Bab 6

1220 Words
Kuacak rambut dengan kasar. Aku gusar bukan kepalang. Bagaimana bisa perusahaanku memutuskan hubungan kerja secepat ini? Memang sih ada klien yang melihat statusku. Tapi kan mereka tidak tahu, hubunganku dengan Vania. Siapa tahu itu adikku, atau istriku? Kenapa sih orang-orang pada rumit memikirkan sekedar foto di status! Hah! Menyebalkan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ada klausul di perjanjian perusahaanku memang tidak boleh menjalin affair yang merusak citra perusahaan. Apalagi, aku baru saja naik jabatan. Hal yang lebih memberatkan lagi, foto-foto itu saat aku sedang dinas. Tentu saja aku dianggap menyelewengkan pekerjaan kantor dengan melakukan hal yang mempermalukan citra kantor. Ah! Rumit. Itu bukan affair. Itu hanya hubungan atasan dan bawahan. Kenapa sih orang-orang ngga bisa ngerti? Pasti ini ulah Burhan! Aku harus membuat perhitungan dengannya. Awas saja nanti kalau aku sudah dapat kerja. Pasti akan kubalas! Kutinju sofa di sebelahku. Mataku terpejam sambil mengigit bibir bawah. Otakku berfikir keras. Aku tak boleh kalah dengan keadaan. Mereka yang di luar sana yang menganggapku selingkuh harus tahu, kalau aku tidak selingkuh. Buktinya aku masih pulang ke rumah. Masih main dengan anak-anakku. Hubunganku dengan Namira juga baik-baik saja. Tapi bagaimana? Mulai besok aku sudah resmi jadi pengangguran. Uang…uang…uang! Aku tak bisa hidup tanpa uang. Semua butuh uang. Makan butuh uang. Beli bensin butuh uang. Bayar cicilan rumah dan mobil pakai uang. Aku memijit pelipis. Berat sekali ujian hidup ini. Semua hanya gara-gara jari. Semua gara-gara postingan. Hancur sudah masa depanku. Impianku kerja di tempat kerja sekarang sampai pensiun, akhirnya pupus. Hanya karena aku merasa nyaman ngobrol dengan Vania. Ngobrol saja. Sebatas itu. Huh! Ngapain juga anak itu minta foto pada saat yang tidak tepat. Coba kalau dia mau bersabar sedikit. Pasti keadaaannya akan berbeda. Setahun aku jalan sama Vania, semua aman. Vania juga yang membuatku bisa naik jabatan dengan cepat. Karena dia kerap membantu pekerjaanku dengan cekatan. Laporan-laporan pekerjaanku selalu dinilai sangat baik oleh atasan karena bantuan Vania. Oleh karenanya aku semakin menyukai Vania. Tak apalah selama ini jadi teman curhatnya, yang penting kita saling timbal balik. Aku naik jabatan, dia mendapatkan teman curhat. Tapi, mengapa justru saat aku sudah naik jabatan petaka itu datang. [Bro, ada lowongan kerjaan ngga di tempat ente?] Aku mengirim pesan pada Firman, salah satu teman SMA yang sudah mapan dan bekerja di ibukota. Awalnya aku ragu dan gengsi. Tapi, tidak mungkin aku jadi pengangguran. Mau makan apa bulan depan anak dan istriku. Belum lagi tagihan bulanan yang harus kubayar. [Ah, ente mengejek. Bukannya ente habis naik jabatan?] Aku sudah menduga jawaban Firman pasti demikian. Sudah banyak temanku yang tahu kalau aku naik jabatan. Salahku juga terlalu pongah pake pasang status di medsos saat acara pelantikan jabatan baru. [Gue dah keluar bro. Nggak cocok sama kerjaan baru. Plis klo ada lowongan di tempat ente] Aku harus bisa sedikit memanipulasi. Jangan sampai mereka tahu kalau aku dipecat. [Besok kalau ada waktu ngobrol-ngobrol dulu deh, Bro. Kita atur.] Aku sedikit lega dengan balasan Firman. Semoga benar dia ada kerjaan untukku. Ngga papa dari bawah. Yang penting bisa buat bayar cicilan rumah dan mobil, juga makan sehari-hari. *** [Bro, bisa ketemu hari ini?] Aku sudah siap pagi-pagi dengan setelan baju kerja. Map berisi lamaran dan semua dokumen sudah aku persiapkan. Aku memang belum ada janji jam berapa bertemu dengan Firman. Tapi, dari pesan singkat semalam, aku berharap dia ada waktu dan mempertimbangkan keinginanku untuk bergabung di perusahaannya. [Sori, Bro. Gue lagi di Kalimantan. Nanti Gue kabari kalau sudah di Jakarta.] Sebuah jawaban dari Firman membuatku sedikit kecewa. [Kapan balik?] Aku tak dapat menunggu lama. Waktu terus berputar dan banyak tagihan yang mesti kubayar. Jika bulan ini aku tidak bekerja, artinya aku tak ada pemasukan. Semakin lama aku menganggur, dari mana uang untuk biaya hidup anak dan istriku? [Gue di Kalimantan sebulan. Jadi dua atau tiga minggu lagi deh kalau urusan dah kelar.] [OK] Lunglai aku membalas pesan Firman. Menunggunya dua, tiga minggu? Mau makan apa anak istriku? Kebutuhan tidak bisa menunggu. “Nggak jadi pergi?” Namira sudah di ambang pintu sambil mengendong Dafi. Bocah itu melihatku sambil mengayunkan tangannya ke depan, minta aku gendong. Si*l! kalau di rumah, anak-anak pasti maunya ikut denganku. Tidak! aku harus pergi dari rumah. “Jadi!” ujarku tegas. Entahlah kemana kaki melangkah. Nanti di luar saja aku hubungi teman-temanku untuk minta kerjaan. Yang jelas, jangan di rumah. Aku nggak mau keduluan Namira. Kalau ia sampai tahu aku di rumah, biasanya dia akan menitipkan anak-anak. No! Big No!No! Mobil aku pinggirkan ke salah satu café setelah tadi selama satu jam lewat aku hanya di mobil saja, meminggirkannya di pom bensin, untuk mengirim pesan ke teman-temanku menanyakan peluang kerja. Tak ada satupun yang merespon serius. Mereka pikir aku bercanda mencari pekerjaan di siang bolong. Apakah begini namanya teman? Hanya mendekatiku saat aku sukses. Tapi saat aku butuh, dia pikir ini hanya candaan? Kubanting daun pintu mobil dengan kasar. Aku sengaja mampir ke café ini sebelum jam makan siang. Cafe ini baru buka. Tapi tak apa. Sepi makin bagus. Dari pada aku bertemu orang yang aku kenal dan terlihat seperti pengangguran. Terpaksa memang harus ke cafe, bukan sok-sokan. Tapi selain perut sudah meronta-ronta untuk diisi, aku memerlukan sambungan internet gratis. Kali ini aku ingin mencari lowongan pekerjaan saja tanpa bantuan teman. Mereka semua tak bisa diandalkan. Kalaupun menawarkan bantuan, sepertinya setengah-setengah. Diajak ketemu saja susah. Bilangnya sibuk semua. Mbelgedes! Setelah memesan makanan dan menanyakan password wifi, aku segera membuka laptop dan berselancar ke dunia maya. Satu persatu lowongan perusahaan aku catat ke dalam catatan khusus di laptopku. Sekalian aku membuat CV dan lamaran. Ya Tuhan, aku berasa jadi anak baru lulus S1 saja. Ini pekerjaan tujuh tahun lalu, saat aku masih mencari-cari lowongan kerja. Aku jadi teringat betapa jumawanya aku kala itu. Aku meledek temanku yang sampai ratusan kali melamar kerja tak kunjung mendapatkan panggilan. Ada yang tak lolos seleksi administrasi, ada yang sudah lolos tapi gagal di tes psikologi, ada yang gagal di wawancara, dan seterusnya. Padahal aku hanya beberapa kali mengirim lamaran, tes, langsung diterima. Dan kini, aku seperti menanggung karma. Di saat semua temanku mulai meniti sukses, justru aku berada di titik terendah kembali. “Silahkan, Pak,” ujar pramusaji berseragam hitam putih itu sambil meletakkan makan dan minum yang kupesan. Saat aku mendongak untuk mengucapkan terimakasih padanya, tiba-tiba mataku menangkap bayangan seseorang yang aku kenal. “Namira?” gumanku. Ekor mataku langsung mengikuti kemana istriku itu berjalan. Dia memakai tas kerja yang dulu pernah dipakai yang kini teronggok di lemari seraya menenteng map plastik di tangan kirinya. Baju longgar yang dimasukkan pada rok lebar, serta pasmina yang rapi menjuntai memberi kesan seperti masih gadis. Mau ngapain dia di sini? Kemana anak-anak? Kenapa dia sendirian? Kurang ajar Namira. Dia pergi tanpa seijinku. Aku hampir beranjak mendekatinya, namun kuurungkan saat melihat Namira mendekati meja di mana di sana duduk seorang lelaki seumuranku, atau mungkin sedikit lebih tua beberapa tahun, dengan pakaian kemeja warna putih yang lengannya digulung sampai siku. Tampak gagah dan elegan. Siapa dia? Di sebelah lelaki itu ada seorang wanita muda mengenakan blazer dengan rambut lurus sebahu di gerai. Coba saja kalau hanya berdua, pasti sudah aku tarik tangan Namira menjauh. Karena tidak berdua saja, aku masih bisa menahan diri. Mataku tak dapat berpaling dari meja itu. Dadaku sampai naik turun menahan amarah. Apa yang sedang mereka bicarakan. Bisa-bisanya melibatkan Namira. Aku tak kenal mereka. Awas saja kamu nanti di rumah, Namira!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD