Hari itu Widya datang ke rumah Namira setelah Reno pergi. Mumpung Namira belum mulai kerja, Reno masih memanfaatkan kesempatan untuk tidak di rumah. Dia tetap berusaha keras untuk mendapat kerja. Daripada mengasuh bocah, mendingan dia kerja. Sayangnya, nasib baik tak juga menghampirinya. Semua kawan sudah dihubungi, hasilnya nihil. Lamaran yang dikirimpun belum ada jawaban.
“Kamu masih mau bertahan sama si Reno?” tanya Widya sambil mengawasi anak-anak bermain di taman kompleks.
Pagi itu suasana kompleks tempat tinggal Namira lumayan sepi karena hari kerja. Anak-anak usia sekolah tentu saja tidak terlihat. Hanya mereka yang belum sekolah yang ikut bergabung bermain di taman kompleks. Taman ini memang ditujukan untuk penghuni. Berbagai permainan anak-anak seperti ayunan, prosotan, jungkat-jungkit, dan lain-lain tersedia. Orang tuapun disediakan tempat duduk untuk menunggui buah hatinya bermain.
“Aku tetep ingin mempertahankan Wid. Aku berharap Mas Reno bisa sadar,” ungkap Namira. Sejak aib itu terbongkar, meskipun ingin marah, tapi dia memilih bersabar hingga ada bukti lain yang benar-benar membuatnya untuk memilih. Namun, Namira masih berharap Reno tak berbuat jauh yang berakibat fatal. Dia masih berharap Reno masih menghargai ikatan suci pernikahan mereka.
“Kamu jangan lemah, Mir. Orang kayak Reno harus ditegasin. Kamu ngga ingin tahu seberapa jauh hubungan si Reno sama si j*lanng itu?” tanya Widya. Ditatapnya wajah sahabatnya itu. Mereka bersahabat setelah Namira menikah dengan Reno. Tepatnya, menjadi sahabat karena Reno dan Burhan teman sekantor.
“Jangan bilang j*lang. Dia itu stafnya Mas Reno. Apalagi kita ‘kan hanya melihat dari foto,” ujar Namira mengkoreksi kata-kata Widya. Tak enak rasanya jika harus melabeli orang dengan sesuatu yang tidak sepantasnya. Apalagi Vania kan orang terpelajar. Pekerja kantoran. Masak iya akhlaknya seburuk itu.
“Iya gue tahu. Tapi foto itu bicara. Kalau mereka sudah jauh. Ngga mungkin lah kalau baru pertama jalan, fotonya sudah kayak gitu. Reno sudah berani memeluk pinggangnya.” Widya mengomentari salah satu foto terhoror yang dilihat di status itu. Saat Reno memeluk pinggang Vania sambil menatap ke kamera, berlatar belakang gapura sebuah rumah makan elit di Surabaya.
“Ya, semoga hanya sampai itu saja. Tidak lebih.”
“Kamu itu, Mir. Sudah dikianati, masih saja memberi hati. Coba kamu ingat-ingat, sejak kapan si Reno itu berubah,” ujar Widya menyelidik. Widya benar-benar tak menyangka. Selama ini dia pikir hubungan Namira dengan Reno baik-baik saja, hingga status Reno membuat geger sekantor. Bahkan, Burhan sampai mencapture status itu satu-satu dan dikirim ke Widya. Padahal Burhan selama ini tak pernah sempat melihat status WA. Dia tahu karena kasak kusuk di kantor.
Dan dari Widya lah Namira mengetahui berita itu, karena Widya sengaja menyempatkan datang ke rumah Namira yang jaraknya tak sampai satu kilo dari rumahnya.
“Mir, kamu sudah lihat status suamimu di WA?” tanya Widya saat itu. Namira yang sedang memangku Dafi di depan tivi tentu saja heran. Reno? Memang status? Sepagi ini?
Sebenarnya Namira tak terlalu heran jika suaminya pasang status. Ngga di WA, ngga di sss, ngga di IG. Cuma memang Namira tidak terlalu suka mengecek status itu. Sejak keluar kerja Namira memilih anti sosial dan menarik diri dari pergaulan. Paling hanya baca-baca seputar parenting dan pengasuhan anak saja dari internet. Selain itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak-anaknya dibanding bermedsos ria.
“Suamiku barusan telpon. Di kantornya sudah heboh. Tapi Renonya masih rapat. Entah lah apa jadinya nanti kalau dia sudah selesai rapat,” ujar Widya kala itu.
Widya membuka galeri fotonya. Dia telah menerima skrinsut dari Burhan karena dia memang tak berteman dengan Reno. Mendadak persendian Namira terasa melemah. Otot-ototnya terasa lolos begitu melihat dengan mata kepalanya sendiri, deretan foto-foto Reno dan Vania saat berdua di Surabaya beberapa hari lalu.
“Tenang. Sabar, Mir. Kamu harus kuat. Aku ada di belakangmu. Lihat anak-anak,” ujar Widya sambil memberikan semangat pada Namira kala itu. Widya akhirnya pulang meninggalkan Namira saat Namira sudah tenang. Apalagi tak lama ibu Namira menelpon akan segera datang.
"Kok malah melamun?" Widya menepuk lengan sahabatnya yang terlihat bengong karena teringat kejadian horor beberapa hari lalu.
“Dia sama sekali ngga berubah. Masih sama. Kamu tahu sendiri kan, Mas Reno itu memang ngga pernah romantis. Jadi ya ngga ada yang aneh,” ujar Namira sambil mengingat-ingat perubahan Reno selama ini.
Tidak ada! Dia adalah Reno yang sama. Reno memang berbeda dengan jamaknya bapak-bapak muda yang antusias dengan anak-anak. Meski Reno biasa saja, anak-anak sangat menyayangi Reno. Reno hanya sedikit kaku saja.
“Lembur? Ngga pulang? Dinas? Seberapa sering?” cecar Widya sambil menyebutkan ciri-ciri orang yang sering selingkuh.
“Lembur sih tiap hari. Dia pulang di atas jam tujuh. Tapi kan hasilnya dia naik jabatan lebih cepat dari Mas Burhan kan?”
Namira memang pernah mengeluh, kenapa tiap hari pulang malam. Terutama setahun terakhir setelah kelahiran Dafi. Tapi, Reno selalu bilang banyak kerjaan dan harus segera di selesaikan jika ingin cepat naik jabatan dan naik gaji.
“Apa? Serius tiap hari?” Widya hampir terlonjak kaget mendengar jawaban polos Namira.
“Kenapa emang?”
“Suamiku ngga pernah lembur. Tiap hari pulang jam kerja biasa. Malah, katanya di kantor jarang ada lembur. Kalaupun ada, pas akhir bulan, rekapan bulanan. Atau akhir tahun. Ngga tiap hari. Kantor bisa bangkrut bayarin lemburan kalau tiap hari,” ujar Widya panjang lebar.
Namira terdiam. Benar juga apa kata Widya. Kenapa selama ini tidak berfikir sejauh itu? Apakah selama ini terlalu husnudzon. Apakah berpikiran positif itu salah?
“Uang lemburannya kamu terima?”
Namira mengerutkan keningnya. Uang lemburan? Ngga pernah dia dengar ada uang lemburan.
“Mas Burhan kalau lembur, ya pasti nanti ada rapelan uang lemburan. Masak iya perusahaan make tenaga tambahan kita gratis,” sambung Widya. Perempuan beranak satu itu mulai gemas dengan sikap polos sahabatnya ini. Menyesal tidak dari dulu menanyainya.
“Makanya, kamu jadi istri mesti jeli sedikit. Kita ini wanita disuruh di rumah saja, bukan artinya gampang dibodohi. Apalagi kamu dulu pernah jadi karyawati kan. Apa iya lembur sampai tiap hari? Memangnya kerja rodi?”
"Aku nih bukan ngompori kamu, Mir. Ada baiknya kamu waspada. Mumpung hubungan masih bisa diperbaiki. Perselingkuhan itu terjadi bukan hanya karena niat, tapi karena kesempatan juga. Ngga beda sama maling,” lanjut Widya.
“Iya Wid. Tapi, sekarang ‘kan Mas Reno udah ngga kerja. Mana mungkin dia berani main mata di belakangku. Uang dari mana?”
“Eits. Jangan salah. Tetap saja harus waspada.”