putih, di dindingnya terpajang lukisan menyeramkan yang membuat Jennifer hampir menjerit, suasana yang gelap dan dingin memenuhi ruangan itu, beberapa langkah berjalan dia mendapati lampu gantung mewah tepat di atas kepalanya, dan di depannya kini sudah ada meja hitam dengan kursi yang memunggunginya. Jennifer berpikir, mungkin Max duduk disana hanya saja tidak terlihat karena kursi yang lebar, kursi itu sangat besar layaknya singgahsana seorang raja. "Permisi" sapa Jennifer dengan sopan. "Aku Jennifer Turner, aku ke sini untuk bertemu tuan Max, aku ingin---" Perkataan Jennifer terpotong saat pria yang duduk di kursi besar itu berdeham, rasanya seperti baru saja terkena cipratan lahar gunung berapi, tubuh Jennifer kepanasan di ruangan dengan suhu AC yang amat dingin. "Tidak punya sopan santun, kau datang ke tempat ini tanpa seizinku" entah bagaimana suara baritone itu membuat d**a Jennifer ingin meledak. "Maaf, tapi ada hal yang sangat penting yang harus aku sampaikan padamu" ucap Jennifer. Lama Jennifer tidak mendapat jawaban dia pun melanjutkan kalimatnya, "aku kesini untuk meminta maaf dan menebus kesalahanku. Megan, adikmu meninggal lima bulan lalu dia menewaskan diri ketika melihatku berkencan dengan kekasihnya, aku juga merundungnya sejak SMA sampai kuliah, aku tahu orang seperti ku tidak pantas mendapat ampun tapi aku ingin menebusnya aku akan menerima apapun keputusan mu aku tidak akan tenang sebelum aku mendapat balasan atas perbuatanku" Pria itu, Max yang duduk di kursi besar nya tertawa keji mendengar penuturan Jennifer, mata hitam nya menyorot tajam dengan kilatan amarah. Meski tak bisa melihat rupa Max karena pria itu duduk membelakangi nya namun Jennifer sedikit bingung dengan respon Max, yang tertawa kencang seolah mendengar lelucon. "Dengan apa kau ingin menebus kesalahanmu? Uang atau hanya sekadar kata kata? Karena aku tahu kau tidak akan sanggup untuk menyerahkan nyawamu" Mendengar itu Jennifer merasa kesungguhannya di tantang, mata nya melihat sebuah gadis merah yang tergores tepat di depan kakinya, dengan satu tarikan napas Jennifer melangkahinya. Mata Max mengerjap setelah mendengar suara ketukan sepatu Jennifer dengan lantai marmer, instingnya sangat yakin kalau wanita itu telah melewati garis merah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD