Bab 7

1928 Words
Untung semua file-file ijasah dan setifikat tersimpan rapi di laptop. Usai mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, aku bergegas pulang. Aku harus lebih dulu pulang sebelum Namira. Aku akan memarahinya karena meninggalkan rumah tanpa ijin. Apalagi tanpa membawa anak-anak serta. Bagaimana kalau ada yang menyangka Namira masih single lalu jatuh cinta padanya. Dia kalau tidak menggendong Dafi tentu saja tak kalah dengan perempuan berusia 27 tahun lainnya, yang orang bilang makin matang makin cantik! Aku sudah siap di beranda rumah saat mendengar suara mobil berhenti, disertai suara yang aku kenal. Anak-anak selalu berisik, dan juga istriku yang selalu bergerak sambil berbicara. “Dari mana saja kamu?” tanyaku saat Namira turun dari mobil. Tangannya satu membantu Dafa turun dari taksi online itu. Tangan satu lagi sibuk menurunkan tas gembolan dan beberapa tas lain dari mobil. Terakhir, dia menggendong Dafi. “Habis belanja,” jawabnya singkat. Benar juga. Tas belanjaan ditinggalkannya di lantai teras saat dia masuk rumah untuk menurunkan Dafi. Tak mungkin dia membawa semua barang-barang itu dengan dua tangannya. Terpaksa aku ikut membantu membawakannya masuk. “Kenapa nggak ijin dulu kalau mau keluar?” Aku berbicara sambil menatapnya lekat, agar dia paham, kalau dia sedang berbuat kesalahan. Selama ini dia selalu ijin kepadaku jika keluar rumah. Kenapa baru tiga hari aku nggak kerja saja, rasa hormatnya padaku sudah hilang? “Kan memang biasa aku keluar belanja. Ke supermarket beli s**u sama diapers Dafi, apa juga harus ijin dulu? Keburu dia ngompol nggak ada diapers,” ujarnya datar, sama sekali tanpa menoleh padaku. Malah dia sibuk dengan anak-anak. Benar juga sih. Dia memang tiap pagi harus ke warung, tukang sayur atau supermarket. Biasanya kalau kutanya, dia malah balik nyuruh aku. Makanya mendingan aku tak pernah nanya kalau cuma sekedar keluar beli telur atau sayur. Dan dia biasanya ijin kalau pergi yang agak lamaan, misalnya ke rumah Widya atau temannya yang lain. Dan itupun anak-anak selalu dibawanya. “Sebelum belanja, kamu kemana?” tanyaku menyelidik sambil meletakkan tas belanjaan itu ke meja makan. Tas belanjaan itu berisi s**u dan diapers milik Dafi, juga cemilan punya Dafa. Selain itu juga perlengkapan bersih-bersih sepert cairan pel, deterjen, sabun cuci piring, dan lain-lain. Namira menoleh ke arahku. Mungkin dia tak menyangka aku mengetahui barang busuk yang disimpannya. Kena kamu! Aku membalas tatapannya dengan senyum sinis, menunjukkan kemenanganku. Suami manapun, tak boleh kalah dengan istri. “Kemana?" Dia balik bertanya. "Ke rumah Widya, nitip anak-anak. Kebetulan anak-anak mau main sama anaknya Widya sebelum aku tinggal belanja,” sambungnya. Widya tinggal tak jauh dari rumahku. Hanya berbeda kompleks dengan kami. Namira mengenal dengan Widya pun karena aku perkenalkan mereka tak lama setelah kami menikah. Agar dia memiliki teman saat aku memintanya tidak bekerja. Kini, malah tak ubahnya seperti pagar makan tanaman. Justru Widya malah menjadi provokator dalam hidup Namira. Tapi ‘kan, nomornya sudah kublokir kemaren. Jadi, mereka tetap berhubungan? S*al! “Aku nggak tahu, ponselku kenapa. Tiba-tiba nggak bisa kupakai nelpon Widya. Jadi, pagi-pagi aku nanya ke sana. Siapa tahu nomor Widya hangus. Jadi aku kasih tahu ke dia,” jelas Namira. Ya Salaam. Punya istri polos amat! “Trus?” aku penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. “Ternyata aku salah pencet sesuatu di nomor Widya. Jadilah keblokir nomornya,” sahut Namira. Sepertinya dia mendapat penjelasan dari Widya. Aku akui istri Burhan itu memang terlihat lebih selangkah lebih maju urusan begituan dibanding istriku. Tapi aku bersyukur, dengan istriku yang tidak kepo terhadap hal-hal berbau teknologi, membuatnya tak banyak permintaan. Aku nggak bisa membayangkan kalau dia mirip ibu-ibu sosialita dan banyak mengakses sosmed, pasti tuntutannya akan bakal tak sanggup aku turuti. Huff. Untung dia tak menuduh aku yang memblokirnya. Percuma saja dicegah berhubungan dengan Widya kalau begini. Tetap saja mereka bakal berkomunikasi. “Jadi, sebelum belanja, kamu kemana?” ulangku lagi. Aku harus mendengarkan pengakuannya. Jangan sampai selama aku tidak di rumah, dia ternyata pergi-pergi bertemu lelaki lain tanpa membawa anak-anak pula. Malah beraninya ia menitipkan anak-anak ke orang lain. Lagi-lagi Namira hanya melirikku. Tangannya dengan cekatan menyusun barang belanjaan ke tempat biasanya. Tak dapat aku lihat dia punya niat menjawab pertanyaanku, membuatku menjadi semakin geram. “Jawab, Dik!” kucengkeram lengannya agar menghentikan gerakan beres-beresnya. Aku ingin dihargai. Bukan tak diacuhkan seperti ini. Ibu dari anakku itu lalu menarik kursi makan. Dia duduk di sana. “Aku tadi wawancara pekerjaan. Katanya hasilnya akan diberitahukan secepatnya,” ujarnya tanpa menatapku. “Apa? Berani sekali kamu melakukannya tanpa ijinku?” Aku meninggikan suara. Benar-benar dia mulai tak menghargaiku. “Kamu sendiri selingkuh juga tidak ijin ke aku?” balasnya hingga membuatku melotot tajam kepadanya. “Berani kamu ya!” Volume suaraku semakin meninggi. Hingga tak kusadari anak-anak yang main di ruang tengah menatap ke arahku. Aku menghela nafas. Sejak menikah dengan Namira, aku tak pernah seemosi ini. Meski aku jenuh dan kesal, tapi, Namira selalu tahu bagaimana menyenangkan hatiku. Kenapa baru beberapa hari saja dia sudah nglunjak? “Kalem, ada anak-anak. Lalu, kamu sendiri, sudah dapat pekerjaannya?” tanyanya sambil tersenyum seolah mengejekku. Suaranya masih tetap sama seperti tadi. Datar, namun terdengar mengejekku. “Kenapa mengalihkan pembicaraan?” Volume suara aku turunkan. Aku tak ingin membuat anak-anak yang sedang bermain di ruang tengah mendekati kami karena penasaran. Jika iya, gagal sudah upayaku meninterogerasi Namira. “Siapa laki-laki yang mewawancaraimu tadi?” Aku menatap Namira yang duduk di ujung sana lekat. Aku harus tahu dia akan bekerja di mana dan dengan siapa. “Kamu tahu yang mewawancaraiku laki-laki?” Namira mengerutkan keningnya dan menatapku keheranan. Dia pikir aku lelaki bodoh? Aku mengangguk cepat sambil tersenyum miring. Dengan begini, dia akan tahu diri, siapa yang sedang dihadapinya ini. Reno Prasetio Wicaksono, bekas manajer marketing di perusahaan ternama. Meskipun hanya mantan manajer, aku punya pengalaman yang lebih banyak dibanding Namira. Jadi, jangan sekali-sekali meremehkan! “Namanya Haris." Dia menjawab, lalu mengambil nafas. "Dulu atasanku saat aku masih bekerja. Dan dia memintaku kembali bergabung di perusahaan tempat kami bekerja itu,” ujar Namira tenang. Tatapannya tak lepas menatap anak-anak yang sedang main di ruang tengah yang sebenarnya menyatu juga dengan ruang makan, hanya saja posisi ruang makan ini yang menyudut terhalang posisi kamar anak-anak. “Apa? Mantan atasanmu? Dia masih single apa sudah punya keluarga?” selidikku to the point. Aku tak rela jika Namira berhubungan dengan pria single, lalu itu hanya alasan untuk mendekatinya. “Mana aku tahu. Dulu saat aku resign, dia masih single. Aku nggak nanya statusnya kini. Malulah,” jawab Namira santai. Benar juga! Mana mungkin saat wawancara kita menanyakan status pewawancara. Tapi aneh! Masak wawancara di cafe, bukan di kantor. “Wawancaranya memang nggak formal. Kebetulan dia mau bertemu klien pas jam makan siang. Jadi, aku menemuinya sekaligus nitip berkas," jelas Namira. "Dia akan memanggil jika diperlukan,” sambungnya seolah menjawab kejanggalan dalam otakku. “Tapi dia tahukan kamu sudah menikah dan punya anak?” Aku masih belum rela, jika Namira sampai menyembunyikan status kami. Namira tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. “Tentu saja. Kan aku keluar kerja karena hamil. Masak kamu lupa.” Benar juga. Ini pertanyaan bodoh. Hanya gara-gara rasa tak rela Namira berdekatan dengan lelaki lain. Bahkan, aku sama sekali tidak ingat rekan kerja Namira saat itu. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan diriku dan tak menganggap teman-teman Namira penting. “Memang kamu melamar jadi apa?” Intonasiku sudah mulai merendah. Aku tak mau lagi kelihatan bodoh di depan Namira. “Asistennya Pak Haris.” jawabnya singkat. Kini gantian dia menatapku, dan sebuah senyum tipis tersunggung di sana. “Apa? Tidak! tidak perlu!” sahutku cepat. Namira itu kerjanya cekatan. Mirip dengan Vania. Aku saja yang sudah punya istri bisa seneng sama Vania, gimana kalau si Haris itu masih single atau Duda? Bisa-bisa dia menyukai Namira. Hancur sudah semuanya. Tentu saja Namira akan memilihnya dibanding aku yang hingga detik ini masa depanku belum jelas. “Kenapa?” Senyum Namira seketika menghilang. “Kalau bekerja jadi asisten tidak usah! Biar aku saja yang kerja. Kamu di rumah urus Dafa dan Dafi!” Tiba-tiba aku teringat alasan yang lebih masuk akal untuknya. Dia harus mengurus dua buah hati kami. Kalau Namira kerja, lalu anak-anak bagaimana? “Tapi aku perlu pekerjaan. Kita perlu makan.” Namira menekankan kata makan sambil menekan telunjuknya ke meja makan di hadapan kami. Gayanya sungguh setengah meremehkanku. Padahal aku baru tiga hari menganggur. Belum setahun. Mengapa dia fikir seolah dunia mau kiamat dan kita akan mati kelaparan? Nanti ujung-ujungnya kalau dia lebih sukses dari aku, bagaimana? No! “Lalu anak-anak?” Aku kembali menekankan. Biar dia ingat kodratnya. Wanita di rumah mengurus rumah, suami dan anak-anak. Suami mencari nafkah. “Nanti bisa dititipkan ke penitipan anak. Sekarang daycare banyak yang bagus-bagus,” ujarnya seolah sudah menguasai pengetahuan tentang penitipan anak. Padahal selama ini dia tak pernah membahas tentang itu. “Tidak. Aku yang kerja. Kamu tetap di rumah!” Mengingat tampang si Haris tadi siang, aku tak rela kalau sampai Namira menjadi asistennya. Namira menghela nafas. “Baik. Kalau sampai bulan depan kamu belum kerja, biarkan aku kerja!” pungkas Namira sambil mendekati Dafi, anak itu sudah memberi kode ingin ke toilet. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Tentu saja, bulan depan pasti aku sudah bekerja. Lihat saja nanti! Batinku pongah. **** Sudah seminggu aku keluar rumah tanpa hasil. Aku tak mau di rumah karena ribet dengan urusan rumah. Terutama anak-anak yang tidak mengerti kalau aku sedang suntuk dan butuh waktu sendiri. Sehingga aku memilih keluar rumah, meskipun tak jelas mau ngapain. Berbagai café aku sambangi demi mendapatkan internet gratis. Tentu saja sekalian makan siang. Tak mungkin seharian aku tidak makan. Toh, mencari kerja, anggap saja juga kerja. Jadi ada cost yang harus dibayar. Sialnya, dari puluhan lamaran, tak satupun yang dibalas. Tak ada panggilan kerja satupun. Padahal pengalaman kerja yang kucantumkan di CV lumayan banyak. Jangan-jangan calon pemberi kerja menelpon ke kantor lamaku, dan bertanya alasan aku berhenti kerja. Huff! S*al memang nasibku. Kalau sampai minggu depan aku belum dapat kerja, keuangan keluargaku bisa morat-marit. Dengan apa aku harus membayar tagihan? Dan yang lebih rumit lagi, jika sampai mertuaku tahu aku dipecat! Pasti mereka akan menyuruh Namira pisah dariku. Oh, tidak! Tidak akan! Aku harus merayu Namira agar dia tidak mengatakan ini pada kedua orang tuanya. Setelah mengirim kembali beberapa lamaran, aku segera menutup laptop. Aku harus segera pulang. Aku punya ide. Biar Namira kuijinkan bekerja, asal dia tak membocorkan statusku yang pengangguran ke kedua orang tuanya. Jadi, keluargaku akan terlihat lebih stabil dan baik-baik saja. Cemerlang kan ideku? “Jadi kamu memberiku ijin untuk bekerja?” tanya Namira. Raut mukanya menunjukkan tak percaya, secepat ini aku berubah. Biasanya aku akan teguh pendirian dan sulit untuk dirayu. Dan ujung-ujungnya Namiralah yang selalu mengalah. Aku mengangguk. “Dengan syarat, kalau aku dapat kerja, kamu berhenti,” ucapku. Seketika binar diwajahnya pudar. “Kamu pikir perusahaan milik nenek moyangmu? Mana bisa keluar masuk perusahaan seenak kita. Kalau niat bekerja, ya bekerja. Kalau nggak, ya mending nggak usah kerja,” tuturnya ketus. Benar juga, ya. Kita saja yang mempekerjakan pembantu saja pusing kalau tahu-tahu berhenti mendadak, apalagi karyawan kantor? Tapi, kalau sampai aku nggak cepat dapat kerja, selain aku nggak punya tabungan untuk membayar cicilan, cepat atau lambat mertuaku pasti akan tahu kalau aku pengangguran. Dan pasti dia akan minta Namira menggugat cerai suami tak berguna macam aku! Huff. “Oke. Aku ijinkan. Tapi janji, kamu nggak boleh bilang-bilang kalau aku belum bekerja. Ke siapapun!” ancamku. Namira mendelik melihatku. Tapi aku yakin dia pasti setuju. “Oke." Aku lega mendengar kesepakatannya. "Tapi selama kamu belum kerja, anak-anak di rumah, sama kamu!” lanjutnya memberikan persyaratan tambahan. Mataku membulat. Petaka apalagi ini? Aku harus ngasuh dua bocah ingusan?! Oh, NO!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD