Bab 5 Cibiran Pelanggan di Toko

1150 Words
Elina tersenyum kaku. "Enggak kok bu. Aku gak menyembunyikan apa pun dari ibu. Hmm ibu beneran mau ikut ke toko?" tanya Elina. Anita pun mengangguk. "Iya nak. Ya udah ayo kita berangkat sekarang," ucap Anita. Elina pun mengangguk. Mereka lalu berangkat ke toko dengan sepeda motor. ............ Saat ini Arhan sedang mengemudikan mobilnya. Sejak tadi ia terus saja memikirkan seseorang. "Kenapa dari tadi aku terus saja memikirkan dia ya? Sejak tadi juga aku merasa emosi saja berada di rumah. Kenapa ya?" gumam Arhan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Arhan benar-benar sangat gelisah saat ini. Ia memijit pelipisnya perlahan. "Aku kangen banget sama dia. Lebih baik aku temui dia sekarang," gumam Arhan. Arhan lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo. Kamu di mana? Ada di rumah?" tanya Arhan pada seseorang di seberang telepon. "Hai sayang. Iya nih aku di rumah. Kamu ke sini ya. Aku sekalian titip bubur ayam ya." "Oh iya." "Bye sayang." "Bye." Tut Sambungan telepon pun terputus. Arhan menghela nafasnya. "Perasaanku benar-benar aneh sekali saat ini," gumam Arhan bingung. ......... Sementara itu di tempat yang berbeda, saat ini Elina sedang mengurus tokonya. Beberapa pelanggan sudah datang untuk mengambil pesanan mereka. "Gimana bu Elina? Udah diet belum?" tanya seorang pelanggan. Elina lalu tersenyum kaku. Ia kemudian mengangguk. "Tapi saya gak terlalu peduli karena saya yakin kok jika suami saya akan setia sama saya. Dia adalah lelaki yang baik," ucap Elina dengan penuh rasa percaya. "Sebaik-baiknya laki-laki kalau terus digoda ya pasti bakal tergoda juga bu. Pelakor zaman sekarang kan gak ada malunya. Mereka bakalan kejar terus incaran mereka. Gak peduli deh dengan apa pun. Yang penting mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau." Seorang pelanggan yang lainnya lalu berbisik pada Elina. "Maaf kata nih ya bu bahkan mereka berani lho main dukun supaya incaran mereka bertekuk lutut sama mereka." Deg! ......... Diam-diam Anita ternyata mendengarkan obrolan Elina dengan beberapa pelanggan tersebut. 'Kenapa mereka membahas pelakor? Dan apa tadi? Diet? Elina diet? Untuk apa dia diet? Lalu Arhan kenapa? Kenapa mereka berbicara seperti itu tentang Arhan?' ucap Anita bertanya-tanya di dalam hatinya. 'Aku harus berbicara dengan Arhan. Aku tidak ingin pernikahan mereka hancur hanya karena kehadiran orang ketiga. Aku harus melakukan sesuatu.' ucap Anita di dalam hatinya. .......... Arhan pun tiba di sebuah rumah. Saat mendengar suara mobil Arhan, seorang wanita yang merupakan pemilik rumah tersebut pun langsung ke luar dan menghampiri Arhan yang baru saja turun dari mobil. Ia langsung memeluk Arhan dengan sangat erat. "Kangen banget," ucapnya dengan manja pada Arhan. Wanita itu lalu menggandeng tangan Arhan dan membawa Arhan untuk masuk ke dalam rumahnya. "Sayang pesenan aku kamu beli kan?" Arhan pun mengangguk dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Wanita tersebut segera mengunci pintu rumahnya lalu menyembunyikan kuncinya. "Kamu tunggu di sini ya. Aku mau siapkan buburnya." Arhan pun mengangguk. Wanita tersebut lalu meraih box bubur ayam tersebut kemudian membawanya ke dapur. Ia lalu memindahkan bubur tersebut ke mangkuk. Untuk mangkuk Arhan, diam-diam wanita itu mencampurkan sesuatu di sana. Ia tersenyum miring sembari sedikit mengaduk bubur tersebut. 'Sebentar lagi kamu akan benar-benar menjadi milikku.' ucapnya di dalam hatinya. Setelah itu, ia membawa bubur tersebut ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja. "Ini punya kamu sayang." Arhan pun mengangguk. "Ayo sayang makan sama-sama." Arhan kembali mengangguk. Mereka lalu mulai memakan bubur tersebut. Diam-diam wanita tersebut melirik ke arah Arhan dan tersenyum licik. 'Ayo sayang makan yang banyak supaya cinta kamu ke aku semakin besar dan cinta kamu ke dia menghilang.' ucap wanita tersebut di dalam hatinya. ............ Malam harinya, Elina saat ini sedang mempersiapkan makan malam. Ibu mertuanya masih berada di sana. Katanya akan menginap di sana. Setelah selesai masak, Elina lalu menyajikan hidangan tersebut di meja makan. Ia lalu menemui ibu mertua yang sedang main bersama kedua anaknya di ruang televisi. "Bu, kita makan malam yuk. Aku sudah selesai masak," ucap Elina. "Kamu gak mau menunggu suami kamu?" tanya Anita. "Mas Arhan pulangnya lama, bu. Aku udah sisain punya mas Arhan di wadah lain. Jadi kita makan sekarang aja ya bu," ucap Elina. Anita pun mengangguk. 'Tatapan Elina berbeda sekali. Dia seperti sedang menutupi kesedihan. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan rumah tangga anak dan menantuku? Tolong lindungi pernikahan Elina dan Arhan ya Allah.' ucap Anita di dalam hatinya. Mereka lalu pergi ke meja makan dan mulai menikmati makan malam. ........... Arhan melirik ke arah jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Udah jam sembilan. Aku pulang ya," ucap Arhan. "Oh iya. Sebentar sayang ada yang mau aku kasih ke kamu. Tunggu ya." Wanita itu lalu pergi ke kamarnya. Ia mengambil sebuah amplop coklat di sana berisikan uang. Ia kemudian tersenyum penuh arti lalu ke luar dari kamarnya dan menemui Arhan kembali. Ia memberikan amplop coklat tersebut pada Arhan. "Ini uang buat kamu karena seharian ini kamu sudah sama aku terus. Dan tadi juga kamu udah beliin bubur ayam untuk aku." "Tidak. Aku tidak mungkin menerima uang ini," ucap Arhan. "Gak apa-apa sayang. Kamu kan seharian ini gak ada cari penumpang jadi ya udah ini sebagai gantinya kalau nanti istri kamu tanya pendapatan kamu hari ini." "Tapi..." Wanita itu memaksa Arhan untuk menerima uang tersebut. "Terima aja." Arhan menghela nafasnya. Ia lalu menerima uang itu. "Terima kasih ya sayang. Kamu baik sekali," ucap Arhan. Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. "Iya sayang sama-sama. Aku kan cinta sama kamu jadi aku akan melakukan apa pun demi kamu." Arhan merasa terharu dengan ucapan selingkuhannya. Ia lalu memeluk wanita tersebut. "Aku juga mencintai kamu. Aku menyesal karena dulu kita batal menikah. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan menikahi kamu. Aku akan menunggu kamu sayang," ucap Arhan. Wanita tersebut pun tersenyum miring mendengar ucapan penyesalan yang ke luar dari mulut Arhan. 'Pelan-pelan kamu akan kembali dalam pelukanku. Aku hanya butuh waktu sebentar saja.' ucap wanita tersebut di dalam hatinya. Tok Tok Tok Di saat mereka sedang hanyut dalam pelukan tersebut, pintu rumah wanita tersebut pun diketuk oleh seseorang. Segera mereka melerai pelukan tersebut. "Siapa sayang? Apa jangan-jangan warga ya?" tanya Arhan. Wanita tersebut tersenyum lalu mengusap lembut d**a Arhan. "Bukan. Kayaknya itu adikku. Sebentar ya." Wanita itu lalu beranjak dari posisinya. Tak lama ia kembali dengan seorang anak laki-laki yang usianya sama dengan anak Arhan. "Mas, kenalin ini anak aku dari suamiku yang pertama. Namanya Aldi." Wanita tersebut memperkenalkan anaknya pada Arhan. Ya, wanita yang merupakan selingkuhan Arhan adalah seorang janda anak satu. Aldi lalu menyalim tangan Arhan. "Halo om. Aku Aldi," ucap Aldi. Arhan tersenyum kaku. "Oh iya. Nama om Arhan," ucap Arhan. "Maaf ya mas aku belum sempat cerita ke kamu tentang Aldi. Jadi selama ini Aldi tinggal dengan ayahnya. Aku biasanya bertemu Aldi seminggu sekali. Dan mulai hari ini Aldi tinggal sama aku karena mantan suamiku pindah kerja ke luar kota. Aldi gak mau ikut ayahnya jadinya dia tinggal sama aku sekarang," ucap wanita itu menjelaskan. Arhan pun mengangguk. 'Ternyata dia sudah pernah menikah. Pantas saja.' ucap Arhan di dalam hatinya. ............
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD